Mindset Sherlock Holmes

Mindset Sherlock Holmes

Sherlock Holmes.

Nama yang hampir bisa dipastikan menciptakan image sebuah detektif yang sedikit sok tahu, (oke, sangat sok tahu) tampak sangat canggung dan anti-sosial, dan tentunya… pandai.

Sesudah menghabiskan 50 buku dari daftar yang aku pegang sejak tahun 2018, plus beberapa buku yang disebutkan sebagai sumber dari kelimapuluh buku tersebut, aku belum sempat menemukan serta mendapatkan buku-buku nonfiksi lain.

Jadi tentunya, aku mengutak-atik satu dua buku, mencari buku fiksi, membaca ulang buku yang sudah kubaca sebelumnya, dan juga mencari inspirasi dari buku-buku fiksi yang sudah lama tersimpan tapi belum sempat kubaca.

Lalu, sesudah sekitar 12 judul buku fiksi dengan kepanjangan yang tak menentu. Datanglah Sherlock. Aku sudah ingin membaca tentang cara berpikir Holmes (ada buku pendek ditulis oleh Daniel Smith dan buku panjang ditulis oleh Maria Konnikova) sejak tahun 2018 awal, dan sekarang ketika kita sudah ada di pertengahan 2019, dan daftar bukuku sudah habis… aku kerjakan juga.

Ya, namanya juga sering lupa (hal yang harusnya berkurang sesudah membaca kedua buku tersebut), mau gimana lagi. Bagaimanapun juga, selamat menikmati 5 tips sederhana (silahkan baca buku untuk versi panjang) untuk memiliki kemampuan analisa serta memori yang similer ke Sherlock Holmes.

Gudang Otak

Gudang otak. Istilah yang digunakan kedua buku ini adalah Brain Attic, namun meski jika diterjemahkan secara harfiah Attic berarti loteng, kurasa dalam konteks bahasa kali ini, istilah gudang akan lebih tepat.

Bagi sebagian besar orang, seperti aku (terutama sebelum membaca buku ini) dan kemungkinan besar pembaca… informasi disetor secara acak.

Hal paling fundamental untuk mendapatkan gaya berpikir yang lebih mirip dengan Sherlock adalah dengan memiliki gudang otak yang tertata dengan rapih.

Gudang otak di sini bukan berarti kapasitas otak seseorang dalam menyimpan memori, karena lucunya kita hampir tidak mungkin melupakan sesuatu, yang ada bukan hilang ingatan, tetapi ingatan tersebut ada di tempat yang sulit dijangkau.

Holmes menyimpan secara otomatis informasi yang ia butuhkan di atas. Ibarat sebuah gudang, jika Holmes ingin mengambil informasi yang punya potensi membantunya memecahkan sebuah kasus, ia cukup membuka pintu gudangnya, dan mengambil barang yang lokasinya sudah tepat di depan pintu.

Ini alasan, bagi Holmes, informasi yang seharusnya diketahui anak kelas 1 SD bahwa bumi mengitari matahari dan bukan sebaliknya tidak ada kepentingannya bagi Holmes. Baginya, tidak ada bedanya jika seandainya bumi mengitari matahari atau matahari mengitari bumi, kasus yang ia pecahkan tidak akan berubah sedikitpun jika ia mengetahui informasi ini.

Baginya, informasi seperti ini tidak penting, dan ia simpan jauh di dalam, untuk ia ambil ketika ia butuhkan di lain hari, seandainya ada kasus yang membutuhkannya, ia hanya perlu membuang waktu ekstra untuk mendapatkan informasi tersebut, dan ia lakukan ini ketika ia sedang hilang jauh dalam pikirannya.

Hal penting lain yang perlu diketahui ketika ingin menyusun ulang informasi sesuai ke Gudang Otak seseorang ada di fakta bahwa, seberapa besar atau buruk ingatanmu, jika gudang otakmu tertata rapih, tidak ada orang yang akan mengalami kesulitan mencari jawaban akan sesuatu.

Jumlah informasi yang seseorang mampu setor tidak mempengaruhi secepat apa seseorang dapat mendapatkan informasi tersebut.

Sebagai contoh. Aku memiliki komputer dengan memori 32 giga byte, dan temanku memiliki komputer dengan memori 128 giga byte. Tidak sepertinya, aku menyimpan file dan aplikasi yang aku butuhkan di desktop, dan file-file yang aku jarang gunakan di dalam folder dan tertata dengan rapih, tidak ada file yang tidak terletak di luar folder. Temanku, pada sisi lain, memasukkan apapun tanpa memfilternya di desktop, dan semua filenya ia biarkan secara berantakan.

Mungkin ia bisa menyetor file dan aplikasi 4 kali lipat lebih banyak dariku, tetapi jika ia butuh waktu 1 menit untuk mencari file, aku cukup diberikan waktu 3 detik untuk mencari file.

Mengerti?

Amati dan Amati

Seorang anak memiliki kemampuan mengamati yang lebih baik daripada seorang dewasa pada umumnya.

Holmes menghabiskan kemampuan otaknya yang terbatas untuk mengamati, ia tahu bahwa ia mudah terdistraksi (hal yang Holmes sendiri kadang akui meski dengan cara yang sombong) jadi ia menghabiskan energi dan sebagian kesadarannya untuk menyuruh otaknya secara langsung untuk mengamati. Holmes menggunakan seluruh indranya (tergantung berapa indra yang kau percaya kau miliki, karena, aku yakin ada orang yang juga percaya pada indra keenam, ke 12, dan seterusnya) untuk mendapatkan informasinya, dan secara sadar memanfaatkan semuanya ketika sedang mengamati sesuatu.

Jika Sherlock Holmes saja perlu menyuruh otaknya mengamati, apalagi orang-orang seperti aku dan pembaca. Bagi Holmes, sistem mengatur gudang otaknya sudah otomatis, tetapi untuk mengamati, ia masih perlu memberikan energi dan kesadarannya untuk melakukan hal tersebut. Ketika ia sedang mengamati sesuatu, ia menghabiskan seluruh kesadarannya ke hal yang ia sedang amati, seperti yang ia lakukan ketika ia bertemu orang. Ia mencari informasi yang menurutnya relevan, dan ia simpan di desktop agar ia tidak perlu mengalami kesulitan untuk mencari kembali informasi tersebut.

Orang yang mengamati adalah orang yang ikut berkontribusi dan menambah ilmu, hadir sendiri sudah tidak cukup jika ingin mendapatkan pengalaman dan informasi yang utuh, informasi yang lengkap.

Korelasi dan Analisa

Mengamati tidak sebatas mendapatkan informasi saja.

Bagi Holmes, ia perlu ikut mendapatkan dan terus membandingkan hal yang ia dapatkan tadi untuk mencari penyebab, dan mencari akibat dari suatu informasi.

Berhenti di mengamati dan menyimpan informasi bukan hal yang buruk, tetapi informasi yang didapatkan tadi tidak akan pernah lengkap, dan tidak akan punya makna berdampak lama jika Holmes tidak tahu apa yang ia perlu lakukan dengan informasi tersebut.

Ia mencari hubungan dari informasi yang ia dapatkan dengan hal-hal yang baru ini terjadi, mencari apa alasan seseorang melakukan sesuatu, dan mencari apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?

Bagi Holmes, proses ini adalah proses yang menentukan benar atau salahnya suatu hipotesa, benar atau salahnya suatu informasi.

Seolah-olah Holmes mengerjakan suatu eksperimen secara tidak sadar dan otomatis di dalam otaknya. Ia selalu berteori, selalu butuh menanyakan pertanyaan, lalu mencari informasi dan bukti untuk memastikan masalah tersebut, dan membandingkannya dengan hasil analisa serta pengamatan yang ia telah lakukan, dan informasi yang disetor dengan rapih di dalam gudang otak miliknya.

Kurangi Makan ketika ingin Berpikir

Manusia rata-rata hanya menggunakan 10% dari otak mereka. Katanya mah. Walaupun ada kontroversi dan banyak eksperimen baru yang berusaha membuktikan 10% informasi tersebut sebagai salah… Ada hal yang aku tahu dengan pasti.

Mayoritas dari proses otak seseorang berada diluar alam bawah sadar mereka. Seperti misalnya, bernafas, memastikan jantung tetap berdetak, menyalurkan darah, dan yang paling terakhir, mencerna makanan.

Ketiga hal tersebut tidak mungkin digantikan, tetapi, kalau untuk memastikan seseorang tidak mencerna makanan, aku rasa itu bukan hal yang salah.

Mencerna makanan merupakan hal yang ‘berat’ untuk dilakukan dan memberikan efek yang memperlambat gaya berpikir seseorang hingga 4 jam sesudah makanan dikonsumsi.

Lalu anda akan bertanya… “Tapi Azriel, aku gak bisa mikir kalau belum makan.” Meski ini memang nyata bagi sebagian orang, ini terjadi bukan karena tidak ada kendali atas otak, melainkan karena Gudang Otak yang tidak rapih, memprioritaskan sensasi kebanding logika. Awalnya ini akan sulit, tetapi kalau anda perlu berpikir sampai level Sherlock, aku yakin pengorbanan ini akan dilakukan.

Ketahui Batasan Anda

Meski Holmes sering tampak bahwa ia mendorong dirinya terlalu jauh dengan tidak makan selama 8 jam, dengan memutuskan untuk mencari tahu sesuatu tanpa istirahat, dan tanpa rasa cukup, Holmes melakukan semua ini secara sadar.

Ia tahu bahwa ia masih bisa mendorong dirinya sendiri lebih lanjut, dan kurasa bahkan Holmes sekalipun tahu bahwa ia harus istirahat dan menyimpan berpikirnya untuk lain hari.

Ini adalah penutup yang pas karena sebenarnya, Holmes adalah manusia, dan jangan pernah berpikir untuk mengalahkannya, karena meskipun Holmes adalah karakter fiksi (yang memang punya portret karakter yang tergantung pada aktornya masing-masing seperti Cumberbatch dengan gaya smug geek-nya dan Robert Downey Jr. dengan gayanya yang penuh dengan swag) kita tidak bisa berharap untuk mengalahkannya dalam ini.

Pernahkah anda berpikir untuk mengalahkan Achilles dalam pertarungan1 lawan 1? Pernahkah anda berpikir untuk mengalahkan Messi atau Ronaldo dalam menggiring bola? Pernahkah anda berpikir bahwa anda bisa mengalahkan Jaden Smith dalam membuat tweet bodoh? (oke, untuk yang terakhir aku rasa tidak ada salahnya mencoba)

Holmes adalah manusia (meskipun fiktif) terhebat dalam analisa, pengamatan, dan manajemen memori, dan bahkan, menggunakan kemampuannya sebagai batasan kita mendorong diri kita saja tidak terdengar realistis…

Ketahui batasanmu. Lagian, anda juga sebenarnya kan masih manusia (dan tidak seperti Holmes… anda nyata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *