Meningkatkan Produktivitas ala Cal Newport

Meningkatkan Produktivitas ala Cal Newport

Weekend kemarin diisi dengan baca buku! Buku terbaru yang kubaca ditulis oleh Cal Newport, subyeknya tentang Deep Work. Aku belum punya translasi yang cocok, jadi aku akan menggunakan istilah yang Newport sendiri berikan di buku dengan judul yang sama…

Selamat menikmati.

Deep Work.

Bayangkan anda sedang bermeditasi.

Anda fokus ke satu hal, dan satu hal saja yang anda berpikir. Mungkin itu cara anda bernafas, cara anda duduk, warna terakhir yang dilihat sebelum menutup mata, suara air yang mengalir di sungai dekat rumah anda.

Sepertinya di era informasi dan serba cepat ini tidak mungkin bisa bermeditasi didekat smartphone ya… Belum apa-apa terdengar suara notifikasi dari WhatsApp, atau dari Instagram, atau apapun itu…

Walau iya, terdengar agak idealis (“Sungai dekat rumah anda” karena siapa yang punya sungai dekat rumah mereka? No offense ke orang-orang yang tinggal dekat Sungai Cikapundung) Keharmonisan dari bekerja atau sekedar fokus ke satu hal tidak bisa dicapai lagi oleh manusia…

Deep Work berfungsi similer ke meditasi. Fokus ke satu hal bebas dari distraksi, melawan adanya distraksi, dan berada di satu titik tengah yang harmonis…

Deep Work adalah cara bekerja yang tenang, tanpa distraksi, dan penuh dengan menahan godaan.

Cal Newport menjelaskan Deep Work sebagai “High quality working without any distractions.” dan sebenarnya memang sesederhana itu.

Dengan makin banyak hadirnya distraksi (entah itu WhatsApp group atau Facebook atau apapun) Newport percaya bahwa ini mengurangi kualitas pekerjaan orang-orang. Pekerjaan orang-orang dan hal-hal yang mereka produksi jadi berkurang dalam aspek kualitas, dan dalam aspek makna.

Pekerjaan kehilangan makna, dan ini mempengaruhi manusia dalam banyak aspek yang aku anggap berhubungan dengan kebahagiaan, walau Newport tidak membahasnya secara eksplisit.

Perlu dicatat tapi, Deep Work sendiri tidak mempengaruhi kuantitas hal-hal yang dikerjakan, tetapi hanya kualitasnya saja. Seseorang bisa saja melakukan pekerjaan dengan kualitas rendah tetapi tetap saja mengerjakannya dengan cepat dan efisien sehingga kuantitasnya tetap tercapai.

Mungkin terdengar agak Purist, agak idealis, dan mirip seperti hal yang anda mungkin baca di buku tentang Yoga, tetapi Deep Work memang langsung berhubungan dengan meditasi, karena banyak aspek dari meditasi menempel dengan Deep Work.

Mari kita bahas cara melakukan deep work.

Menahan Godaan

Puasa.

Indonesia memiliki budaya yang sangat unik di bulan Ramadhan. Rotasi bumi seolah-olah berubah. Hari-hari bergulir tetap sama, tetapi jam malam dan paginya berubah. Kantor pulang lebih cepat, kita bisa bangun dari pukul 3 pagi dan tidak tidur lagi sampai jam 9 malam.

Tujuan dari Ibadah Shaum sendiri di Bulan Ramadhan bukan untuk menahan lapar, tetapi untuk menahan godaan… Aspek terpenting dari ibadah ini ada di fakta bahwa anda akan tergoda pada hal-hal yang tidak penting, dan anda harus bisa menahan diri.

Walau iya terkadang ada ironi di fakta bahwa seseorang yang sedang berpuasa, alias harus menahan godaan bisa saja tetap kalap dalam beli baju karena ada THR dan semacamnya… bahasan kita tidak tentang itu hari ini.

Kata kunci hari ini bukan godaan. Tetapi kata kuncinya adalah “menahan”.

Untuk menahan diri dari melakukan sesuatu perlu ada usaha sadar dari diri kita untuk melakukan sesuatu. Perlu ada willpower yang terlibat dalam memberikan usaha tersebut, dan willpower itu mungkin saja habis… mungkin masih ada sisanya. Tetapi usaha berasal dari willpower yang perlu disalurkan.

Salah satu peraturan Deep Work yang Cal Newport berikan adalah “Embrace Boredom” alias “Nikmati Kebosanan.” Ketika membahas peraturan tersebut Newport bilang bahwa terkadang isu seseorang bukanlah tidak memiliki distraksi, tetapi justru kemampuan orang tersebut menahan diri dari distraksi tersebut.

Newport bahkan agak-agak nyantai untuk urusan distraksi ketika sedang tidak bekerja. Ia bilang “Jika internet memainkan peran penting dalam hiburan ketika malam hari sebelum tidur, itu tidak apa-apa.” Jadi jangan khawatir, mau menerapkan Deep Work bukan berarti anda harus pergi dari semua grup WhatsApp anda atau berhenti menggunakan Netflix.

Newport meminta anda untuk tidak terlalu sering melakukan transisi dari Fokus bekerja ke melakukan distraksi. Waktunya kerja adalah saat untuk bekerja, dan waktunya bersenang-senang adalah waktunya bersenang-senang. Masalahnya jika seseorang ingin bertransisi dari Fokus ke Distraksi, butuh waktu untuk Fokus tersebut bisa terkumpul ke titik yang dalam.

Oke, jadi Netflix, WhatsApp semua aman. Bagaimana dengan sosmed?

Quit Social Media.

Rule #3 dari Deep Work.

QUIT SOCIAL MEDIA.

Yeah. Social Media is not fine.

Newport percaya bahwa Sosmed adalah sumber distraksi (that’s obvious) yang tidak ada maknanya (that’s also obvious) dan bahkan jika kita bisa mempelajari sesuatu dari situ (kapan sih kita benar-benar bisa?) tidak ada inti yang bermakna karena siapapun bisa menuliskan apapun di dalamnya.

Selain fakta bahwa sosmed memiliki banyak konten tidak bermakna dan dibatasi dalam bingkai yang orang-orang ingin tunjukkan… Sosial media juga melakukan banyak hal yang mendefinisikan gaya hidup orang-orang di abad ke 21 sampai titik ketiadaan dari opini.

Ini subyek untuk lain waktu tentunya… Namun distraksi yang Newport tuliskan lebih sesuai jika disamakan dengan distraksi “penting”. Bahkan hal-hal yang penting bisa saja gak punya makna. Seperti misalnya membalas Email… Membalas email penting, tetapi minim makna.

Sosial Media tidak memberikan distraksi “penting”.

Newport ingin orang-orang untuk steril dari distraksi tidak penting, dan menyortir distraksi yang penting.

Kesimpulan

Oke, dua peraturan penting dari Deep Work sudah kutuliskan. Menurutku dua peraturan ini (Quit Social Media, Embrace Boredom… dari total 4 peraturan) yang paling penting, dan kurasa kedua peraturan ini cukup untuk memulai deep work.

Newport menginginkan orang-orang untuk lebih efisien dari semestinya ketika melakukan deep work.

Ia meminta kerapihan… Dan aku agak-agak bingung cara menerapkannya.

Newport memberikan referensi yang cukup banyak tentang orang-orang yang super ekstrim dalam mengatur efisiensinya… Seperti seorang Professor yang gak punya email dan mempunya asisten khusus untuk menerima snail mail dan menyortir hal yang urgent.

Kalau menanyakan aku, bagaimana cara menambah efisiensi dalam hari-hari anda dan melakukan Deep Work?

Stop right there.

Deep Work bukan untuk semua orang. Ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak shallow work dan berbasis kuantitas kebanding kualitas. Ada beberapa pekerjaan yang bergantung 100% pada urgensi email dan tidak bisa bergantung pada “Imajinasi akan Dunia” yang dilakukan filsuf-filsuf macam Socrates, Descartes, dan Immanuel Kant.

Jadi, sebelum loncat ke kesimpulan dan menentukan apakah anda bisa melakukan Deep Work atau tidak…

Putuskan dulu. Apakah anda ingin mencapai makna, atau anda ingin pekerjaan tersebut beres?

Terkadang pekerjaan dangkal sudah cukup.

Appendix.

Ironisnya tulisan tentang Deep Work hari ini ditulis dalam kondisi yang sangat shallow dan penuh distraksi.

Sambil menulis tulisan ini, aku dipotong karena membuatkan roti bakar untuk snack sore, mendengar Ibuku dan Adikku bermain Karma dan memastikan peraturannya berjalan dengan lancar, serta mengganti galon.

Mohon maaf kalau tulisannya kurang bermakna, dan sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *