Post Kolonialisme: Penyebab Hilangnya Identitas Budaya

Post Kolonialisme: Penyebab Hilangnya Identitas Budaya

Yeay! Kita bahas Post Colonialism!

According to some of my “sources” (klub Global Literacy, part of SMKAA) in the Asian African Museum… Masih banyak hal dari era colonialism yang tercerminkan ke abad 21. Beberapa teori dari post-colonialism akan aku bahas di sini. Among these theories, banyak hal yang gak seratus persen apply lagi ke era tech and… social media ini. Tapi, somehow kalau dimasukkan philosophizing (waw, ternyata itu kata) dan some other… stuff dalem sini, these things might actually count.

Sebelum masuk ke artikel, judulnya emang gitu aja, sorry… Aku tidak kebayang satu kata yang masih terkesan humoris dengan hal-hal yang terjadi disini… Since apparently, trauma vibrates, resounding loud, so that generations passing the traumatized ones could still HEAR the torture…

Edit: Judulnya sudah diubah biar rada puitis, dan jika mau tahu judul asli-nya bisa liat di link, dan iya, si judul original-nya rada… ga jelas sebenernya..

Wow! Ada Bule!

Teori ini… sebenernya udah pernah aku bahas pas aku nulis review buku Pulang. Kayanya orang-orang lokal pasti bakalan muterin muka kalau ada orang luar.

No, seriously though. Ini kayanya semacam hardwired trait untuk orang-orang yang dulunya sempat di colonize. Or… hang on, aku ga tahu pasti sih, tapi a portion of this theory would be shut down… kalau Thailand yang ga pernah dijajah juga, mungkin tetep ngelirik kalau ada bule.

Tapi even then, kayanya teori ini tetep berjalan dengan cukup mulus, kalau orang yang bukan Caucasian melihat orang Caucasian bakalan ngelirik sih… Ini mungkin trauma yang tadi aku bilang, echoing…

Mungkin masih hardwired di otak kita kalau… sebenernya, kita masih merasa bahwa orang-orang luar itu orang-orang yang… more powerful than we are. In fact, pas aku ngebahas ini kakaknya bilang mungkin liat cewe dengan rambut pirang dimanapun juga pasti dibilang cantik sama orang lokal mah… Or, I don’t know actually. Aku bener-bener ga tahu pasti gak-nya, karena teori ini… ga bener-bener certain, tapi at the very least… ngelirik mah tetep.

Sebenernya sih, juga masih ada kemungkinan bahwa “fenomena” ini terjadi karena emang kita jarang ngeliat orang luar. Tapi, sebenernya sih, kalau aku mau breakdown teori ini, dan sedikit lebih kritis. Kalau kita ke U.S. or Belanda aja misalnya, apa kita diliatin orang di sana karena mereka jarang liat orang Indonesia?

I don’t really think so, karena aku belum pernah ke Eropa, atau ke  U.S. tapi, aku ga yakin mereka akan ngeliat kita dengan cara kita (or at the very least, kalau ga mau ngaku, orang-orang yang ga tinggal di kota), ngeliat orang mereka?

I think there is still some… subconscious traits wired onto our heads.

Outsourcing Things…

Well, ini some backup evidence bahwa kita subconsciously think that… orang luar lebih WAAAAHHH! Dari orang kita, dan ini juga mungkin alasan bahwa orang Indonesia tuh sebenernya senang banget ngedenger aksen British yang dibuat-buat, atau perfect English grammar, tanpa kebawa lagi logat lokalnya.

Tapi, sebenernya, come on… logat lokal itu sebenernya apa yang “mewarnai”, culture dunia ini… Sure, English is a language that unites us all, dan juga itu bahasa yang bisa dipakai, pretty much everywhere… (from my personal experience alone, except Thailand… Tar itu lebih jelas di bawah)

Wait sekarang ngomong bahasa jadi rada malu kenapa aku mencampur-campur bahasa… Sebenernya aku mencampur bahasa di blog ini tuh gunanya… karena aku sebenernya ga selalu bisa menemukan kata sederhana yang ga berat di Bahasa Indonesia. Karena bahasa inggris itu bahasa universal, aku jadi pake dikit… (okay, banyak) untuk mempermudah dan mempersantai artikelku.

Lanjut ke topik yang harusnya dibahas… 2 paragraf kemudian…

Di India, ada kasus bahwa ada perusahaan dari UK, yang hire orang India, dan dilatih speaking skills-nya, sampai bener-bener hilang logat Indianya kalau ngomong bahasa Inggris. Orang-orang dengan aksen british yang sempurna ini eventually dipekerjakan sebagai on-call Customer Service di Indianya sendiri.

(okay sebenernya aku mau make HIRE tadi… kenapa kalau Hire lebih simple ya kedengerannya)

Anyways, jadi di beberapa perusahaan ini, mereka semacam outsource orang-orang untuk memberikan image company yang false, saying that… “WIH! Keren amat tuh, orang inggris sendiri jadi CS-nya”

Jadi, like I said, ini kayanya subconscious trigger yang udah hardwired ke otak kita sejak lahir.

Mimikri!

On the subject of… (Kecewa pada diri sendiri)

Dalam topik… (pake Google Translate untuk mentranslate Outsource ke Bahasa Indonesia) Alih daya…. Okay, aku tetep mau make outsource…

Dalam topik outsourcing, ini sesuatu yang disebut dengan Mimikri. Pada dasarnya, mimikri itu bagaimana cara orang-orang dari sebuah negara yang pernah dikolonisasi untuk mengikuti secara tidak langsung budaya dari negeri yang menjajahnya.

Dalam kasus di atas, India memang pernah kan dijajah inggris. Jadi, untuk menambah faktor “WAAAHHH!” tadi, yang outsource adalah perusahaan inggris, dan logat yang dibuat juga logat british.

Jadi, sebenarnya, Mimikri ini menyebabkan Identity Crisis, antar kedua negara tadi. Ada kemungkinan bahwa negara yang dijajah tadi memang merasa “tertekan” dan untuk memberi dirinya sendiri image keren, ia akan berusaha membuat dirinya similar… (Sebel sendiri…) mirip ke negara yang menjajahnya.

Dalam era globalisasi, masalah ini melonjak entah berapa kali lipat. Dan aku jadi ingat dulu di sekolah… Ketika materi globalisasi dibahas, pada dasarnya, salah satu downside… atau, sisi negatif dari globalisasi adalah cara budaya luar, slowly eat up… budaya kita.

Aku yakin sih globalisasi juga bermain dengan cukup kuat dalam masalah kehilangan budaya dan identity crisis ini. Tapi, masalah berikutnya… ada di Mimikri… Karena, sebenarnya, aku belum pernah dengar kasus orang dari barat mengikuti culture kita karena insecurity. Seperti kita, mengikuti culture mereka karena merasa insecure…

Orang-orang luar mungkin memakai batik karena mereka suka dengan pola batik yang bagus, bukan karena mereka merasa lemah atau merasa budayanya lebih lemah dari budaya kita.

Jadi apa yang diajarkan di kelas 5 dulu pas aku sekolah tidak sepenuhnya benar, karena… face it, (duhhhh, sama kaya insecure aku ga punya istilah yang lebih baik…) kalau kita bukan negara yang bekas di kolonisasi, kita ga bakal kaya gini.

Orang Thailand sebenarnya bisa jadi odd one out, tapi… aku sekali lagi ga mau kasih bukti solid mengenai mereka. Tapi pas aku ke Thailand emang banyak sih orang yang ga bisa Bahasa Inggris, mungkin mimikri ga kena ke budaya Thailand sekeras mimikri kena ke budaya kita.

Ambivalensi

Ambivalensi itu mirip banget sebenernya sama Mimikri.

Tapi kalau Mimikri itu kita berusaha copy-paste budaya luar, Ambivalensi itu semacam, menyatukan kedua budaya tersebut, bertemu di tengah… (meeting in the middle) membuat Identity Crisis yang sangat parah… cukup parah untuk membuat Superman galau karena orang-orang tahu identitasnya (okay, aku pernah baca komik Identity Crisis).

Perbedaan yang rada nampak berikutnya antara mimikri dan ambivalensi mungkin bisa diambil dari contoh ini…

Misal, kalau orang mau memimik cara dress up (berpakaian… okay, ini rada susah) orang barat, mungkin mereka akan pakai suit and tie (jas!, bukan suit and tie) ke formal meeting, alih-alih batik…

Tapi kalau hasil dari ambivalensi… kedua budaya akan bertemu di tengah, dan cause fashion error yang parah… Misal, kaya make batik dan juga… okay sebenernya aku ga tahu pasti sih contoh nyatanya gimana, tapi basically mereka membuat style yang.. rada ga jelas karena campurnya dua budaya yang beda jauh.

In Conclusion… (Drats!)
Kesimpulan…

Aku mau jujur aja… aku bener-bener berusaha keras buat ga pake backspace kalau udah tanggung ngetik kata yang di Bahasa Inggris. Dan sejujurnya, dengan skill bahasa inggrisku yang… (thankfully) cukup baik, itu bener-bener susah buat menahan diri ga pake kata bahasa inggris.

Aku sejujurnya rada kecewa pada diriku sendiri, dan juga kecewa pada orang yang merasa bahasa Inggris itu keren, meski sebenernya, aku memakai bahasa inggris itu buat terdengar santai, kadang aku juga kesusahan menemukan term… tuh kan… istilah di bahasa indonesia yang bisa lebih sesuai. Dan sebenernya memang aku suka merasa beberapa istilah di bahasa inggris lebih keren…

Padahal kan bahasa kita juga sama kerennya. Mungkin kalau mau kedengeran santai tanpa make istilah gen Z rada susah… (contoh: Gaje [bener-bener ga suka sama itu, meski kadang nempel juga, dan ngikut, oh tidak…], woles [okay, ini dibalik… kenapa!?], kuy [lihat woles juga])

Jadi, sebenernya, aku akan menarik kesimpulan bahwa sebenernya, budaya kita juga keren lho… jangan jadiin Mimikri, ambivalensi, dan hal kaya gini sebagai alasan untuk mengabaikan budaya kita.

Mungkin istilah Gen Z yang aku sebut tadi juga… aneh dan terdengar keren…Tapi kenapa untuk mendapatkan sesuatu yang rada gaul/santai/keren perlu nyingkat atau ngebalik bahasa kita yang udah bagus.

Okay kesimpulannya panjang banget… Intinya, jangan sampai budaya kita termakan budaya lain, dan juga jangan sampai kita membiarkan teori (yang aku percaya sebagai fakta, bukan cuma teori) ini jadi kenyataan yang padat.

Semoga bisa dinikmati artikelnya!

(YAAY! GA PAKE ENJOY! BANGGA SENDIRI)

One Reply to “Post Kolonialisme: Penyebab Hilangnya Identitas Budaya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *