Kunci Evolusi Manusia Secara Psikologis

Kunci Evolusi Manusia Secara Psikologis

Charles Darwin adalah bapak dari teori evolusi, dan sejujurnya, Charles Darwin dan para biologis atau antropolog yang memuja dirinya, membuat sebuah blunder yang menurutku amat sangat krusial, tetapi tentunya, ini bukan salah Darwin dikarenakan ia kurang berantisipasi.

Di beberapa budaya, dan/atau sekolah yang amat sangat religius cenderung untuk menghina Darwin, mengatakannya sebagai kafir, atau hinaan apapun yang dalam konteks sama. Mengapa? Teori evolusi Darwin sepenuhnya mematikan kemungkinan adanya tuhan.

Artikel ini mungkin kontroversial, ataupun juga sedikit menyinggung subjek sedikit sensitif, tetapi, ini sebenarnya lebih ke, menginformasikan cara mempersepsi teori Darwin yang diajarkan pada tingkat SMA di seluruh dunia itu…

Bagaimanapun juga, Darwin telah berkontribusi banyak untuk sains, dan itu alasan aku ingin membela dirinya, tetapi bukan dengan cara yang mati-matian membenarkan, melainkan dengan memberikan persepsi lain agar tidak ada kesalahpahaman antar Biologi Evolusioner dan Agama seseorang.

The Blunder

Blunder bisa berupa banyak hal.

Terkadang blunder bisa terjadi karena ketidaksengajaan, seperti saat Mario Mandzukic melakukan gol bunuh diri pada final piala dunia.

Terkadang juga, blunder bisa terjadi karena kurangnya antisipasi, seperti ketika kamu meninggalkan payung pada awal musim hujan.

Uniknya, blunder Charles Darwin ini, bukan keduanya… Ia cukup banyak mengantisipasi pada zamannya karena Charles Darwin sendiri adalah seorang pribadi yang religius, dan ia, seperti ilmuan fiktif Rajesh Koothrapali dari The Big Bang Theory… Memiliki dua pandangan yang sengaja ia pisahkan. Satu untuk sains miliknya, dan satunya lagi untuk religi.

Darwin mengetahui bahwa pekerjaan yang ia lakukan dalam bidang sains bisa-bisa mematikan seluruh kepercayaan miliknya.

Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan Isaac Newton. Seiring Newton semakin yakin pada sains yang ia pelajari, semakin tidak yakin atas keberadaan tuhannya.

Darwin tidak juga melewatkan suatu hal yang berhubungan dengan tuhan secara tidak sengaja. Darwin cukup detil menjelaskan evolusi yang sekarang disimpulkan dengan 1 kalimat, jika bukan 1 paragraf, 1 halaman, atau 1 bab pada buku biologi tingkat SMA.

Darwin menulis sebuah buku yang amat sangat tebal mengenai evolusi, dan aku sendiri pun belum membacanya, tetapi dari membaca cukup banyak mengenai tulisan miliknya… Dapat disimpulkan bahwa Darwin tidak sepenuhnya mematikan kemungkinan adanya pihak ketiga selain genetik dan makhluk hidup sendiri atas adanya evolusi.

Jadi, sebenarnya, apa Blunder Darwin?

Kesalahan terbesar Darwin ada di fakta bahwa ia melewatkan psikologi pada abad ke 21 (bukan salahnya sama sekali), serta agama-agama diluar agama miliknya, yaitu Kristen (sekali lagi, bukan salahnya sama sekali, dan juga dengan sekarang kuatnya media dalam menjelek-jelekkan sesuatu… Itu juga bukan salahnya sama sekali) dalam pembuatan teori evolusi.

Modern Day Psychology

Sederhananya, Darwin melewatkan fakta krusial dimana sekarang, psikologi bukan hanya sebatas apa yang dilakukan dan mengapa yang dilakukan seorang manusia… Melainkan, psikologi juga branch out ke, apa yang terjadi pada otak kita.

Telah ditemukan sebuah bagian dari otak kita yang bernama God’s Spot.

God’s Spot ini amat sangat kecil, dan juga tidak akan terdeteksi tanpa peralatan khusus untuk melihat gelombang otak, serta aktivitas otak ketika sesuatu terjadi.

God’s Spot mampu meningkatkan koordinasi, reflek, serta juga kreativitas secara short term (tentunya dengan seringnya melatih God Spot, ini bisa menjadi permanen). God’s Spot mampu diaktifkan dengan sering melakukan tindakan yang berhubungan dengan suatu higher force.

Apapun Higher Force itu, baik itu animisme, dinamisme, ataupun agama yang sekarang sudah mencapai level global, seperti Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, apapun itu, tinggal disebutkan.

Manusia sendiri mencapai evolusi agar bisa kreatif dalam cara berburu bukan hanya karena otak kita lebih kuat dan pintar dari seluruh hewan lain. Maksudku, Orca, dan Lumba-lumba memiliki IQ rata-rata yang di atas lebih dari setengah manusia di dunia, jadi, kurasa kita bukan hewan paling pintar.

Tetapi, kita mendapatkan kreatifitas kita dari God’s Spot ini, dan jika itu bukan karena God’s Spot, mungkin kita hanya akan menjadi sebatas makhluk yang hampir sepintar Simpanse, tetapi kalah jauh dari Lumba-Lumba dan Orca.

Mungkin itu salah satu alasan Atlit cenderung memiliki kepercayaan yang sedikit, bisa dibilang klenik. Didier Drogba memiliki ritual memasuki lapangan, dan mungkin, ketika ia mulai percaya bahwa ritual itu adalah suatu ritual yang mampu membuat dia bermain lebih baik, God’s Spot mulai aktif dan meningkatkan koordinasi, reflek, serta kreativitasnya. Apa yang terjadi ketika God’s Spot sukses meningkatkan kualitas syaraf kita? Kita bermain lebih baik…

Wow, itu terdengar sangat-sangat merusak kepercayaan klenik para atlit… Ehem, maafkan.

Dan jika ingin dipikir dari sisi lain koin ini, mungkin ini alasan orang-orang pintar dan ateistik cenderung lebih ceroboh dari orang-orang yang memegang kuat kepercayaannya.

Ini juga bisa memperkuat fakta bahwa tentunya Tuhan, dan kreasionisme dapat bermain peran kuat dalam evolusi. Bisa saja yang merubah struktur otak kita adalah pihak ketiga yang memiliki kekuatan tanpa batas. (ini akan dibahas sedikit di bawah, karena sebenarnya tidak melawan masalah terbesar dari penganut agama yang religius)

The Creativity Evolution

Darwin telah sukses mengupas evolusi manusia secara fisik, memang betul, jika kita tidak memiliki IQ dasar yang kuat, mungkin kita akan jauh kalah dibandingkan spesies lain, karena para primata, terutama saudara dekat kita menurut Darwin, seperti Simpanse dan Bonobo, cenderung memiliki fisik yang amat-amat lemah, tetapi intelegensia yang kuat.

Tanpa IQ dengan level yang sama seperti kita, meskipun kita cukup kreatif, kemungkinan kita tidak akan cukup pintar untuk menyadari bahwa makanan menjadi lebih sehat dan membuat kita merasa lebih baik jika dimasak, besi lebih kuat dan lebih mudah dibentuk dibanding batu, serta banyak hadiah dari evolusi lainnya.

Tetapi, evolusi yang akan kubahas adalah evolusi kita secara mental, alih-alih fisik…

Logika manusia menjadi kuat karena God Spot yang memberikan kita ide-ide baru yang belum pernah dipikirkan sebelumnya.

Seorang Simpanse, manusia Neanderthal, atau Homo Erectus, cukup pintar untuk mengetahui bahwa jika kita ingin mendapatkan pisang, cara paling efisien adalah dengan menggoyang-goyang pohon pisang hingga semua pisang jatuh, lalu berbagi hasil panen tersebut. Monyet pada umumnya akan memanjat dan mengambil pisang itu sendiri.

Itu adalah jenis spesies yang kita dapatkan apabila logika adalah satu-satunya bekal yang kita dapatkan dari evolusi dan juga dari Tuhan.

Tetapi, dengan bantuan God’s Spot, kita yang memang tahu bahwa alat mampu membantu berburu dan panen, akan lebih kreatif dalam menciptakan alat. Kita akan menggunakan batu, dan membentuk alat yang bisa melukai hewan lebih efektif, mungkin alat yang bisa dilempar. WHOOSH, terciptalah tombak.

Darwinian Religion

Sebenarnya, apakah Charles Darwin salah?

Darwin sering dikritisi atas kesalahannya dalam tidak menyebut tuhan, padahal Darwin seorang Kristen yang amat religius, dan tidak mau membiarkan kepercayaannya rusak oleh sains yang ia ciptakan.

Charles Darwin seringkali dikutip, dan menyatakan bahwa teori Evolusi yang ia buat biasanya cenderung untuk tidak merujuk pada perubahan mental manusia sendiri. God’s Spot adalah sebuah bagian kecil otak yang mungkin tidak mencapai seperseratus dari otak kita sendiri, dan hanya berfungsi sebagai pabrik produksi hormon dan zat untuk membenarkan syaraf.

Pada sisi lain, Darwin juga hanya menyatakan bahwa kita berasal dari Simpanse dan Australopithecus murni karena itu yang paling mirip struktur fisiknya dengan Sapiens, dan kedua makhluk tersebut amat sangat intelijen.

Darwin hanya menyatakan bahwa manusia, secara struktur fisik, (ini termasuk bentuk otak) berasal dari kedua makhluk tersebut. Tidak ada satupun hubungan antara Darwin menyatakan bahwa kita setara dengan hewan jika dibandingkan dengan makhluk lain.

Nah, Agama dalam konteks Darwin disini akan bermaksud untuk memberikan perspektif religius atas teori evolusi Darwinian.

Darwin menyatakan bahwa secara fisik, kita memang tidak jauh berbeda dari kera, tetapi kita memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh mereka, dan dari sudut pandang itulah kurasa teori evolusi Darwin dapat dipandang secara religius.

Banyak penganut agama menganggap Darwin salah karena menurut mereka, Darwin merendahkan kodrat manusia, dan disamakan pada kera, yang hanya merupakan binatang.

Seharusnya, mereka melihat dari sudut pandang lain.

Tuhan mengaktifkan sebuah titik di otak kita yang membuat kita berpikir dan berimajinasi, jika bukan karena Tuhan, kita hanya akan menjadi makhluk dengan fisik sedikit lebih kuat dari simpanse, dan parahnya lagi, tidak sepintar simpanse.

Kita menjadi lebih kuat dan mulia dibanding hewan bukan karena kita pintar, tanpa ilmu bahasa dan kreativitas, kita sebenarnya hanya masuk top 5 dari dunia hewan.

Intelegensia tidak sebatas intelegensia, terutama jika kita tidak dapat, ataupun tidak tahu cara menyalurkannya. Hanya karena kita memiliki titik psikologis yang mampu mengaktifkan kreativitas yang terpendam dalam ingatan kitalah, manusia bisa menjadi spesies yang kuat.

Kesimpulan

Kurasa, Darwin cukup benar, jika kita pandang sains miliknya secara hukum, ia cukup memanfaatkan area dimana ia tidak salah ataupun benar, dan area itu berasal dari kepercayaannya.

Simplifikasi teori Darwin begitu tidak tepat. Suatu teori yang indah dirubah menjadi kalimat sederhana yang ditangkap oleh murid sebagai… “Nenek moyang manusia adalah monyet” (ini jauh lebih menghina terutama di budaya yang sangat mengapresiasi leluhur, seperti di Asia dan di Afrika)

Padahal, seharusnya, jika memang ingin disederhanakan, akan lebih baik jika kalimatnya dirubah menjadi “Manusia telah mencapai kodrat yang lebih tinggi dari kera dan simpanse karena Evolusi.”

Sampai lain waktu!

One Reply to “Kunci Evolusi Manusia Secara Psikologis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *