Ketergantungan Pemain: Sepakbola vs E-Sports

Ketergantungan Pemain: Sepakbola vs E-Sports

Ini artikel ringan tetapi akan memiliki beberapa topik selipan berat diantaranya.

Aku ingin membahas dua jenis olahraga ini, dan sebenarnya seberapa berat (secara psikologis) untuk seorang pemain membawa timnya ke kemenangan. Baik di Sepakbola, ataupun Electronic sports (akan dipilih satu game saja yang aku punya sedikit pengetahuan dibaliknya, dikarenakan sempat bermain dan pernah menonton beberapa turnamen… err, terus terang saja, game yang akan digunakan adalah Dota 2.)

Artikelnya tidak akan terlalu panjang, dikarenakan aku ingin menonton piala dunia pada jam 22.00 nanti, dan sekarang sudah 21.12.

Perspektif untuk sepakbola akan lebih membahas piala dunia, alias kompetisi secara internasional, bukan sebuah tim yang “bebas” diciptakan dengan pemain dari kebangsaan manapun.

Daripada lama basa-basi mari kita masuk saja ke artikelnya!

Perbedaan

Terima kasih Captain Obvious, tentunya baru hari ini aku tahu ada perbedaan diantara E-Sports dengan Sepakbola.

Jadi, aku ingin sedikit membedekan terlebih dahulu, kedua topik ini. Nomor satu, perlu dicacah dulu “habitat” dan juga situasi tiap kompetisi.

Sepakbola

Sepakbola sendiri merupakan game dengan tujuan yang sangat mudah. Masukkan bolanya dalam gawang musuh, dengan kakimu. Perlu elaborasi? Gak kan? Siapa yang gak tahu, atau gak pernah nonton.

Tetapi, perlu diingat bahwa ada faktor peraturan yang membuat permainannya lebih bermakna, dan juga ada komplikasi interaksi antar pemain di dunia nyata.

Jika dicacah, pada dasarnya, Sepakbola yang dilihat faktor peraturannya saja akan membuat set kondisi seperti ini.

  • Sebelas Pemain dalam setiap tim.
  • Satu dari sebelas pemain itu menjadi kiper.
  • Bola dimulai di tengah, dan setiap tim akan bergiliran memulai babak sepanjang 45 menit dengan bola di kaki pemainnya.
  • Semua pemain, kecuali kiper yang berada di dalam kotak penalti dilarang menggunakan tangan.
  • Tim boleh melakukan kerjasama via mengoper, menggiring, dan juga melempar umpan untuk memasukkan bola ke gawang musuh.
  • Jika bola masuk dalam gawang musuh, tim yang memasukkan bola mendapat satu poin.
  • Berlangsung selama 90 menit, pemenang adalah tim dengan poin lebih banyak.
  • Bla Bla Bla Bla Bla Bla…
  • Baca pdf ini aja… https://img.fifa.com/image/upload/datdz0pms85gbnqy4j3k.pdf

Dan seterusnya, kalau memang penasaran peraturan sepakbola, bisa dibaca saja di website resmi FIFA. Sekarang, mungkin perlu dilihat sedikit juga faktor psikologis dari peraturan resmi, dan dalam turnamen seperti piala dunia, ini akan memunculkan cukup banyak hal menarik.

  • Dikarenakan timnas tidak berkumpul sesering klub, dan mayoritas pertandingan tiap tahunnya seorang pemain adalah dengan klub…
    • Kekompakan akan lebih susah dilatih
    • Beberapa pemain timnas akan (secara tidak sadar) memberikan beban untuk mencetak gol atau bertahan ke seorang pemain yang memang bermain lebih bagus dalam taraf klub.
      • Contoh: Neymar untuk Brazil, Salah untuk Mesir, serta Messi untuk Argentina
  • Lingkungan piala dunia lebih membuat stress dikarenakan setiap tim hanya punya kesempatan bermain yang sedikit, dan jika kalah pada babak penyisihan, maka tim akan langsung tereliminasi.
    • Ini membuat pertandingan yang sulit lebih tegang, dan ketegangan mempersulit orang untuk fokus.
    • Catat juga bahwa pemain bertanding atas nama negara, bukan hanya atas nama klub.
  • Selain faktor psikologis, pemain juga memiliki batasan fisiknya, dan sejujurnya, meski bisa dilatih, batasan fisik itu sangat manusiawi
  • Faktor terakhir dalam kondisi piala dunia seperti ini adalah “pool” pemain yang bisa dipilih.
    • Negara-negara dengan pemain yang bisa dibilang nomor satu dalam klubnya, jagoan klubnya (dll), tetapi tidak dalam situasi dimana bakatnya sama rata, akan kesulitan untuk membuat tim yang kompak dan sinergis
      • Contoh untuk ini, Salah (lagi), Drogba untuk Pantai Gading (eh, dia belum pensiun kan?), dan beberapa orang lain.
    • Ini juga bisa membuat beberapa bakat tim “jomblang” secara statistik. Jerman secara keseluruhan memiliki tim all-star yang sangat bagus, sama juga untuk Brazil dan Spanyol. Tim mereka kuat dan tidak perlu bergantung ke satu pemain untuk melakukan “magic”-nya.
      • Ketahui bahwa statistik hanyalah statistik. Liat pertandingan pas Jerman kalah sama Meksiko, Brazil seri dengan Swiss, dan seterusnya.
    • Nyatanya, dalam piala dunia, pelatih terjebak dalam kolam pemain tertentu, dan membuat sebuah dream team ideal yang kompak… akan sulit.
  • Terakhir, yang menurutku penting adalah ketegangan itu sendiri… Ini harusnya self-explanatory… Moral tim secara keseluruhan juga termasuk dalam ketegangan ya…

Dari faktor-faktor yang kutuliskan, serta tentunya pengetahuan pembaca sendiri dari menonton pertandingan bola dapat dilihat bahwa…

EITS! Bentar dulu! Aku sebenarnya bisa saja menjadikan ini artikel standalone untuk Sepakbola, tetapi tidak. Aku mau membandingkan seberapa mirip, serta berbedanya kedua kompetisi ini.

Dota

Ugh, aku paling tidak suka sebenarnya menyebutnya E-Sports, dan dari dulu aku juga tidak suka menyebutnya sebagai E-Sports, ataupun Game. Jadi, repot-repot, sebut saja nama merek game-nya.

Jadi, untuk game yang super laku (dan bikin nyandu [alasan aku {disuruh} berhenti main]) ini, dan kata banyak pemain, sangat kompleks ini… Sebenarnya, tujuan game ini sangat-sangat-sangat… Sederhana, sesederhana Sepakbola sebenarnya. Hancurkan markas musuh. Sudah, sesederhana itu.

Tetapi, di balik itu ada banyak faktor baik di dalam program game, ataupun di dunia nyata, alias interaksi pemain.

Untuk faktor dalam game, aku tidak mau bahas dalam-dalam, tapi ketahui 3 poin sederhana ini…

  • Tiap tim terdiri dari 5 karakter yang bebas dipilih pada awal permainan. Pemilihannya sendiri juga dipilih oleh seorang kapten yang boleh ban dan melarang beberapa karakter, serta memilih karakter yang ingin dimainkan oleh timnya.
  • Dari ratusan karakter dalam game… Ketahui bahwa tiap karakter memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan dikarenakan banyaknya update… Ada karakter yang lebih kuat dari karakter lainnya, dan juga ada yang lebih lemah. Tiap karakter juga mengalahkan (atau counter) karakter lain.
  • Dikarenakan perbedaan kemampuan tiap karakter, misalkan ada pemain yang sangat jago menggunakan karakter A, dan jika kebetulan karakter A sedang lebih kuat dari karakter lainnya… ada pembeda yang cukup signifikan.

Cukup dibahas seperti itu, aku tidak mau membahas terlalu dalam ya… Jika penasaran bisa baca saja di internet sendiri.

Selain faktor dalam game, juga ada faktor di dunia nyata. Karena ini permainan tim, tentunya kekompakan dan kemampuan tim blablabla itu sudah pasti. Kemampuan seseorang secara individual juga bisa jadi pembeda, dan itu cukup… obvious.

Aku ingin membahas faktor moral dari hal-hal yang terjadi di dalam game. (Tiap tim dimasukkan dalam boks kecil, paling seukuran 20 X 5 meter untuk bermain sampai seri permainan Best of 3 beres… Dan satu game bisa sampai 120 menit, tetapi biasanya beres dalam 40-45 menit)

  • Ketegangan dan tunjuk jari mencari siapa yang salah dapat dimulai dari memilih karakter di awal-awal… Jika misalnya ada kesalahan dalam memilih, atau misalnya pemain merasa tidak nyaman dengan pilihan si kapten, tidak jarang terjadi konflik.
  • Di sisi lain, reputasi akan kemampuan pemain juga cukup kentara untuk level pemain professional, dan jika tim musuh diizinkan memilih karakter yang mereka sangat sukai, dan juga… jago menggunakannya… Sekali lagi, bisa terjadi konflik.
  • Nah, juga untuk membahas pemilihan karakter, 2 tahun yang lalu sampai… kayanya sekarang, sempat ada tren membuat pemilihan karakter yang mengunggulkan satu orang yang bisa dibilang jagoannya. (mungkin di mata fanboy… setara Messi, Neymar, Ronaldo) Tim akan memilih 4 karakter yang berfungsi sebagai suplemen untuk si 1 karakter pemain paling jago ini.
    • Jika aku tidak salah, 3 tim terakhir yang memenangkan TI (setara Piala Dunia di dunia Dota) melakukan trik ini.

Nah, itu baru pemilihan karakter. Main juga belum…

  • Moral paling sering hancur jika terjadi semacam… “comeback”. Kalau di bola, anggap saja sudah mimpin 3-0 pas babak pertama, lalu disusul 3-3 pas babak kedua, dan pas menit-menit terakhir kebobolan satu gol lagi, dan tim lawan menang.
    • Untuk dota, aku tidak mau jelasin comeback seperti apa, itu… membingungkan.
  • Ironisnya, moral tim tidak akan hancur jika mereka ketinggalan hanya… 2-0, atau 3-0 misalnya. Game seperti Dota memberikan kesempatan bagi pemainnya yang ketinggalan untuk sedikit mengejar sampai misalnya 2-1, atau 3-2, terus mencoba sampai akhirnya bisa mimpin.
  • Dikarenakan format permainannya best of three… Jika pemain sudah keok parah pas match pertama, atau kena comeback, atau apa lah… Bisa-bisa moral tim langsung runtuh dan langsung gagal (dari pas pemilihan juga udah… rusak) pada match berikutnya.

Jadi… ya, pemain atau bukan, simpulkan saja sendiri…

Tetapi, mari kita bahas sedikit tentang “reliance” atau ketergantungan pada satu pemain…

Menyimpulkan Ketergantungan

Buat sederhana saja, aku mau buat perbandingan direct.

Sepakbola

  • Lebih banyak pemain
  • Lebih butuh kerjasama, terutama mengingat bahwa ini face to face
  • Bisa terbilang secara peraturan… sama rata
  • Secara skill meski tidak sama rata, tidak ada faktor permainan yang berubah dari dalam permainan itu sendiri. Hanya kemampuan pemain yang jadi pembeda.

Dota

  • Lebih sedikit pemain
  • Tidak terlalu butuh kerjasama. Game-game santai sangat mungkin dimenangkan tanpa kenal seorang pun dalam tim, dan tanpa sedikit pun koordinasi.
  • Tidak sama rata secara peraturan
  • Tidak sama rata secara skill.

Kesimpulan

Jadi, apa kesimpulannya?

Begini deh… Kalau kita hanya bicara angka, secara angka juga, Sepakbola dibuktikan menjadi sebuah permainan yang sangat sulit dikuasai, dikarenakan butuh banyak sekali kerja sama didalamnya.

Berikutnya kita juga masuk ke faktor peraturan. Tidak ada game online yang seimbang, ia dibuat online agar bisa dirubah terus, membuat suatu benda lebih lemah, dan suatu tokoh lebih kuat tiap harinya. Sepakbola, terbilang sama rata secara peraturan.

Dan juga aku sudah cerita bahwa, di Dota, kamu bisa menang tanpa kenal sedikitpun orang, dan juga tidak pernah bertatap muka dengan teman-temanmu. Selain itu, untuk menambah ironisme, peran-peran di Dota, sangat sederhana…

CARRY (biasanya 2 pemain)
SUPPORT (biasanya 2 pemain)
UTILITY (biasanya 1 pemain)

Diterjemahkan menjadi…

Membawa (ke kemenangan)
Mendukung
Membantu

Dari nama peran sendiri, sudah ketahuan bahwa Dota akan sangat-sangat relian ke 2 pemain (kadang satu malah) untuk membuat timnya menang…

Apakah hal yang sama akan dikatakan untuk sepakbola?

Brazil harus seri dengan Swiss dikarenakan ada tekanan yang sangat berat diarahkan ke Neymar

Jerman tidak bisa membuka peluang dikarenakan Toni Kroos tidak bisa menemukan (tidak diberikan) ruang untuk mengumpan dengan nyaman.

Mesir sendiri kurang kompak sebagai tim, dan bakatnya tidak bisa dibilang sama rata juga…

Jadi, apa jenis permainan yang ingin kau pilih? Yang butuh kerjasama dan gotong royong, menghukum keegoisan dengan cukup buruk, atau yang bisa dimainkan dengan egois?

Sampai lain waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *