Mereview Review: Nutcracker and The Four Realms

Mereview Review: Nutcracker and The Four Realms

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus selalu merasa senang dan bangga karena sekitar 10-20 tahun yang lalu, kota-kota kita dipenuhi dengan film bajakan.

Senang dan bangga disini bukan karena penuhnya film bajakan di kota-kota kita, melainkan, karena banyaknya bajakan, film dikeluarkan begitu cepat. Kita sudah bisa menonton sebuah film yang dirilis secara internasional, sekitar 3 hari sebelum orang-orang di US, atau Eropa mendapatkan giliran.

Sayangnya, tidak selalu kita mendapatkan kesempatan untuk menonton film-film tersebut pada hari dia keluar.

Karena hari ini aku sudah merencanakan untuk menonton Nutcracker and The Four Realms, aku akan mengulas ulasan orang-orang terhadap film tersebut.

Ulasan yang aku akan ulas tidak akan mengandung (atau setidaknya, meminimalkan) spoiler, dan aku akan memilih setidaknya 2, satu dari Google Audience Reviews, satu yang dapat ditemukan di Rotten Tomatoes, dan mungkin satu lagi dari sumber lain, entah itu blog, ulasan lain dari google reviews, atau IMDB, apapun.

Jadi, mari kita mulai. (aku akan memasukkan ulasan-ulasan tersebut di dalam artikel ini ya)

Google Reviews

Ulasan dibuat oleh pengguna Google, Kimberly Brown.

I was originally excited to watch this movie. The trailers looked interesting and the costumes and scenic design looked promising, so walking into the theatre, I had a good feeling.

The beginning was great! It set up the storyline really well and even introduced new ideas that were interesting and refreshing, although, 30 minutes into the film, you could see a switch in everything. It became a sloppy dialogue with VERY inconsistent errors to their own script, a female lead you found very annoying with her bratty attitude and a basic plot line that was predictable within the first five minutes.

Disney take note: the film is called THE NUTCRACKER and the four realms. Why was the actual nutcracker so weak in dialogue, character, strength, and chemistry? He barely did anything in the film besides follow around the leading female. Even the hero had no real change of heart and learned NOTHING.

Very disappointed Disney. VERY disappointed.

Terjemahan:

Sebelumnya, aku sangat antusias dan tidak sabar untuk menonton film ini. Trailer-trailer nya tampak menarik, kostumnya bagus, serta desain-desain yang indah tampak menjanjikan, jadi, aku masuk dalam bioskop dengan firasat baik.

Awal filmnya bagus! Ia mengatur dan membuka jalan untuk cerita, dan juga memasukkan ide-ide yang menarik serta baru. Sayangnya, 30 menit menuju film, segala sesuatu berjalan ke arah yang berbeda. Film ini menjadi percakapan berantakan dengan kesalahan yang SANGAT inkonsisten di dalam naskah buatan mereka sendiri, seorang perempuan sebagai tokoh utama yang anda akan lihat sebagai menyebalkan dan usil di dalam alur cerita yang dapat ditebak dalam lima menit pertama.

Disney, catat: Film ini berjudul THE NUTCRACKER and The Four Realms. Kenapa Nutcracker dalam film ini begitu lemah dalam percakapan, karakter, kekuatan, dan tidak mempunyai sedikitpun chemistry antar pemainnya? Ia tidak melakukan apapun yang signifikan selain mengikuti tokoh utama. Protagonis dalam film ini tidak punya sedikitpun perubahan dan tidak menjadi orang yang lebih baik.

Sangat kecewa Disney. SANGAT kecewa.

Catatan: Terpotong 6 kata demi mengurangi dan meminimalisir spoiler.

Thoughts:

Sejujurnya review ini lebih merujuk ke rasa kecewa seorang penonton yang memang sudah mengharapkan film yang bisa menjadi sebuah Christmas Classic to Watch With Family atau semacamnya, dan diberikan film yang kurang kuat.

Dari review ini, aku bisa menangkap 4 poin penting untuk apa yang bisa diharapkan pada film ini.

  • Premise dan pembuka film sudah bagus. Alur awal sudah cukup jelas, cerita cukup kuat di awal.
  • Banyak kejadian insignifikan dan terlalu banyak cerita yang bercampur-aduk dengan satu sama lain, ini menyebabkan kurangnya korelasi antar cerita, tanda naskah yang buruk.
  • Cerita terlalu mudah ditebak.
  • Cerita tidak ditutup dengan baik dan karakter utama tidak berubah menjadi orang yang lebih baik sesudah alur cerita. Sekali lagi, ini tanda naskah yang buruk dan kurang perencanaan pada penulisan awal.

Aku merasa review ini merupakan salah satu review user yang bisa menjadi sebuah Straight News yang cukup efektif. Ia dibawah 8 paragraf, dan dituliskan dengan cepat, rapih, serta to-the-point.

Sekian ulasanku pada ulasan dari Google user ini.

Recommended from Rottentomatoes.com

Ulasan dapat dibaca di https://www.whatiwatchedtonight.co.uk/the-nutcracker-atfr

Ulasan ini ditulis oleh Top Critic Rotten Tomatoes, Matt Hudson.

Oh, Nutcracker. You’re so glittery and magical. Why couldn’t you have been better??

The movies main issue is indeed the fact that in its quest to achieve a magical status, it loses sight of the story itself and ends up being rather bland and unengaging – which isn’t particularly Disney-like, but that’s how it is here. It’s sugary, sweet and all things nice, but there’s just something missing. Mackenzie Foy, however, isn’t one of the issues. She’s graceful and elegant with enough backbone to carry the story on her shoulders.

For its relatively tight runtime, there’s no real urgency throughout. Everything feels a bit too pedestrian and not even a delightful turn from Misty Copeland halfway through the movie can perk things up. There’s no denying that Nutcracker looks great. Victorian London shimmers and glows like those warm, nostalgic-looking Christmas cards and the Fourth Realm does possess a certain magic in the snow.

For all of its sparkly, sweety goodness, The Nutcracker and the Four Realms feels too soulless to really make an impression. Whilst Foy and Fowora-Knight are fun and the majority of visuals are nice to look at, everything else is disappointing in comparison and this is certainly no Christmas cracker. It is better than A Wrinkle in Time, however.

Terjemahan:

Nutcracker. Kamu begitu berkilauan dan ajaib. Kenapa kamu tidak lebih baik?

Masalah terbesar film ini adalah dalam mencoba mencapai tujuannya untuk menunjukkan keajaiban, ia kehilangan arah mengenai cerita, dan tampak terlalu tawar serta kurang aktif – Tidak seperti film Disney, tapi kenyataannya, Nutcracker kali ini seperti itu. Ia manis, dan dipenuhi hal-hal baik, tapi ada sesuatu yang kurang. Mackenzie Foy, bukanlah masalahnya. Ia cukup elegan serta anggun untuk memainkan peran seperti ini, di dalam cerita Nutcracker.

Untuk waktu film-nya yang relatif pendek, tidak ada perasaan tegang sepanjang film. Semuanya terasa terlalu lambat, dan bahkan tarian yang indah dari Misty Copeland setengah jalan melalui filmnya tidak bisa membuat hal terasa lebih baik. Tidak ada cara untuk menolak fakta bahwa Nutcracker tampak indah. London pada era Victoria berkilau dan bersinar seperti kartu Natal yang hangat dan memberikan perasaan nostalgia. Fourth Realm juga mempunyai perasaan sihir di dalamnya.

Meski kilau dan manis di dalamnya terasa, Nutcracker and The Four Realms terasa seolah tidak ada jiwa untuk meninggalkan kesan. Meski Foy dan Fowora-Knight menyenangkan untuk ditonton, dan efek visualnya enak untuk dilihat, sisanya tampak mengecewakan, dan ini bukan film yang cocok untuk menjadi klasik pada Natal. Untungnya, film ini lebih baik kebanding A Wrinkle In Time.

Catatan: dua paragraf dipotong.

Thoughts.

Sama seperti review penonton, kritikus berpamor besar di Rotten Tomatoes ini memberikan sudut pandang yang cukup negatif, tetapi tetap netral… Ia menambahkan sedikit mengenai pemilihan aktor serta efek visual, namun tidak ada yang lebih jelas selain kedua hal itu, dan tentunya… kritik bagi Disney.

Ini inti yang aku tangkap…

  • Film ini memiliki bungkus indah, dan alur dasar yang baik (mengingat ini remake, alur awal dan premise dari film seperti ini hampir pasti bagus). Namun eksekusi serta penjiwaan yang buruk memberikan rasa yang aneh ketika kita mencicip permen Nutcracker ini.
  • Kurang perasaan tegang dan aura positif serta hasrat dari tiap adegan mematikan perasaan menyenangkan dan menegangkan sepanjang film.
  • Pilihan aktor sudah cocok, Mackenzie Foy anggun, dan juga Jayden Fowora-Knight cukup menyenangkan untuk dilihat.
    • Sayangnya, aktor cocok bukan berarti film bagus jika tidak disertai penyutradaraan tepat, serta naskah yang memiliki kontinuitas.

Healthymouse.com

Healthymouse.com adalah sebuah blog yang ditulis oleh seorang Ibu dan sepertinya fangirl Disney sejak kecil, setidaknya itu cara ia menjelasakan dirinya… Untuk mendapatkan sudut pandang semi-bias, aku memutuskan untuk memasukkan ulasan miliknya.

From the very moment the film begins, you can’t help but instantly be in awe of the stunning visuals. The sets (many of them real sets and practical effects, not solely CGI) are dazzling, and it is incredibly exciting to see how the scenery changes from scene-to-scene. From the mansion where Clara is enjoying a holiday party, to every single one of the Realms, each is very unique, enchanting, and intricate.

Mackenzie Foy portrays Clara perfectly. I have seen The Nutcracker ballet every year for as long as I can remember, and Foy portrays the kind, brave, and curious Clara true to the character we all know and love!

Famed ballet dancer Misty Copeland plays the Ballerina, who serves as the narrator of the story, narrating through dancing, rather than speaking. I loved that they incorporated ballet into the film, even though its source material comes primarily from the original book. When Copeland begins her performance on-screen, you can’t help but become in awe of her stage presence and passion in ballet. She beautifully tells the story of the Four Realms through movement, showing how effective dance can be in storytelling.

This movie is incredibly visually stunning, with Knightley’s performance, and Misty Copeland’s ballet dance telling the story of the Four Realms are highlights of the film for me. I think Disney’s The Nutcracker and the Four Realms will definitely earn its place as a holiday classic. It brings a wonderful sense of comfort, filled with the spirit of the holidays, much in the same way that the Tchaikovsky ballet has been cemented as a classic. It is an absolutely gorgeous film full of the warmth (with just the right amount of adventure) that you’ll be looking for this season!

Terjemahan:

Sejak awal filmnya, penonton langsung terpukau karena efek visual yang mengagumkan. Latar (sebagian besar adalah latar asli, dan bukan hanya CGI) menakjubkan, dan melihat perubahan suasana sangat menyenangkan dari satu adegan ke yang lain. Mulai dari rumah mewah di mana Clara menikmati liburannya, hingga keempat dunia. Masing-masing dunia terasa unik, menarik, dan detil.

Mackenzie Foy memainkan Clara dengan sempurna. Aku sudah pernah melihat Ballet Nutcracker tiap tahunnya, dan aku belum pernah melihat Clara yang dimainkan dengan begitu baik hati, berani, serta penasaran, namun tetap sesuai dengan karakter Clara yang orang-orang lihat pada penampilan ballet-nya.

Penari balet terkenal Misty Copeland memainkan sang Ballerina, yang berperan sebagai narrator cerita ini, narasinya dilakukan via menari, alih-alih berbicara. Tarian yang mereka masukkan ke dalam film ini begitu menarik, meskipun memang betul sumbernya berasal dari buku orisinil Nutcracker. Ketika Copeland memulai penampilanya, kita tidak bisa menahan diri untuk tidak takjub pada aura dan hasrat Copeland untuk menari. Ia menari dengan begitu indah dan menunjukkan seberapa efektifnya menari untuk memberikan sebuah pesan.

Film ini begitu menakjubkan secara visual, dengan penampilan Knightley serta tarian Misty Copeland menceritakan keempat dunia ini adalah bagian paling menarik dari film ini untukku. Kurasa Disney’s The Nutcracker and The Four Realms akan mendapatkan tempat yang cocok sebagai Holiday Classic. Ia memberikan perasaan nyaman, lengkap dengan semangat natal, mirip dengan cara balet Tchaikovsky telah menjadi sebuah klasik. Ini adalah film yang indah, dan penuh dengan kehangatan, serta petualangan yang anda akan nantikan pada musim liburan seperti ini.

Catatan: 3 paragraf kupotong, paragraf tersebut kurasa hanya menambahkan detil ketika poin-poin penting telah dimasukkan. Jika anda ingin melihat review penuhnya, anda bisa membaca ini: http://thehealthymouse.com/nutcracker-and-the-four-realms-review/

Thoughts

Bias pada ulasan ini cukup terasa, ulasan ini tidak membahas alur cerita berantakan yang disebutkan oleh penonton, serta kritikus professional. Sejujurnya ulasan ini yang memang berasal dari seorang blogger sangat mirip dengan cara seorang fanboy komik akan menjaga serta memastikan film yang ia nantikan sepanjang tahun tetap terasa bagus, meski ia sendiri tahu film tersebut jelek.

Setidaknya, kali ini, aku bisa mengambil sesuatu yang tidak dijelaskan dengan cukup kuat pada dua ulasan sebelumnya, yakni… Sisi baik dari film ini…

  • Seperti tipikalnya film Disney, efek visual dari film ini begitu kuat, dan seperti biasa, selalu menarik untuk dilihat, tidak pernah kurang bagus atau terkesan kasar.
  • Pemilihan aktor yang baik, hanya lemah dalam bagian naskah dan penyutradaraan.
  • Tarian yang diselipkan sebagai narasi begitu bagus dan kuat sehingga bisa berbicara layaknya barisan kata dalam naskah seperti narrator pada umumnya di film Disney.

Kesimpulan

Ini artikel panjang, tapi jika kamu hanya membaca salah satu bahasa, ia sebenarnya tidak lebih dari 1200 kata.

Kesimpulan artikel ini sederhana, terkadang kita tidak bisa melihat satu hal dari sudut pandang saja. Memang betul, review 2/3 kritikus di Rotten Tomatoes menyatakan film ini sampah, tapi kenyataannya, masih ada 1-2 hal yang bisa dinikmati pada film.

Meski aku belum menonton, kata kuncinya adalah… bersabar. Jika kita sabar dan ingin melihat penilaian kita sendiri pada filmnya, film ini akan bisa dinilai dengan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *