PLAY, sebuah tulisan. Part 2

PLAY, sebuah tulisan. Part 2

It is a happy talent to know how to play.” -Ralph Waldo Emerson

 

Setelah membaca tentang hasil-hasil riset berkaitan dengan menurunnya kesempatan main pada anak-anak serta fakta bahwa anak-anak sangat menyukai bermain di luar ruangan, maka saya akan melanjutkan menceritakan bagian terakhir dari jurnal The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent – Peter Gray. Menurut saya, bagian terakhir ini adalah bagian yang paling menarik dan bermakna mendalam.

 

Bagian yang akan saya ceritakan adalah bagian yang berisi tentang ‘Bagaimana bermain mendukung kesehatan mental anak-anak’. Peter Gray menulis bahwa, bermain membantu anak-anak untuk:

  1. Mengembangkan minat intrinsic dan kompetensi
  2. Mempelajari cara membuat keputusan, menyelesaikan masalah, mengupayakan pengendalian diri, dan mengikuti aturan
  3. Mengendalikan emosi mereka
  4. Berteman dan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain yang setara
  5. Merasakan kebahagiaan

Melalui ke-5 hal diatas lah bermain menjadi hal yang mendukung kesehatan mental anak-anak.

 

Kembali saya ulas bahwa dalam konteks bermain dari jurnal Peter Gray ini adalah bermain sebagai free play, yang diartikan oleh penulisnya, aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini.

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MENGEMBANGKAN MINAT INTRINSIC DAN KOMPETENSI-KOMPETENSI.

Aktivitas yang berorintensi secara intrinsic, secara definisi adalah bermain atau FREE PLAY. Karena bermain itu sendiri dilakukan untuk bermain, kepentingan utama dalam bermain adalah bermain itu sendiri, tidak ada goal lain atau tujuan extrinsic (tujuan yang diarahkan keluar, bukan dari dalam, misal mendapatkan pujian, mendapatkan nilai, mendapatkan hasil nyata atau terukur atau jelas, sementara tujuan intrinsic adalah kebalikannya, dalam tujuan intrinsic maka hasilnya hanya dapat dirasakan oleh si individu sendiri, oleh karena itu hasil tersebut bisa jadi tidak nyata, tidak terukur bahkan tidak jelas, misalnya rasa puas, bahagia, senang).

 

Bila kita dapat mengapresiasi nilai dari kegiatan anak bermain bebas, maka kita memberikan simpulan bagi anak bahwa anak dapat mengejar tujuan intrinsic, bahwa adalah boleh melakukan yang ingin kamu lakukan, bahwa keputusan kamu bernilai. Sedangkan sebaliknya, bila anak berada dalam dunia yang berorintasi mendapatkan resume, hasil dan nilai, maka dalam masa depannya simpulan anak adalah ‘dunia ini penuh dengan tugas, selalu ada yang beban yang menanti di masa depan dan beban ini adalah sesuatu yang muncul dari pandangan orang lain, kamu pun tak tahu apa beban tersebut, dan tidak ada jaminan kamu akan berhasil memenuhi beban tersebut’. Perlu kita ketahui bersama bahwa uncertainty, ketidak pastian yang sangat kaya dalam pendapat kedua adalah sumber timbulnya depresi dan stress.

Bila saya bayangkan, anak-anak yang tumbuh dengan mengejar tujuan extrinsic, sesuatu yang sangat nyata dan dibentuk lewat pandangan orang lain, bukan pandangan dirinya sendiri, mungkin dapat menjadi anak yang sangat sukses, kompetitif, mampu bersaing, anak-anak yang mendominasi keberhasilan di ruang kelas, atau dalam kompetisi, namun hal yang perlu kita cermati adalah pada waktu tertentu sumbu tersebut akan habis terbakar. Bayangkan bila hidup kita adalah sebuah marathon, ketika kita berlari sangat cepat melibas semua yang berlari disamping kita maka besar kemungkinan nafas kita akan habis sebelum mencapai garis finis, namun sebaliknya bila anak-anak menikmati masa kanak-kanak mereka dengan lembut dan perlahan, tanpa tergesa-gesa, tanpa tekanan akan tujuan extrinsic, maka mereka akan lebih mampu menghadapi hidup dikemudian hari dengan tujuan intrinsic sebagai panduan keberhasilan mereka sendiri.

Dalam kegiatan persekolahan umumnya anak berupaya untuk mendapat pujian, nilai yang baik, atau prestasi yang disematkan oleh orang dewasa, juga dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, atau bahkan dalam kegiatan olah raga, mereka berupaya untuk tujuan extrinsic yang ditentukan oleh penilaian dan pandangan orang lain. Tetapi, dalam FREE PLAY, anak-anak melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan hasil baik yang mereka dapat, apakah itu pembelajaran maupun perkembangan psikologis, adalah suatu produk sampingan dan bukan tujuan sadar dari kegiatannya.

 

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MEMPELAJARI CARA MEMBUAT KEPUTUSAN, MENYELESAIKAN MASALAH, MENGUPAYAKAN PENGENDALIAN DIRI, DAN MENGIKUTI ATURAN.

Bila meningkatnya gangguan kecemasan, stress dan depresi berhubungan dengan perasaan kehilangan kendali akan diri sendiri, maka FREE PLAY adalah obat yang sangat sesuai. FREE PLAY merupakan kegiatan yang diatur dan dikendalikan oleh para pemainnya sendiri. Sementara dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, olah raga dan bahkan kegiatan persekolahan pada umumnya, orang dewasa yang menentukan apa yang harus anak-anak lakukan, kapan anak-anak melakukannya, dan bila ada tantangan yang muncul dalam perjalanan tersebut, maka orang dewasa lah yang menyelesaikan.

Tapi dalam bermain, dalam FREE PLAY, anak-anaklah yang menentukan apa yang akan dilakukan dan bagaimana, lalu mereka sendiri yang menyelesaikan masalah yang timbul. Termasuk masalah-masalah yang muncul dalam permainan, yang terkadang dalam kacamata orang dewasa tampak pointless, tidak bertujuan, tidak jelas. Sebagai contoh permainan kejar-kejaran, yang sering dilakukan anak-anak, akan membuat mereka mencari strategi terbaik untuk tidak tertangkap, atau bahkan permainan petak umpet anak berupaya mencari solusi terbaik, tempat persembunyian yang ideal, dan mereka terus belajar dari pengalaman sebelumnya (pengalaman yang mungkin pengalaman mereka tapi juga pengalaman orang lain, pengalaman teman mereka). Selain itu, masalah lain yang muncul diluar permainan, misal bagaimana bila ada anak yang jatuh dan terluka, mereka mencari solusi atas masalah itu sebagai bagian dari kegiatan bermain.

Dalam FREE PLAY, anak-anak belajar mengendalikan hidup mereka sendiri dan mengelola lingkungan sosial dan fisikal disekitar mereka. Mereka juga belajar dan berlatih banyak keterampilan yang penting dalam keseharian dengan itu mereka mengembangkan kompetensi atas keterampilan tersebut dan juga memupuk kepercayaan diri.

Lev Vygotsky, seorang psikolog perkembangan anak, menulis dalam essaynya, bahwa hal utama dalam kegiatan anak bermain terletak pada kesempatan melatih self-control. Beliau menyampaikan bahwa semua kegiatan bermain (FREE PLAY), ada aturan yang muncul dan para peserta yang ikut bermain secara sadar akan mengendalikan diri mereka mengikuti aturan ini. Meski aturannya tidak harus tertulis atau bahkan tidak disampaikan secara jelas, aturan-aturan ini adalah aturan-aturan yang berpedoman pada intuisi (dalam hal ini intuisi anak tentunya).

Sebagai contoh, kala anak bermain berantem-beranteman, maka mereka akan mengendalikan kekuatan yang mereka pakai untuk memastikan tidak menyakiti pemain lain, bahkan ketika si anak satunya jauh lebih kuat dari anak lain, maka ia akan mengendalikan dirinya untuk mengatur kekuatannya dengan upaya tidak menyakiti temannya, atau kala bermain menjadi superhero, maka si superhero akan kuat untuk tidak menangis atau mengeluh, meskipun terjatuh.

Permainan lain yang beberapa waktu lalu menjadi permainan anak-anak Jagad Alit adalah permainan kucing-kucingan, yang cukup menarik, kami sebagai orang tua ketika mendengar dari anak kami bahwa mereka bermain kucing-kucingan langsung membuat kesimpulan bahwa permainan tersebut melibatkan seseorang menjadi kucing dan yang lain berlari menghindari tertangkap, namun alangkah kelirunya kami, ternyata permainan tersebut adalah seseorang menjadi kucing, si kucing akan diikat menggunakan tali, dan karena dia telah menjadi kucing, maka dia akan berjalan dengan 4 kaki, dan bersuara dengan mengeong, serta tidak pergi dari tempat dimana ia ditalikan oleh pemiliknya, dalam kesempatan tertentu si kucing diikat di pegangan pintu dan kesempatan lain kucing terikat di bawah kaki kursi. Peraturan tidak tertulis dan tidak disampaikan secara jelas, tapi dimengerti oleh seluruh pemainnya, bahkan anak lain yang awalnya tidak terlibat permainan akan tidak sengaja terlibat ketika lewat lalu mengelus-elus si kucing dan si anak yang menjadi kucing akan mengeong senang.

Ditulis pula oleh Vygotsky, bahwa keinginan kuat dari anak-anak untuk bermain dan memastikan permainan tetap dapat berlangsung, membawa mereka untuk menerima batasan-batasan yang tidak mudah mereka terima dalam kehidupan nyata. Dan ini adalah fakta bahwa anak-anak mengupayakan self-control yang sangat penting untuk kehidupan sosial di dunia nyata kelak. Dalam bermain anak mempelajari bahwa self-control itu sendiri adalah sumber kesenangan dan kepuasan.

Sangat masuk akal bila kemudian kekurangan kesempatan bermain akan membawa individu kelak kehilangan rasa memiliki kesempatan pengendalian diri. Anak-anak yang tidak mendapat kesempatan untuk mengendalikan tindakan mereka sendiri, untuk membuat dan melaksanakan keputusan mereka sendiri, untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, dan mempelajari bagaimana mengikuti aturan dalam lingkup bermain (FREE PLAY), tumbuh dewasa dengan merasa mereka tidak memiliki kendali atas hidup mereka dan takdir mereka sendiri. Mereka dapat tumbuh dengan merasa bahwa mereka bergantung pada keberuntungan dan kebaikan orang lain, dan betapa menakutkan kala mereka menyadari bahwa keberuntung sejalan dengan upaya dan kebaikan orang lain tidak selalu mereka dapatkan.

 

Sekian dulu, masih ada 3 hal penting lagi yang belum saya bahas yaitu tentang bagaimana bermain anak belajar meregulasi emosi mereka, dan juga bagaimana bermain anak-anak mendapat kesempatan berteman dan belajar untuk hidup bersama dengan temannya secara setara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *