Peran Pendidikan Dalam Merubah Tingkah Laku

Peran Pendidikan Dalam Merubah Tingkah Laku

Dalam dunia pendidikan, tidak jarang jika seseorang hanya mengkorelasikan pendidikan dengan ilmu, atau subjek-subjek yang dipelajari di sekolah, atau kuliah yang didengarkan dalam kampus. Tetapi, ironisnya, definisi Pendidikan dalam KBBI, serta Education dalam kamus Merriam-Webster, definisi pendidikan hampir tidak pernah dibatasi ke persekolahan, pekuliahan, ataupun hanya dalam subjek-subjek.

Dalam KBBI, definisi Pendidikan berbunyi seperti ini: Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Sedangkan, dalam Merriam-Webster, definisi education tertulis seperti ini.

A: the action or process of educating or of being educated.

B: the knowledge and development resulting from an educational process.

Dalam kedua definisi tersebut, dapat dianalisa dan disimpulkan dengan cukup jelas bahwa definisi pendidikan tidak selalu (bahkan, lebih jarang) berhubungan dengan sekolah, subjek, persekolahan, ataupun dengan akademis. Jadi, amat disayangkan ketika di Indonesia, ketika orang menyambungkan pendidikan dengan persekolahan.

Tingkah Laku yang Salah?

Apa hubungan dari pendidikan dan tingkah laku? Sebenarnya, harus diakui, dalam persekolahan, mau ada sebanyak apapun pendidikan karakter, atau acara yang bertujuan untuk menambah kedisiplinan, dan ketekunan seorang murid, lebih sering pendidikan ilmu tersebut tidak menempel, dan tidak dipedulikan oleh peserta pendidikan karakter tersebut.

(Sejujurnya, aku belum pernah mengikuti pendidikan karakter lebih dari sekali, dan yang pernah kuikuti pun, bisa dibilang, ironis. Pendidikan karakter tentang kedisiplinan dan yang memberikan pendidikan karakter tersebut tidak cukup disiplin untuk datang tepat waktu.)

Tetapi, jika dihubungkan dan dikorelasikan beberapa kali, apakah itu tugas dari sekolah untuk merubah, dan menambah kedisiplinan seorang siswa atau siswi? Mungkin sebuah sekolah akan sangat kecewa jika ada satu dua murid yang kurang disiplin dan menurunkan nilai rata-rata dari sekolah tersebut, maka, sekolah merasa wajib untuk membuat siswa-siswi tersebut lebih disiplin dari sebelumnya. Tujuan dari tindakan tersebut apa? Menjaga gengsi dan kebanggaan sekolah atas muridnya.

Jadi, sebenarnya, tugas siapakah itu untuk menjaga tingkah laku seorang remaja?

Pendidikan rumah. Setidaknya untuk menjaga siswa tersebut dari pengaruh buruk dari luar.

Kembali ke definisi awal, pendidikan lebih cocok untuk dipasangkan dengan kata berkembang, alih-alih dengan kata sekolah.

Jika ingin berkembang, apa yang perlu dilakukan seseorang? Atau mungkin, apa yang perlu dilakukan orang lain demi membantu perkembangan seseorang tersebut?

Tentunya, untuk menjaga tingkah laku, seseorang perlu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Individualitas

Bagaimana jika kita coba renungkan sedikit, sebenarnya, apa yang dilakukan siswa-siswi SMA ketika mereka ke sekolah? Atau mungkin, apa yang mereka ingin lakukan di sekolah?

Mengingat gaya hidup generasi Z yang amat sangat erat dengan teknologi, kurasa mayoritas (lebih dari setengah) pergi ke sekolah lebih untuk bertemu teman-temannya, kebanding untuk belajar. Mungkin beberapa orang pembaca akan terkejut, dan mungkin juga ada yang merasa bahwa anak/keponakan/sepupu anda tidak seperti itu, namun, aku yakin bahwa lebih banyak pelajar yang tidak suka pergi ke sekolah jika ia tidak memiliki teman.

Jadi, mereka ingin ke sekolah untuk bertemu teman-temannya? Sesudah bertemu, apa yang mereka ingin lakukan? Aku sendiri tidak jarang untuk pergi ke mall dan melihat serta mengamati anak-anak SMA pada jam pulang sekolah, ataupun pada weekend, dan apa yang mereka sebenarnya lakukan ketika mereka bersama? Menggunakan gadget mereka masing-masing dan entah menggunakan sosmed, atau bermain game. Kali ini, mungkin reaksi beberapa pembaca tidak akan takjub, melainkan lebih ke “Oh, itu mah sudah biasa.”

Kuingatkan sedikit bahwa, suatu hal yang biasa bukan berarti suatu hal yang bagus. Tetapi, aku tidak akan membahas gawai dan gaya hidup yang erat dengan teknologi itu terlalu dalam kali ini.

Dalam subjek tingkah laku yang salah, sebenarnya, apa yang salah?

Salah-Benar suatu tindakan itu relatif, dan akan berbeda-beda tergantung ke yang menilainya. Tetapi, seorang remaja akan melakukan sesuatu yang dinilai masyarakat sebagai sesuatu yang salah, hanya jika diberikan terlalu banyak kebebasan, diberikan terlalu sedikit kebebasan, atau tidak diberi perhatian yang cukup.

Peran pendidikan disini, dan hubungannya pada tingkah laku seseorang berada di pengenalan, dan juga penegakkan tingkah laku yang dirasa benar.

Jika individualitas seseorang kurang kuat (biasanya dikarenakan kurangnya pendidikan rumah yang tepat) maka, akan sangat mungkin, seseorang akan terbawa dalam tingkah laku yang tidak baik ini.

Akan lebih baik menjadi seseorang yang terlalu memegang kuat pendapatnya sendiri, daripada seseorang yang tidak memiliki pendapat sendiri, dan hanya memihak dengan tujuan mengikuti, atau mendukung orang lain.

Menanamkan Individualitas

Jika gambaran mengenai pentingnya pendidikan dalam subjek ini sudah tersampaikan, biasanya akan muncul pertanyaan, caranya untuk mendidik dan menanamkan individualitas.

Seorang remaja biasanya sudah mulai memiliki pemikirannya sendiri, dan terkadang, jika gagasan dan/atau opini tersebut tidak dieksplorasi oleh seseorang yang ingin mengetahui opini-opini tersebut, serta asalnya, akan mudah terhapuskan lagi.

Orang tua dari seorang remaja tentunya akan merasa jauh lebih senang jika anaknya memiliki opini yang mirip dengannya, tetapi, jika seorang remaja memiliki perbedaan opini, apa salahnya untuk mendengar perbedaan opini tersebut?

Tetapi, perlu diingat bahwa dalam perbedaan opini, jangan sampai opini tersebut kosong, dan tidak didukung dengan fakta lain, pastikan ketika sedang berdiskusi mengenai opini seorang remaja, ada fakta atau kompensasi yang mendukung opini tersebut.

Untuk menanamkan individualitas, hal-hal yang perlu dilakukan sebenarnya cukup sederhana. Metode yang kurasa sebagai metode yang efektif adalah (ketika situasi sedang santai) dengan berdiskusi akan opininya dalam kasus atau masalah tersebut.

Tiap kali ada opini yang menarik, akan sangat baik jika orangtua ingin tahu mengapa pendapat tersebut bisa muncul, dan darimana asalnya. Jika opini itu dibelakangi dengan alasan yang bagus dan masih sesuai dengan nilai-nilai keluarga yang ditanamkan, meski tidak sama persis pun, kurasa tidak ada salahnya untuk menerima perbedaan pendapat tersebut.

Dengan berdiskusi dengan remaja dan membiarkannya mengeluarkan opini-opini serta gagasan yang ia miliki, maka remaja akan merasa lebih yakin akan opininya sendiri.

Tentunya, menanamkan individualitas tidak sebatas berdiskusi saja, masih ada cara lain. Tetapi, berdiskusi adalah cara paling efisien dan cukup efektif untuk mengetahui opini seorang remaja, merubah opini dan pandangan tersebut jika ada yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga, serta memastikan ia merasa percaya diri pada pendapatnya sendiri.

Percakapan yang bagus dan efektif adalah percakapan yang dua arah, dan bukan hanya yang satu.

Menariknya tulisan dan celotehanku ini, dikarenakan ide-ide disini dapat dengan mudah diterapkan ke tiap anak dan tiap keluarga, dikarenakan seberapa bebas nilai-nilai seorang keluarga, baik yang condong untuk agama, condong ke akademisi, ataupun condong ke kepribadian yang kuat.

Cukup saja artikel hari ini, dan sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *