Why I Enjoy Rick Riordan’s Books

Why I Enjoy Rick Riordan’s Books

Mungkin kalau udah ngikutin blog ini entah dari kapan tahu, udah tahu ya seberapa ngefans-nya aku sama Myths, and stuff that revolves around it. Well, probably this article is to give you a small image onto how Rick Riordan’s books give mythology a brand new image…

Aku dapet topik ini dari random topic generator actually… “A book that has affected you”

To prevent myself from bricking, jadi aku tulis tentang ini deh… Artikel ini kurang lebih bakalan tentang Modern Mythology ala Rick Riordan, writing style-nya dia dan cara ini merubah persepsi seseorang pada dunia. Or things like that. Anyways, just carry on, keep rowing your boat to the river Styx and enjoy the article!

Imagination

Menalar myth itu udah pasti butuh pake imajinasi, karena, dimana lagi coba kita bisa membayangkan makhluk humanoid (with powers) dengan personality yang vivid, dan masing-masing punya kerjaan masing-masing, sambil mereka invent hal baru dan govern things. Wait no… there’s X-Men…

Sure, the Alien freaks will say that these Greek Gods are all “Extraterresterial Beings, or Ancient Astronauts”… Whatever, I’ll stick to myths… Muhahahha

On topic… Jadi, sebenarnya, cara mereka govern universe mereka itu sangat… tidak masuk akal. Tapi, kalau orang mau berkhayal, ya, sebenernya sih tetep masuk akal ya… (or not).

Anyways, jadi, di buku-bukunya Rick Riordan (specifically Percy Jackson and Magnus Chase), dia bahas beberapa kali, bahwa kalau mau berimajinasi untuk menyatukan teknologi dan myth, pasti akan ketemu kok meeting point-nya. And once you do, you’ll find out that it does make sense.

Who else could’ve imagined that Valhalla is a hotel… Atau mungkin bahwa Mount Olympus itu lift yang dijangkau dari Empire State Building… Another fun thing to imagine is, the fact that Hermes’s delivery system, is a large shipping brand.

Blend dari both technology and mystic related things dari Buku Rick Riordan itu keren, dan kalau mau, bisa di terapin di dunia nyata, in ways that Rick Riordan hasn’t even done yet…

Gimana? Misalnya, kita mau berteori bahwa ada singer yang merupakan demigod. Well, basically, it’s all you need to enjoy the theory. Pikirin aja siapa dewa yang jadi ayah/ibu-nya, kenapa dia bisa jadi demigod, or things like that. Kalau iseng mau nyoba tinggal di bahas aja sebagai conversation topic.

Nah selain itu, kita bisa move on to the next topic, bahwa, sebenernya mythological prospect dari bukunya Rick Riordan ini masih kelihatan.

Staying True To The Myths

Nah, sebenernya, Rick Riordan ini refuse to change some things inside his books. Masih ada fakta bahwa senjata harus dikasih nama sesuai apa yang dibilang orang Norse, kalau senjatanya mau reach full potential.  According to the Greeks juga, Apollo uses a bow, dan ga boleh sampai dia jadi god of ballistics dan make meriam atau pistol apa… Meskipun ga sekepake dulu, Apollo masih stick to his weapon, the bow.

Selain itu, buku Rick Riordan juga ga sepenuhnya stay true to the myth’s sih. Tapi changes to some tradition yang di offer sama Rick Riordan itu sangat tolerable (even for myth fanatics… {bukan aku}). Like for instance, seseorang masuk Valhalla karena mati dengan heroik sambil bawa Rifle. He gets to keep the weapon he died with, dan setauku Valhalla juga ngestok beberapa jenis Rifle and guns deh…

Well, basically, buku-nya dia… masih mau stick to tradition sambil tetap mau improve dan provide new probable theories onto how this mystic thing is just a cover up of a technological marvel. Keren sih, imagination and ideas are good, and it kept me coming back for more.

Old Heroism-ish things

Heroism-ish… I have no idea what that means…

Jadi intinya, selain dia bisa stay true to mythological facts, while putting up an interesting perspective of modern day mythology… Heroism yang di present di buku-bukunya dia realistis, dan sangat bisa di apply di old Greek myths. Act-nya biasanya similar to the things heroes do in Greek Myth, dan juga masih ada act yang mirip-mirip dengan beberapa hal yang Greek Heroes like Hercules does…

Well, kembali lagi ke fakta bahwa Rick Riordan mau stick ke Greek myth facts, ada juga di Heroism-nya, dan memang cara membunuh beberapa monster masih persis sama dengan yang ada di real life myths. Alhasil, sekali lagi, blend antara kedua dunia ini tampak.

Selain itu, bisa dibilang bahwa heroism dan transisi karakter ini maturing ketika tahu dirinya lebih baik juga alasan bukunya kuanggap keren… Heroism dan transisi sebuah karakter bener-bener tampak. In every book, a character matures more, dan sadar beberapa hal… Some very teenage-y things, but, presented in the perspective of a person with superpowers and family issues.

Jokes, and Light References

Di hampir semua bukunya, Rick Riordan successfully present reference ke outside world, dan juga… banyak joke di buku-nya. Jokes in this book… kebetulan sajah… cocok dengan sense of humor-ku. Jadi ya wajar aku suka.

Kadang ada voice over (andaikan ini serial), sebuah karakter, yang bilang bahwa dirinya sendiri menyesali suatu action di buku-buku yang lalu. Indirect jokes yang aku kadang suka buat juga disini (like saying, wait, that doesn’t sound right), atau direct jokes, kaya pas ketemu Nike (goddess of victory), dan bilang “OH NO! I’m wearing Adidas shoes!”. Or things like that.

Kebetulan aja sih, gaya bercandanya mirip sama aku, jadi aku suka…

In Conclusion…

Wow, aku sebenernya ga terlalu tau mau conclude apa, in addition aku juga merasa artikel ini cuma escape temporal karena lagi ga ada ide mau bikin apa… šŸ™

Jadi yaaaaa gitu deh….

Kalau kita ga konsisten juga ga bakalan sih, mungkin kelewatan artikel satu hari, bisa amplify jadi 10 hari, and end up ga bikin sama sekali lagi…

Jadinya aku bingung… I really am… Sebenernya apa yang bisa di conclude untuk hari ini…

Kalau mau ketemu Nike, don’t wear Adidas shoes, just… don’t

Hope you enjoyed the article… (It’s really short)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *