Modern Day Gods

Modern Day Gods

Sebagai pengisi konten sebuah situs yang sempat menuliskan mitologi, yang di buat ala-ala modern, dan juga sebagai penulis yang suka sejarah peradaban manusia… Aku ingin memberikan konfirmasi dasar, bahwa di dunia kita sekarang… Masih ada… Mungkin bukan Dewa, melainkan, Entitas kuat yang sedang berusaha mengubah dunia. Layaknya pada zaman dahulu, para dewa dalam mitologi yang membentuk dan menciptakan dunia yang kita miliki sekarang.

Siapakah Dewa, atau entitas tersebut?

Inspirasi:

  • Homo Deus: A brief history of Tomorrow
    • Kali ini, inspirasinya hanya satu saja, tetapi, semoga, artikel ini tidak begitu membingungkan dan tetap menarik untuk dibaca.

Dewa? Atau Peradaban?

Dewa, dan Dewa lagi.

Ribuan tahun yang lalu, selalu saja, dewa yang dijadikan benda pujaan, entitas contoh untuk “disalahkan” mengenai terciptanya suatu benda, baik itu sesuatu yang baik, atau sesuatu yang buruk.

Terkadang, dewa ini dielu-elukan karena kemampuannya menciptakan sesuatu seperti hujan, sungai, gempa, atau apapun itu. Terkadang juga, dewa ini ditakuti karena kemampuannya merusak sesuatu.

Manusia melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk memastikan hawa nafsu dewa atau dewi ini terpenuhi, agar mereka selalu diberikan berkah, dan diamankan dari kerusakan.

Sebagai contoh, Dewa Sobek dipuja, dan bahkan sampai sekarangpun, Sobek masih dianggap telah melakukan suatu tindakan yang amat mulia dengan membuat sungai nil. Sobek sendiri juga telah mengalirkan air dari sungai tersebut, agar air itu terus menerus mengalir, dan mengalir, ia telah menciptakan kanal, dengan bantuan 1000 manusia, Firaun, dan juga bahan-bahan dari seluruh kerajaan mesir.

Mendengar ironi dari situ?

Sebenarnya, beberapa ahli telah menyatakan bahwa dahulu, beberapa orang Mesir telah sukses membuat kanal agar sungai nil mengalir dengan lebih efisien. Sedangkan, pada beberapa teks mentah dari tablet-tablet di Mesir, bahwa Sobek, dewa Buaya lah yang membuat sungai Nil, dan kanal-kanal kecil agar air tersebut mengaliri seluruh negara itu.

Meski tidak baik jika kita seratus persen menyangkal keberadaan Sobek, perlu diketahui bahwa memang betul, Manusia mengerjakan kanal dari Sungai Nil, atas perintah dari Firaun. Sementara, yang tercatat, hanyalah Sobek yang melakukan pekerjaan kanal itu.

Beberapa antropolog menyatakan bahwa ini terjadi karena suatu teori yang amat erat dengan Brand. Pada akhirnya, manusia ingin melakukan sesuatu, dan hanya akan melakukan sesuatu, sesudah ada suatu merek yang mendukung mereka untuk mengerjakan tugas itu. Ada kemungkinan bahwa si merek ini tidak melakukan apa-apa, dan hanya ada sebagai pajangan dan cara untuk “menipu” kebanyakan orang untuk melakukan sesuatu.

Berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang, umm… Mungkin saja tidak ada dewa apapun pada zaman dahulu, dan itu hanya cara agar para raja dapat menakuti semua penduduk kerajaannya agar melakukan apa yang raja tersebut ingin mereka lakukan.

Banyak antropolog juga yakin bahwa teriakan brand dan merek yang dibungkus sebagai dewa pada zaman dahulu kala telah terdengar cukup keras, dan juga tercerminkan di masa sekarang.

Perlu dicatat bahwa sampai detik ini, manusia secara umum, meyakini bahwa Firaun dan Sobek lah yang membuat kanal di Mesir dan memajukan peradaban kuat itu hingga sekarang. Secara tidak langsung, kita takkan pernah percaya siapa yang melakukan apa, sampai kita tahu bahwa ada suatu bungkusan yang berupa merek, atau brand untuk melakukan si hal tersebut.

Jika bingung, mari kita kemas ini dalam satu kalimat, dan akan aku jelaskan kalimat tersebut.

Sobek, dan Firaun membuat kanal yang mengalirkan air di Sungai Nil.

Nyatanya, dari kalimat tersebut, yang membuat kanal untuk mengalirkan air di Sungai Nil tersebut bukanlah Sobek atau Firaun, melainkan… Rakyat Mesir. Sobek hanyalah bungkusan agar fakta tersebut lebih mudah dicerna oleh manusia.

The Modern Mirror

Liverpool F.C. Telah memenangkan Champions League 5 kali.

Namun pada sisi lain, yang memenangkan Champions League itu bukan orang bernama Liverpool kan? Melainkan tim, yang berada dalam naungan klub sepakbola tersebut.

Juga ada Mobil yang berusaha menyetir dirinya sendiri, jika anda lupa, memang ada… Google sedang membuatnya.

Tapi umm… Apakah betul Google yang membuatnya? Setahuku Google itu adalah search engine, bukan Artificial Superintelligence.

Siapa yang ingat mengenai Waymo, perusahaan startup yang Google beli? Siapa juga yang ingat Sebastian Thrun? Pionir ide tersebut? Kurasa hanya sedikit orang yang bisa mengingat Sebastian Thrun.

Sebenarnya, kita butuh brand ini karena kita merasa lebih baik melakukan sesuatu untuk “dipuja”. Kalau misalnya kita bilang ke orang, “I work for Google” itu sama saja dengan bilang ke orang lain, pada zaman Yunani kuno “I work at Zeus’s Temple”. Brand ini adalah suatu kesan megah, suatu kesan dewa yang menjiwai manusia, dan memberikan mereka nafsu serta drive untuk melakukan sesuatu.

Tanpa adanya suatu merek familier, suatu hal takkan punya jiwa. Dan jiwa tersebut, adalah asal hidup dan semangat manusia. Ini salah sekian alasan jutaan orang percaya dan memegang teguh agama milik mereka, dan ini juga salah sekian alasan, kita bisa merasa bangga jika kita bekerja untuk sebuah perusahaan yang telah diketahui banyak orang.

(Percaya padaku, kamu akan merasa lebih senang jika kamu bilang “I work for Amazon” alih-alih kamu bilang, “I work for Jeff Bezos” Tetapi, ada sedikit pengecualian untuk itu, dan akan aku bahas sedikit di belakang)

So, Are Companies Gods Now?

Pertanyaan besarnya adalah, apakah perusahaan telah memperkuat dirinya dengan memberikan suatu kesan pride jika kita bekerja untuk mereka? Apakah perusahaan bisa dianggap setara dengan dewa? Apakah itu hal yang salah?

Jika ada yang bertanya denganku, justru Dewa pada zaman dahulu kala adalah suatu perusahaan.

Firaun bisa dianggap sebagai CEO dari Perusahaan bernama Sobek yang beroperasi di pembuatan kanal, dan tentunya, semua petinggi Mesir di kala itu juga bisa dianggap sebagai CTO, CMO, C whatever O dari perusahaan tersebut. Sobek adalah merek, dan nama perusahaan, bukan orang yang melakukannya.

Tetapi, siapa yang melakukan pekerjaan kanal itu? Sobek. Padahal, jika dipikir lagi, Sobek adalah merek, dan bukan orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Namun, secara universal, merek ini telah terasa sebagai suatu jiwa dan suatu bentuk sendiri…

Jiwa nyata ini telah membuat pertanyaan seperti ini mungkin untuk dikatakan.

  • Who won the 2018 World Cup?” France! Padahal, Prancis… adalah sebuah negara 😉
  • Who is currently developing an Artificial Intelligence?” Every crazy genius… *OOPS* sorry, ralat… Singularity Univesity. dari namanya juga ketahuan ya, itu universitas
  • Who’s developing technology for us to go to space?” Elon Musk
    • Dalam kasus ini, Elon Musk telah mengalahkan SpaceX dalam kasus brand…
  • Who and Who, and Who…”

Begitu kuatnya jiwa mereka, benda mati ini terasa lebih hidup, sehingga kita akan menanyakan pertanyaan Who, alih-alih menanyakan pertanyaan What company, atau What country…

Pada akhirnya, kita mengasosiasikan sebuah benda mati sebagai sesuatu yang berjiwa karena benda itu sedang melakukan sesuatu yang… Out of our minds. It’s just that fascinating.

Tapi, pertanyaannya adalah, mengapa sesuatu yang tak berjiwa seperti ini bisa melakukan sesuatu seperti itu? Mengubah suatu dasar bahasa Inggris.

Kembali lagi ke otak dasar kita…

We are What we Worship

Kita pasti mengelu-elukan atau merasa wah pada suatu hal.

Seperti kusebut di bagian awal… Kita akan merasa lebih baik jika kita melakukan sesuatu untuk merek yang imajinatif ketimbang melakukan sesuatu untuk orang lain.

Dalam imajinasi kita, sukses bekerja untuk suatu dewa, atau suatu merek akan memberikan kita perasaan mencapai sesuatu, daripada kita sukses bekerja… Untuk bos kita.

Kita akan merasa lebih bangga mencapai sesuatu yang imajinatif, dan bukan suatu hal yang nyata.

Err, itu mungkin terdengar gila, tetapi, sekarang, imajinasi kita begitu kuat dan begitu mudah mengubah orang lain, sehingga yang tadinya imajinasi bisa muncul ke dunia nyata, dan meninggalkan bekas nyatanya…

Ratus ribuan anak bermimpi untuk bermain seperti Cristiano Ronaldo, padahal, sepakbola adalah permainan dimana hukumnya saja hanya muncul dari kepala kita, dan bisa dibilang, dibuat tanpa inspirasi apapun. (for all we know, orang Maya/Romawi/China menciptakan sepakbola dengan menendang buah melewati dua pohon karena sedang bosan)

Ratus ribuan mahasiswa bermimpi untuk bekerja di suatu perusahaan besar, seperti Google, Amazon, or, whatever really. Sekali lagi, google, amazon, dan perusahaan apapun hanya berguna, karena kita berpikir itu berguna, dan telah menjadi gaya hidup…

Jadi, kesimpulan hari ini sederhana… Manusia lebih suka mengkhayal dan hidup untuk khayalan mereka, alih-alih sesuatu yang real.

Wow, sometimes we are really smart, and sometimes, we can be really silly.

Sampai lain waktu!

P.S. Maaf jika anda bingung, Sobek bukan berarti kertas yang dirobek, tetapi Dewa berkepala Buaya yang menciptakan sungai nil dari keringatnya. Ini aneh? Iya, tanya saja sama orang Mesir zaman dahulu, cheers 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *