Mitologi Millennial: Pitaloka dan Hayam Wuruk

Mitologi Millennial: Pitaloka dan Hayam Wuruk

Selamat datang! Ini adalah serial baru… dan untuk kali ini aku ingin membuat sebuah cerita (mitologi) yang berat menjadi cerita yang lebih ringan dan mampu dibaca millennial dengan santai. Serial ini akan jadi serial baru juga, dan semoga serial ini akan lebih sering keluar dan jadi post di blog ku.

Kali ini mitologi yang akan di millenialism kan adalah tentang tuan putri Dyah Pitaloka Citra Resmi (atau Citrarashmi).

Enjoy!

DISCLAIMER: Harap catat bahwa cerita ini sebagian besar ditulis ulang, dan jika ada teknologi yang belum ada di zaman itu, bayangkan saja apa yang aslinya dilakukan oleh orang-orang ini di zaman itu. Serta ada banyak versi dari cerita Pitaloka ini, harap ketahui bahwa ini tidak pasti, namanya juga mitologi. Atau tidak, mengingat ini sebenernya rada nyata..

Hayam Wuruk Dan Instagram

Suatu pagi, Hayam Wuruk, raja dari kerajaan Majapahit yang sedang berada di puncak kekuasaannya berkat bantuan jendral Gajah Mada sedang gabut. Jadi, tentunya, seperti anak muda (Hayam Wuruk merupakan raja yang cukup muda tentunya, umurnya masih dalam kisaran kepala dua) pada umumnya yang gabut, ia pindah ke satu dari dua hal, dua duanya dilakukan di Smart Phone.

Mobile Legends atau Instagram.

Karena Hayam Wuruk terlalu jago main Mobile Legends dengan strategi yang ia dapatkan atas ajaran Patih Gajah Mada… Ia beralih ke Instagram. Meski ia sudah punya istri, Hayam Wuruk masih suka senyum senyum dan stalking cewe-cewe cantik di Instagram.

Tepatnya pada hari itu, ia mencari perempuan dengan #tuanputri. Dan ia menemukan sebuah perempuan cantik jelita dengan follower yang kurang banyak… Jadi, tentunya jika tuan putri ini menghilang, tidak banyak yang akan panik, atau bahkan marah atas selingkuhnya Hayam Wuruk.

Jadi, Hayam Wuruk pun membuka banyak foto milik Putri Dyah Pitaloka, dari Kerajaan Sunda yang tentunya tidak sekuat Majapahit. Hayam Wuruk sendiri merasa sangat puas sesudah menemukan cukup banyak foto milik Pitaloka. Namun, sayangnya, sebagai Raja dari kerajaan yang memang kuat, ia hampir selalu mendapat keinginannya.

Kemudian, Hayam Wuruk menggunakan fitur message dari Instagram, dan ia mengajak ngobrol Putri Pitaloka. Pitaloka sendiri sekarang berada kira-kira di umur kelulusan SMA, pasnya 18 tahun, dan jika remaja pada umumnya mengambil tes SBMPK (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Kerajaan), Pitaloka, malahan diminta ayahnya untuk menikahi sebuah raja yang memiliki kekuasaan yang kuat, agar Kerajaan Sunda makin mampu selamat sebagai kerajaan.

Ternyata, Pitaloka tahu bahwa dia dikecengin sama raja dari kerajaan paling kuat. Pitaloka sendiri cukup bingung, ia belum mau menikah, tapi kalau ayahnya tahu dia dikecengin raja Majapahit ini, pasti dipaksa nikah lah…

Jadi, kurang lebih chat mereka seperti ini, dan Pitaloka menolak Hayam Wuruk dengan cukup… ya, kasar sih.

  • Hayam Wuruk: Hai, kenalan dong
  • Pitaloka: Kamu Hayam Wuruk kan?
  • Hayam Wuruk: Ia dong, siapa sih yang gak tau aku, kalau kamu siapa?
  • Pitaloka: Gak bisa baca profile aku apa?
  • Hayam Wuruk: Ih, judes banget deh. Main ke Majapahit mau gak?
  • Pitaloka: Kenapa?
  • Hayam Wuruk: Kali kamu mau jadi permaisuriku disini, pasti lebih seneng deh daripada di Kerajaan Sunda.
  • Pitaloka: Gak ah…
  • Hayam Wuruk: Jangan gitu dong…
  • Pitaloka: Ah gak mau ah… Kan kamu dah punya istri!

Dan mungkin hal yang mirip terjadi tiap kali mereka ngobrol sampe si Hayam Wuruk sendiri capek ngontak Pitaloka. Jadi, ia bersiasat dengan meminta bantuan Jendralnya yang lagi tidak berusaha menaklukkan kerajaan apa-apa, dan hanya gabut saja.

Gajah Mada Sebagai Wingman

Saat ia sudah super bingung… Hayam Wuruk mengajak Gajah Mada ngobrol, dan sepertinya Gajah Mada menemukan solusi, karena sepertinya Gajah Mada tahu bahwa punya cewe baru itu gak jauh-jauh dari politik. Alasan yang sama kenapa Hayam Wuruk menikahi istrinya, untuk memperkuat kerajaan.

  • Hayam Wuruk: Gajah Mada, aku butuh bantuan!
  • Gajah Mada: Siap Paduka, negeri apa yang bisa saya taklukkan Siap
  • Hayam Wuruk: Bukan negeri, Patih Gajah Mada, saya ingin permaisuri baru. Tepatnya tuan putri dari Kerajaan Sunda.
  • Gajah Mada: Siap Pitaloka? Siap
  • Hayam Wuruk: Betul, udah siapnya gak usah dipake, kamu udah beres kok Bantara nya
  • Gajah Mada: Siap, tidak usah pake siap, siap… EH! Siap, eh… aaaahhh
  • Hayam Wuruk: . . . . . Oke… Ada ide rencana?
  • Gajah Mada: WhatsApp ayahnya, tawarinnya ke Raja dari Negeri Sunda, bukan ke Pitaloka, tuan putri pasti menolak.
  • Hayam Wuruk: Oh iya, aku ada ide, kita WhatsApp raja Negeri Sunda nya aja, dan kasih dia perlindungan dan persekutuan dari Majapahit!
  • Gajah Mada: Raja betul sekali!
  • Hayam Wuruk: Iya dong, aku pinter milih kamu jadi jendralku
  • Gajah Mada: Raja, tanpa maksud menyinggung, tapi saya jendral ayahmu juga dan paduka dengan bijaknya menyuruh saya menaklukkan kerajaan, tidak seperti ayah Paduka.
  • Hayam Wuruk: Oh iya, betul ya… Ayahku yang pinter milih kamu jadi jendral berarti…
  • Gajah Mada: Eh, bentar… Prabu Wangi cuman punya WhatsApp doang ya?
  • Hayam Wuruk: Biasa, orang tua, paling Line nya juga cuman punya yang lite.
  • Gajah Mada: Oh iya, jadi kapan bisa dilaksanakan rencananya?
  • Hayam Wuruk: Segera, Patihku… segera!

Gak bakalan ada raja yang bakal nolak kalau sebagai simbol persekutuan dan keamanan, tuan putri dan raja dari dua kerajaan menikah. Jadi, Hayam Wuruk dan Gajah Mada menciptakan sebuah rencana untuk Hayam Wuruk.

Rencana ini kurang lebih berarti bahwa Gajah Mada dan sebuah pasukan kecil akan mengawal Pitaloka dan raja untuk berpergian dari Sunda ke Majapahit. Jaraknya sendiri relatif dekat, dan lucunya, dari banyaknya kerajaan dan wilayah yang sudah ditaklukkan Patih/Jendral Gajah Mada… Sunda sendiri yang tetanggaan sama Majapahit gak diserang, karena katanya mereka satu keturunan dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit.

Nah, ini mungkin rada membingungkan… tapi sebenernya, Patih Gajah Mada ini kan emang terkenal gara-gara Sumpah Palapa nya. Dan sejujurnya Gajah Mada sendiri mau mengawal Pitaloka demi mendapatkan wilayah Kerajaan Sunda, dan diklaim sebagai bagian dari Majapahit. Mungkin Gajah Mada dah ngidam makan buah Pala, dan sebenernya Kerajaan Sunda itu satu dari sedikit kerajaan yang belum jadi bagian dari Majapahit.

Ini tentunya sedikit (eh, bukan sedikit, sangat) bertentangan dengan tujuan Raja Sunda (Aku belum sukses nemu nama aslinya) yang mau menikahkan Pitaloka demi menahan nama Kerajaan Sunda dan aman dari serangan Majapahit… Tapi, perbedaan ini belum mau dibereskan atau bahkan diutarakan ke Hayam Wuruk atau Kerajaan Sunda.

Sebelum kita ke bagian berikutnya, Sumpah Palapa punya beberapa versi…

  1. Gajah Mada hanya makan makanan yang rasanya hambar sampai Nusantara ia satukan.
  2. Gajah Mada gak bakal makan Buah Pala sampai Nusantara ia satukan.
  3. Gajah Mada berpuasa sampai Nusantara ia satukan.

Karena 1 dan 3 terkesan brutal, aku ambil versi dua ya.

Mengawal Tuan Putri.

Sesudah WhatsApp-an bareng Prabu Wangi (yeay ketemu juga akhirnya namanya Raja Sunda!), sudah diresmikan bahwa Pitaloka akan menjadi Permaisuri, atau selir dari Hayam Wuruk. Tetapi, ada miskomunikasi… Prabu Wangi sendiri gak tahu bahwa Pitaloka itu cuman jadi simpenan doang, bukan Ratu yang punya suara dalam pemerintahan Majapahit.

Jadi apa yang terjadi atas kesalahpahaman dan miskomunikasi ini? Ya itu… belum ketahuan sekarang mah. Tapi, kalau dah pernah baca cerita ini di tempat lain sebelumnya, Perang Bubat… Bubatnya bukan singkatan buah batu, itu bukan singkatan apa-apa.

Nah, jadi Gajah Mada dan sejumlah pasukan Majapahit berangkat dan akhirnya sampai ke Kerajaan Sunda. Sesudah rasa sebel dan tentunya rada sensi ala perempuannya Pitaloka yang kekeuh…

Meskipun dia kekeuh nyanyi dangdut, dan juga gak mau… Pitaloka akhirnya mau juga dibujuk untuk ikut ke Majapahit. Untuk sesaat segalanya tampak aman, dan jika ada yang gak aman toh ada sepeser dari pasukan Majapahit dan hampir seluruh pasukan Sunda.

Tentunya karena ini bukan mitologi Yunani, di perjalanan tidak ada monster, penyihir, pahlawan lain, demigod jahat, atau dewa nyasar di tengah jalan. Jadi, perjalanan mereka aman sampai… sekitar setengah jalan.

Entah bagaimana, Gajah Mada sengaja keceplosan (ini paradoks!) untuk mengintimidasi Prabu Wangi, dengan bilang bahwa ternyata Pitaloka ini cuman sebatas simpenan, dan gak bakal dijadiin Ratu, hanyalah sebagai simbol kerajaan Sunda untuk bersatu dengan Majapahit. Sesuai dengan keinginannya dalam memenuhi Sumpah Palapa.

Tentunya, Prabu Wangi sangat sebal karena ia merasa ditipu… Jadi tepat pada saat itu juga… “Idih, itu dasar Millennial, banyak mau-nya banget… Udah lah… SERANG!”

Prabu Wangi memberi perintah ke Pasukan Sunda untuk menyerang Pasukan Majapahit. Inilah cara mulainya Perang Bubat.

Perang Bubat

Jadi, di Perang Bubat ini, tidak banyak detil keberanian seseorang yang dapat ditemukan. Tetapi ada 3 hal yang cukup sering dibahas, sehingga kayanya ini cukup universal dalam versi manapun.

  • Kerajaan Sunda dan Majapahit sama-sama kehilangan sebagian besar dari pasukan kirimannya. Untuk Majapahit ini hanya sebersit kecil, tetapi untuk Kerajaan Sunda, ini cukup banyak, mungkin sekitar 70% dari seluruh pasukannya.
  • Prabu Wangi terbunuh di pertempuran ini. Kerajaan Sunda bukan hanya kehilangan mayoritas tentaranya, tapi juga pemimpinnya.
  • Pitaloka bunuh diri saat peperangan karena ia memilih mati saja daripada harus menyerahkan dirinya ke Hayam Wuruk.

Tentunya kematian Pitaloka ini memukul Hayam Wuruk cukup parah, meski ia baru mengenalnya melalui Instagram sekitar 3 bulan yang lalu. Sehingga ia menghukum Gajah Mada, dengan mengasingkannya secara tidak terhormat untuk mati saja tanpa bantuan kerajaan.

Tetapi, sebelum diasingkan, Gajah Mada cukup nekat untuk menghancurkan Kerajaan Sunda yang memang sedang runtuh sesudah kehilangan raja dan juga banyaknya pasukannya. Jadi, Gajah Mada dapat mencoret satu dari sedikit (mungkin dibawah 8) kerajaan lagi yang belum bersatu dengan Majapahit.

Sayangnya beliau diasingkan dan… karena…

  

begitu Gajah Mada tak bisa lagi menyatukan Nusantara… akhirnya, Patih maha kuat, Achilles dari Indonesia… juga meninggal…

Majapahit kehilangan kekuatan terbesarnya sesudah Patih/Jendral Gajah Mada dipaksa meninggalkan kerajaan tersebut. Dan hanya karena ego-nya Hayam Wuruk, Majapahit pun melemah, melemah dan melemah sampai kerajaan itu hampir tiada bekas.

Kesimpulan

Bingung… aku bingung!

Cerita ini cukup bagus, tapi entah kenapa, aku gak bisa narik kesimpulan kaya di post ku yang lain…

Apa ya… hmm….

Aku yakin di kedua bab terakhir saja, banyak orang yang cukup ngeh bahwa semua ini terjadi karena egoisnya orang-orang. Gajah Mada egois untuk menyelesaikan Sumpah Palapa-nya, Prabu Wangi egois untuk mempertahankan kerajaannya, dan Hayam Wuruk egois untuk mengiginkan Pitaloka yang gak mungkin ia dapatkan.

Sepanjang cerita, Pitaloka hanyalah sebuah objek, sebuah asset untuk ditukar dengan benda lain. Sedangkan semua tokoh besar yang lain adalah simbol ego manusia yang gak ada duanya gedenya itu.

Jadi, kesimpulan hari ini adalah, singkirkan ego dan lihatlah hal dalam gambar yang lebih utuh…

Sampai esok hari!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *