Nanoteens 2019: Day 1 Report

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Tanggal 4-6 Juli kemarin, Pusat Penelitian Nanosains Nasional (PPNN) mengadakan acara lagi, yang berupa variasi, ke acara Nanoscience for Kids 2 tahun yang lalu… Aku sudah pernah mengikuti acara Nanoscience for Kids, dan, dikarenakan “kangen” dengan jalan-jalan dan praktikum di lab, aku memutuskan untuk ikut lagi!

Kali ini, acaranya disebut Nanoteens dikarenakan temanya lebih cocok untuk remaja. Tema ini juga disertai slogan, “Tampil menarik dengan Nanoteknologi”. Temanya kurang lebih kosmetik dan produk-produk yang menggunakan Nanosains. Betul saja, dikarenakan tema kosmetik ini, rasio perempuan banding laki-laki mencapai 2 : 1. Dari 18 perserta, ada 12 perempuan, dan 6 laki-laki.

Jadi, langsung saja kita mulai laporannya! Formatnya akan dibuat sedikit berdasarkan waktu…

Registrasi (8.30-9.00)

Suasana ruangan di kala masih sepi…

Ini mungkin salah satu bagian dimana aku paling sebal sepanjang ketiga hari dalam rangkaian acara Nanosains ini. Kenapa aku sebal dengan registrasi?

Bukan registrasinya, tetapi apa yang terjadi dalam 30 menit diantara pembukaan dan registrasi.

Sebenarnya proses registrasi berjalan lancar, tidak ada apa-apa yang salah, aku juga senang dengan bertemu teteh-teteh dan kakak-kakak yang masih ingat aku dari 2 tahun yang lalu. Tas, notebook, dan polo shirt kuambil juga sesudah memberikan tandatangan dan registrasi ulang.

Tetapi, aku mulai sebal begitu masuk dalam ruangan. Semua orang memegang handphone.

Ya, semua orang, baik SMP, atau SMA, sedang memegang HP mereka masing-masing. Jujur, aku sudah move on dari orang-orang yang memutuskan duduk di belakang atau ketiga dari depan sebuah ruangan karena takut ditegur, atau ditanya-tanya. Ya sudah, itu hak mereka. Tetapi, sayangnya, aku belum (UHUK, tidak akan pernah, UHUK) bisa berdamai jika melihat sekitar 13 pasang mata terkunci dalam layarnya masing-masing.

Dan ya, dikarnekan kepo, aku memutuskan untuk berjalan dua kali mengitari ruangan dan mengecek apa yang sedang mereka lakukan. Kurang lebih ini yang aku dapatkan.

  • Baca artikel tentang hukum-hukum aerodinamika. (Good Job!)
  • Menggunakan kamera selfie HP sebagai cermin… :'(
  • Scrolling Instagram, entah follow akun apa saja… 🙄
  • Story diri sendiri… *facepalm*

Ya, sudahlah, setidaknya aku berpikir bahwa mereka mungkin masih belum cukup akrab untuk mau berkenalan. Who can blame them? (Uhuk, tiap coffee break dan lunch break juga mereka tetap pegang HP sih, kecuali beberapa orang yang mengajakku ngobrol mau gimana lagi kayanya…)

Tetapi, akhirnya ada pembukaan dari Professor Adhitya Gandaryus Saputro. Mirip-mirip dengan pembukaan tahun lalu, membahas nanosains, dan jika aku ingin meringkas pembukaannya…

“Nanosains adalah sains yang bergerak dalam benda-benda berukuran sangat kecil. Perubahan yang terjadi pada dunia Nano biasanya tidak tampak, dan memberikan kesan insignifikan… Ya iya, orang gak kelihatan. Tetapi jika dimanfaatkan dengan benar, perubahan dalam skala nano akan berpengaruh dalam kehidupan kita sendiri-sendiri. Seperti misalnya Hydrophobia, Hydrophilia. Itu alasan menurutku Nanosains adalah ilmu yang sangat penting untuk dipelajari, meskipun kecil sekali perubahannya, hasilnya signifikan”

Sesudah memberikan penjelasan sedikit tentang Nanosains, Professor Adhitya memberikan sedikit preview ke apa saja yang akan kita lakukan. Seperti misalnya, hands on membuat sesuatu, lab tour, dan juga demonstrasi.

Kuliah Pengenalan (9.00-10.30)
Prof. Bambang Sunendar

Sesi pertama… Berdasarkan opini yang aku dapatkan dari teman-temanku, ini sesi paling membosankan menurut mereka. (oke, iya, aku juga menganggap ini lebih membosankan dari 2 tahun yang lalu.)

Professor Bambang Sunendar memberikan penjelasan mengenai Nanosains, baik definisinya, penerapannya, sejarah mendetilnya, bagaimana bisa dimanfaatkan di benda sehari-hari… Et cetera.

Professor Bambang, sama seperti tahun lalu berangkat dari pemahaman bahwa, uniknya, semakin kecil teknologi, semakin efisien dan signifikan pengaruhnya. Selain itu, Professor Bambang juga memberikan penjelasan mengenai Nanobiologi, cara memanipulasinya, Nanobots, bagaimana ia bisa membangun diri sendirinya dengan mudah, serta juga sedikit insight mengenai seberapa signifikan pengaruh nanosains dalam dunia nyata.

Tetapi, aku ingin sedikit mengkritisi analogi yang digunakan Professor Bambang menjelaskan dan menggunakan analogi untuk signifikannya ukuran Nano dalam kehidupan sehari-hari. Professor Bambang menyebutkan sebuah zat yang katanya merupakan bensin bekerjanya seorang manusia. Ia menanyakan ke semua peserta bahwa zat inilah yang membuat kita berjalan, hidup dan pintar, dan ini alasan orangtua kita memaksa kita makan makanan yang sehat.

Banyak kata-kata yang tidak bisa didengar dari ruangan, hanya berupa bisikan. Ada yang bilang “Zat Besi”, “Oksigen”, “Vitamin” dan seterusnya. (Aku memutuskan untuk diam, padahal aku yakin yang Professor maksud adalah Protein) Terus, sekitar 3 menit pengulangan fakta, Professor Bambang menyebutkan kalimat seperti ini. “Kalau kalian kekurangan zat ini, bisa bisa kalian autis, atau gak bodoh. Makanya zat ini penting sekali. Masa kalian gak tahu sih?” Sejujurnya, kurasa ini sedikit menyinggung dan kurang professional. Mohon maaf jika opiniku juga menyinggung.

Kuliah ini dilanjutkan dengan Professor Bambang menjelaskan fenomena penting yang melibatkan Nanosains, baik itu natural, tidak sengaja, atau memang sengaja diciptakan manusia.

Statement ini ditambahkan dengan Professor Bambang bilang bahwa “Untuk belajar Nanosains, tidak akan bisa hanya belajar fisika, kimia, atau biologi, harus belajar ketiganya. Tetapi, jika ingin lebih spesifik, baru bisa belajar sesuatu seperti misalnya, Nanobiologi, Nanokimia, dan lain-lain.”

Dari sini, muncul bagian paling menarik di kuliah Professor Bambang…

Sedang ada riset untuk menggunakan ulang sampah kepiting, jagung, dan pisang untuk bahan-bahan lain. Seperti misalnya, bahan bakar, sel pengganti, dan lain-lain! Ini sangat menarik untukku, karena aku doyan makan kepiting, dan ternyata ada 800 ribu ton sampah kepiting tiap tahunnya.

Sayangnya waktu sedikit habis, jadi professor Bambang sedikit flash forward. Dan langsung menyimpulkan.

Sejujurnya, aku tidak menangkap 100% kuliah 90 menit dari Professor Bambang ini. (Psikologi menyatakan bahwa kita ujung-ujungnya akan mengingat hanya 25% dari seluruh informasi yang otak kita terima) Tetapi amat disayangkan bahwa Professor Bambang memberikan sedikit kesan negatif pada tengah kuliah.

Secara keseluruhan, jika aku ingin membandingkan kuliah Professor Bambang di Nanoscience dan Nanoteens, kurasa Nanoscience for Kids lebih sukses dalam membuat kuliah pengenalan yang lebih mudah dimengerti, dan lebih terstruktur. Sayangnya, Nanoteens yang memang lebih condong ke aplikasi dan penerapan, tidak bisa keep up dengan pengenalan ke Nanosains yang lebih detil dan lebih luas jangkauannya, seperti di Nanoscience for Kids.

Aku sendiri sedikit bingung jika ingin memberikan sebuah kuliah mengenai sains yang kompleks ini ke anak SMA. Bukan hanya itu, hanya ada waktu 90 menit, dan kemungkinan membuat mereka merasa bosan sangat tinggi. Sekarang tantangannya bertambah, harus lebih spesifik ke penerapan, dan bukan hanya teori.

Kurasa penggunaan video juga menarik dan cocok untuk ini, sayangnya dalam kuliah pengenalan kali ini, tidak ada video yang ditunjukkan.

Nanokosmetik 10.45-12.00
Teteh Atsarina Larasati Anindya

Teh Laras memberikan materi berikutnya sebelum kita makan siang. Kali ini, temanya bukan penerapan nanosains secara luas, melainkan penerapan nanosains spesifik ke bidang kosmetik, dan hanya bidang kosmetik saja.

Pertama-tama, Nanokosmetik adalah kosmetik yang menggunakan teknologi Nano…

Oke, oke… Pernah melihat iklan produk make-up menggunakan emas, atau pasta gigi yang menggunakan arang? Atau mungkin yoghurt Sour (nama cewe) yang menggunakan Charcoal?

Jadi begini, pada dasarnya, semua produk diatas menggunakan nanoteknologi.

Semua nanoteknologi dalam kosmetik, menggunakan carrier untuk membawa alat yang bisa membawa benefitnya secara aman. Pada dasarnya, banyak zat yang sering digunakan dalam Nanokosmetik, seperti…

  • Emas. Emas bisa berubah warna, sesuai dengan nama Latin Emas yaitu Aurum, yang berarti Rainbow Metal. Dengan alterasi kimia yang tepat dan carrier yang pelan dalam memberikan paketnya, Emas bisa merubah warnanya, serta memberikan “glimmer” yang bagus. Sebuah cat rambut Nano dari Jepang dapat berubah warna tiap harinya, jika kita menyemprotnya dengan zat yang sudah disediakan sepaket dengan membelinya. Dan sekarang aku ingat kenapa orang Jepang suka membuat banyak fashion statement.
  • Perak. Seperti di mitologi Eropa, Perak dinyatakan bisa membunuh bakteri yang buruk. (iya, di mitologi dipakai untuk membunuh Lycanthrope, atau Werewolf) Biasanya perak ditemukan di pasta gigi, yang katanya lebih efektif dalam membersihkan suatu zat.
  • Silica. Silica adalah bahan pembuat kaca. Biasanya, Silica digunakan untuk bedak agar memberikan efek berkilau dan mengilap. Silica juga adalah bahan paling sering dibawa dalam nanokosmetik.

Masih banyak lagi, tetapi aku akan membahas sesuatu yang lebih penting lagi (dalam kacamataku). Carrier Nano. Ada banyak jenis Nanocarrier, banyak fungsi, dan banyak bentuk. Aku paling mengingat Carbon Nanotube, dan juga liposome, tetapi juga ada banyak lagi.

Pada dasarnya, Nanocarrier ini adalah Mang Gofood yang mengantarkan Makanan (seperti Emas, Perak, dan Silica di atas). Nanocarrier ini memastikan paket yang berupa unsur, atau zat yang penting bisa sampai tepat tujuan, serta juga memastikan bahwa paket itu tidak tercecer dengan berantakan, dan semua bagian yang membutuhkan si paket mendapatkannya.

Nanocarrier membuat objek beberapa kali lipat lebih efisien.

Eh, tetapi ingat ya, semakin mahal zat dan efisiensinya, harganya juga makin… wah… :O

Sebuah tube kecil nanokosmetik sejumlah 30ml berharga 450 dollar karena menggunakan emas dan platina. Harga per mililiternya seharga, 15 dollar… o_O

Teh Laras juga membahas beberapa banyak hal mengenai teknisnya menguji Nanokosmetik, serta Health Risk dari beberapa Nanokosmetik, dan cara kita mencermati nanokosmetik yang riskan dan lebih banyak menghasilkan pengaruh negatif dibanding positif.

Presentasi diakhiri dengan sebuah foto Syahrini (yang katanya dipilih karena dia menggunakan banyak sekali nanokosmetik) dan reminder untuk pintar memilih kosmetik.

Sesudah itu, kita makan siang dengan (restoran hanya akan disebut inisialnya saja biar tidak iklan) McD, dan aku yang ingin melihat pameran ITB di Aula Timur pergi ke situ, dan juga sholat di masjid salman, karena sudah sekalian ke depan 😉 (oke, aku juga sholat disitu buat minum teh, tapi tetep sholat di masjid)

Membuat Sabun (13.00-14.30)
Teh Sri Ayu

Sabun! Kita membuat Sabun!

Fast forward 2 hari. Aku melupakan nama satu bahan yang sangat krusial dan aku dimarahin sama Bubi. Nasib. Untungnya aku menemukan nama bahan tersebut!

Sesudah makan siang, kita diberikan Jas Lab, dan dibagi kelompoknya. Aku sekelompok bersama 4 perempuan, dan kita mendapat asisten, atau lebih tepatnya guide, dari Kak Yusuf Yuda, atau boleh dipanggil Kak Ucup…

Jadi, pada dasarnya, membuat sabun itu sangat mudah! Prosesnya diberi contoh oleh Teh Sri Ayu, dengan beberapa bahan yang sudah ditimbang dan tinggal dicampur. Kita juga diberikan handout untuk teori dibalik si sabun, dan juga cara pembuatan, serta alat dan bahan.

Resep yang diberikan setara dengan 1 kali mencetak sabun, dan karena kita diminta membuat 3 batang sabun, rasio dari resep itu dikali tiga.

Bahan yang digunakan adalah…

  • Virgin Coconut Oil, Palm Oil, Olive Oil
  • NaOH padat (Juga diketahui sebagai, Lye Powder)
  • Vitamin C
  • Kopi bubuk untuk pewangi
  • Aquadest untuk melarutkan

Cara membuatnya pun cukup sederhana…

  • Campur VCO, Palm Oil, dan Olive Oil sesuai resep yang diikuti (perbedaan rasio berarti perbedaan tekstur dan mudahnya larut)
  • Larutkan ke dalam Beaker Glass dan aduk menggunakan stirrer. Panaskan sampai 40-50 derajat celsius.
  • Masukkan Vitamin C 0.1 gram, NaOH sesuai rasio dan resep, dan Kopi bubuk 0.01 gram ke dalam beaker glass. Biarkan teraduk sebentar.
  • Aduk, aduk, dan aduk sampai warna menjadi keputihan.
  • Cetak ke dalam cetakan!
  • Tunggu memadat, sekitar 18-24 jam. Keluarkan dari cetakan sesudah memadat
  • 2 minggu sesudah padat, sabun bisa digunakan.

Jika ada yang menanyakan ke aku, apa bagian paling sulit dalam membuat sabun DIY… Jawabannya adalah menimbang.

Aku sedang memasukkan VCO ke dalam timbangan… dan karena harus presisi, kita meneteskan sedikit, dan sedikit, dan sedikit sampai akhirnya jumlah tercukupi.

Itu tidak rumit, hanya butuh finesse dan ketelitian… Sayangnya aku tidak punya keduanya. Untungnya, tidak ada hal buruk terjadi! (belum)

Sekarang, hanya akan ada foto, karena beneran, membuat sabun itu sangat mudah

Mungkin stirrer tidak terlihat dengan jelas, tetapi, ada sebuah pil yang berputar karena elektromagnetisme di bawahnya. Jadi, sekarang, kita tidak perlu mengaduk manual! Hore!

Mesin dibawahnya disebut, (ya, captain obvious kembali…) Electromagnetic Stirrer.

Sesudah diaduk, tinggal dicetak, dan tinggal ditunggu padat! Hasil jadi akan ada di post yang akan kukeluarkan besok, karena ini baru laporan Day 1.

Masker Kaolin Clay (15.00-16.30)
Teh Sri Ayu

Sekali lagi, sesudah sholat ashar dan juga coffee break (FYI, aku juga comot beberapa hal untuk dibawa dan dikonsumsi di Hotel) praktikum kembali dimulai. Kali ini membuat masker dari Kaolin Clay, yang katanya bisa digunakan untuk mengencangkan kulit dan membuat seseorang awet muda. Aku dan mukaku yang boros ini mungkin malah jadi awet tua kalau pakai ini. Eh curcol detected.

Kaolin Clay juga diketahui dengan nama Aluminum Oksida, atau AlO2, tetapi yang berasal dan terkena hawa dingin dari pegunungan di China.

Dan sekali lagi, proses pembuatan masker ternyata juga cukup sederhana, berikut bahan, disusul dengan cara pembuatan.

  • Kaolin Clay
  • Vitamin C
  • Oatmeal
  • Pewarna Kosmetik

Maskernya berbentuk bubuk, dan cara membuatnya hanya dengan menumbuk dan mencampur.

  • Timbang 0.03 gram Vitamin C, 15 gram Kaolin Clay, dan 5 gram Oatmeal.
  • Masukkan Vitamin C dalam tempat penumbukkan (alu, jika aku tidak salah), berikan pewarna.
  • Masukkan Kaolin Clay, dan Oatmeal.
  • Tumbuk, tumbuk, tumbuk, dan tumbuk sampai menjadi bubuk.

Sudah, ternyata untuk membuat bonding level Nano cukup dengan menumbuk!

Tetapi, disinilah saat kelompokku membuat kesalahan.

Pertama-tama, pewarna hanya diberikan ke Vitamin C sebagai indikator bahwa, jika Kaolin Clay dan Oatmeal sudah menjadi warna biru, (atau setidaknya ada titik-titik biru) maka masker sudah tercampur. Nah, kita memasukkan vitamin C ke tempat Kaolin Clay dan Oatmeal sebelum diwarnai… Jadi, sekarang, maskernya sudah jadi, tapi kita tidak tahu seberapa tertumbuk hasil masker bubuk kita… ^^’

Selain itu, karena kita sudah tanggung mencampur Oatmeal dan Vitamin C, saat kita memasukkan Kaolin Clay, ada sedikit yang tumpah, jadi kita semua harus bersih-bersih, dan memastikan rasionya masih cukup.Untungnya, ini bukan praktikum yang resmi, atau yang dinilai, dan untungnya lagi, kita masih belajar. Jadi, mari kita lihat foto saja ya!

Kalau Bubi yang lihat foto ini mungkin reaksinya, “Azriel mah mana kuat numbuk, gak ada tenaganya.” Untungnya hasilnya tampak cukup tertumbuk kok… Lihat saja.

Hasil sesudah aku menumbuk 3 menit. Masih sedikit bertekstur, tetapi lebih rata.

Ya, setidaknya maskernya sudah bisa dipakai sesudah menumbuk 10-15 menit.

Tanganku sangat lelah beres menumbuk. Bahkan menulis 2250 kata pun tidak selelah menumbuk 15 menit.

Untungnya, aktivitas hari itu beres, dan aku kembali ke hotel!

Malam…

Hotel Neo di Dipatiukur, sesudah pulang malam, beres menonton Ant-man, kamarku.

Roommate ku sedang bermain dengan teman-temannya di kamar lain. Jadi, aku makan malam sesudah Ant-Man sendiri, dan langsung tidur.

Sabuk adalah hiasan, sengaja ditaroh disitu biar orang-orang bisa fokus ke satu objek.

Hari ini sudah beres, sampai besok!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *