Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Roberto Firmino adalah seorang anomali. Dia seorang pemain kelas dunia, bermain di posisi yang jarang dimanfaatkan pelatih (False 9), dan bahkan dalam posisi tersebut, ia masih sebuah anomali.

Keanehan dan keunikan posisi di mana Firmino bermain ini cukup untuk memberikan posisi miliknya namanya sendiri. “The Firmino Role” menjadi sebuah posisi di mana seorang False Nine melakukan pengaturan struktur tim dan mengatur pressing. Struktur pressing sendiri umumnya ditentukan bukan oleh Striker tengah, tetapi oleh Gelandang Box-to-Box, atau Gelandang Bertahan.

Seperti orang-orang lihat, struktur Pressing Liverpool dalam struktur 4-3-3 memanfaatkan Firmino untuk pengaturan gerakan seluruh timnya. Strukturnya dalam formasi 4-2-3-1 berubah total, tapi, sekarang bukan waktu untuk membahas hal tersebut.

Kalau anda ingin tahu sebenarnya seberapa teraturnya kekacauan dan kehebohan di Anfield, lanjut baca. Karena sebenarnya, dibalik kehebohan dan kerusuhan pressing yang Klopp manfaatkan, semuanya sebenarnya terstruktur.

Pressing Posisi

Musim 2018/19 mengubah total gaya pressing Liverpool. Iya, mereka masih memanfaatkan Gegenpressing, iya, mereka masih sebuah tim yang memiliki kemampuan serangan balik lebih baik daripada serangan terstruktur ketika memegang bola, tetapi, gaya pressing yang diterapkan Liverpool berubah total.

Hard-Pressing, alias, berlari untuk merebut bola, hampir tidak pernah dilakukan kecuali benar-benar diperlukan, dan alih-alih memaksa lawan untuk memainkan bola di bawah tekanan, Liverpool memaksa lawan untuk bermain bola dengan pintar, dengan cara mematikan hampir seluruh opsi operan yang ada.

Pressing ini diketahui dengan Pressing Posisi. Melakukan pressing, tanpa perlu bergerak, dan hanya dengan mengatur ulang posisi tiap kali lawan bergerak. Ini mengurangi kebutuhan stamina untuk bermain dalam sistem pressing Liverpool. Memang masih butuh banyak stamina, tetapi lebih sedikit dari musim 2017/18.

Firmino mengatur posisi tim secara keseluruhan, mulai dari gelandang, hingga bek kanan dan kiri, semuanya mengikuti Firmino untuk keseluruhan struktur.

Sebagai contoh…

Firmino berada di antara Gelandang Bertahan (Fabinho) dan kedua bek tengah lawan (kedua CB) langsung memotong jalur operan antara keduanya. Lawan hanya bisa mengoper ke Bek Kanan (RB), Bek Kiri (LB), atau Bek tengah yang lain.

Namun, berdasarkan posisi Firmino, Salah dan Mané juga berada di posisi yang cukup, tapi tidak terlalu sentral untuk bisa memotong jalur operan antara kedua bek sayap, tanpa menghalanginya secara langsung, memberikan godaan bagi pemain yang memegang bola.

Selain itu, Robertson, dan Trent (Trent Alexander-Arnold) berada di posisi yang cukup dekat untuk lari ke depan seandainya Salah atau Mané gagal memotong bola, memberikan tekanan yang cukup untuk memenangkan bola, serta memberikan orang tambahan dan menyulitkan lawan.

Ketiga gelandang cukup sentral untuk bisa menjadi pemain tambahan di posisi lebar, seandainya lawan sukses memberikan umpan lambung untuk melewati seluruh struktur Liverpool.

Ketika itu terjadi, struktur tim berubah, dan seandainya lawan memiliki bek tengah yang mampu memberikan bola berkualitas tinggi tanpa dipotong Van Dijk, Liverpool dalam bahaya.

Ini alasan kenapa salah satu pertandingan terbaik musim kemarin (dalam opiniku) merupakan Chelsea vs Liverpool di Stamford Bridge. Kemampuan David Luiz bagi Chelsea cukup untuk sesekali melewati pressing posisi Liverpool.

Wow. Ini semua perlu dijelaskan dengan dua gambar dan 5 paragraf, padahal bola hanya ditendang sekali.

Transisi Press

Oke, lalu, bagaimana cara terjadi transisi dari pressing posisi ke hard press?

Jalur lari ideal seandainya bola dimenangkan…

Ketika Firmino merasa bahwa lawan telah menunda untuk waktu yang cukup lama, atau mulai kebingungan, ia melakukan pressing.

Ketika itu terjadi, posisi Firmino yang tadinya berada di zona antara gelandang dan kedua sayap, maju, dan posisi yang mungkin tampak sebagai 4-3-1-2, kembali menjadi 4-3-3 yang sentral, dengan kedua sayap memotong ke dalam, siap menerima bola dan membantu tekanan ke keempat pemain bertahan.

Jika ini terjadi, Fabinho maju, dan memberikan tekanan secara langsung ke gelandang bertahan lawan (CDM), dengan tujuan mematikan opsi operan tersebut.

Kedua gelandang tengah juga tetap berusaha mematikan opsi operan ke gelandang lawan,  memberikan ruang bagi kedua bek sayap untuk bias melakukan overlap dan menambah jumlah orang dalam serangan.

Pada momen inilah, Liverpool paling rentan ke operan lambung yang bagus. Sebuah bola terobosan lambung yang dapat dikendalikan oleh seorang penyerang dapat menciptakan situasi serangan 3 penyerang, melawan 2 pemain bertahan.

Jalur lari yang setengah terpotong jika bola gagal dimenangkan dan ada operan bagus tercipta.

Selain itu, perlu diketahui bahwa Henderson yang tadinya bermain di posisi gelandang bertahan, (ketika fisik Fabinho masih disiapkan oleh Klopp) merasa kurang nyaman dengan kurangnya gerakan, mengingat Henderson adalah seorang gelandang Box-To-Box.

Sampai Fabinho mampu bermain dengan stabil, Liverpool punya kesulitan menangani serangan balik. Peran Firmino juga sangat mengatur pressing di sini.

Isu Serangan Balik

Fabinho mampu mengisi peran gelandang bertahan di Liverpool dengan sempurna. Fungsinya di struktur tim yang sedang melakukan hard-pressing murni untuk mendaur ulang bola, dan menghentikan serangan balik.

Fabinho tidak melakukan hard-pressing seperti yang Firmino lakukan, yaitu untuk memenangkan bola ketika lawan sedang perlu bertransisi, Fabinho melakukan hal yang berbeda. Ia memotong jalur umpan transisi lawan yang paling cepat, dan memastikan bola tersebut dapat ia kendalikan, atau setidaknya, tidak sampai menciptakan serangan balik.

Umpan terpotong, bola disundul…

Begitu bola tersebut ia kendalikan, ia melakukan hal paling sederhana yaitu mengopernya kembali ke pemain kosong terdekat.

Keuntungan dari sprint jarak dekat untuk memotong jalur umpan yang Fabinho terapkan ini, ada di… jika serangan balik tidak tercipta, para pemain serang, gelandang, dan bek sayap yang ikut maju, tidak perlu berpikir untuk mundur lagi demi mengurangi jumlah lawan yang lolos dalam serangan balik.

Seperti yang ada di gambar ini… Jika Fabinho tidak mencapai bola tersebut, karena itu merupakan umpan lambung, terlalu cepat, atau semacamnya, Matip, dapat melakukan hard pressing untuk membantunya mendaur ulang serangan. Aku juga cukup yakin bahwa tidak banyak pemain mampu melewati van Dijk dengan mudah, jadi, secara logika dan sistem, Pressing Klopp ini, hanya bisa dihilangkan oleh kreativitas, atau taktik yang khusus didesain untuk mengalahkan pressing Klopp.

Kesimpulan

Ya, taktik pressing Klopp yang berdasarkan kedua pemain Brazil yang sentral dalam system Klopp (maaf Alisson, tapi peranmu hampir full teknis dan fisik, alih-alih taktis), semoga ini dapat menjadi sedikit pencerahan bagi anda yang ingin tahu mengenai kerusuhan di sebuah stadion di Merseyside, karena sebenarnya, kerusuhan ini hanya tampak rusuh. Aslinya dia terstruktur dengan rapih.

Sampai lain waktu!

One Reply to “Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *