Menemukan Kebahagiaan.

Menemukan Kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah salah satu konsep paling membingungkan yang pernah diciptakan manusia.

Di satu sisi, kebahagiaan merupakan hal yang baik, sebuah tujuan yang perlu dicapai dalam kehidupan seseorang. Di sisi lain, banyak orang yang mencari tujuan tersebut (yang tidak ada spesifikasi tujuan yang mudah dimengerti) dan karena mereka mencarinya, tujuan tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Kita menciptakan konsep untuk memberikan makna dan kebahagiaan bagi diri kita sendiri, tetapi karena konsep tersebut sangat sulit untuk dicari, orang-orang malah melucuti makna yang mereka seharusnya miliki tadi, dan tidak mungkin lagi untuk mencapainya.

Jadi, daripada bingung sendirian, kita bingung bersama-sama saja.

Apa sih kebahagiaan?

Inspirasi:

  • Stumbling on Happiness: Daniel Gilbert
  • Hope is F*cked: Mark Manson.

Ignoramus Harmonius

Ignoramus adalah kata dalam bahasa Inggris.

Wow. Jujur, aku mengira itu bukan kata yang nyata, dan hanya slang yang sering digunakan, tetapi… wow.

Salah satu hal terbaik dan termudah untuk mendapatkan perasaan bahagia dan nyaman, adalah dengan mengabaikan sekitar. Iya. Ini hal yang terdengar absurd bagi sebagian orang, mungkin mayoritas pembaca akan merasa, kalau aku mengabaikan hal, aku tidak bakalan…

  • Mendapat hasil atau gambaran yang sempurna sesuai dengan Misal, ruangan ini harus rapih, tiap kali makan harus ada porsi ekstra seandainya ada yang mampir ke rumah.
  • Menjadi orang yang lebih Misal, aku harus focus untuk belajar demi ulangan, dan tidak mungkin aku mengabaikan belajar bukan?
  • Bisa bersenang-bersenang. Misal, Mengabaikan undangan dari temanku untuk ke pesta malam

Dan seterusnya.

Tetapi, kalau ditinjau kembali, dari tiga hal tersebut, ada satu hal yang berhubungan akan semuanya. Semuanya perlu dicapai. Dan seandainya, mereka tidak dicapai, ada perasaan tidak puas, perasaan tidak puas itu muncul juga ke perasaan tidaknyaman, dan jika seseorang tidak nyaman ataupun tidak puas, mereka tidak bahagia.

Kalau kita bisa mengabaikan hal-hal dengan mudah, maka akan semakin mudah baginya untuk merasa puas. Kepuasan bukan kebahagiaan, tetapi, jika seseorang sudah merasa puas, tidak akan ada tekanan lebih lanjut untuk memenuhi kepuasan yang dicari.

Langkah termudah untuk mendekati (mendekati, bukan mencapai) kebahagiaan adalah dengan mengabaikan hal-hal di sekitar anda.

But WAIT!

Sayangnya, kita tinggal di dunia manusia modern. Kita tidak bisa sekedar mengabaikan hal-hal untuk merasa puas dengan diri kita. Itu hal yang bodoh, dan sejujurnya, aku tidak yakin itu sehat untuk dilakukan.

Hal yang lucu adalah, walaupun tidak ada indeks kebahagiaan resmi di Korea Utara, warga-warga Korut merasa bahagia dengan keadaan mereka. Ini adalah tanda yang nyata bahwa materi tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan dan jika seseorang mengabaikan kondisi mereka, dan tidak pernah perlu merasa iri dengan orang lain, mereka akan bahagia.

Coba pikirkan apa yang mungkin terjadi jika misalnya… Warga Korut diberitahu oleh pemimpin mereka (harus oleh pemimpin mereka, perkataan orang lain tidak akan mempan) bahwa di dunia luar ada sekumpulan orang yang mendapat makanan lebih banyak dari mereka, dan boleh mendesain rumah mereka sendiri, dan ya, hal-hal bagus dari dunia kapitalis lah… Mereka mungkin merasa iri. Iri tersebut tumbuh menjadi perasaan tidak puas, dan ketidakpuasan itu menjadi sumber hilangnya kebahagiaan.

Kita tidak bisa 100% mengabaikan diri di dunia luar, maksudku, kita memang masihtinggal di dunia yang cukup kapitalis (bukan dalam sudut pandang serakah, tetapi sudut pandang nilai benda) dan seandainya dunia ini beralih ke sosialisme, baru kita bisa beralih sedikit ke gaya mengabaikan ini.

Sampai dunia ini menjadi sosialis (aku tidak mendukungnya, tolong dicatat, tapi namanya juga what-if) kita masih harus punya perhatian dan dorongan untuk melakukan hal. Tekanan memang diperlukan.

Kepuasan

Kita tidak akan pernah puas selama kita masih merasa iri, dan selama kita masih mencari sesuatu. Seperti kusebut di atas, selama kita tidak merasa puas (dan perlu diingat, perasaan puas adalah sebuah konsep juga, yang mendasari konsep lain yang kita kenal sebagai kebahagiaan) kita tidak akan merasa bahagia.

Sebuah riset untuk memperjelas hal. Sejumlah peserta eksperimen diminta memilih berlibur di salah satu antara dua tempat, dengan harga yang sama. Pulau Avg, dan Pulau Xtreme. Pulau Avg ini memiliki makanan yang enak, kamar yang enak, pantai yang enak, serta pelayanan yang ramah. Pulau Xtreme pada sisi lain, memiliki makanan yang tidak enak, kamar yang sangat enak, pantai yang sangat enak, dan pelayanan yang tidak ramah.

Logikanya, jika peserta diminta memilih lalu menolak satu pulau, mereka akan memilih pulau yang berbeda bukan? Mereka akan memilih pulau Xtreme, dan pada pertanyaan berikutnya, mereka akan menolak pulau Avg, atau sebaliknya, tergantung preferensi.

Konyolnya, hampir semua orang memilih pulau Xtreme, lalu menolaknya kembali.

Manusia mencari hal yang bagus ketika memilih, dan mencari hal yang buruk ketika menolak. Kita akan selalu menemukan hal-hal untuk mengurangi kepuasan kita.

Jadi, apa solusinya? Selain mengabaikan hal-hal kecil? Jangan memilih… 😀

Mencari Makna

Oh boy.

Kebahagiaan merupakan hal yang berhubungan dengan makna. Ada yang tidak setuju? Silahkan komentar.

Jadi, apakah ini akan terdengar aneh, kalau misalnya aku mengingatkan pembaca bahwa semakin banyak perasaan sakit atau perasaan merana yang seseorang rasakan, semakin banyak makna yang dibutuhkan untuk mencari alasan yang mulia dan rasional untuk menghilangkan perasaan merana tersebut.

Faktanya, manusia adalah makhluk sosial, dan juga makhluk yang menciptakan konsep fana untuk membuat diri kita senang.

Makna yang tidak tentu itu dicari dan ditemukan, dan dicari, dan ditemukan kembali, selama kita masih membutuhkannya.

Terkadang, makna dicari bukan sebagai hal atau sumber kebahagiaan itu sendiri, tetapi makna dicari untuk membuat hal-hal di sekitar kita tampak rasional, dan sesudah hal tersebut tampak rasional, tidak perlu lagi penjelasan, karena ketika hal sudah tampak rasional, kita merasa puas, dan dari perasaan puas itu, kita mampu mendapat sebagian dari kebahagiaan.

Huh, pusing gak tuh?

Intinya, manusia mencari alasan untuk membuat hal-hal yang mereka lakukan bermakna, dan masuk akal. Mereka… eh, maaf, KITA akan mencari alasan untuk mendapatkan jawaban dan logika yang rasional sebagai sebuah bentuk dari… placebo untuk mendapatkan kenyamanan akan hal buruk yang sedang dirasakan.

Lain kali anda sedang kesulitan melakukan sesuatu, carilah alasan besar untuk mendasari perasaan buruk anda.

Unik? Gak

Bagaimana kalau aku ingatkan anda bahwa anda merasa terlalu unik.

Apakah anda seperti kebanyakan orang? Jawabannya, tidak. Tentunya, orang macam apa yang akan merasa puas kalau mereka seperti kebanyakan orang.

Apakah kemampuan anda pada bidang di mana anda bekerja lebih baik daripada rata-rata? Jawabannya, adalah iya. Anda merasa seperti itu.

Lucunya. Kalau kebanyakan orang merasa bahwa mereka unik, dan mereka merasa lebih baik dari rata-rata. Tidak ada yang namanya rata-rata.

Sedangkan, kalau kita mengambilnya dari sudut pandang statistik, manusia rata-rata ada lebih banyak dari manusia luar biasa. Peluang anda menjadi manusia luar biasa lebih kecil dari peluang anda menjadi manusia rata-rata.

Tetapi, rasionalisasi manusia kembali menjadi faktor. Manusia berbohong pada dirinya sendiri untuk menghindari percakapan canggung dengan subconscious mereka.

Dan untuk kali ini. Kebohongan tersebut aku terima. Kita tidak akan pernah merasa puas kalau kita menyadari bahwa kita tidak unik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *