PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

“A person’s maturity consists in having found again the seriousness one had as a child, at play.” -Friedrich Nietzsche

Baru beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah link ke Jurnal berjudul, The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent, Peter Gray dari seorang guru, mentor yang begitu dekat di hati saya.

Saya perlu menulis karena yang saya dapat dari jurnal tersebut, sangat mencerahkan, dan rasanya terlalu penting untuk tidak dibagikan. Jadi saya memberanikan diri untuk menulis hal-hal yang “gold” dari jurnal tersebut dari kacamata saya tentunya.

Kalimat pertamanya saja buat saya sudah istimewa. Ini kalimat pertama dari isi jurnal, “Children are designed, by natural selection, to play”. Sounds about right, ya ga sih?  Anak-anak selalu mencara cara, menemukan kesempatan, untuk bermain, dan ini dilakukan oleh anak dimana saja di belahan dunia manapun, dan sepanjang sejarah, anak-anak melakukan ini. Fakta ini diperkuat dengan hasil riset antropologis, bahwa bahkan pada kebudayaan berburu pun, anak-anak bermain, setiap hari, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, bahkan saat mereka memasuki masa remaja, dan lewat bermain ini mereka mendapatkan skill dan sikap yang diperlukan untuk masa dewasa.

Photo from China Daily

Photo from DW

Dalam jurnal ini, kegiatan bermain mengacu pada FREE PLAY, yang diartikan oleh penulisnya sebagai  (saya menerjemahkan dengan sederhana saja ya), aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini. Penulis meyakini bahwa manfaat free play bergantung pada self-directed dan sifat intrinsic nya (nanti si intrinsic ini akan dijelaskan lebih jauh di bagian selanjutnya).

Terus ketika membaca ini, saya mikir, hmm betul juga, anak-anak jaman sekarang kalau main ya diatur sama orang dewasa, mainnya dimana, kapan, bagaimana, bahkan ga jarang ketemu anak yang nanya, “ini mainnya gimana?”, sama orang dewasa di dekatnya. Esensi FREE PLAY semakin menghilang, berkurang, bahkan pada beberapa kondisi, lenyap. Saya suka karena ketika membaca jurnal kaya data ini, saya menemukan benang merah keterkaitan tentang pentingnya FREE PLAY itu sendiri.

Manusia berkembang dari masa ke masa, perubahan jaman yang terjadi dari masa berburu menjadi masyarakat bercocok tanam, mengurangi kesempatan anak dalam bermain. Pada masa bercocok tanam, anak-anak menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja, biasanya pekerjaan domestik atau pekerjaan di ladang, lalu dengan revolusi industri, anak-anak bekerja di pabrik. Tapi, ketika mereka mendapat kesempatan –dan anak-anak menemukan kesempatan-kesempatan ini- mereka akan bermain, dan pada masa tersebut, mereka bermain dengan bebas, tanpa pengarahan orang dewasa.

Awal abad ke-20 adalah masa keemasaan bagi unstructured play, ini ditulis oleh Howard Chudacoff, seorang profesor sejarah, dalam bukunya the History of Play in America. Dan unstructured play menurut Chudacoff berarti main yang strukturnya ditentukan oleh anak-anak sendiri, dan bukan oleh orang dewasa, jadi ini berhubungan dengan istilah FREE PLAY ya.

Meskipun ruang lingkup Jurnal ini adalah Amerika, tapi hal-hal yang saya baca di jurnal ini sangat sesuai dengan apa yang dialami masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat menengah keatas di kota besar). Hal yang sangat nampak, adalah menurun drastisnya anak bermain diluar ruangan dengan anak lain. Dimasa saya kecil, rasanya wajar main diluar sepulang sekolah, atau bahkan main sepanjang hari kala libur. Kala saya kecil, saat libur saya dititipkan ke rumah Akung, bersama sepupu-sepupu saya, dan sepanjang hari kami bermain. Main yang seingat saya memang tidak jelas, mainnya main apa, main ibu-ibu, kantor-kantoran, masak-masakan, piknik-piknikan, main di balong, jalan kaki ke pendopo (ini dari rumah sekitar 3km, dan kami anak-anak berjalan bersama tanpa didampingi orang dewasa), dan banyak lagi yang saya juga tidak ingat. Tapi, kami bermain bebas, keberadaan orang dewasa kala itu sangat tidak signifan dalam urusan main, orang dewasa hanya memberi kami makan, dan mengingatkan kami untuk mandi, itu saja. Main menjadi urusan kami yang anak-anak.

Saat ini, bahkan di jalanan tempat tinggal kita, sudah semakin jarang kita melihat anak-anak bermain diluar. Kala kita melihat anak-anak main diluar maka akan ada orang dewasa yang hadir memberikan instruksi ini dan itu. Tidak jarang ketika saya berkunjung ke taman atau hutan kota, segerombolan anak-anak ada disana dengan dipandu dan digiring oleh beberapa orang dewasa, kebebasan untuk bermain sudah berkurang, bahkan hilang. Anak-anak mengikuti dengan pasrah apa yang dikehendaki oleh orang dewasa, dan bahkan ketika ada teman bersama mereka, mereka tidak berdaya untuk bermain bersama anak-anak lain, karena ada rencana orang dewasa yang memandu kegiatan mereka.

Data yang didapat dari jurnal, anak-anak bermain lebih sedikit pada tahun 1997 dibandingkan tahun 1981, dan bukan hanya itu, anak-anak juga memiliki lebih sedikit waktu senggang untuk melakukan kegiatan yang mereka pilih sendiri. Sebagai contoh, pada usia 6 hingga 8 tahun, riset menunjukkan penurunan 25% dalam waktu yang dihabiskan anak untuk bermain, dan meningkatnya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi. Bahkan waktu yang dihabiskan anak untuk berinteraksi dengan orang dewasa di rumah pun menurun, angkanya mencengangkan 55% penurunan. Yang meningkat adalah waktu mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, meningkat hingga 145%, bayangkan bila pada tahun 1981 anak menghabiskan waktu 1jam untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, maka 18 tahun kemudian, pada 1997, seorang anak menghabiskan 2,5jam.

Data sebelumnya didapat dari riset yang dilakukan jajaran sosiologis di University of Michigan, dalam studi tersebut bermain juga termasuk main di dalam rumah, seperti bermain permainan komputer, board game, dan juga bermain diluar. Pada tahun 1997, di Amerika total waktu anak bermain dengan permainan komputer adalah 11 jam seminggu. Bayangkan, dengan meningkatnya jumlah kegiatan yang bisa dilakukan anak dengan layar dimasa sekarang ini, bila dihitung-hitung berapa jam mereka habiskan di depan layar? Dan waktu tersebut adalah waktu yang akan lebih baik bagi anak untuk dihabiskan diluar ruangan, bermain.

Dalam studi lain oleh Rhonda Clements hampir 1 dekade lalu, dengan menggunakan sampel 830 orang ibu dari seluruh Amerika Serikat, ditemukan bahwa 83% ibu setuju bahwa anak mereka (usia 3 hingga 12 tahun) bermain diluar lebih sedikit dengan masa mereka dulu. Hasil studi Rhonda Clement ini juga sesuai dengan hasil survei yang dilakukan di Inggris. Fakta yang menurut saya sangat relevan dengan Indonesia saat ini. Bila saya bertanya pada sesama orang tua, 9 dari 10 akan setuju bahwa dulu mereka lebih sering menghabiskan waktu bermain diluar ketimbang anak-anak mereka saat ini.

Menurunnya angka anak bermain di luar seringkali TV dan kegiatan komputer serta kegiatan berbasis layar lainnya lah yang seringkali dijadikan kambing hitam. Dalam riset Clements, 85% ibu memilih TV dan permainan komputer sebagai pilihan kegiatan bagi anak mereka alih-alih bermain diluar. Dalam survei, para ibu mengatakan bahwa mereka sendiri memberikan batasan bagi anak untuk bermain diluar, dengan 82% ibu mengutarakan bahwa masalah keamanan menjadi perhatian utama mereka menghindari anak-anak bermain diluar ruangan.

Orang tua sekarang merasakan lebih banyak ketakutan membiarkan anak bermain diluar ketimbang orang tua mereka dulu, dan media memiliki peranan menghadirkan rasa takut tersebut. Saat ini, bila ada kasus penculikan, pelecehan dan penganiayaan seorang anak dimanapun, kejahatan tersebut mendapat sorotan media yang tinggi. Pada kenyataannya, kasus-kasus tersebut sangat sedikit dan jumlahnya menurun. Namun, orang tua percaya sebaliknya. Ini didukung oleh data yang didapat IKEA melalui survey bahwa alasan utama orang tua tidak mengizinkan anak bermain diluar adalah keamanan anak dari predator seksual 49% dan sebagian lain khawatir akan kendaraan serta bully.

Berdasarkan survey ikea dengan mayoritas responden merupan responden internasional, 54% orang tua menyatakan bahwa anak mereka PALING BAHAGIA ketika sedang bermain diluar. Dan hanya 19% orang tua yang mengatakan anak bahagia kala bermain permainan elektronik. Dalam studi itu juga ditemukan 89% anak lebih menyukai bermain diluar dengan teman, ketimbang menonton televisi. Serta dalam survey online, pada rumah dengan akses komputer dan internet, 86% anak memilih bermain diluar dibandingkan menggunakan komputer dirumah.

Salah satu penyebab lain menurunnya kesempatan anak untuk bermain adalah, meningkatnya waktu dan beban persekolahan, serta kegiatan yang diarahkan orang dewasa (adult directed activities). Kalender akademik menjadi lebih panjang, hari sekolah menjadi lebih lama, bahkan semakin banyak anak-anak yang menjadi bagian dari kegiatan prasekolah yang berbasis akademik. Membaca ini, saya berpikir jauh tentang kegiatan di sekolah Alice, yang 80% nya adalah FREE PLAY. Serta bagaimana tim akademik SD Arunika berusaha mengatur ritme yang menyediakan waktu istirahat yang panjang bagi anak-anak, bayangkan dalam 4 jam waktu bersekolah ¼ nya adalah waktu istirahat bagi anak-anak. Yang terjadi kala waktu istirahat di sekolah Arunika, adalah anak-anak ngobrol, main, bahkan berkonflik, dengan semua ini anak-anak juga mendapatkan banyak manfaat.

Jurnal masih panjang, tulisan ini bersambung yaaaa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *