Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kembali lagi ke seri Kuliah Umum di ITB. Topik di tulisan hari ini membahas tentang manusia. Ada kabar baik dan buruk yang perlu diberikan sebelum membaca dan masuk ke artikel ini.

Kabar baiknya, siklus satu sudah habis! Ini adalah materi kedua dari terakhir, dan aku masih punya hutang tulisan karena aku sakit minggu lalu, dan tidak sempat menulis. Kabar buruknya, ini berarti aku tertinggal satu minggu, karena ada materi yang menjelaskan tentang kesadaran, yang diberikan hari selasa kemarin, tanggal 1 Oktober.

Kabar baik lainnya karena minggu depan kuliah umum Sains di ITB sedang istirahat… aku bisa mengejar tulisan tersebut tanpa ada tambahan tunggakan.

Sekarang, masuk ke topik, selamat menikmati.

Filosofis? Biologis?

Aku sempat kebingungan dan memberikan ekspektasi yang salah pada kuliah kali ini. Jangan anggap aku meremehkan, justru kuliah kali ini mengalahkan ekspektasi dengan jauh. Hanya saja dari sudut berbeda.

Sesudah kuliah umum sekitar 20 kali tentang Filsafat, dan sesudah membaca banyak mitologi dan sedikit sastra dari seluruh dunia dan banyak era, pertanyaan ini sering kupikirkan, tetapi tidak sekalipun aku tanyakan dari sudut pandang biologi.

Ternyata, aku berpikir terlalu kompleks. Ketika aku membandingkan manusia dengan hewan dari sudut pandang filosofis, dan yang tidak empirik sama sekali, aku akan mencari cara untuk menjelaskan alasan kita menyukai seni, kita menyukai sains, kita percaya pada pemimpin, kenapa ada agama, dan blablabla yang sangat panjang.

Jawaban yang diberikan Prof. Djoko dari SITH (calon dosen pas nanti kuliah berarti… Amin) tidak lebih kompleks dari kromosom dan kode genetika. Pelajaran SMA. Jadi untuk pertama kalinya, aku memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjelaskan tentang sains di blog ini!

Mengabaikan lelucon, aku yakin 100% aku berpikir terlalu jauh ketika aku ingin menanyakan pertanyaan, apa yang membuat kita manusia? Prof. Djoko tidak menjelaskan dengan rumit. Ia hanya menjelaskan bahwa 98% dari kode genetika manusia sama dengan simpanse, dan kode genetika kita juga sama dengan 40-60% dari lalat.

Lalu, kenapa 2% dari kode genetika tersebut menjadi pembeda yang signifikan? Kenapa kita pintar, bisa bicara, bisa menulis tulisan seperti ini, bisa menghitung dan mengkhayal, sementara simpanse tidak?

Oke, memang betul, Enzim penyusun simpanse berbeda jauh dengan manusia, tetapi kalau kita membandingkan makhluk yang enzim penyusunnya paling mirip dengan manusia, kita akan memandang diri kita lebih rendah lagi. (Makhluk dengan enzim penyusun paling mirip dengan manusia, mencapai 92% kesamaannya adalah… Babi.)

Untuk orang yang bingung, kita anggap saja bahwa enzim penyusun adalah bahan bangunan, sementara kode genetika adalah struktur yang dibangun.

Simpanse merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan kayu, Manusia merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan batu, sementara Babi merupakan rumah berbentuk bulat yang dibuat dengan batu. Bahan penyusun sama, dibentuk secara berbeda dalam kasus Babi, bahan penyusun beda, dirancang secara sama dalam kasus simpanse.

Jadi, sekedar 2% dari kode genetika dan 8% dari enzim penyusun yang membentuk manusia menjadi faktor yang sangat penting. Kenapa kita pintar, sedangkan simpanse dan babi tidak sepintar kita? (oke, sejujurnya kalau membaca komentar orang di situs-situs di Internet, aku khawatir simpanse lebih pintar dari kita, tapi anda mengerti maksudku)

Rahang, Otak, dan Telinga.

2% kode genetika tersebut lebih dari cukup untuk mengubah bentuk rahang, telinga, dan punggung. Hanya sekedar dua persen saja membuat kita pintar, karena dua persen tersebut adalah dua persen yang mengubah hal-hal yang tepat.

Rahang kita masuk lebih dalam, telinga kita dapat mengatur keseimbangan, dan punggung kita tegak.

Kubahas satu-satu.

Rahang

Ukuran rahang yang semakin dalam memberikan kepala yang ukurannya umum sama dengan primate lainnya, untuk memberikan tengkorak yang lebih besar. Tengkorak yang lebih besar, berarti ukuran otak yang bisa disimpan dalam tengkorak tersebut, lebih besar juga.

Tanpa kehilangan fungsi penting dari rahang untuk mengunyah daging serta sayuran, kita memiliki otak yang cukup besar untuk memproses informasi yang kompleks.

Dengan kehilangan gigi tonggos dan rahang maju, kita telah membuat diri kita sebagai manusia yang lebih intelijen

*OUT OF TOPIC: Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika manusia diberikan waktu untuk evolusi lebih lanjut, mungkin kita akan seperti professor X tetapi tidak punya mulut, dan mendapat nutrisi dari sumber lain, karena kepala kita terlalu besar untuk menyisakan tempat untuk mulut.

Telinga

Telinga kita berevolusi agar kita punya keseimbangan ketika kita berjalan. Ya. Telinga kita memiliki saluran untuk menjaga keseimbangan di seluruh tubuh.

Bagi orang-orang yang suka bermain game, atau tahu tentang senjata perang, ini alasan Flashbang mampu membuat seseorang bingung parah. Suaranya cukup untuk mengganggu saluran keseimbangan di telinga, dan membuat mereka jatuh sampai saluran tersebut kembali normal.

Ini subjek sensitif bagiku. Kenapa? Aku punya sedikit masalah keseimbangan. Maksudku, aku tidak bisa naik sepeda, aku punya masalah jalan di blok kayu tanpa terjatuh, dan isu kognitif lainnya.

Jadi, ketika aku mendengar bahwa saluran keseimbangan adalah salah satu alasan kita bisa menjadi lebih pintar, aku mengerti jelas kenapa diriku yang kecil punya isu dalam bergerak, dan tidak suka bermain seperti anak-anak lainnya yang tidak diberikan Gadget atau Televisi.

Kembali ke topik lagi. Kita butuh saluran keseimbangan ini untuk turun dari pohon dan tidak lagi perlu tinggal di pohon, dan pindah ke gua, lalu ke rumah. Ketika mulai berburu, kita bisa meninggalkan jejak dan berinteraksi lebih lanjut, dan kita menjadi manusia yang lebih pintar.

Punggung

Sesudah telinga kita mendapat update untuk menjaga keseimbangan. Tulang punggung kita beradaptasi agar tubuh kita lebih kaku, tetapi juga tambah kuat.

Kita memang tidak selentur simpanse, tetapi karena kita mulai bisa berjalan tegak, kelenturan itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga kita menjadi lebih kaku, lebih kuat, dan lebih terstruktur.

Stamina kita bertambah, dan kekuatan kita bertambah, karena sekarang, kita punya tubuh yang mampu menahan keseimbangan ketika berjalan dengan tegak, tidak seperti Gorilla, atau Simpanse lagi. Dari sudut pandang fisik murni, tanpa latihan atau semacamnya, manusia sebagai spesies harusnya lebih kuat dari Gorilla dalam kasus berdiri atau bergerak.

Bagaimana kalau berantem? Kamu mau coba sendiri? Silahkan, tetapi aku tidak mau tanggung jawab.

Sebelum mengakhiri dengan beberapa statement di bagian selanjutnya ada klarifikasi terlebih dahulu tentang enzim penyusun, Enzim penyusun irelevan kalau kita membahas intelegensia, karena hal-hal yang diatur enzim adalah hal yang semua makhluk hidup harus miliki, seperti kemampuan bernafas, bergerak, makan, pipis, dan pup.

Perbedaan Etnis

Kalau kita membandingkan perbedaan antara spesies lain, setidaknya kita akan menemukan 2% bukan? Kerabat terdekat Homo sapiens yang sudah pintar seperti kita adalah simpanse, tetapi, berapa banyak perbedaan antara dua ras Homo sapiens?

Perbedaan tersebut hanya mencapai 0.02%. Sebuah perbedaan yang tidak dilihat oleh anak kecil, dan baru dilihat ketika sudah mencapai usia remaja.

Pesan untuk guru-guru TK dan SD: Jika anak-anak memilih-milih teman, tolong salahkan orangtua mereka. Secara genetik DAN evolusioner, mereka tidak mungkin memilih-milih teman.

Lalu kenapa angka intoleransi meningkat secara drastis?

Prof. Djoko menggunakan kata yang ia berikan disclaimer sebagai kata yang “kasar” yaitu cuci otak.

Prof. Djoko bukan ahli dalam bidang perbedaan budaya, itu diluar ranah biologi miliknya, namun ia yakin bahwa jika ada perbedaan etnis, atau ras, manusia tidak akan melihatnya kecuali ada yang menunjukkan hal tersebut. Ia tahu bahwa manusia melihat perbedaan secara budaya, bukan secara etnis.

Mulai dari paragraf ini, kata-kata di sini aku tambahkan sendiri ya, tidak ada kata dari Prof. Djoko atau Pak Hendra sebagai koordinator kuliah umum Sains ini. Aku menanggung semua kata-kata sesudah paragraf ini. (Oh iya, mengenai struktur enzim yang mirip dengan babi juga aku mengambil tanggung jawab penuh, itu atas riset sendiri)

Ini mungkin alasan partai-partai konservatif biasanya tidak menggunakan perbedaan etnis atau ras sebagai alasan utama mereka menciptakan “Boogeyman”, tetapi mereka menggunakannya sebagai pembeda, dan akhirnya turun dari pembeda tersebut stereotipe berdasarkan ras. Sama seperti yang Trump lakukan dengan Meksiko.

Contoh saja ya. Trump menyatakan bahwa imigran Meksiko merupakan kriminal dan berbahaya bagi negara Amerika. Ini merupakan tuduhan budaya, bukan tuduhan ras. Trump lalu menyatakan bahwa ia harus melindungi Amerika dari isu ini. Ini juga merupakan tuduhan budaya. Pendukungnya menyimpulkan bahwa orang-orang meksiko merupakan orang kriminal. Dari tuduhan budaya tersebut, muncullah tuduhan ras, sesudah ada kesadaran akan perbedaan budaya.

Permainan ini merupakan hal yang pintar, dan licik, karena orang yang memercik api pertama tidak berusaha untuk menyalahkan ras, tetapi menyalahkan tindakan yang dilakukan, dan menggantungkan penyalahan ras-nya oleh pendukung atau penerima informasi.

Jadi, apa pendapat anda tentang ini? Selamat merenung dan berpikir…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *