Psychology of Clickbait

Psychology of Clickbait

Sejujurnya, mengenai media di Indonesia, jauh lebih memalukan ketika kita melihat video rekomendasi dari YouTube Indonesia tanpa login, kebanding dengan melihat Clickbait dari berita.

Mengenai konten YouTube, sesudah cukup lama mengobrol dan juga iseng-iseng mengintip beberapa laman pada kemarin sore, harus diakui, saluran-saluran YouTube lokal, terutama saluran YouTuber Indonesia, terbilang, haduuuuh! Parah banget deh, beneran.

Bahasa bukan masalah yang terlalu besar (kecuali tentunya, jika ada kata-kata kasar) bagiku, menurutku justru, masalah utama mereka ada di konten, dan juga dari cara mereka memberikan judul.

Channel Indonesia seperti, umm, kalau gak salah ada yang namanya Calon Sarjana, dan juga tentunya beberapa channel YouTube lain, tanpa bias pada konten (lebih ke cara penyampaian konten) cenderung memiliki clickbait yang amat lebih parah dibandingkan dengan clickbait dari media berita.

Clickbait / Hoax? Clickbait+Hoax?

Clickbait Vs Hoax. Masalah terbesar diantara kedua hal tersebut adalah, dua-duanya cukup membingungkan dan juga memberikan gambaran salah dari pesan utama berita, informasi, tersebut.

Begini, dalam sebuah berita, informasi terbesar tentunya berada di alasan kita memutuskan untuk membaca berita tersebut. Jika sensasi penasaran tersebut timbul pada judul dalam bentuk ledakan, yang kita akan harapkan dari suatu berita atau informasi tersebut sebagai negatif.

Maka sejujurnya, clickbait tersebut sudah bisa menggeser inti utama dari pesan yang ingin dikirimkan. Meskipun konten bagus, sebuah clickbait bisa meninggikan ekspektasi kita, dan konten yang tadinya halus dan benar tersebut, akan cenderung diprospek sebagai konten yang buruk.

Mula-mula aku berpikir bahwa acara Trans TV (atau Trans7) On The Spot adalah satu dari sekian banyaknya siaran TV lokal yang biasanya jelek, sebagai siaran yang cenderung bagus. Memang betul, On The Spot mungkin cukup memberikan general knowledge yang tentunya menarik juga. Sayangnya, satu hal buruk yang On The Spot lakukan adalah dengan memberikan gaya penulisan clickbait pada tiap judulnya.

Contoh: 7 Tempat Di Dunia Dimana Kamu Takkan Mungkin Tenggelam

Acara TV itulah yang menjadi awal dari konten YouTube Indonesia dengan judul full capslock, dan biasanya penuh dengan clickbait, lebih penuh lagi malah daripada media.

YouTube yang biasanya mendapati kontennya diisi oleh sesama pengguna, akan menghasilkan jauh lebih banyak clickbait dibandingkan dengan reporter yang tentunya mengisi media dimana dia bekerja dengan setidaknya, hasil konten seorang professional. (meski iya, terkadang kontennya sama-sama sampah, setidaknya jika kita ingin mencerna, konten dari reporter tidak sesampah konten dari pengguna) Pada ujungnya, seorang reporter atau penulis artikel professional lebih intelijen dari orang-orang yang diberikan hasil karya tulisnya, dan jika mereka membuat hoax atau clickbait, akan jauh lebih parah, dan jauh lebih misleading.

Nah, bagi seseorang yang cukup cermat, menghindari clickbait tentunya mudah. Tetapi, jika kamu sudah termakan pada clickbait itu, biasanya kamu akan berujung ke salah satu dari 3 reaksi ini.

  • Clickbait mengecewakan, tidak ada bedanya (pada konten) jika artikel tersebut menggunakan clickbait kebanding dengan artikel yang tidak menggunakan clickbait.
  • Clickbait ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan konten.
  • Clickbait cukup menarik, dan ternyata, konten cukup sesuai dengan clickbait, dan sukses memenuhi sensasi.

Sesudah membaca beberapa riset psikologi oleh Professor Ekonomi (jadi begini, seorang ahli pemasar yang bagus dan ahli ekonomi yang bagus akan menemukan pola psikologi, dan juga sebaliknya, seorang psikologis yang bagus akan menggunakan ilmu psikologi untuk pemasaran serta ekonomi) George Loewenstein…

Kita cenderung memberikan ekspektasi jauh lebih banyak jika kita mendapatkan sensasi yang berupa ledakan di awal-awal. Jika rasa penasaran kita meledak pada awal sebuah artikel, kita akan meninggikan ekspektasi milik kita. Itulah alasan mengapa artikel non clickbait tidak akan mengecewakan, meski kontennya buruk, dan itu juga alasan mengapa (layaknya sebuah artikel) tiap merek, terutama yang sudah ternama, (E.G. Aqua) memiliki suatu judul, atau suatu tagline dan catchphrase.

Tagline tersebut berfungsi agar orang meninggikan ekspektasi saat meminum produk, atau ingin membeli produk tersebut. Jika produk sudah ternama, ekspektasi tersebut menambahkan sensasi ekstra, dan sensasi tersebut lah yang bisa membuat kita berpikir tidak jernih, dan membiarkan pikiran kita mempengaruhi indra kita. (Misalnya karena tagline, kita berpikir Aqua lebih enak dibandingkan merek lain)

Jadi, apa yang dilakukan oleh para media yang ingin menggait pembaca yang doyan dan mudah ditipu dengan clickbait? Diciptakanlah hoax yang banyak, agar reaksi yang didapatkan adalah reaksi yang positif atas clickbait, alih-alih reaksi negatif.

Seperti sering disebut, media pada umumnya adalah sebuah perusahaan yang bergerak demi keuntungan dan laba, (bukan laba-laba 😀 ) jika media memberikan apa yang orang-orang inginkan, ia akan mendapatkan pembaca, dan pembaca menghasilkan uang. Jika orang-orang menginginkan konten berkualitas, maka media akan menciptakan konten edukatif dan berkualitas.

Sayangnya, orang-orang Indonesia menginginkan sensasi, serta konten yang tak tentu kebenarannya. Untuk memperparah, orang Indonesia yang biasanya lebih mudah ditipu dan diberikan informasi salah, akan juga senang jika diberikan informasi yang salah, tetapi menggemparkan tersebut.

Hoax ditambahkan pada media agar orang-orang tidak kecewa pada clickbait. Orang-orang juga hanya menginginkan, dan akan lebih senang dengan clickbait.

Keduanya saling melengkapi dengan kuat.

Siklus Media Indonesia

Kita terjebak dalam sebuah siklus tanpa henti mengenai media dan konten yang sampah.

  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Pembaca menginginkan konten yang bombastis
  • Media memberikan konten bombastis jika ada
  • Pembaca puas, menunggu konten bombastis berikutnya
  • Jika tidak ada konten bombastis, media terpaksa menciptakan konten bombastis agar pembaca tetap datang.
  • Pembaca yang kurang intelijen mengira bahwa konten bombastis yang difabrikasi tadi sebagai sesuatu yang nyata dan tetap menginginkannya.
  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Terus menerus berputar siklus ini.

Makanya, akan amat diapresiasi jika ada sebuah portal media yang anti hoax, dan anti clickbait, itu akan membantu memperlambat siklus tanpa henti ini.

Tidak seperti rantai makanan yang sangat mudah didisrupsi, mendisrupsi siklus ini jauh lebih sulit tanpa edukasi pada konsumer media yang tanpa henti ini. Kita tidak perlu memiliki pasukan yang bisa mengajarkan orang-orang cara untuk lebih cermat dengan menganalisa hoax. Sebenarnya, bukan (hanya) hoax musuh utama kita…

Kalau berdasarkan analisa, akan lebih mudah jika media yang memiliki clickbait dipotong secara seutuhnya. Siklus tanpa henti ini takkan ada jika kita sebagai konsumer media meminta sesuatu yang bombastis. Penamaan sebuah menu tidak perlu terlalu menarik, asalkan kita tahu bahwa rasanya enak. Sayangnya, bagi orang Indonesia, nama menu tersebut jauh lebih penting dibandingkan dengan rasa makanan tersebut.

Jika clickbait dihilangkan, orang-orang takkan secara tidak sadar meninggikan ekspektasi pada awal artikel, dan media juga tidak akan perlu untuk memenuhi keinginan ekspektasi yang tinggi tersebut.

Siklus tanpa henti ini adalah langkah pertama untuk menciptakan warga Indonesia yang lebih kritis.

Kurangnya Kecermatan

Kesalahan dan blunder warga Indonesia dapat dengan mudah ditemukan dari banyaknya media yang menunjukkan arah agar orang-orang membenci atau tidak menyukai satu hal… Sayangnya, ada hal kontradiktif yang warga Indonesia dukung.

Jika ini membingungkan…

Aku sering menyebut dimana zaman sekarang (ini global issue, bukan hanya lokal, meski iya, di Indonesia cukup parah), banyak sekali orang menyalahpersepsikan Ideologi Politik.

  • Kapitalisme dilihat sebagai kekejaman demi keuntungan, padahal intinya berada di Kapitalisme yang mendukung pertumbuhan alih-alih menahan keseimbangan.
  • Nasionalisme sering dilihat sebagai Fasisme (the Politic F Word, Fascist), padahal nyatanya nasionalisme dan fasisme itu hal yang sama-sama mendukung cinta pada negara, serta cinta pada pemimpin, hanya saja, ada perbedaan dosis yang cukup banyak.
  • Komunisme (di Indonesia) dilihat sebagai ideologi tanpa agama, nyatanya komunisme bertujuan untuk menyamaratakan kodrat sosial masyarakat, dan mendukung keseimbangan ekonomi yang stabil.
  • Sosialisme di Indonesia cukup dicintai, padahal, sosialisme, (layaknya nasionalisme dan fasisme) dan komunisme adalah hal yang sangat mirip, hanya dengan dosis berbeda.
  • Orang Indonesia (setidaknya berdasarkan pengamatanku) tidak mengerti Imperialisme… Padahal jika mereka mengerti, imperialisme akan dilihat sebagai sesuatu yang lebih parah dari komunisme, dan sama juga, tidak punya agama.

Sosialisme vs Komunisme disini cukup ironis.

Seorang teman/tutorku bilang kemarin bahwa orang Indonesia benci komunisme, padahal mereka amat sangat mencintai produk sosialis, seperti BBM dengan subsidi, kesehatan yang ditanggung pemerintah, dan seterusnya.

Lucu sekali sebenarnya…

Kesalahpahaman sederhana ini terjadi karena kita kurang mau menganalisa, dan media (terutama di YouTube) tidak membantu dengan memberikan kita suatu konten yang tidak terlalu perlu di analisa, dan tinggal ditelan mentah-mentah.

The Media Mistake

Media, tentunya aku maksudkan bukan hanya yang di bawah naungan suatu perusahaan… Seperti pada Instagram, atau media seperti dikakipelangi.com ini membuat satu kesalahan fatal jika ingin memajukan ilmu warga Indonesia, serta konsumer media.

Banyak orang tidak diberikan ilmu dan tidak diberikan izin untuk menganalisa.

Mereka hanya diberikan suatu hasil kesimpulan seseorang, dan (secara terpaksa) disuruh menelan hasil analisa orang tersebut, karena kurangnya individualitas.

Sebagai contoh, aku sangat menginginkan untuk mengetahui apa itu Syiah, dan mengapa banyak orang tidak suka pada Syiah, dan apa juga bedanya dengan Sya’i.

Sesudah berusaha mencari di Google, aku diberikan 6-7 post dari blog yang mengulangi hadist yang berbeda, tetapi dengan makna yang sama.

Semua post tersebut pokoknya menyatakan bahwa… “Jangan ada syiah, syiah itu buruk, hindari syiah, dan bla bla bla bla bla” Tidak ada satupun artikel ataupun tulisan yang menjelaskan syiah itu apa, dan mengapa syiah sebaiknya dihindari.

Kita hanya diberikan masakan (masakan disini kumaksudkan sebagai analisa) dan tidak diberikan kesempatan untuk memasak bahan-bahan kita sendiri, menciptakan masakan kita sendiri.

Untungnya, aku dijelaskan perbedaan Sya’i dan Syiah oleh Babah, dan cukup beruntung juga, hehehe, ternyata Sya’i dan Syiah tidak begitu berbeda, setidaknya menurut analisaku, itu semacam sebuah perang saudara karena perbedaan filosofi.

Kenapa kita tidak diberikan kesempatan untuk menganalisa sendiri?

Semua blog, terutama yang di halaman pertama hanya memaksa kita untuk membenci syiah, dan kita tidak diberikan sedikit pun informasi yang bisa kita analisa sendiri.

Sungguh mengkhawatirkan sekali media Indonesia ini.

Kesimpulan

Seriusan, sebenarnya aku sudah menyimpulkan tiap bagian dari artikel ini beberapa kali.

Tetapi, kesimpulan utamanya ada di perubahan. Kita tidak bisa memulai perubahan sendiri, tetapi kita bisa berusaha untuk berubah sendiri, dan merubah orang-orang disekitar kita, agar pasukan pendukung perubahan ini akan terus bertambah.

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *