Mitologi Millennial: Legenda Situ Bagendit

Mitologi Millennial: Legenda Situ Bagendit

Mitologi Millennial kali ini berada dalam kisaran Cerita Daerah… Aku memutuskan untuk menampilkan cerita Legenda Situ Bagendit…

Seperti biasa, mitologi millennial adalah sebuah cerita daerah, ataupun mitologi yang dikonversi agar bisa dinikmati para millennial.

Selamat menikmati!

DISCLAIMER: Harap catat bahwa cerita ini sebagian besar ditulis ulang, dan jika ada teknologi yang belum ada di zaman itu, bayangkan saja apa yang aslinya dilakukan oleh orang-orang di zaman itu. Serta ada beberapa versi dari cerita Situ Bagendit ini, harap ketahui bahwa ini tidak pasti, namanya juga mitologi

Senang Ditinggal Suami…

Hiduplah seorang Janda di Jawa Barat. Lokasinya dimana mungkin pembaca bertanya? Entahlah, coba aja pake Google Maps cari sendiri. Tinggallah seorang istri, yang aku pastikan sebagai cewe cantik, karena ia memiliki suami kaya raya… Dengan nama Nyai Endit.

Suaminya seorang pengusaha beras, dengan lumbung padi yang besar, tapi mungkin di malam hari suaminya juga merupakan seorang Daytrader, dan bermain saham. Rumahnya sih katanya mewah, tapi seperti desain orang kaya pada umumnya, lebay, dan malah jadi nora.

Tidak lama sebelum mulainya cerita ini, Nyai Endit ini ditinggal suaminya yang meninggal.

Sesudah (pura-pura) sedih dan mengubur serta mendoakan suaminya, Nyai Endit membuat sebuah pesta. Kenapa? Tentu saja! Suaminya yang biasanya tidak memberikan uang jajan terlalu banyak buat belanja tas di mall desa, dan juga benda-benda lucu tapi tidak diperlukan di Tokopedia dan Shopee… akhirnya tidak ada! Uang yang biasa dipakai untuk beli saham, dan juga lahan padi bisa dipakai berfoya-foya!

Apa yang seharusnya membuatnya sedih?

(Catatan Penulis: Meski tidak dijelaskan, aku punya firasat Nyai Endit ini istri muda dan satu-satunya istri mendiang suaminya…)

Selain fakta bahwa suaminya kaya, suaminya juga memiliki preman… (WAH! Jangan-jangan… suami Nyai Endit ini Mafia Sunda!) Sebenarnya bukan preman juga sih, tepatnya bodyguard…

Sesudah kegirangan ditinggal suami tetapi, bodyguard ini betul dijadikan preman!

Masa Kejayaan Mafia Endit

Hari-hari menjadi gelap. Para Petani yang bekerja di lahan padi milik Godmother Nyai Endit ini terpaksa membayar pajak mahal, dan hanya bisa mendapat laba yang hanya sepeser kecil dari hasil penjualan padi miliknya. Hal yang sama terjadi, dengan amat disayangkan untuk para “pedagang” saham. Software bertukar saham yang tadinya gratis, sekarang berbayar! Mengapa mereka tidak bisa mengikuti jejak WhatsApp saja? Yang tadinya berbayar jadi gratis!’

Apa saja yang ia lakukan pada warga-warga, dan bagaimana ia menyiksa mereka? Mungkin itu ditanyakan, jadi…

  • Petani yang bekerja di lahannya harus membayar pajak ke dirinya, serta hanya diberikan sepeser hasil penjualan
  • Pedagang saham yang menggunakan software gratis buatan suaminya harus membayar.
  • Supir Gojek (ehem, dan Grab tentunya) semua dipaksa kerja keras, dan jika target poin nya tidak terpenuhi, maka ia tidak dibayar oleh Nyai Endit yang meminjamkan motor dan HP untuk menarik order.
  • Warung-warung pinggir jalan harus memberikan sebagian makanannya untuk Nyai Endit jika tidak ingin dipalak, dan masih banyak lagi…

Ini tentunya diprotes oleh warga-warga… Down With Godmother! Tetapi, disinilah dimana para preman berfungsi. Seperti yang dilakukan crime lord pada umumnya, wajib ada 2-4 orang preman, atau orang kuat yang bisa mengusir dan membunuh siapapun yang berusaha untuk protes dari kejahatan yang ia buat.

Jadi, jika ada yang protes dan meminta upah lebih besar, atau meminta pajaknya dipotong, atau bahkan berusaha mencari crack untuk software saham! Langsung diketok (baca, didobrak) pintunya oleh para preman. Biasanya mereka dipalak, terkadang kepalanya digetok, dan jika kejahatan yang mereka lakukan adalah crack software saham, komputer mereka dirusak.

JENG JENG JENG!

Tetapi, selama seluruh desa tak bernama itu melarat, apa yang dilakukan oleh Nyai Endit?

Marie Antoinette Sunda

Jadi, tentunya, sebagai seseorang yang terlalu kaya dan memiliki tentara sendiri, sebenarnya, mastermind dan orang kejamnya sendiri bersenang-senang. Setiap hari, layaknya Marie Antoinette (dia ratu Prancis yang kepalanya dipenggal di umum ketika semua warga Prancis masuk ke rumahnya dan teriak… VIVE LA REVOLUTION!) ketika ia masih hidup, ia berpesta pora.

Mungkin kalau Marie Antoinette doyan kue, kalau Nyai Endit lebih doyan Goyobod, Oncom atau Batagor lah, layaknya orang Sunda.

Tiap hari, warga yang kelaparan kerjaannya hanya mupeng aja di depan rumahnya. Ketika orang-orang yang ikut Mafia Nyai Endit, punya makanan enak, dimasak chef dengan bintang Michelin (oke, sebenernya ini dilebihkan, aku tidak punya lelucon untuk ini, peace out), mereka hanya makan nasi putih pake kecap. Itu pun kadang nasinya gajih…

Namun, pada suatu hari ada dua pemuda yang baru saja pindah ke sini, dan mereka langsung kelihatan punya niatan untuk mengubah kondisi ini, dengan menggulingkan Godmother Nyai Endit…

Revolusi!

Aku sebagai penulis yakin 100% bahwa ini sangat-sangat mirip dengan Suicide Bombing, tetapi sepertinya zaman dahulu kala belum ada konsep terrorrisme, jadi aku tidak punya komentar yang lebih banyak…

Kedua pemuda itu menghilang keesokan harinya, dan mereka kembali bersama Kakek-kakek, yang langsung datang ke rumah Nyai Endit. Mereka sudah punya rencana untuk merusak Crime Empire milik Nyai Endit.

Awalnya, Nyai Endit ingin langsung menyuruh para preman untuk membunuhnya, tetapi ia tidak terlalu keberatan, dan sesekali ia ingin menjadi orang sedikit baik. Jadi, Nyai Endit yang tidak pernah melihat orang ini sebelumnya berasumsi ia pengemis, dan ia berjalan bertatih-tatih dengan tas Louis Vuitton-nya, dan dengan sepatu high heel Gucci miliknya.

Sesampai di pintu, ia ditanyakan sedikit oleh Kakek itu, dalam percakapan seperti ini… Ternyata Kakek ini lebih cocok disebut sebagai seorang Sage, kaya Master Kura-Kura di Dragon Ball kebanding disebut seorang pengemis.

  • Kakek: Punten Teh, ari, ini kok warganya pada lapar begini ya?
  • Nyai Endit: Mereka kurang kerja Kang…
  • Kakek: Oh begitu toh… Katanya mereka sudah lelah, supir gojek udah narik 28, tapi karena belum 30 gak dikasih bonusnya sama Teteh, terus petaninya juga pada capek nyangkul seharian.
  • Nyai Endit: Memangnya kenapa Kang kalau mereka kurang kerja? Ini kan desa saya!
  • Kakek: Ari Teteh, Geulis, tapi meuni… jutek nya…
  • Nyai Endit: Pergi aja sana Kang, sebelum diusir Preman…
  • Kakek: Justru Teh, saya mau ngasih hadiah… Saya taro aja ya di tanah sebelah situ…
  • Nyai Endit: Hah?
  • Kakek: Kalau ditarik tuh tongkat entar keluar emas ya… Mau kan? Daripada lama ngeles sama saya, udah lah, itu hadiah untuk Teteh.

  • Nyai Endit: Makasih Kang yang saya belum pernah ketemu…

Kakek itu pun menaruh tongkatnya di halaman rumah Nyai Endit.

Ia menyuruh semua Premannya mencoba untuk melepas tongkat itu dari tanah, tetapi tidak ada yang bisa melepas tongkat di tanah itu. Sayangnya tidak ada preman yang bisa melakukan itu, jadi, Nyai Endit pun melakukannya sendiri…

Dan bomnya meledak…

Jadi, bom itu meledak. Sudah, sesederhana itu.

Tongkat itu meluarkan muntahan air yang sangat-sangat cepat, langsung menenggelamkan seluruh warga di desa tersebut. Hanya si kakek yang berhasil kabur. Kakek itu sepertinya guru untuk kedua pemuda yang hanya memanggilnya kesini, tetapi bahkan ia lupa mengajak muridnya pergi.

Air itu pun menenggelamkan seluruh desa, dan ya… termasuk warga-warga disitu. Layaknya seorang dewa, sang sage kaya kura-kura di Dragon Ball itu menghancurkan seluruh desa demi menghancurkan sebuah crime dynasty.

Sedikit kejam menurutku.

Ya setidaknya korban-korban itu, terutama yang kurang ajar punya banyak waktu untuk…

Oh iya, air ini disebut Situ Bagendit, dan sekarang katanya memiliki warna bergemilau jika terkena matahari. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana semua sepatu, tas, tiara, cincin, entah apa hal yang orang kebanyakan duit punya untuk bisa tidak rusak selama itu, tetapi ya… namanya mitologi šŸ™‚

Nikmati sajah!

Kesimpulan…

Aku bingung.

Dari banyaknya sumber aku membaca Situ Bagendit, semuanya selalu berujung ke desa ini hancur demi menaklukkan si Nyai Endit ini yang kejam…

Apakah tidak ada cara lain untuk meluruskan keadilan yang tidak adil ini? Pada dasarnya, sebenarnya Sage tak bernama ini teroris. Ia percaya ada suatu ketidakadilan dan kediktatoran dalam sistem pemerintahan ini, tetapi… hah…

Kenapa mesti diakhiri dengan cara yang kejam?

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *