Philosophy’s Place In The Modern World

Philosophy’s Place In The Modern World

Yeay bahas filosofi lagi!

Now, sebenernya ini sesuatu yang confusing, dan face it, bukan hal yang paling logical di dunia. Especially considering common logic nowadays berhubungan dengan… empirical science. Mungkin jaman dulu Philosophy sendiri lebih berhubungan dengan logic daripada sekarang.

Of course, jaman sekarang mah, filosofi lebih digunakan untuk menyambungkan logic dan imagination. Even then, there is barely any contents of logic when philosophy comes back. Tapi, sebenernya, this “dead” knowledge still has a place in the modern world.

Dan no, it’s not dead, aku cuman bilang gitu soalnya dia far less practiced. Masih ada place untuk filosofi kok di dunia ini.

Logic Fodder

Filosofi selalu bisa dipakai sebagai fodder untuk sesuatu yang tidak ingin ditalar dengan logic.

Besides, kalau betul dunia ini harus ditalar dengan logic, kayanya ga mungkin banget deh. Kalau math aja mulai dari imagination… Yeah, math does come from Imagination.. Sebelum ada angka, orang-orang harus nalar dulu pake imajinasi mereka hitung menghitung itu apa.

And face it, not everything is logical. Untuk hal yang ga logical bisa ditalar dengan imajinasi, tapi masalah lagi, kita butuh logical fodder, karena ada orang yang refuse to accept imaginative proof. Philosophy will always work as a logical fodder when it is needed.

Kenapa bisa begini?

Well, kalau mau ditalar sih, simply, ada banyak hal yang ga logical, dan juga ga bisa fully imaginative juga. Jadi, kita butuh sesuatu untuk meet in the middle. Lagian, kalau mau be fully honest, even God isn’t logical. Bukan berarti kita ga percaya keberadaannya atau cuma imagine bahwa God exists.

Ga semua hal bisa dibayangkan, karena kita tahu itu ada, dan juga, ga semua hal bisa dihitung atau diestimate dengan logic.

Selain fakta yang potentially controversial (P.S. I truly apologize if I offended someone, that is definitely NOT my intention) di atas itu, masih ada banyak hal yang perlu ditalar dengan campuran dari logika dan imajinasi. Such as, purpose dari suatu hal.

Kita tahu bahwa misalnya, perbedaan (differences, belum nemu term yang lebih bagus di Bahasa Indonesia) ada purpose-nya. Tapi on the other hand, logically, dari apa yang udah terjadi, differences cuma bring out racism and war. Kalau kita cuman bayangin doang apa purpose dari perbedaan, mungkin sih kebayang, tapi kita ga bakal dapet inti utamanya dari perbedaan. Since after you throw out a dash of imagination, kalau ga diconfirm dengan logic, bisa aja kerasa ga ada artinya dimata beberapa orang.

Beyond Order

Not everything is pictured in an orderly state. Terlepas dari common order of things, dan how things work. Kita butuh suatu hal yang ga bisa kita lock dengan common day to day order of things. Philosophy in itself, has never followed common order.

Sebagai contoh, kalau orang-orang oppose common beliefs dan order of things di jaman dulu menggunakan philosophical thinking, atau sometimes logic… They get killed. (see Socrates)

Of course, dunia sekarang ga sekejam itu, dan somehow the world has become more free. Jadi, kita butuh philosophy untuk step outside of day to day order, dan maybe, kita juga bisa put it onto perspective karena filosofi.

In case reader bingung sekarang, yang aku maksud dengan day to day order itu, using our imagination to replace the opinion we have. Stepping out of daily order.

Okay ini sedikit membingungkan, intinya, Philosophy itu berguna untuk menunjukkan orang-orang melihat image lain dari sebuah perspektif. Pretty much, philosophy could take someone onto another world that doesn’t really exist in logic or imagination. Philosophy also doesn’t exist in our lives, but it’s up to us to make it more in line with our logic.

Analogies

Ini hal yang sangat penting… since a life without analogies are actually one that’s pretty bland.

Seriusan lho, bayangin kalau kita ga punya cukup philosophical thinking untuk membuat analogi.  Ini berarti tidak ada lirik musik yang catchy, terus ga ada lagi Tightrope ala Greatest Showman, yang entire song-nya analogi yang poetic. Terus, seriusan… Kebayang kalau kita ga bisa make metaphor, semua akan menjadi hal yang literal, something that’ll sound serious, atau bakalan bener-bener imajinatif, sampai susah untuk dianggap real.

Kita beneran butuh bridge diantara dunia nyata dan dunia imajinasi. Logic and imagination does go together, thank philosophy.

Philosophy somehow grounds high sky imaginations onto the earthly thought of logic and the real world.

Perspective

Well, banyak filosofi di zaman dahulu yang membahas the best way to live. Via filosofi, kita bisa see the world in a different light. Way of life yang ada di zaman dulu dan way of thought seseorang di zaman dahulu juga masih kepake lho sampai sekarang.

Even Star Wars is basically a philosophy. Kita bisa picture philosophical thought seseorang dengan membayangkan perspektif seseorang, whilst also using our logic to see that perspective like the person would want to see it.

Sampai sekarang philosophy dari way of life ini masih bisa kita pake kok. Untuk life yang peaceful, kita bisa ikutin Buddhist way of life or Confucius. Terus untuk persepsi cruelty, bisa liat Machiavelli.

Intinya, philosophy itu bisa jadi spice of life dan kalau kita mau liat dunia dengan mata orang lain, selalu bisa menggunakan filosofi lho… Everything is a matter of perspective.

Metaphysical Reality

Metaphysics…

Dunia ini sebenarnya selalu bisa dilihat dengan imajinasi, mulai dari existence kita yang ga bisa ditalar dengan logic, sampai ke terciptanya universe ini.

Semua hal punya philosophical purpose, dan karena emang ada kata “philosophical”-nya, ya pasti dong pake philosophy. It’s only up to us to find what is the purpose of something.

Now, sebenarnya, everything has a purpose, dan hampir semua philosophical work yang aku baca belum pernah ada satupun hal yang mereka leave out purposelessly.

Therefore, simply believe you have a purpose. Everything has a purpose, just, it’s only up to us to find our purpose.

In Conclusion

Artikel ini sebenernya rada pendek… Ga masuk flash writing juga karena udah 1000 kata, tapi tetep dia pendek.

Cerita dikit aja dulu, aku mau ngikutin Kuliah Umum di Unpar yang membahas filsafat untuk 12 minggu kedepan, dan sebenarnya ini semacam introduction, karena setiap kuliah akan kujadikan tulisan disini. (semoga aku ga ingkar janji).

Conclusion sebenernya dari artikel ini ada di titik tengah.

Semua hal bisa di mediasi dan ditemukan titik tengahnya, sekali lagi karena ini emang bahas filosofi, philosophically speaking, philosophy is that meeting point between both logic and imagination. Every 2 opposite sides can be found in its median.

Dalam kasus ini, mediasi antar logika dan imajinasi bisa ditemukan di filosofi.

Hope you enjoyed reading this article.

2 Replies to “Philosophy’s Place In The Modern World”

  1. Mantep soul bos. Mudah2an ada lanjutannya ya. Sumveh penasaran beud sama materi kuliah filsafatnya.
    Btw maacih pencerahan nya kaks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *