Peeking Outside My Bubble, Jaja Jadi Relawan Di KAIL

Peeking Outside My Bubble, Jaja Jadi Relawan Di KAIL

Prologue

Pada tanggal 25 Agustus kemarin, aku jadi relawan di Bazaar Ulang Tahun KAIL. KAIL itu apa sih? KAIL itu sebenarnya singkatan dari Kuncup Padang Ilalang, yang (menurut di websitenya) adalah organisasi nirlaba yang bertujuan meningkatkan kapasitas individu, dan perubahan sosial. Aku sih nangkepnya dari cerita-cerita sebelum datang ke KAIL menurutku itu rumah belajar anak, dan hanya sebatas itu aja sih, untungnya pas di KAIL aku dapat gambaran yang lebih penuh dan sesuai… Lokasinya KAIL ini di Cigarugak, dan Cigarugak ini jauh banget dari rumahku. Untungnya dari menjadi relawan di acara ini aku menyadari beberapa hal yang sebenarnya aku belum pernah lihat langsung sebelumnya…

Aku tahu KAIL dan opportunity menjadi relawan disini dari Kak Deta. Kak Deta itu salah satu Kakak-kakak di Dongeng Bengkimut yang suka membacakan dongeng buat Alice dan anak-anak lain di Pustakalana. (Note to Babah: kita ada artikel buat aktivitas Lana-nya Alice? kalo ga tar aku mau buat) Kak Deta request ke aku untuk consider menjadi relawan.

Sebentar, off topic dulu dikit…

Bubi suka ngomong ke orang-orang dan seringkali menggunakan istilah Bubble. Artinya apa sih? Bubble itu metafor untuk Social Circle… atau Lingkup orang-orang yang aku temui secara umum. Satu orang mungkin punya beberapa Social Circle, dan dari Social Circle itu dapat lingkup Bubble-nya yang terkadang memfilter hal-hal yang kita lihat dan membuat orang tidak sadar (atau lupa) dari kenyataan di luar Bubble masing-masing orang.

Kebayang ga? Kalau belum, mending baca dulu artikelnya.

Sebentar, disclaimer dulu… aku lupa foto beberapa kali, jadi foto di artikel ini sangat terbatas, maafkan…

Event Day

Briefing

Pada Hari-H Bazaar, aku datang ke KAIL untuk mulai menjadi relawan, dan sesuai briefing di Grup Whatsapp, aku menjaga booth harga seribuan. Acara sih dimulai sore, tetapi jam 8.00 peserta sudah harus datang untuk briefing dan hal-hal lain. Pagi-pagi, sambil ngemil teh manis dan nagasari. Kita memulai Briefing dan perkenalan. Banyak yang gak sadar atau kaget pas denger aku masih 14 tahun, alias lebih muda dari Karang Taruna Cigarugak yang nanti ikut membantu acara ini.

Dari Briefing Do’s and Don’ts yang kudapat (dan perlu dikerjakan nanti pas bazaar) isinya:

  1. Ada Booth seharga seribuan di luar, 2 ribuan di lantai atas, 5, dan 10 ribu di lantai bawah, aku kebagian di booth 1 ribu.
  2. Pembayaran dilakukan dengan kupon yang dibeli di kasir. Kupon ada 2 value, yaitu yang 1 ribu dan 5 ribu, dengan maksimal 10 kupon per transaksi
  3. 1 Jam pertama, biarkan Anak-anak memilih sendiri, jangan biarkan ibu-ibu yang memilih barang-barang yang diinginkan, atau biarkan ibu-ibu bertransaksi. (Message extra yang kudapat meski tak disebut adalah, larang dan tolak transaksi Ibu-ibu di jam pertama)
  4. Dilarang nyetek (Ngetag? Booking?)… intinya dilarang menyisakan barang untuk diambil nanti sesudah beli kupon, karena kupon ngantri-nya panjang sekali.
  5. Disediakan kresek untuk yang banyak beli, tetapi sebaiknya bawa Kresek masing-masing.
  6. Antrian sebaiknya diatur dengan benar. (Just A Note To Self, tidak disebut, tapi aku suka kalau antrian rapih, dan ga rebutan)
Briefing Sebelum Tour KAIL, Ayo, Jaja Dimana?

Tour KAIL

Oke, jadi kita diajak Tour untuk menjawab pertanyaan “KAIL itu Apa Sih?” dan di tour ini, kita diajak melihat:

  1. Dapur KAIL, yang Zero Waste lhoo (Note To Babah, ini kita ada artikel yang bahas Zero Waste gak? penasaran aja)
  2. Kebun KAIL, lengkap dengan Raspberry yang enak (Asem-asem manis enak), oh dan meski ga ditunjukkan di Tour, ada Kandang Bebek juga (oke maaf aku ga foto, bayangkan saja dulu ya.. Aku pasti visit KAIL lagi di masa depan)
  3. Perpustakaan KAIL, yang lengkap dengan board game! (My kind of Library :D)
  4. Majalah KAIL yang belum lama dimulai lagi, sesudah berhenti untuk waktu yang cukup lama. Sayangnya aku lupa namanya, tetapi kalau kita menulis artikel di Majalah itu, kita akan”dibayar” dengan buku.
Jaja Lagi Baca Majalah KAIL Edisi Terbaru

Lunchtime!

YES! MAKAN! ups… Off Topic.. Oke, makanannya enak, dan pas perkenalan, salah satu kakak yang sudah menjadi relawan KAIL sebelumnya, bilang salah satu bonusnya adalah makanannya enak. Betul lho enak, dan kita makan di daun pisang bersama-sama. Meski aku hanya makan Nasi Liwet (F.Y.I. Wangiiiii deh), dan tempe bacem (oke, 4 biji tempenya, kan aku ga ngambil protein hewani-nya :D) tapi aku tetap kenyang.

Oh iya, sebelum makan ada sedikit acara dari KAIL untuk reward penulis, dan top 3 all year long volunteer di KAIL, yang disertai juga dengan Awug. Oh iya, kita cuci piring sendiri, ini ada gambarnya, (aku ga sadar sebenernya aku difoto, makanya hasilnya kurang bagus :D)

Cuci Sampe Bersih Ja

Bazaar Time!

Sesudah makan, kita mulai preparasi Bazaar dengan memindahkan meja, menata barang, menyiapkan kupon, dan briefing ulang peraturan tadi. Sekitar jam 13.45, orang-orang mulai datang, dan lokasi Bazaar makin penuh. Ketika kupon mulai dijual, pasti bakal rusuh, aku pikirannya langsung kesitu. Untuk membuat makin rusuh, aku kebagian lokasi Booth yang kena sinar matahari langsung. Boothku, juga berisi… mainan… Aku sudah kepikiran ini pasti dibanjiri anak-anak Booth-nya.

Sebelum kupon dibuka, meski sudah banyak banget yang mengantri anak-anak dan ibunya, MC mengingatkan, untuk Ibu-ibu agar tidak mengganggu anak-anak dan jadikan momen ini kesempatan anak-anak belajar berbelanja. Sekitar 3 kali statement itu diulang, Ibu-ibu berhenti mengantri di booth kupon. Masa ya perlu 3 kali diingatkannya?

Ketika pembelian kupon sudah diizinkan. Tidak sampai 5 menit, sampai booth aku dibanjiri Anak-anak dan Ibu-ibu, sebelum pembelian banyak, ada Kakak Karang Taruna dari Booth baju sebelahku yang disuap ibu-ibu dengan uang 10 ribu untuk menyisakan 10 baju yang sudah dipilih sebelumnya, karena meski belum boleh beli, belum ada larangan melihat-lihat. Untungnya, Kakak Karang Taruna-nya cukup self-righteous untuk melirik ke aku, dengan muka bertanya. Aku menyuruh ibu itu untuk ambil uangnya balik, dan memberi tahu ibu itu peraturannya bahwa suapan itu tidak boleh, dan dilarang menyetek.

Booth aku penuh, karena kalau anak-anak yang diberi izin membeli tanpa omelan ibu-ibunya, pasti anak-anak tertarik sama mainan. Mainannya banyak banget, ada: Boneka, gasing, figurin superhero/ninja, Happy Meal, mobil-mobilan, stik golf mainan, bola tenis, botol minum, tas, payung, dan masih banyak lagi.

Sekitar 5 menit berlalu dengan antrian penuh, dan situasi kacau yang aku ga inget apa saja yang terjadi…

Jaja Menawarkan Barang Ke Anak-Anak…

Cerita menarik berikutnya, ada anak laki-laki berikutnya yang ingin banget beli gasing… Tapi ditemani ibunya, dan masa ya… Ibu itu terus ngingetin anaknya gasing itu ga ada gunanya, ga bisa dimainin, dan rusak. Ibunya menyugestikan untuk beli mobil saja, tapi anaknya bersikeras ga mau, meski baru 3 (atau 4) tahun, anak tersebut sudah pintar memainkan bahasa tubuh untuk memberi signal, “Aku tuh mau yang ini tau”. Ibu itu terus saja ngejelek-jelekin gasing dan muji-muji mobil-mobilan yang seribu isi 3.

3 menit kemudian, Ibu itu pasrah dan maksa beli sendiri, aku larang dong, karena peraturan. Ibu-nya untungnya ga terlalu nyolot sih, tapi dia ambil gasing anaknya terus ditukar mobil-mobilan dipaksa masukkin tangan. Anaknya ambil lagi gasing yang beda (malah lebih jelek dari yang dia minta awal-awal), lalu dia menaruh mobilnya di meja. Aku lihat ada anak lain yang juga mau itu mobil dari tadi, tapi Ibunya pegang terus dari tadi. Anak yang mau itu pelan-pelan mau ambil mobilnya mumpung lagi lengah nih. Tapi Ibu itu buru-buru ambil lagi sebelum anak yang beneran mau mobil itu dapat kesempatan ngambil. *tepuk dahi* Masa ga malu sih Bu?.

Sampai-sampai ya, aku intervensi Ibu itu udah 5 menit, akhirnya anaknya ambil lagi gasingnya, tapi Ibu-nya larang, dan abis anaknya bilang “Ya mau yang mobil”, ibunya kasih kupon ke anaknya, meski dia ogah-ogahan. Aku tolak, dan kurang lebih script-nya gini:

  • Jaja: Bu, ini mesti anaknya lho yang beli.
  • Ibu: Kan emang anaknya yang beli, itu kuponnya dia yang kasih
  • Jaja: Tapi Bu, maksudnya beli itu bukan cuma bayarnya lho, milih barang dan ngambil barang juga bagian dari beli, kan ga adil kalo anaknya mau gasing tapi Ibunya kasih Mobil.
  • Ibu: Ih, dia kan mau mobilnya, iya kan de?
  • Adik: Ga mau
  • Ibu: Gasing kan jelek de, itu rusak, ga ada gunanya.
  • Adik: Maunya itu (nunjuk gasing)
  • Ibu: Mobil aja ya
  • Adik: (sudah pasrah) iya..
  • Jaja: (Sebenernya sih aku punya hak nolak, tapi kalo dah 7 menit waktuku terbuang, ya sudahlah.) Oke deh, makasih ya udah mau beli disini.

Ya ampun, Ibu itu rela ngorbanin keinginan anaknya demi dapet 3 mobil mainan yang bagus harga seribuan. Padahal kan anak-anak seneng itu lebih mahal daripada 3 mobil-mobilan. Bukan cuma itu, tapi aku juga lihat ada sisa kupon 1ribuan lagi, sekitar 2-3. Kalau emang bener-bener mau kan bisa aja nunggu sampe Ibu-ibu diizinkan beli. Pas murah banget, katanya kadang Ibu-ibu itu suka lupa diri, aku awalnya ga tahu ini beneran, sampai ikut jadi relawan di Bazaar ini.

Selama aku ngehandle Ibu itu, untungnya ga ada kasus aneh-aneh dari laporan Kakak Karang Taruna.

Oke, sebenernya situasi kacau di 15 menit pertama… setidaknya di boothku, karena Booth baju cuma diganggu Ibu yang mau nyetek tanpa anak-anaknya. Untungnya tampak gampang ditolak.

Aku penasaran situasi booth lain ya… Jadinya aku ngintip ke Booth sebrang, yang juga jualan baju seribuan. Aku belum sampai 30 detik di booth itu, cuma nonton, ada Ibu-ibu bawa kresek dan masukkin baju dalam kresek, terus bilang ke Kakak volunteernya, “Kang, tolong simpenin ya, ada 7 baju, entar saya ambil”. Langsung ditolak dan ditaruh keluar plastiknya. Ini aku bikin script lagi:

  • Kakak: Maaf bu, ga boleh begini
  • Ibu: Ya udah saya taruh belakang baju lain ya
  • Kakak: Ga Bu, kembaliin ke tempat tadi
  • Ibu: Ihh, nanti diambil atuh Kang
  • Kakak: Kan ga boleh di-tek bu (oh, ternyata di-tek toh *pikir Jaja*)
  • Ibu: Tapi kan saya milih duluan
  • Kakak: Maaf ya Bu, ini siapa cepet bayar, siapa dapet
  • Ibu: *Pergi dengan muka kesel*

Oke sampai 1 jam pertama tidak banyak chaos lagi, dan aku berusaha convince anak-anak beli barangnya, dan pastikan antriannya tidak kacau banget, emang kacau sih, tapi ga kacau banget kan :D. Iya sih, kadang ada Ibu yang berusaha nyetek, atau yang milihin barang, tapi untungnya ga nyolot, dan menerima nasib.

Sesudah pengalaman buruknya, dan mungkin 90 menit sejak acara mulai, aku ketemu Bapak-bapak yang dress up rapih, dan punya jam yang cukup bagus. Aku salut sama Bapak ini soalnya, gayanya santai, membiarkan anaknya memilih, dan belanja terpisah dari anaknya yang sudah rada besar. Aku sih yakin, sebenarnya Bapak ini emang mau belanja sendiri, tapi ikut bawa anaknya, dan daripada repot-repot tungguin kepanasan 60 menit pertama, mending dateng telat tapi ga rusuh. Bapak ini juga sopan banget pas minta kresek ke aku yang dia lupa bawa, malahan, sempet nawarin bukannya minta kresek, malahan dia nawarin mau beli 2 kresek seribuan. Tapi aku tetep kasih gratis sih untungnya.

Oh iya, Selama acara ini, Kak Debby yang jadi MC, udah ulangin berkali-kali bahwa:

  1. Ibu-ibu belum boleh diizinkan beli
  2. Jadikan ini kesempatan anaknya belajar, biar anak itu bisa belanja dengan kebebasan
  3. Harap jangan dekati booth dan berkumpul di tengah-tengah ya Bu
  4. Barang-barang masih banyak Bu, sabar aja ya
  5. Anaknya jangan dijadikan calo, kasian masih kecil udah jadi calo (buat kupon)

Cerita Bazaarnya sudah mau beres, tetapi kan aku hobi banget bawa Botol minum kemana-mana, botolnya bagus pula. Ada anak-anak yang hampir mau beli Botolku, karena kutaro meja. Aku cekikikan ketawa, sambil nolak pembeliannya, soalnya ini botolku, bukan barang jualan.

Di akhir Bazaar ada Kakak yang membuat klub literasi di MKAA (yang aku akan ikuti) datang main gitar dan menyanyikan lagu. Aku ingat aku pernah dengar lagu itu di salah satu holiday camp yang aku datangi. Camp itu ada di Ecocamp lalu aku tanyain, dan kata Kakak itu, aku betul!

Sesudah bazaar hampir kosong, aku memutuskan memborong Majalah Bobo. Kayanya aku dapet 60-80 Bobo dengan harga 10 ribu rupiah! AHHAHA! Aku seneng banget baca Bobo, dan karena Bobo yang dijual aku beli di saat sedang berhenti langganan, aku masih dapat buku banyak sekali, lengkap dengan Paman Kikuk yang Neneng Alice sangat doyan dibacain itu sama aku.

Tidak lama sesudah borong Bobo, aku langsung minum teh, dan istirahat sedikit. Tidak lama dari teh soreku, jam 5.00 lebih, entah berapa (aku lupa), aku menumpang salah satu Kakak untuk turun dari Cigarugak, dan sesampainya dibawah, aku mengangkot, melewati kemacetan ke Dago. Sesampai di Daerah Dago, aku dengan majalah Bobo sebanyak itu, (dear reader, doing this is some heavy exercise for the record) aku jalan ke Masjid Salman, untuk memesan Gojek dengan Wifi yang disediakan di Masjid Salman.. Sayangnya tidak ada yang ambil, jadi aku disuruh Babah makan malam di Warpas(boleh nyebut merek ga?) dan dijemput disana.

Conclusion:

Menjadi Relawan bukan hal yang gampang sih… Apalagi disini, dengan banyaknya orang, yang terkadang tidak mau mengikuti aturan. Untungnya aku senang karena bisa sesekali ngintip dunia luar Bubble-ku, dan pengalaman berbeda kali ini. Bukan cuma itu, aku juga senang aku bisa mendapat majalah Bobo yang banyak HAHAHA. Terima Kasih KAIL untuk memberiku kesempatan volunteering disini, dan Kak Deta sudah merekomendasikan aku ke KAIL.

Sesudah melihat situasi diluar Bubble-ku, aku kesamber petir dan akhirnya ngeh ke kenyataan bahwa, suapan itu ternyata nyata, dan terkadang orang bisa lupa diri dengan beberapa godaan. Untungnya pengalaman ini membantu aku menyadari realita di luar Bubble-ku, yang terkadang bisa tampak mengecewakan, tapi jika memang begitu kenyataannya, apakah lebih baik untuk diam di Bubble saja? Menurutku sih, tidak ya. Jika kita tinggal di filter Bubble seumur hidup kita, kita tidak bisa bersyukur dengan apa yang aku punya, dan menyadari bahwa kita itu orang yang beruntung.

Oh iya, fun fact! Siddharta Gautama juga mengalami cerita yang mirip dengan ini dan keluar dari Bubble-nya yaitu di Istana untuk menyadari kenyataan, yang ternyata dipenuhi orang-orang kurang beruntung dan meninggalkan agama Hindu untukmembuat agama Buddha.

Hahahah, jadi serius banget ini deh… Ya udah ya, hari ini segini dulu… Jaja Out!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *