Projek Black Soldier Fly. Report #1

Projek Black Soldier Fly. Report #1

Udah hampir sebulan gak ada artikel, jadi langsung aja kita masuk ke proyek yang aku kerjakan untuk mengurangi kerepotan (sebuah kata yang disini berarti pekerjaan yang disuruh Ibuku) menyapu daun dan mendaur ulang sampah organik dengan Black Soldier Fly.

Mari mulai.

Apa itu Black Soldier Fly?

BSF (singkatan, aku akan menyebutnya seperti ini sekarang) adalah sebuah lalat yang terbilang bersih, tidak membawa penyakit, dan bentuk larvanya dapat dengan cepat serta mudah mendaur ulang atau memakan sampah organik.

Oh iya, nama latin Black Soldier Fly adalah Hermetia Illucens.

Larva BSF sendiri bisa memakan hampir semua sampah organik dengan pengecualian tulang, atau hal yang sudah mengandung bahan kimia seperti Formalin, dan Pestisida.

Ketika proses Metamorfosisnya berlangsung, telur, dan larva BSF akan makan yang sangat banyak, lalu berhenti makan ketika sudah menjadi Pupa, dan akhirnya berubah menjadi Lalat, kehilangan kemampuan untuk makan, lalu menjadi fresh graduate jomblo yang fokusnya hanya cari pasangan hidup, dan segera memiliki anak.

Semua itu dalam 44 hari.

Proyek ini.

Mari kita contreng beberapa hal sebelum masuk ke proyeknya.

Tujuan.

Daripada membuang sampah organik yang masih bisa dijadikan tanah, dan/atau bisa diberi makan kucing, untuk orang-orang yang sibuk (baca: malas, dan/atau pelupa, dan/atau punya manajemen waktu yang amat buruk) seperti aku, akan lebih mudah jika memelihara BSF untuk mendaur ulang sampah organik yang dihasilkan!

Iya, tujuan projek ini untuk mengurangi pekerjaan rumah.

Sebagai orang yang punya Ibu peduli akan alam (Baca: Hippie) selain harus memilah dan mendaur ulang sampah anorganik, sampah organik juga harus didaur ulang dengan cara dimasukkan dalam compost bag lalu ditumpuk daun sampai nanti jadi tanah.

Proyek BSF ini dimulai agar aku tidak harus repot menyapu daun dan harus mendaur ulang sampah organik.

Jika Azriel Arriadi-Hidayat punya slogan hidup, maka slogannya adalah “Save the earth. With the least amount of effort possible.” Atau dalam bahasa Indonesia. “Selamatkan Bumi. Dengan usaha seminim mungkin.”

Informasi didapat dari?

Terima kasih untuk @Baramoeda (cari di Google, Instagram, dan seterusnya) sudah menyelenggarakan workshop tentang BSF hari Minggu kemarin.

Progress.

Projek ini baru mulai, dan laporan pertama hanya akan membahas larva yang aku dapatkan dari kit Waste Warrior Workshop yang diselenggarakan hari Minggu kemarin.

Aku sedang membuat penangkap telur, dan masih banyak hal lagi yang perlu dibahas.

Laporan hari ini akan membahas 3 hari pertama aku mendapatkan larva BSF, apa yang diberi makan, sukses atau tidaknya, dan seterusnya.

What I like about BSF.

Dari workshop dan dari mengurus.

  • Mempermudah hidupku. (nomor dua kalau mau punya apa-apa, P.S. nomor satunya adalah bikin hepi atau gak)
  • Sebuah pelajaran ke Mikrobiologi dasar! Aku mau kuliah itu nanti!
  • Memberikan aku teman ngobrol yang gak mungkin ngejudge aku. (kiranya Kucing apa Guguk kali ya)
  • Hewan peliharaan yang sangat low maintenance (Menurut Bapak Ramadhani Putra, Ph. D. Larva BSF sangat happy-go-lucky. Kalau ada makanan, mereka makan, kalau gak ada, mereka tidur. Hidupnya sangat sederhana)

Disclaimer.

Aku tahu bahwa ada anggota keluarga aku yang takut akan cacing, jadi… Jangan baca artikel ini.

Stop sekarang.

Mari kita masuk ke artikelnya jika anda tidak takut cacing.

Day 1.

Oops wrong reference.

Seperti beberapa orang sudah tahu… aku tidak punya smartphone.

Jadi dengan sangat menyesal, aku tidak punya foto dari makanan pertama yang dimakan Larva BSF (yang aku perlu kasih nama). Hal yang sama berlaku untuk foto makanan kedua. Aku baru memfoto proyek ini ketika sudah hari ketiga di iPad milik ibuku.

Semoga kata-kata cukup untuk menjelaskan hari pertama dan kedua.

Pada hari pertama, aku langsung memindahkan cacing BSF ini ke wadah yang lebih dalam, agar mereka bisa makan dengan lebih puas dari mangkok yang awalnya diberikan tim workshop.

Ukuran wadahnya tidak melebihi batas 30 cm mereka mau mencari makan.

Makanan 1:

  • Makanan: Nasi Goreng beserta Sosis (karena ku gak makan daging sapi, cacing BSF dapat sosisnya!)
  • Jam diberikan: Sore. (note to self, kalau mau bikin laporan, catat jam dengan detil) kalau tidak salah 17.30

Makanan 2:

  • Makanan: Kentang busuk, Bawang Merah busuk.
  • Jam diberikan: Malam. Jam 19.50

Hasil:

Nasi Goreng dimakan sebagian, sosis tidak disentuh (mungkin mereka gak makan sapi kaya yang ngurus, atau mungkin itu pake pengawet?) Kentang dimakan secara perlahan (sudah ada lubang, tetapi ukuran kentangnta gede banget, kayanya butuh waktu), Bawang Merah sudah tidak bersisa.

Percakapan

Percakapan ini terjadi pada hari Minggu, pukul 20.00 dikatakan oleh seorang lelaki berumur 17 tahun yang jomblo, gak punya gebetan dan dipastikan gak ada kerjaan dikatakan ke sekitar 100 ekor larva yang lagi makan.

  • Aku: Kamu kok gak mau makan sih?
  • Larva: …
  • Aku: Cuman gerak-gerak doang.
  • Larva: *gerak-gerak*
  • Aku: Makan dong.
  • Larva: *Ada yang manjat tromel*
  • Aku: Jangan kabur. Kenapa kalian kabur?
  • Larva: *Masih manjat tromel*
  • Aku: Kok gitu sih, kalian dikasih makan Nasi Goreng gak mau? Nasi Gorengnya gak enak? Atau jangan-jangan pake pengawet atau vetsin? Kata Pak Rama kalian makan Nasi Padang juga mau… *mengintip ke bawahnya wadah*
  • Larva: *Ternyata lagi makan*
  • Aku: Oh… kalian ada yang makan? Aku gak liat.

Day 2.

Cek hasil kemarin.

Pagi.

Belum dimakan. Jumlah masih banyak. Aku khawatir, tetapi karena aku ada tryout UN, aku perlu pergi segera. Aku cuman bilang dadah sama Larva dan nyuruh mereka makan.

Siang.

Pulang ke rumah. Nasi goreng berkurang sedikit.

Udah. Sosis masih belum disentuh, Kentang gak makin kecil, bawang berkurang.

Aku jadi lebih khawatir karena kata Pak Rama… Mereka makannya banyak banget. Sengaja gak aku kasih apa-apa dulu.

Malam.

Malam aku makan Mie Kuah Jawa, jadi khusus aku sisain sepotong Mie, dan 2 potong tomat (karena aku gak doyan tomat) dengan harapan mereka makan.

Mereka aku tanyain, mungkin seleranya selera orang Jawa jadi harus pake kecap. Larva-larva tersebut gak jawab.

Day 3.

Hari ini.

Well.

Nomor satu harusnya gambarnya.

Seperti bisa dilihat. Masih ada kentang busuk, Mie sudah tidak ada, bawang merah masih ada tetapi jumlahnya berkurang, ada sosis yang gak disentuh, dan nasi goreng yang gak keliatan dari atas.

Jadi mari kita lihat dari bawah!

Mungkin gak terlalu jelas ya…

Tetapi secara visual, nasi goreng sudah tidak dalam bentuk nasi lagi dan sudah menjadi agak cair begitu. Itu bisa berarti dua hal.

Satu, Larva BSF melakukan tugasnya meski butuh waktu lama.

Dua… Bakteri melakukan tugasnya karena waktu sudah berjalan lama.

Semoga itu yang nomor satu.

Sejujurnya aku sangat khawatir pada larva BSF karena ada yang berusaha kabur lalu mati karena kejepit, dan juga ada yang gak gerak lagi di bawah.

But, honestly, I’m just hoping this works out…

Oh ya, kalau ada kabar baik secara visual, secara nasal… baunya repungent (repungent berarti jijik, dan sebaiknya gak dideketin… tapi tentunya kalian sudah tahu itu.)

Kesimpulan.

OKAY! Mungkin iya aku tidak melakukan ini untuk noble cause.

Tapi setidaknya aku mendekomposisi sampah-sampahku. HA!

Anyway akan segera dibuat penangkap telur (mungkin besok lusa atau hari jumat) agar larvanya didapat lagi, dan aku perlu bertanya ke penyelenggara workshop yang dikenal dengan nama Baramoeda apakah normal ada Pupa yang sudah mau kabur, dan mereka makannya begitu lambat?

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *