Mortalitas

Mortalitas

Iya. Judul artikel ini aku pepet dalam satu kata. Mortalitas.

Ceritanya aku lagi bosan di rumah, dan aku sudah menulis dua tulisan hari ini, lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Avengers: End Game (there goes 3 hours of my life). Kenapa End Game? Film yang ada hanya itu… Aku harus membeli USB 32 giga agar bias banyak kopi film dalam sekali jalan dari teman.

Anggap sajatulisan yang di bawah 1000 kata ini adalah bonus.

Tragedi

Ya. Aku sudah menuliskan cukup banyak tentang tragedi, tetapi belum pernah ada satu pun artikel yang khusus disiapkan mengenai tragedi.

Manusia sepertinya menyukai akhir yang tragis seiring mereka bertambah umur. Mitologi-mitologi dari zaman dahulu kala jelas mencerminkan itu. Kita melihat sedikit happy-ending seperti yang terjadi pada Perseus, pada Horus, pada Romulus, pada orang lain yang namanya tidak berakhir dengan –us. Tetapi, mayoritas mitologi (dan aku cukup yakin film di zaman sekarang) lebih laku dan diingat jika memiliki ending yang tragis.

Ini mungkin alasan aku masih menonton End Game pada bulan September.

Padaakhirhari, cerita yang dialami Perseus, Horus dan Romulus hanya memberikan image yang baik untuk anak kecil. Semakin dewasa seseorang, semakin besar cintanya pada tragedi.

Shakespeare menuliskan Antony and Cleopatra, Julius Caesar, tetapi tidak menuliskan tentang Octavian (Augustus Caesar mungkin lebih sering diingat karena ia menyukai dipanggil Caesar) karena berdasarkan sejarah Antony, Caesar, dan Cleopatra mendapatkan ending yang sedih.

Selain drama-drama yang diberikan oleh Shakespeare (ekuivalen film Superhero terbaru di zaman dahulu kala), tentunya juga ada drama Dionysian. Drama yang diberikan sebagai persembahan untuk dewa tersebut menyukai tokoh-tokoh seperti Oedipus, Hercules, Theseus, dan semacamnya… karena cerita tersebut berakhir dengan tragis. Tidak ada satu pun happy ending (Hercules menjadi dewa, tapi tetap, pahlawan selevel dia tidak pantas dibunuh oleh istrinya sendiri dengan racun karena istrinya mengira ia sedang selingkuh).

Kurang lebih, film PG-13 yang tragis sesuai dengan drama Dionysian, dan cerita-cerita dengan happy ending tersebut sesuai dengan film PG, yang mengizinkan anak-anak menonton.

Heroisme

Heroisme telah mati, dan Mortalitas muncul.

Heroisme bergantung erat pada konsep seseorang yang ideal, seseorang yang rela melakukan hal-hal bodoh dan/atau berani untuk kepentingan orang lain. (klik disini untuk detil lebih banyak tentang penulis)

Apa yang seorang remaja, atau manusia dewasa pikirkan jika jenius selevel Tony Stark mati pada sebuah pertarungan hanya karena ia menjentikkan jarinya? Apa yang akan dipikirkan oleh seorang calon prajurit di militer kota ketika petarung seperti Achilles dipanah sampai mati?

Manusia tampaknya tidak akan pernah bisa menerima kematian, karena segala bentuk hiburan yang disajikan, terutama yang sukses, kembali lagi dan mengungkit kematian tersebut. Kematian tersebut juga terjadi bukan pada manusia biasa, tetapi ke “Superman“ (bukan Clark Kent, maksudku konsep punya Nietzsche)

Komik yang sold out dalam durasi terpendek adalah Death of Superman dari DC. Film dengan penjualan box office terbesar adalah Avengers: Endgame. Dan drama Shakespeare paling populer sampai hari ini adalah Macbeth, serta Romeo and Juliet.

Macbeth berakhir dengan kematian karena tokoh utamanya menjadi gila sesudah membunuh sahabatnya dan tidak bias menerima masa depannya yaitu akan dibunuh (wow, kata-kata yang menyenangkan) oleh anak sahabatnya tadi sebagai balas dendam dan pada akhirnya ia menjadi paranoid dan terbunuh oleh anak sahabatnya tadi.

Romeo and Juliet berakhir dengan bunuh diri.

Manusia ideal saja bias mati kapan saja, dengan tujuan yang sempurna. Apa yang akan kita bias lakukan sebagai manusia?

Mortalitas

Freud tampak kurang akurat. Freud mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bias menerima kematian. Aku bukan seorang psikolog, tetapi aku yakin bahwa yang Freud katakan terlalu absolut.

Tapi tentunya ini berasal dari bocah berusia 16 tahun yang baru saja membuang 3 jam hidupnya menonton ulang film yang ia sudah ketahui akhirnya, jadi jangan benar-benar dengarkan diriku juga.

Mortalitas adalah hal yang manusia tidak akan pernah bias terima, terutama jika itu terjadi pada orang lain. Tampaknya, kita tidak akan pernah bias menerima kematian yang terjadi pada Tony Stark. (oke, kontrak miliknya habis, tetapi, anda mengerti maksudnya)

Kita berusaha hidup dengan pengetahuan penuh bahwa pada akhirnya, siapapun kita, seberapa hebatnya kita, seberapa banyak uang yang kita kumpulkan, pada akhirnya, kita hanya akan meninggalkan dunia, dengan bayang-bayang kehidupan yang kita miliki.

Kematian tidak bias diterima selama kita hidup dalam bayang-bayangnya. Itu pesan hari ini. Para pahlawan yang pernah ada, mereka semua sudah paham besar risiko yang mereka ambil jika mereka gagal. Kematian adalah hal yang kita perlu pahami. Lagian, hidup ini adalah proses, sepertinya ketakutan akan kematian terjadi pada pahlawan fiktif ini membuat kita bingung. Tragedi adalah tragedi karena kita bukan dewa. Kita perlu menerima realita pahit ini.

Seorang pahlawan menjadi pahlawan ketika mereka bisa menerima bahwa mereka akan mati dalam tugas. Ini alasan kita mencintai tragedi dan takut akan mortalitas. Kita tidak bisa menerima kematian dan tidak akan pernah menjadi pahlawan…

So… Aku menyimpulkan bahwa…pesan terakhir dari End Game adalah… “Selamat, anda baru saja menghabiskan 3 jam kehidupan anda hanya untuk mengetahui bahwa pada akhirnya, anda akan mati. Semoga anda cukup beruntung untuk bisa menemukan 3 jam tersebut kembali.” (No amount of money would ever buy a second of time right?)

Untukku, aku baru saja membuang 6 jam karena aku menontonnya dua kali… Ya sudahlah, sudah ada 2 tulisan yang dibuat hari ini.

“So, I’d thought it would be good for me if I record a little greeting, in the case of an untimely death. On my part. I mean, not that death at any time is untimely. Then again, that’s part of the hero gig isn’t it? Part of the journey is the end.” –Tony Stark.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *