Menyemai Kebaikan

Menyemai Kebaikan

Satu dari dua artikel di hari Rabu ini…

Artikel satu ini tidak akan terlalu panjang, tetapi ini menunjukkan seberapa ironisnya dunia ini.

Kebaikan…

Sore hari tadi, sepulangku dari aktivitas ngabuburit di Balai Kota (entar ada artikel tentang aktivitas itu ya)… Ada sebuah cerita yang menyentuh hati (dan kayanya bakalan bikin Bubi nangis, atau terharu)…

Aku kebetulan melewati jalan Pasteur yang bertepatan dengan jam berbuka puasa. tepat di lampu merah, ada sekitar selusin Rider Grab dan Gojek (yang “bersatu”, tanpa melihat seragam), membagikan takjil berupa sop buah dan bala-bala bagi pengendara motor di Lampu merah tersebut.

Mereka juga tidak melihat siapa yang mendapat takjil tersebut. Driver Gojek aku (dengan wajah, dan juga namanya berbau tionghoa [aku tidak tahu dia muslim atau bukan tetapi]) juga mendapat sop buah dan bala-bala tersebut. Ia menerimanya dengan senyuman manis.

Tindakan ini mungkin tidak terlalu membebani para driver Gojek dan Grab di Jalan Pasteur tadi… Tetapi inisiatif kecil ini tentunya mampu membekas dan mampu membuat orang merenung mengenai beberapa tindakannya.

Renungan

Hari ini, tidak akan ada kesimpulan, hanya ada renungan pendek.

Pertama, kumpulan Driver Grab dan Gojek itu, tentunya mampu membuat orang merasa senang, dan juga mereka bermanfaat bagi orang lain, mereka tidak melihat, maupun tidak membawa agama mereka.

“It’s the thought and act that counts” (diedit dikit kutipannya).

Bandingkan mereka dengan politikus, yang aku belum pernah bahas dengan detil. Beberapa politikus berani mengatasnamakan agama sebagai kampanye politik mereka. Banyak juga politikus mengatasnamakan agama untuk menghina agama orang lain, dan juga mendapat dukungan dari masyarakat…

Sedangkan, driver Gojek dan Grab, yang sering dipandang sebelah mata, tidak melihat agama, untuk suatu ibadah, yang hampir jelas-jelas berhubungan erat dengan agama…

Apa opinimu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *