Nonlinearitas.

Nonlinearitas.

Aku sudah mencoba 2 ejaan berbeda. Nonlinieritas, dan nonlinearitas, namun sayangnya tidak ada yang masuk di KBBI, karena istilah ilmiah ini bukan hal yang “resmi” seperti Gravitasi, Atom, dan semacamnya. Jadi, aku akan gunakan huruf A untuk mengisi katanya ya.

Nonlinearitas adalah sebuah konsep yang dijelaskan oleh Nassim Nicholas Taleb. Kembali pada konsep statistika yang Taleb sering tuliskan.

Karena ada sedikit isu pengaturan jadwal menulis (dan fakta bahwa aku belum menulis apa-apa minggu ini), tulisan hari ini tidak akan begitu panjang, hanya sedikit di atas 1000 kata, tetapi masih bisa dinikmati seperti biasa.

Batu Milik Raja

Ceritanya seperti ini. Ada seorang Raja di daerah Babilonia yang harus menghukum anaknya karena ia melanggar hukum. Ia menyatakan pada warganya bahwa hukuman tetap harus sama dengan warga biasa, bahwa ia akan ditimpa satu batu raksasa karena telah melanggar hukum tersebut.

Hukum apa? Jangan tanya aku. Kenapa hukumannya itu? Jangan tanya aku juga.

Pada hari penghukuman, ternyata si anak raja tidak bersalah, atau Raja tersebut merubah pikirannya, tergantung versi. Jadi, ia bertanya pada penasehatnya, apa yang bisa ia lakukan tanpa kehilangan muka di depan rakyatnya karena ia plin-plan.

Penasehat tersebut memberikan ide untuk membelah batu tersebut menjadi 1000 bagian berbeda. Jadi jika batu tersebut seberat 1 ton secara utuh, ia akan ditimpa 1000 batu seberat 1 kilogram. Menyakitkan? Iya. Membunuh? Tidak.

Di sinilah dijelaskan nonlinearitas. Batu yang sama hanya akan memberikan efek fatal jika diberikan secara utuh. Dipecah menjadi 1000 bagian yang sama, tetapi terpisah, efek fatal tersebut hilang.

Di sinilah masuk nonlinearitas. Banyak benda dinilai tidak secara linear, dan nilainya akan drop (atau justru naik) ketika ia terpecah belah. Sayangnya menilai barang di pasar dengan cara ditimbang tidak seperti menilai suatu benda di perekonomian nyata.

Semangka yang secara utuh beratnya 1 kilogram seharga 10.000 rupiah, dan jika dipotong 200 gram masing-masing, harganya masih tetap 10.000 per kilogram, dengan tambahan sekitar 500 perak untuk ongkos potong.

Cukup tentang ekonomi tetapi, aku bukan orang yang bisa menjelaskan ini dengan jelas dan tepat, aku ingin membahas nonlinearitas untuk kehidupan sehari-hari, dan tidak satupun berkaitan dengan menghabiskan uang.

Olahraga, Diet, dan Puasa

Ketiga hal ini menjadi hal yang unik untuk dibahas di tulisan hari ini, karena ketiganya sangat nonlinear tanpa membahas satuan harga atau energi. Cukup dengan waktu saja kita bisa membahasnya.

Olahraga

Dua orang yang tinggal di rumah bersebelahan diberikan deadline untuk sampai ke kantor yang sama dengan cara jalan kaki. Jarak ke kantor hanya 2 kilometer kok. Mereka harus sampai pukul 8.00 pagi.

Orang pertama berjalan kaki dari pukul 7.30 dan sampai tepat waktu. Orang kedua, pada sisi lain, bersantai di rumah, dan lari dari rumah pukul 7.50, lalu sampai tepat waktu juga.

Energi yang dihabiskan jelas berbeda kan? Orang yang lari, meski hanya berlari 10 menit untuk menempuh 2 kilometer jelas menghabiskan energi lebih banyak daripada orang yang berjalan selama 30 menit untuk menempuh 2 kilometer yang sama.

Ini alasan pertama adanya nonlinearitas. Energi dan olahraga tidak dinilai secara linear. Kita berlari selama 1 jam dengan kecepatan 5 kilometer per jam, tetap akan menghabiskan energi lebih banyak daripada berjalan selama 5 jam dengan kecepatan 1 kilometer per jam.

Tidak ada rumus, grafik, atau ogive yang bisa dibentuk untuk menilai penggunaan energi, semua orang harus menilai energi mereka sendiri, dan menghabiskannya sepantasnya.

Puasa

Masih dalam topik kesehatan, aku mau masuk ke puasa.

Mana yang lebih efektif sebenarnya. Puasa senin-kamis dalam setahun, tetapi tidak berpuasa selama satu bulan pada bulan Ramadhan (walau aku yakin tidak ada orang yang melakukan ini, dan tolong jangan pikir dari sudut pandang agama saja, tapi justru dari sudut pandang medis dan kesehatan) atau justru puasa Ramadhan saja, tanpa puasa senin-kamis? (seperti kebanyakan orang)

Ini hal yang tidak bisa dinilai secara linear. Orang yang hanya berpuasa Senin-Kamis akan berpuasa selama 102 hari secara konsisten tiap tahunnya, tetapi dibagi rata, satu bulan berpuasa 8-10 hari. Orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan saja, berpuasa secara utuh selama 30 hari berturut-turut, mengistirahatkan tubuh penuh selama bulan tersebut.

Kalau kita adalah sebuah mobil, anggap saja dalam satu tahun, ada satu bulan di mana mobil A tidak dinyalakan, selama mobil B hanya dinyalakan 5 hari dalam seminggu. Istirahat satu bulan penuh lebih berharga daripada istirahat 2 hari tiap minggunya.

Setidaknya dalam pandanganku. Silahkan berdebat kembali mengenai ini, tetapi ambil sudut pandang ilmiahnya tentunya.

Diet

Diantara ketiga konsep di atas, Diet ini menjadi yang paling membingungkan.

Sebelum masuk, aku sudah membaca setidaknya tiga buku tentang psikologi, dan statistika yang menyatakan bahwa diet hanya sukses untuk 1 dari 10 orang, tetapi aku belum sekalipun membaca buku tentang kesehatan yang menjelaskan tentang dietnya sendiri.

Kalau anda bertanya kenapa aku Kekeuh tetap mau menulis tentang diet… Buku kesehatan (misal) membahas tentang manfaat dan kegunaan dari dietnya sedangkan buku statistika dan psikologi membahas keinginan dan kemampuan kita untuk melakukan diet tersebut. Berbeda dengan manfaat, ia menjelaskan cara orang dapat mengumpulkan dorongan psikologis untuk melakukan diet tersebut. Jadi, iya, walau aku tidak tahu tentang manfaat sebuah diet, aku tahu secara kasar usaha yang dibutuhkan untuk melakukan diet, dan terkadang, tahu alasan usahanya muncul lebih penting kebanding manfaatnya.

Jadi, dengan asumsi bahwa diet tidak bisa berjalan untuk 9 orang yang melaksanakannya, mari kita bahas dietnya sendiri.

Diet sendiri bergantung pada orang untuk menentukan apa yang ia makan dan tidak makan bukan, beserta menghitung kalori yang ia dapatkan dari makanan yang ia konsumsi.

Masalah terbesar dari diet dari sudut pandang statistika ada di penggunaan kalori.

Mayoritas diet meminta orang-orang untuk mengonsumsi maksimal sejumlah kalori, dan kalori tersebut tidak boleh didapatkan dari jenis makanan misalnya, telur, tepung, daging, dan seterusnya.

Tetapi, diet ini begitu abu-abu dalam meminta makanannya dikonsumsi sehingga kalori yang perlu dinilai secara nonlinear, dilihat secara linear.

Misalnya seseorang dibatasi ke konsumsi 100 kalori untuk sarapan. Ia memutuskan, daripada ia mengkonsumsi 100 kalori dari 2 roti gandum yang rasanya gak enak, ia akan mengkonsumsi 3 Beng-Beng yang masing-masing berisi 25 kalori. Ia hanya mengkonsumsi 75 kalori, lebih sedikit dari roti gandum, dan rasanya enak…

Namun, jika kita melihat kalori secara linear, alias murni dengan angka, kita akan melewatkan fakta bahwa kalori yang didapat dari roti gandum adalah kalori yang sehat. Sedangkan, kalori dari Beng-Beng, tidak sehat. Jadi, dari sini datanglah masalah ke satuan kalori sendiri untuk makanan.

Kalau diet hanya membatasi kalori beserta jenis makanan untuk menerima kalori tersebut, kita tidak akan bisa melihatnya secara nonlinear, kita akan selalu melihatnya berdasarkan angka saja, sedangkan sama seperti kasus di awal, 1000 batu seberat 1 kilogram tidak memiliki efek yang sama dengan 1 batu seberat 1000 kilogram.

Jadi, diet tidak bisa bekerja dengan baik karena energi dihitung berdasarkan satuan linear. Sementara, kalori sendiri pertama-tama digunakan untuk menghitung energi di sebuah mesin, seperti pemanas, pendingin, dan semacamnya. Jadi… Sistem kalori tidak bekerja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *