Membuat Keputusan Untuk Membaca Shakespeare.

Membuat Keputusan Untuk Membaca Shakespeare.

Ehem…

Bahkan sebagai millennial, anak SMA, homeschooler, penggiat sastra, pemimpi, seorang yang tidak realistik, dan orang yang menyukai hal-hal dalam bentuk abstrak… Aku masih bingung dan merasa bahwa diriku, Azriel. sebagai seorang anomali karena aku membaca Shakespeare.

Membaca disini tentunya bukan hanya membaca best seller miliknya seperti Hamlet, Romeo and Juliet, dan Midsummer Night’s Dream… Oh tidak… aku membaca yang aneh-aneh juga, seperti Adonis and Venus, Julius Caesar (catatan: naskah Julius Caesar tidak terbilang “aneh” hanya… underrated), dan Merchant of Venice.

Ya, jadi ceritanya aku menemukan situs bernama Project Gutenberg ketika mencari buku gratis yang legal, dan aku memutuskan untuk mendownload suatu kompilasi berjudul “Shakespeare”. Aku tidak menyesal, namun… Aku sedikit malu membaca beberapa darinya karena sangat banyak naive love story di dalamnya, dan aku tidak suka cerita cinta (hampir) sama sekali.

Jadi, aku sering menanyakan kembali pada diriku… “Azriel… “Why the fudge did you read all those works of Shakespeare?” Karena bahkan, kakak-kakak mahasiswa Sastra Inggris, dan lulusan sastra inggris di Klub Global Literacy pun…  Tidak baca Shakespeare kecuali mereka disuruh.

Aku memutuskan untuk menuliskan alasannya saja… Kuharap jika anda juga tertarik membaca Shakespeare, artikel ini dapat membujuk anda untuk TIDAK masuk ke dalam loophole ini. Jangan pernah memutuskan untuk membaca Shakespeare, run now, while you still can.

So, are you dumb?

Catatan: Aku tidak bodoh, aku pintar.

Tapi, aku sering memikirkan keputusanku untuk membaca Shakespeare.

Maksudku, tidak semua orang dapat membaca Shakespeare dengan mudah karena kata “ringan” tidak ada dalam satupun naskah Shakespeare.

Terkadang, cerita-cerita yang dimasukkan dalam naskah-naskah Shakespeare memang tidak masuk akal, jika dia tidak bisa dimasukkan dalam level tidak jelas seperti sinetron, tapi… cerita yang tidak masuk akal ini dapat dibawakan dengan sangat bagus dan dibuat seolah-olah masuk akal.

Sejujurnya, kurasa serial-serial seperti Stranger Things juga menggunakan taktik tidak-masuk-akal-tapi-diceritakan-dengan-bagus yang mirip, tetapi Shakespeare dapat mengubah mitos-mitos yang membuat orang merasa enek, dan… ia merubahnya menjadi suatu hal yang indah.

🙁

Intip Adonis and Venus misalnya.

  • Dewi Venus menjelaskan dalam monolog miliknya ini, perasaannya yang amat-amat dielu-elukan dan dilebay-lebaykan ke pembaca/penonton, karena pacarnya dibunuh.
  • Ia menjelaskan cara pacarnya dibunuh, dan mengapa si pacarnya ini bisa sangat-sangat cakep meski mati.
    • Catat bahwa pacarnya mati karena sedang berburu babi hutan lalu organ vitalnya ditusuk oleh sang babi hutan tersebut.
  • Ia menjelaskan bahwa pacarnya ini perlu diubah menjadi suatu tanaman yang indah agar ia mampu diingat sepanjang masa, dan ia melakukan itu.
  • Oh, ia juga langsung “move on” pada akhir naskah.

Ini mungkin bukan picture-book sinetron tapi, astaga, bahasa yang dia gunakan cukup dan sangat indah, sampai titik terlalu lebay (puitis, tapi lebay)… sehingga ia menjadi bagus.

Jadi, kecuali anda cukup naif untuk menerima cerita-cerita Shakespeare yang idealistik, dan siap untuk berpikir ke diri anda sendiri 15 menit kemudian… “why did I read that” maka, silahkan.

Untungnya, cerita-cerita Shakespeare yang aku lebih suka adalah… yang realis-satirik. Bukan yang sejarah saja, tetapi, realis-satirik. Contoh terbaikku sebenarnya Merchant of Venice.

Welcome to the Real World

Shakespeare memiliki 2 jenis karya yang realistik.

Satu yang benar-benar realis karena merupakan bagian dari sejarah, seperti misalnya Cleopatra and Antony (Cleopatra and Antony merupakan sebagian drama, sebagian satirik, dan juga sejarah, tetapi mayoritas orang memasukkannya dalam folder sejarah).

Kedua adalah, yang realis satirik… Ehem, Romeo and Juliet. Tapi, TIDAK! AKU TIDAK MAU MEMBAHAS DRAMA ITU! Aku lebih suka menjadikan Merchant of Venice sebagai contoh.

Shakespeare bukan jenis orang yang suka menyindir orang-orang yang berkuasa pada zaman tersebut, ia suka menyindir orang-orang yang berada pada kelas bawah justru.

Merchant of Venice merupakan gambaran sempurna dari sindiran warga kelas bawah yang terkena rentenir dan perlu kabur atau semacamnya demi keamanan dan kehidupan.

Tetapi, masalahnya, jika kita ingin membahas realita sebagai contoh dan “jiplakan” untuk mengecek kenyataan yang sedang kita nikmati pada zaman sekarang… Shakespeare tidak pernah bisa dijadikan contoh.

Jadi, tujuannya membaca satirik tidak cukup jelas jika itu bukan untuk mencari kesalahan pada sistem-sistem dan cara berpikir hal yang disindir oleh satir tersebut. Selain tentunya menikmati seni tersebut, alasan untuk melihat dunia nyata melalui kacamata Shakespeare tidak lagi valid.

Thou Art Confused

Worst part of Shakespeare.

Kita tidak bisa melakukan teknik speed-reading hampir sama sekali karena sebagian besar kata subjek dan verb to be menggunakan bahasa jadul…

Thou menjadi You, Art menjadi Are, Thee menjadi… aku tak tahu, pokoknya itu lah ya…

Jadi, untuk membaca Shakespeare, amat disayangkan kita harus mau mengambil waktu yang relatif lama untuk membacanya. You have better things to do.

Kesimpulan

Tl;Dr Jangan membaca Shakespeare kecuali anda siap dicap aneh, karena ia tidak relevan lagi, tidak begitu efektif lagi, dan juga tidak dapat dibaca cepat demi sastra ringan saja…

Tetapi, ini bukan berarti bahwa Shakespeare merupakan karya sastra yang buruk, hanya saja, ia tidak begitu efektif atau realistik lagi, tidak seperti pada zaman emasnya…

Jika anda memang ingin membaca Shakespeare, silahkan saja, tetapi ingat, membaca Shakespeare memiliki resiko kecanduan, terutama jika karakter anda kebetulan seperti saya…

Selamat menikmati pilihan yang anda buat, dan jangan menyesali keputusan tersebut… 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *