Membiarkan Sebuah Bangsa Tumbuh…

Membiarkan Sebuah Bangsa Tumbuh…

Dari mana aku mulai? Sesudah menelan habis buku milik Daron Acemoglu (Why Nations Fail?) aku semacam ingin menuliskan artikel seperti ini. Tentang politik, dan cara sebuah bangsa, atau negara bisa tumbuh dari negara yang masih developing, menjadi negara yang sudah developed.

P.S. Istilah negara maju dan negara berkembang bukan hal yang aku sukai, karena katanya tidak mirip dengan satu sama lain.

Mungkin orang terdekat yang aku bisa ambil dari sini adalah Bubi (Ibuku)… karena aku melihat banyak sekali similaritas dari gaya Parenting Waldorf dengan gaya sebuah bangsa berkembang. Tetapi, tulisan hari ini lebih berbau politik kebanding psikologi, jadi kalau ada kemiripan di sini dengan tulisan-tulisan milik Bubi, anda tahu alasannya.

Sekarang, masuk ke topik!

Lingkaran Kebaikan.

Romawi adalah contoh pertama, dan mungkin contoh terbaik yang ada di dunia kuno.

Republik pertama di dunia yang memiliki sebuah hak untuk membunuh pemimpin paling atas dari sebuah negara. Membunuh kaisar yang tidak disukai anggota-anggota dewan dan anggota-anggota militer adalah hal yang legal di Romawi.

Mungkin kata membunuh dan kebaikan tidak akan pernah diletakkan di satu kalimat yang sama, tetapi yang Romawi lakukan di sini sebenarnya sangat sesuai dengan aspek Lingkaran Kebaikan (atau tepatnya, Virtuous Circle) yang dijelaskan Acemoglu.

Sebuah negara bisa memiliki Lingkaran Kebaikan jika negara itu membiarkan warganya berpikir secara mandiri dan demokratis serta menentukan pemimpin yang terbaik bagi negeri itu, dan tidak ada pemimpin paling atas, alias pemimpin di posisi teratas BISA dan BOLEH digusur oleh anggota-anggota dewan atau warga.

Memang, Romawi mengganti kata penggusuran dengan pembunuhan (yikes), tetapi fakta bahwa Praetorian Guard, atau lebih tepatnya Jendral sebuah Legiun boleh mengambil aksi untuk membunuh Kaisar ketika mendapatkan dukungan dari warga, dan juga para Senator memberikan nilai plus bagi liberalisme di Romawi!

Selain itu, motto Romawi adalah Senatus Populusque Romanus. Artinya “Untuk Orang-orang serta Senat Romawi.” Prajurit Romawi berperang bukan untuk Kaisar, tetapi untuk bangsa dan anggota dewan yang tidak begitu sering korup karena selalu ada penggantian tiap tahunnya!

Kembali ke topik… Apa itu Lingkaran Kebaikan?

Menurut Daron Acemoglu, proses terciptanya sebuah Lingkaran Kebaikan ada di hadirnya organisasi politik yang tidak terkekang dan bebas dari intervensi militer atau intervensi kepentingan politik. Organisasi politik ini tidak semestinya peduli akan kepentingan anggotanya, dan harus bisa diikuti siapapun pada tingkatan sosial apapun.

Organisasi politik seperti itu bisa membuka jalan untuk organisasi lain, seperti misalnya pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan semacamnya, yang tidak terkekang militer atau kepentingan politik, dan memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi warga untuk menentukan kebutuhan mereka akan hal tersebut.

Kata kunci dari penjelasan tersebut ada di bebas dari intervensi. (ini bagian yang aku maksudkan mirip dengan pendidikan Waldorf, membiarkan anak-anak tumbuh tanpa adanya intervensi dari luar) Kebebasan dari intervensi ini membiarkan tiap negara tumbuh dengan jelas tanpa adanya kehilangan identitas dari pertumbuhan individu di negara tersebut, dan identitas negara tersebut.

Nilai Rapor Republik Romawi mungkin agak jatuh di bagian “Bebas dari Intervensi” karena… Umm… Ini daftar Kaisar Romawi yang dibunuh oleh anggota dewan atau Jendral… Bahkan pemimpin yang baik-nya pun tetap mati karena ada intervensi…

  1. Julius Caesar (seandainya dia tidak dibunuh tulisan hari ini akan ditulis di Bahasa Latin)
  2. Mark Antony (sama, seandainya dia tidak dibunuh, tulisan hari ini mungkin ditulis di Bahasa Latin, atau mungkin Mesir kuno)
  3. Tiberius
  4. Caligula
  5. Nero (Untungnya sesudah Nero ada 5 good emperors yang semuanya baik, jadi HORE!)
  6. Commodus
  7. Hadrian (kalau dia tidak dibunuh mungkin tidak ada Tembok Besar Cina, adanya Tembok Besar Italia)
  8. Dan masih banyak lagi orang yang tidak sepopuler 7 orang di atas!

Tetapi Romawi adalah salah satu contoh pertama dan mungkin contoh terbaik di dunia zaman dahulu kala dalam konteks membebaskan warga.

Layaknya sebuah balita (Ibuku pasti nyengir-nyengir baca ini), negara harus dibiarkan tumbuh tanpa intervensi agar sumber daya manusia dan ekonomi negara tersebut berjalan secara mandiri, dan negara tersebut memiliki identitas.

Revolusi.

Arc De Triomphe. Sebuah monumen indah di kota Paris. Mungkin Arc De Triomphe sendiri tidak seterkenal Menara Eiffel, dan fansnya tidak sesetia Notre Dame yang umumnya menyukai Arsitektur Gothic. Tetapi Arc De Triomphe adalah salah satu monumen paling terkenal di Prancis.

Monumen tersebut menyimbolkan revolusi. Sebuah perubahan yang terjadi begitu cepat, begitu tiba-tiba dan (tentunya) melibatkan pembunuhan (sekali lagi… Yikes!).

Marie Antoinette, Louis XIV, Prancis membuang mereka berdua dan dalam sekejap, hadirlah Prancis yang baru. Negara Prancis yang tidak melihat lagi ke sebuah kerajaan, dan melihat takhta kekuatan di negara tersebut sebagai hasil usaha demokrasi alih-alih hasil keturunan darah sebuah monarki.

Dampak Revolusi Prancis ini biasanya terdengarnya itu-itu lagi, dan aku yakin jika orang ingat pelajaran sejarah di SMA (bener gak ya…) atau sesekali nonton film yang membahas ini, pasti tahu bahwa ini sangat berpengaruh bagi Prancis sebagai negara. Dampaknya jelas, dan sampai sekarang identitas Prancis sebagai negara yang sudah developed jelas. Bahkan sampai hari ini orang-orang memberikan orang Prancis cap stereotipe sebagai orang liberal.

Tetapi, pernahkah orang berpikir dampak dari revolusi Prancis bukan untuk negara tersebut, tapi justru untuk negara lain?

Prancis muncul dengan ide untuk menggulingkan Louis XIV si Raja Matahari, dan Marie Antoinette, tetapi hal yang sama, ide revolusi tersebut tidak berhenti di Prancis. Ide yang diciptakan Prancis muncul berkali-kali dan secara berulang di negara lain… Jerman, Belgia, dan seterusnya mendapatkan ide yang sama untuk memberontak dan mengubah negaranya agar lebih demokratis, bergantung pada apa yang orang-orang di negara tersebut katakan alih-alih keturunan.

Pada akhirnya, revolusi di Prancis memulai revolusi di negara lain, dan itu muncul bukan karena warga-warganya tidak punya ide, tetapi mereka tidak yakin bahwa itu mungkin.

Satu orang melakukan, semuanya ikutan.

Dan sebenarnya, revolusi tersebut mungkin tidak tercipta jika Louis XIV dan Marie Antoinette cukup peduli pada warganya. Justru karena mereka tidak peduli, warga tersebut jadi lebih pintar dan jadi berani mengambil keputusan sendiri.

Jadi… Abaikan warga anda agar negaranya bisa maju?

Dunia Modern

Di dunia modern, masih saja ada negara yang membiarkan dirinya terekspos oleh kebalikan dari Virtuous Circle, yaitu Vicious Circle (Lingkaran Kekejaman) sebuah lingkaran yang membiarkan warganya tinggal dalam ignorance alih-alih membiarkan mereka tumbuh.

Ignorance mereka bukan berarti mereka tidak bahagia, tetapi lebih tepatnya mereka merasa tidak yakin akan keluar dari zona nyaman mereka, dan mungkin berusaha kabur dari Vicious Circle negara mereka bukan hal yang logis untuk dilakukan…

Tentunya Indonesia bukan satu negara seperti ini. Justru menurutku yang menciptakan Vicious Circle ini bukan pemerintah atau militer tapi orang-orang yang ingin merebut kekuasaannya sendiri…

Ya, pada akhir hari, dunia ini semakin membaik, tetapi terkadang… Kita memberikan terlalu banyak intervensi di hal-hal yang seharusnya bisa dibiarkan tumbuh sendiri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *