Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Seri Kopetalis adalah Seri Tulisan yang ditujukan untuk mahasiswa, atau Siswa/Siswi SMA yang ingin menghemat uang lebih banyak. Aku di sini memberikan angka dan perspektif mengenai pembelian antara dua opsi yang ada, dan membebaskan pembaca untuk menentukan mana yang lebih cocok untuk mereka. Selain tips finansial dalam kata Kopet, kata Kapitalis juga memberikan tips untuk berjualan dan mendapatkan income lebih banyak tentunya!

Makan di luar rumah? Atau Masak? Ini pertanyaan yang telah membingungkan orang-orang sejak Zaman Yunani kuno. (aku tidak sepenuhnya bercanda, Forum di Athens diketahui memiliki kantin yang menjual makanan Yunani dan jadi tempat Ibu-ibu ngegossip dulunya)

Aku di sini memulai serial, dan akan tentunya berusaha membantu orang-orang yang kebingungan dalam mengambil keputusan, selamat menikmati tulisan hari ini!

The Facts

Kita taruh faktanya saja dulu sebelum menuliskan debatnya.

Aku punya uang jajan 100 ribu tiap minggunya.

Uang jajan tersebut harus cukup untuk iuran Pramuka, makan ketika lagi tidak bersama kedua orangtuaku, dan ongkos angkot (terkadang pulang pergi karena tidak selalu bisa dijemput.)

Nasi atau beras hampir tidak pernah perlu beli, air juga tidak perlu jadi bahan pikiran karena aku ada botol minum dan aku bisa mengisi di perpustakaan kota, masjid, tempat les, dan masih banyak tempat lagi.

Bagaimana cara aku menghabiskan uangku, dan berapa yang aku habiskan tiap minggunya?

Sebelum masuk ke opini dan komentar, kita bahas dulu pengeluarannya secara statistik ya! Sangat sederhana, tapi ada perspektif yang bisa didapat.

Pengeluaran Non-Makanan

Iuran Pramuka 15 ribu

Angkot dari 10-40 ribu tergantung kebutuhan. Kita ambil rata-rata di 25 ribu.

Sisanya gak perlu.

Pengeluaran Makan di Luar…

Sisa uang dari pengeluaran non makanan ada 60 ribu.

Sekali makan, aku menghabiskan dari 10-16 ribu, tetapi aku akan ambil angka tengah, di 13 ribu.

Kurang lebih, aku bisa makan 5 kali dengan uang 60 ribu tersebut, tetapi tidak ada uang ekstra, dan aku harus menunggu awal minggu tiba sebelum bisa mendapatkan uang lebih.

Menekan harga makan ke 13 ribu, bagaimana caranya? Kalau emang mahasiswa sih harusnya kebayang ya makan 13 ribu, mungkin bisa makan sampai 2-3 kali pake uang segitu.

  • Membuat nasi di rumah, beli Lauk sejumlah 13 ribu
  • Makan di kantin Masjid Salman (sangat spesifik) 13 ribu bisa kenyang banget, kadang 7 ribu juga cukup buat makan kenyang malah.

Sebenarnya makan 13 ribu masih kehitung agak mahal buat beberapa orang, tetapi deviasi standar (bahasa keren buat kebiasaan, karena aku suka tampak pintar) aku makan 13 ribu.

Masak Makanan.

Sisa uang dari pengeluaran non makan masih 60 ribu.

Belanja bahan, aku berhasil mendapatkan bahan masakan untuk 5 kali makan dengan ayam senilai 20 ribu, dan sayuran senilai 15 ribu.

Hanya dengan 35 ribu, aku bisa makan kenyang selama 5 kali! Jika aku ingin hemat lauk, angka tersebut bisa ditambah hingga 7 kali makan, namun karena aku doyan makan (maklum), lauk dan sayur habis hanya dalam 5 kali.

Opsi protein apa lagi yang bisa didapat dengan 20 ribu? Harusnya dapat daging sapi (tapi aku gak makan daging merah) dan Ikan (tapi aku males banget masaknya) untuk porsi, coba-coba saja sendiri ya 😀 .

Sayuran 15 ribu kebeli banyak banget lho. Aku dapat Kentang yang cukup untuk makan 6 kali, Buncis untuk makan 10 kali (sampai sekarang belum habis, aku beli 8 hari yang lalu) dan juga bumbu-bumbuan seperti Bawang Daun, Jahe, dan semacamnya yang cukup untuk 2 minggu…

Pro dan Kontra!

Aku bukan preacher.

Aku hanya akan memberikan fakta-fakta dan opini, serta memberitahu pilihanku, pembaca silahkan menentukan sendiri mana yang lebih cocok untuk mereka.

Ini pro dan kontra dari keduanya.

Makan di Luar.

PROS:

  • Makanan harusnya enak. Kecuali anda zonk (tapi kalau pinter milih restoran dan tempat beli lauk, harusnya enak, ini mah bicara skill dan selera)
  • Tidak repot, tidak banyak pikiran.
  • Tidak mengonsumsi waktu, asal gak ngantri panjang-panjang.

CONS:

  • Kontra nomor satu. MAHAL. Aku perlu 60 ribu untuk makan 5 kali, sedangkan aku bisa makan 5 kali, semuanya kenyang, hanya dengan 35 ribu jika masak.
  • Menghasilkan sampah jika takeaway, atau go-food. (bisa dicermati dengan membawa wadah sendiri)
  • Belum tentu kenyang.
  • Butuh sedikit preparasi dan manajemen waktu untuk pembelian makanan.

Tentunya tiap orang punya pengalaman serta pro dan kontra-nya masing-masing, tetapi bagiku, Pro terbesar adalah fakta bahwa tidak ada kerepotan sama sekali.

Masak Sendiri.

PROS:

  • MURAH!!!! Penghematan hampir mencapai 50%, itu pun kalau mau makan kenyang.
  • Masakan sesuai selera, tentunya.
  • Pengalaman belanja ke pasar menyenangkan! Cari saja pasar yang orangnya ramah-ramah, tidak begitu bau, dan kalau anda suka ngobrol, pasti menikmati belanja ke pasar…

CONS:

  • Butuh keahlian masak. Kalau masih suka ujicoba dan tahu-tahu gagal ya…….. Nikmati makan siang anda. (makan siang pertamaku tuh, pas awal-awal nyobain masak, buyar…)
  • Mengonsumsi waktu, baik belanja ke pasar, masak, menyiapkan, dan semacamnya.
  • Tidak cocok kalau suka meninggalkan barang-barang di rumah secara gak sengaja. (aku ketika ke tempat les… “Tempat bekelku mana?” Akhirnya malah baru makan pas sampai rumah lagi)
  • Butuh lebih banyak pemikiran kebanding makan di luar rumah. Isunya sih, kataku ada di fakta bahwa untuk orang yang bosenan (kaya aku) kita perlu terus menentukan menu baru biar gak bosen. Mikirin mau masak apa lebih repot kebanding mau makan di mana.

Tips-Tips!

Sebelum kita tutup dan aku memberitahu pilihanku, nikmati sedikit tips-tips untuk yang mau mulai masak atau makan di luar!

Makan di Luar…

  • Manfaatkan promo, tetapi pintarlah membaca nilai barang. Diskon 50% tidak ada artinya kalau harga awal benda 100 ribu, dan anggaran makanmu cuman 30 ribu.
  • Seperti aku bilang, membawa tromel sendiri membantu mengurangi sampah yang dihasilkan. Alasan untuk mengurangi Go-Food dan Grab-Food juga tentunya.
  • Carilah kantin-kantin di dekat sebuah kampus yang bersih. Bahkan jika anda tidak/belum kuliah kaya aku, makan di kantin sebuah kampus bisa berarti anda menemukan sesuatu yang cenderung lebih murah tentunya!

Masak Sendiri…

  • Kalau anda tidak bosenan, masak hal yang sama tiap harinya. Ini mengurangi beban pikiran.
  • Untuk membuat proses memasak lebih efisien, bisa dilakukan dengan memasak seminggu sekali. Misalnya jika anda hanya punya satu hari kosong tiap minggunya, masak pada hari tersebut, lalu sisakan porsinya, dan hangatkan lagi ketika sudah waktunya makan.
  • Kalau seandainya anda bosenan…Hadapi kebosenan tersebut sampai minggu depan, kaya aku.

Kesimpulan.

Aku sekarang hitungannya masih kelas 12.

Aku sekarang punya banyak sekali waktu luang, mengingat aku homeschool…

Tentunya lebih baik jika aku masak! Walau baru mencobanya selama 2 minggu, proses belanja ke pasar, menghemat uang, dan proses masaknya jadi pengalaman yang menyenangkan bagiku, dan pengalaman ini nanti bisa jadi modal kalau aku Kuliah… 😉

Orang yang senang mengobrol dan ketemu orang sepertiku lebih cocok ke pasar dan masak tentunya. Bahkan kalau aku bosenan, aku bisa menahan kebosenan itu selama 1 minggu, dan masak hal lain di minggu depannya.

Ini bukan berarti makan di luar adalah opsi yang buruk ya… Kalau anda tidak punya waktu untuk masak atau belanja ke pasar, makan di luar tentunya opsi yang lebih baik. Sekali lagi, ini kembali ke preferensi.

Semoga tulisan ini membantu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *