Kampanye Vaksin Indomie

Kampanye Vaksin Indomie

Baru kemarin aku menemukan berita di kolom Tunggu Dulu milik Pikiran Rakyat mengenai Indomie di Nigeria dan hubungannya dengan vaksinasi.

Karena sedikit banyak kepo di Internet, sepertinya membuat artikel tentang Indomie di negara Afrika ini cukup menarik. Selamat menikmati!

Indonesia vs Nigeria

Indonesia dan Nigeria memiliki kemiripannya masing-masing lho! Kurasa, akan sangat menarik untuk melihatnya langsung di satu artikel.

  1. Kedua negara sama-sama memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, dan populasi yang tinggi. Nigeria memiliki sekitar 200 grup etnis berbeda, dan 371 suku berbeda (satu grup etnis bisa membuat beberapa suku berbeda), dan Indonesia memiliki lebih dari 300 grup etnis berbeda.
  2. Kedua negara sangat menyukai Indomie. 😛
  3. Keduanya memiliki populasi yang cukup banyak, dan luas negara yang besar.
  4. Sayangnya, keduanya juga memiliki isu-isu dan angka vaksinasi yang cukup buruk.
  5. Dan lagi, keduanya juga hanya sedang bertumbuh sebagai negara, pertumbuhannya dapat bertambah dengan cepat, namun, sekali lagi, keduanya sedang bertumbuh.

Kedua negara ini, cukup mirip tentunya. Dan, seperti kusebut di atas… Artikel hari ini akan mengupas kampanye vaksinasi di Nigeria.

Ekonomi Indomie di Nigeria

Pada tahun 1988, ketika Indofood memulai ekspor mie instan ke Nigeria, pasar Mie Instan di Nigeria tidak nyata, dan tidak bernilai.

5 tahun kemudian, pabrik pertama Indomie dibuka di Nigeria. Penghasilan dan branding yang naik tentunya membantu pertumbuhan pasar mie instan.

Hanya 25 tahun dari terbukanya pabrik lokal Indomie pertama, dan tumbuhnya pasar dan ruang pekerjaan yang disediakan oleh Indomie yang sudah bertumbuh sangat besar, dan, Indofood mendominasi 74% dari pasar Mie Instan di Nigeria, angka yang besar, terutama mengingat luasnya Nigeria.

Uniknya, angka 74% ini dapat dianggap sebagai penurunan bagi Indofood.

Perlu diingat, sampai tahun 2009, Indofood memegang hampir seluruh pasar mie instan di Nigeria. 97% dari pasar mie instan di Nigeria dimakan habis oleh Indomie yang sudah mulai memberikan pengaruhnya pada warga dan anak muda di daerah Nigeria.

Warga Nigeria mengonsumsi 8 juta paket Mie Instan tiap harinya, dan, dengan harga 15 sen per paket Mie Instan, tentunya, makanan amat enak ini mendominasi daerah Nigeria di Utara, yang masih dipenuhi dengan keluarga di level 1 (penghasilan total keluarga bernilai 2 dollar atau kurang per harinya).

Dengan naiknya harga gandum secara eceran, dan karbohidrat pada umumya di daerah Nigeria bagian utara, konsumsi Mie Instan jauh lebih murah dan mengenyangkan bagi keluarga-keluarga berpenghasilan rendah.

Mie Instan menjadi suplai karbohidrat yang begitu baik dan kuat untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Dalam kacamata ekonomi mendasar, gandum yang dibutuhkan Indofood tiap tahunnya yang sejumlah 500.000 ton, sekitar 7 kali lebih banyak dari gandum yang diproduksi oleh petani-petani di Nigeria per tahun.

Jumlah gandum yang diambil bulk, dan dimanfaatkan secara efektif oleh Indofood mampu menurunkan harga karbohidrat yang dibutuhkan oleh warga, dan memberikan warga opsi untuk makanan murah dan mengenyangkan.

Selain menjadi opsi karbohidrat yang murah, enak, dan mudah didapatkan bagi warga tingkat 1 (warga tingkat 1 di Nigeria mengonsumsi 2.2 kilogram Indomie), rasanya yang gurih, manis, dan tidak bisa didapatkan di tempat lain juga membuatnya populer di kalangan anak muda, dan warga lain. Konsumsi warga tingkat 2 ke atas, per capita, 1.1 kilogram.

Indofood mengambil dan mendominasi pasar Nigeria dengan rasanya yang sangat enak (percaya padaku, bahkan orang-orang yang biasa makan 100.000 rupiah per orang tiap kali makan, masih menyukai Indomie, dan tidak akan menolak untuk memakannya sesekali) dan fakta bahwa harganya terjangkau, menggulingkan takhta mie instan yang didominasi Indomie akan sangat menyulitkan.

Kampanye Mie di Nigeria

Sebagai warga Indonesia, tentunya, aku tumbuh dan dikelilingi oleh Indomie, dan banyaknya varian rasa dari mie instan tersebut. Namun, tidak banyak ada kampanye khusus yang dibuat oleh Indomie demi mempromosikan produknya.

Oke, selain Asian Games, tetapi, itu pengecualian karena tokohnya hanya memasang tokoh yang sudah diciptakan, bukan tokoh ciptaan sendiri.

Mungkin ada rasa baru, dan rasa tradisional (mie goreng aceh, soto tengkleng, dan semacamnya) tetapi, belum pernah ada karakter yang khusus dibuat seperti seri karakter Indomitables yang dilakukan di Nigeria.

Sachet karakter Indomitables dibuat khusus, bisa digunting, dan ada gambar karakter superhero di depannya. Jujur, sepertinya hal yang sama belum pernah dilakukan oleh Indomie di Indonesia.

Tapi ya sudahlah. Tanpa adanya banyak kampanye, Indomie sudah terkenal kok.

Dengan beberapa kampanye Indomie di Nigeria, ia makin terkenal, penjualan makin naik, pasar makin menginginkannya, sampai ke titik orang-orang Nigeria mengira bahwa Indomie berasal dari Afrika, dan ke titik sampai orang Nigeria menyebut mie sebagai Indomie.

Tetapi, selain kampanye karakter superhero yang dimasukkan ke sachet, lalu artwork khusus yang berubah, kampanye paling baru Indomie berada di vaksinasi.

Mohon maaf, awalnya aku ingin mengupload sachet Indomie di Nigeria, namun, sepertinya sistem gambar di WordPress sedang tidak berjalan dengan baik, mohon menunggu sebentar ya 🙂 .

Intermezzo

Baik Indonesia dan Nigeria memiliki masalah vaksinasi yang buruk

Ketika ada vaksin, di Indonesia langsung terjadi perdebatan panas dan banyak juga hoaks yang menyatakan bahwa pembuatan vaksin menggunakan plasenta bayi, rambut monyet, atau semacamnya lah. Selain itu, juga banyak ulama dan petinggi agama menyatakan bahwa vaksin adalah benda yang tidak halal. Untungnya, konflik itu sudah beres, dan sekarang kondisi vaksinasi di Indonesia membaik.

Di Nigeria, banyak warga di tingkatan ekonomi level 1, atau 2, termakan rumor adanya zat infertil di vaksin dan pemboikotan vaksin polio di tahun 2003.

Kekacauan pada negara, rusuhnya beberapa hal, dan rumor-rumor lebih lanjut pada vaksin membuat angka vaksinasi di Nigeria turun drastis. Sampai tahun 2018 setidaknya.

Kembali ke kampanye…

Kampanye vaksinasi

Pada akhir 2018, pemerintah Nigeria membeli 75.000 sachet Indomie, dengan harapan bahwa 75.000 sachet tersebut dapat digunakan sebagai bahan tawar untuk meminta warga melakukan vaksinasi.

Target awal pemerintah sedikit dibawah 60.000 anak (58.917 anak) mendapat vaksin polio, tetapi, hasil kampanye ini lebih sukses dari yang dibayangkan.

Kampanye yang awalnya hanya akan bertahan selama satu hari ini dan hanya ditujukan bagi anak-anak menjadi sangat populer. Orang dewasa pun meminta vaksin polio demi bisa makan Indomie secara gratis. Secara total, kampanye satu hari itu menjadi kampanye 5 hari. Target anak yang divaksin terpenuhi (hampir dua kali lipat dari target malah), dan ditambah juga dengan 150.000 warga dewasa menerima vaksinasi demi Indomie gratis.

The power of Indomie!

Kesimpulan.

Kita harus bangga menjadi warga Indonesia

Indomie yang (memang sih) tidak sehat itu membantu negara lain dengan menyediakan opsi karbohidrat yang enak dan murah. Bukan hanya disitu, indomie juga dapat dijadikan bahan tawar untuk membantu mencapai angka vaksinasi yang baik.

Terima kasih Indofood, dan Indomie!

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *