Menggapai Kekekalan Fisik?

Menggapai Kekekalan Fisik?

The key to immortality is to first live a life worth remembering -Bruce Lee

Berulang kali sejak beberapa belas abad yang lalu manusia mengalami masalah yang cukup parah dari penyakit. Baik itu bakteri, ataupun virus, kami para Homo Sapiens sudah seringkali diserang oleh penyakit. Seiring kemajuan teknologi medis, semakin rendah dan mengecil jumlah angka kematian karena penyakit.

Jika ibaratkan bumi adalah sebuah pabrik dan manusia adalah produk dari pabrik tersebut, seiring semakin banyak peralatan di pabrik itu, semakin sedikit produk rusak atau “terinfeksi” yang akan ada. Tetapi, sejauh ini, semua produk itu hanya bisa tahan untuk 70-90 tahun jika produk itu tidak rusak, mendapat perawatan yang cukup dan benar, serta tidak terhancurkan.

Tetapi, apakah mungkin bagi seorang manusia untuk menggapai keabadian, atau kekekalan itu? Apa yang bisa memperpanjang tanggal kadaluarsa kita?

Jawaban tersebut mungkin ada di bawah… mungkin tidak. Jika tertarik, silahkan baca lebih lanjut!

Jiwa yang kekal?

The soul of a man is Immortal and imperishable. -Plato

Jiwa disini tentunya luwes. Mungkin saja jiwa ini berarti perasaan, seperti cinta, rasa bahagia, ataupun kebencian. Jiwa juga bisa berarti dedikasi ke suatu pekerjaan, atau tindakan. Jiwa juga bisa berarti… kesadaran.

Tentunya jika kita ingin membahas sebuah topik seperti ini yang jelas-jelas empirik, serta nyata… Kita akan perlu terjun ke dunia sains. Apakah ada metode untuk memindahkan jiwa dan kesadaran seseorang? Karena aku sendiri sudah yakin untuk dua definisi pertama, yaitu perasaan dan dedikasi… jawabannya sudah ada.

Tetapi sebelum terjun ke dunia sains, mari kita coret dulu Kesadaran ini, dan pindah ke dua definisi lain. Serta, waktunya untuk mendefinisikan Kekekalan Fisik.

Kekekalan Fisik?

Fisik… Definisi Bahasa Indonesianya tidak sesuai dengan konteks, jadi untuk sekarang, kita gunakan definisi Bahasa Inggris, Physical.

Relating to things perceived through the senses as opposed to the mind; tangible or concrete.

Menghubungkan hal-hal yang dapat dipersepsi melalui indra, bukannya pikiran, baik secara luwes, ataupun konkrit. Ya sebenarnya sih, definisi ini tidak terlalu menjauh dari definisi empirik. Mungkin seorang empirik akan mau masuk ke dunia pikiran, tetapi empirik dapat dimaksudkan ke sesuatu yang NYATA. Dan Physical disini tentunya juga berarti nyata.

Jadi, apa itu kekekalan fisik? (setidaknya untuk artikel ini)

Kekekalan fisik adalah seseorang yang akan tetap nyata, dan masih bisa ditangkap, dilihat, ataupun dirasakan keberadaannya oleh orang lain.

Untuk contoh, mari kita lihat Aristotle. Aristotle adalah seorang filsuf yang lahir sekitar 2500 tahun yang lalu. Sampai sekarang, namanya masih nyata… Ia belum dimakan jaman, dan juga belum menghilang dari muka bumi ini. Logika Aristotelian pun masih dipakai di sains…

Tetapi apakah ini berarti Aristotle itu Kekal? Tidak. Aristotle sudah mati dan tidak ada lagi orang dengan kepribadian ataupun cara berpikir yang pas dengan Aristotle. Dalam konteks kekekalan fisik, Aristotle itu kekal, ia masih bisa dipersepsi, dirasakan, bahkan dipelajari oleh siapapun. Tetapi ia tidak kekal.

Emosi

Hingga maut memisahkan.

Nyatanya, perasaan ini dapat dirasakan, lama sesudah orang sudah meninggal, tetapi… meskipun orang sudah mati, perasaan ini tidak kekal, dan tidak mungkin dirasakan oleh semua orang, akan sampai sebuah titik dimana akhirnya perasaan itu tidak dapat dirasakan siapa-siapa lagi. Sebagai contoh, mari kita ambil film Coco.

Di film itu, ada Cicit dari tokoh utama yang sudah meninggal. Meski tidak dijelaskan dengan detil, cicitnya itu masih diingat oleh, pada dasarnya semua orang, dijelaskan dengan cukup detil via simbolisasi foto yang disimpan… Tetapi, rasa cintanya, tidak dapat dirasakan oleh, misal, tokoh utamanya sendiri yang belum pernah bertemu oleh cicitnya.

Meski dirinya masih ada, dan dapat dipersepsi… perasaan, atau emosi, atau… apapun kata yang ingin digunakan untuk ini, karena aku merasa rada canggung bilang cinta untuk entah berapa kalinya… Kembali ke topik. Meski cicitnya dapat dilihat fotonya, dipelajari ilmunya aura emosi yang ia miliki itu tidak ada.

Bingung?

  • Secara kekekalan, ia masih abadi, tetapi dalam konteks… dedikasi, ilmunya masih terus menerus turun ke generasi dan generasi sesudahnya.
  • Secara kekekalan fisik emosi, ia tidak abadi. Karena perasaan, atau aura miliknya tidak dapat dirasakan lagi.

Dedikasi

Dedikasi. Seseorang dapat sangat berdedikasi, dan sampai meninggalkan sebuah jejak nyata dalam kehidupannya… Jejak ini bisa berupa ilmu, keahlian, atau apapun itu yang berbekas…

Sebagai contoh, dengan film Coco lagi…

Cicitnya Miguel (tokoh utama di film Coco) meninggalkan dan terus menerus menurunkan ilmu membuat sepatu ke generasi dibawahnya. Sampai generasi entah keberapa itu, teknik membuat sepatunya tetapi mirip, dan berdasar dari cicitnya, sebuah dedikasi yang ia kerjakan puluhan  (atau ratusan) tahun yang lalu.

Dengan meninggalkan sesuatu yang empirik, jejaknya dari muka bumi ini nyatanya, tidak pernah hilang… Untuk membuatmu bingung. . . Mengapa sebuah ilmu, atau sebuah perasaan berbeda? Padahal sekilas hal yang sama tampak…

Jadi… mari kita bandingkan perbedaan kecil diantara kedua ini.

  • Dedikasi yang mampu mencapai kekekalan itu berarti suatu dedikasi yang nyata, dan meninggalkan bekas fisik di dunia ini.
  • Emosi di sisi lain, tidak meninggalkan bekas fisik apa-apa dan hanya berupa sebuah aura, atau perubahan, yang tidak tercatat.

Kalau ada banyak lubang di pernyataan ini, dimohon untuk beritahu aku…

Kesadaran

Kesadaran… Definisi yang bisa membuat seseorang benar-benar abadi, bukan hanya abadi melalui catatan, ataupun perubahan persepsi. Tetapi keabadian. Bukan hanya kekekalan fisik.

Keabadian dimana seseorang benar-benar bisa tidak mati, dan akan selalu sadar dalam melakukan suatu tindakan. Bagaimana caranya?

Mari kita bahas itu dari perspektif perpisahan tubuh dan jiwa… Alias dualisme.

Menghadapi konteks sebuah tubuh dan jiwa yang terpisah… Jika jiwa disini berarti kesadaran, alias mind and soul. Maka sangat mungkin jika kita memindahkan kesadaran kita ke suatu tempat lain. Mungkin sesudah waktu yang cukup lama, pengemasan alias tubuh fisik kita rusak. Tetapi ini belum tentu bahwa isi dari produk itu belum rusak.

Sekarang banyak orang sedang memikirkan cara untuk memindai dan menyimpan kesadaran seseorang. Jika hal ini mampu dilakukan, maka, orang-orang tidak lagi akan mati… Kepribadian orang itu akan ada terus, sampai chip data yang menyimpan kepribadian, ingatan, serta kesadaran orang itu hilang.

Yang perlu, dan bisa diubah hanyalah tubuh fisik si orang itu.

Sekilas sesudah mendengar ini, 3 serial TV masuk ke pikiranku.

Black Mirror dan dystopia serta segala macam memori yang ada di serial itu. Aku sendiri belum boleh menonton jadi kalau mau penjelasan yang detil bisa komen dan berharap Babah atau Bubi niat dalam menjawab.

The Flash. Pada season 4, The Thinker, penjahat terbesar di season itu mampu memindahkan kesadarannya ke sebuah mutan, atau supervillain lain. Sanking pintarnya, ia dapat meminjam sebuah tubuh seseorang dengan kekuatan seperti misalnya, teleportasi, kekuatan super, memanipulasi cuaca, dan masih banyak lagi. Selain itu, kejeniusannya juga masih ada di tubuh fisik yang baru ini. Kekuatan telepati dan telekinesisnya juga tidak hilang.

Dan yang terakhir adalah sebuah anime yang aku tonton… 3-4 tahun yang lalu.

Judul dari Anime itu adalah Accel World, dimana semua orang punya kesadaran dan memorinya sendiri, di sebuah chip yang dipasang di belakang otaknya. Dari chip itu seseorang bisa bermain sebuah game yang cukup nyata juga. Di game itu jika kamu mengalahkan orang lain sampai poin mereka mencapai 0 di game itu, yang hampir semua orang mainkan, kamu berhak merebut chip milik mereka dengan sebuah program dari chip milikmu.

Ini berarti setiap kali kamu mengalahkan seseorang kamu mendapat tubuh baru… Serta tidak kehilangan tubuhmu yang lama.

Jadi… ini mulai melenceng, kembali ke topik utama…

Memindai serta menyimpan Kesadaran?

Google Ventures memberikan investasi besar untuk riset ke cara memindai kesadaran seseorang dan menyimpannya. Sesudah kesadaran itu disimpan, masih dicari cara juga untuk mengakses ingatan dan kesadaran orang itu dari tubuh orang lain, tubuh baru, ataupun komputer.

Ini berarti bahwa seseorang pada dasarnya… tidak akan pernah mati. Inilah keabadian yang nyata…

Metodenya masih belum riil dan masih teoretikal, tetapi jika ini sukses, akan aku ulangi lagi, seseorang bisa tidak akan pernah mati.

Renungan

Hari ini tidak ada kesimpulan, karena hari ini, aku ingin kita semua untuk bertanya dan merenung sedikit, alih-alih mendapat jawaban. Aku juga memberikan pemikiran dan opini ku di bagian ini.

  • Apakah sesudah menggapai keabadian, justru seseorang tidak memiliki tujuan hidup lagi? Dan justru, kebahagiaan sesaat jadi tiada artinya, karena seseorang mengharapkan sebuah kebahagiaan yang abadi?
    • Menurutku… kutipan ini akan lebih dari cukup untuk menjawab.
    • Millions long for immortality, who don’t know what to do with themselves on a rainy sunday.-Susan Ertz

    • Jika kita sudah bisa mencapai keabadian dan tidak akan mati, tanpa perlu mencapai apa-apa lagi, untuk apa kita hidup?
    • Mungkin sedikit referensi ke Trials of Apollo, 3 kaisar Roma yang kekal itu, masih punya tujuan… yang satu ingin menyiksa orang sebanyak-banyaknya, yang satu ingin menjadi dewa, yang satu ingin berfoya-foya. Tapi, untuk apa menjadi kekal jika kita belum tahu ingin melakukan apa dengan kekekalan itu.
  • Apakah ini memberikan kesempatan untuk sebuah diktator yang mungkin akan muncul, untuk membuat si diktator ini kekal, dan tidak akan pernah hilang ide dan kepribadiannya?
    • Bayangkan jika Stalin mendapat keabadian. Udah, pikirkan saja, ku tiada komentar lagi.
    • Kim Jong Un takkan perlu digantikan lagi selama bisa membeli sebuah chip ini.
  • Apa kata Tuhan? Apakah kita bermain Tuhan?
    • Pikirkan saja ini ya. Sejujurnya keabadian itu membuat banyak sekali lubang paradoks dalam perspektif agama. Terutama agama yang percaya pada konsep reinkarnasi atau dunia akhirat.
    • Agama yang percaya pada reinkaransi dan dunia akhirat ini biasanya menjelaskan kematian sebagai proses yang pasti dan justru menakjubkan serta mulia. Tetapi justru, jika memang jiwa, atau kesadaran manusia terpisah dari tubuhnya…
    • Maka apa yang akan di reinkarnasi? Jiwa kita? tubuh kita? Tetapi jika kesadaran kita tidak pernah pergi dari bumi, bagaimana kita bisa ke surga ataupun neraka? Apa kesadaran yang ingin di reinkarnasi?
    • Aku bingung, jadi silahkan memberikan opini…

Semoga renungan ini cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *