Layers Of Consciousness

Layers Of Consciousness

Sejujurnya kemarin aku baru saja mendapatkan kuliah filsafat (heck, materi) filsafat paling membingungkan so far. Funnily dosennya, Professor Matius Ali, yang langsung dari Institut Kesenian Jakarta bilang… kalau gak ngerti santai kok… ini biasanya orang-orang baru ngerti 10 tahun kemudian, gak jarang ada yang ga ngerti sampai 10 tahun kemudian.

Untungnya, Professor Matius juga punya sense of humor yang sangat baik, dan bisa membuatku ngakak entah berapa kali sepanjang kuliah. But regardless, daripada diem di sini menjelaskan hal yang aku belum ngerti, kujelasin yang aku dah ngerti aja deh.

Man Is A Rational Animal -Aristotle…

Noh, mulai dari quote itu deh. Manusia adalah hewan yang rasional. Yeah, just… that, I’ve got nothing else to say.

Kalau kita mau bahas layers of consciousness, kita sebagai manusia diciptakan tepat di tengah-tengah chart-nya. Hang on ku upload image deh.

Yang diajarkan kemarin ga persis jleb gitu sih, tapi ga beda-beda jauh. Chart diatas lebih membahas psikologi-nya, tapi kita ga mau bahas itu hari ini, namun itu emang layers of consciousness yang lebih sering dipakai orang. Gambar di atas itu sesuatu yang lebih bersifat empirikal, dan meski emang ada hubungannya, ini bukan topik yang membingungkan itu…

Hopefully this is more spot on and confusing…

Ini sebenernya udah sesuatu yang aku mengerti, and pernah di explore pas nonton Doctor Strange, tapi itu gak mau dibahas sekarang dulu… Langsung ke artikel aja deh…

Lower Triangle

Jadi dari dua gambar itu, ada segitiga yang ada di atas, dan ada yang di bawah.

Kemarin sih Professor Matius menjelaskan bahwa semakin ke bawah, semakin nyangkut kita dengan evidence dan hal-hal yang beneran. Semakin ke atas cara kita berpikir semakin transcend kita ke universe lain, dan semakin dekat kita dengan dunia yang… well in a sense mystic.

Nah, untuk sekarang kita mau bahas segitiga yang dibawah ini.

Physical Realm

Pertama-tama kalau kita liat di ujung segitiga yang dibawah itu, ditemukan Physical realm. Which yes, itu realm consciousness yang paling rendah. Sebuah realm yang semuanya itu… hanya temporal. Jadi apa sebenernya yang paling bawah itu? Well, diantara apa yang di bawah, and paling bawah itu, ada yang disebut materi, or worldly things.

Jadi, sebenernya mirip ke apa yang agama sering point out, materi bukan apa-apa kalau kamu gak punya meaning lain di hidup ini.

According to most Platonian (it is indeed a word…) philosophers, atau filsuf yang percaya pada Plato’s teachings and text, dunia ini cuma dunia KW 2, dan dunia nyatanya adalah dunia idea yang letaknya entah dimana itu…

Bentar dulu tapi, dunia ide disini kan gak ada di layers of consciousness itu? Okay, namanya beda

Astral Realm

Well, aku pernah baca sesuatu yang berbunyi seperti ini… “Humans do not fear the death of the body”. Well itu karena yang namanya mati itu cuman tubuh etheric dan physical realm doang. Itu satu-satunya hal yang temporal. Abis mati, kita akan naik ke emotional layer of consciousness, also known as the Astral Realm (Yes, sama persis sama Doctor Strange’s Astral Realm). Kalau Platonian bilangnya, Astral Realm itu dunia Ide karena, bentuk paling ideal-nya dunia itu ada di situ.

Kemarin sih, yang dijelaskan sama Professor Matius, kalau si Astral Plane ini ada di atas Etheric Realm, tapi dibawah Lower Mental. Jadi aku bahas ini duluan sebelum aku mau bahas ke Lower Mental. Meski urutannya beda.

So, what’s the point of this? Astral Realm adalah realm dimana kita akan succumb to our emotions, sampai at one point kita akan percaya pada apa yang di apply di Astral Plane, dan mengubah realita fisik.

Doctor Strange masih contoh yang bagus, karena… Di film itu, Cumberbatch with the arrogant doctor kinda guy, broke his hands, losing the ability to become a surgeon. Terus dia ditepak sama Sensei di Kamar Taj and dilempar ke Astral Plane, only to find out that, his actual hand is still perfectly functioning.

Now, Astral Realm ini udah mulai… immortal, karena physical body bisa saja mati, tapi astral realm ini akan balik ke… tempatnya. Kemarin Dr. Matius bilang untuk mengaksesnya, kita harus bisa channel our emotions and do stuff… I actually don’t get…

For now ini masih masuk dalam topik human nature. Tapi kalau kita mau bicara thought, yang udah diluar dari emosi dan physical things, ada di Lower Mental.

Lower Mental

Kalau kita mau bahas philosophically, orang yang masih percaya sama empirical solid thought… Itu kodratnya lebih rendah dari orang yang punya abstract thinking. Yes, terdengar kasar banget, tapi sebenernya ada betulnya.

Einstein pernah bilang bahwa Science Without Religion is Lame. Which is true, I mean, ini teh cuma angka dan rumus-rumus, yang sebenernya learnable tanpa perlu talent (or so I’ve been told). Orang yang hanya bisa empirical thought, itu biasanya boring.

Lower Mental ini berada di realm yang… hang on rada bingung jelasinnya… kukasih contoh deh.

Aristotle bilang bahwa Socrates is a man, and Men are mortal. Ya, orang yang tahu keduanya itu masih nyangkut di physical realm dengan ego mereka, closing their eyes. Tapi kalau kita angkat dikit, cuma dengan analisa simpel, Socrates is Mortal. Cuma dari adding 2+2 and getting 4, alhasil kita sudah sukses naik ke Lower Mental, dengan mau mulai membuka horizon dengan thinking empirical.

Tapi kaya aku bilang, ini itu sesuatu yang learnable tanpa perlu talent, tapi… kalau mau naik lagi… jadi apa dong?

Higher Triangle

Di segitiga yang atas itu sudah diluar batas manusia, karena… manusia terletak di antara kedua segitiga, balanced out, rational enough to beat animals who could only think based on evidence, tapi ga lebih tinggi dari… apapun yang ada di atas. Which is our true self.

Let’s discuss this bit by bit…

Higher Mental

Abstract thought, the ability to… feel what’s above us humans. Itu yang ada di Higher Mental.

Kata Professor Matius, biasanya orang-orang artistik yang lebih connected sama… higher mental ini. Sesuatu yang udah diatas grasp para manusia, karena bersifat abstrak. With all due respect, godly things are already a part of this.

Quote dari Einstein tadi baru setengah aja. Religion without science is Blind. Aku sih sebenernya percaya ini sesuatu yang beneran lho, karena sejujurnya kalau kita hanya mau melihat religion… kita akan menutup diri dari empirical knowledge, which is like… wrong.

Don’t get me wrong, abstract thought and beliefs are very important. Tapi kalau kita menutup diri dari simple thinking dan hanya mau masuk ke sesuatu yang abstrak, kita ga akan bisa form apa-apa…

Topik ini takutnya rada… kontroversial, jadi kita bahasnya segini aja.

Transcendental/Transpersonal

Ini simpel sih, kalau kita udah sampai ke titik ini, kita akan merasa lebih… well, care to others. Sama seperti segitiga psikologi di atas. Kalau kita udah bisa conquer emotional needs dan respect diri kita sendiri… Kita akan mulai merasa perlu untuk membantu higher cause, something that’s higher than us.

Ini berbeda-beda tergantung orangnya, tapi ada yang merasa bahwa hidup yang meaningful itu… hidup yang serve god, ada juga yang memutuskan untuk serve orang lain, by helping them. Intinya adalah, ketika kita sudah mencapai titik ini, kita sudah benar-benar mau mencapai… dan menyelesaikan higher… living? Aduh sebenernya bingung ini, tapi intinya… Life orang akan bener-bener meaningful ketika sudah bisa transcend.

On top of that, realm ini juga ada di intuisi kita. Kalau gut instinct kita merasakan sesuatu yang gak bener, ya… kita bakalan merasakannya, as a part of this transcendental intervention.

Orang yang ga punya instinct atau intuition to differ an intervention biasanya masih nyangkut di abstract thought.

True Self

This is a part of the, “takes 10 years to understand, be patient”…

Bener, bener bingung aku sebenernya tapi according to Buddhist beliefs, the true self is a self that has ignored all worldly temptations, fully serving god.

Ini sebenernya confusing, dan… ADUH pokoknya bingung we lah ya… tapi kalau di part sebelumnya kita membahas higher purpose, true self ini udah ignore purpose lain selain final purpose-nya kita.

Even then, aku masih bingung… Maaf ya, aku bener-bener bingung dan… astounded sama penjelasan kemarin.

Middle Realm

Sesudah malu dikit gara-gara bingung… Coba maju aja deh ke bagian tengah, sesuatu yang di claim sebagai realm milik kita. Kenapa semua manusia diciptakan tepat di tengah ini?

Kemarin sih… Professor Matius bilang bahwa ini adalah konsep Free Will. Kita sebagai manusia diberikan lokasi yang sama, tinggal dipilih aja, mau turun dan membahas sesuatu yang tampak real? Atau mau naik dan membahas sesuatu yang imajinatif dan… abstrak? Apakah kita akan ke atas banget dan akan menjadi orang yang sangat baik? Atau kita akan succumb ke Ego dan materi dengan turun ke bawah?

It’s all in our options, and choices.

In Conclusion

It’s all in our options, and choices.

This, again, yeah jedanya cuma 2 kata dan 2 mencet enter. Aku ga sepenuhnya ngerti kemarin, (okay, banyakan pusingnya daripada ngertinya), tapi kalau aku bisa conclude sesuatu dari kuliah kemarin, kita semua lahir tanpa tali, dan bebas mau memilih apa.

Tinggal di tentukan hidupnya kita akan digunakan untuk apa? Apakah untuk cari uang? Untuk pride dan ego kita? Atau kita akan membuat orang lain senang?

It’s all in our head, I just… brought up the facts. Karena banyak orang nyangkut di dunia empirik, dan gak mau lihat hal dengan abstraknya, atau ga mau percaya sama apa yang bisa dilihat.

Seeing isn’t believing… Believing is Realization.

Semoga suka sama artikelnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *