Jürgen Klopp: Menuju Bundesliga

Jürgen Klopp: Menuju Bundesliga

Artikel ini adalah artikel sambungan dari artikel tentang Klopp sebelumnya. Mohon baca laman tersebut di sini, sebelum membaca artikel ini.

Sebagai pelatih, Jürgen Klopp adalah orang yang akan berusaha sangat keras untuk menjaga hubungan baik dengan pemainnya. Itu adalah hal yang alamiah ketika kita ingin melatih tim yang isi pemainnya hanyalah sekumpulan orang yang namanya sulit untuk dikenali. Faktanya, bahkan pelatih yang memiliki masalah emosi separah Mourinho harus melakukan itu agar timnya memiliki semangat perlawanan yang besar.

Klopp melakukan hal yang sama. Seperti yang kutuliskan di artikel sebelumnya, ia merekrut pemain yang masih merupakan “papan kosong” yang berpotensi untuk ia latih, jadikan teman, dan dimanfaatkan sebagai pemain. Ia tidak ingin merekrut pemain dengan ego yang besar, karena itu dapat mendisrupsi semangat permainan utuh dari tim yang ia latih.

Salah satu tindakan khas yang ia lakukan pada pra-musim selama ia di divis dua adalah mengadakan 1 minggu latihan di mana setiap pemain harus berkemah. Tempat perkemahan yang Klopp pilih juga terletak di daerah di mana dia tumbuh, di sebuah tempat bernama Black Forest, dan bukan… itu bukan toko kue.

Perkemahan yang ia laksanakan di pra-musim itu bertujuan untuk mencontreng salah satu kotak terpenting dalam latihan pra-musim yang Klopp lakukan, yaitu interaksi antar pemain.

Bagi pemain sepakbola yang sedang tidak bermain (alias ketika jeda 3 bulan antara dua musim), mereka mengisi waktu mereka untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat, serta bermalas-malasan, latihan pra-musim bertujuan untuk membantu pemain-pemain kembali fit dan kembali mendapatkan kemampuan teknis yang sudah lama sejak mereka gunakan.

Klopp mengambil 1 minggu dari 1 bulan latihan pra-musim untuk mengatur ulang fisik pemain, menghilangkan kemanjaan dan kebiasaan pemain miliknya ke makanan yang gak sehat tapi enak itu, dan membangun ulang interaksi antar pemain.

Klopp sudah resmi mendapat pekerjaan sebagai pelatih Mainz 05 secara full-time, dan bukan hanya sebagai pelatih pengurus seperti yang ia lakukan pada musim sebelumnya. Ia akan mengambil target realistis yang perlu dilakukan oleh semua tim di divisi dua, terutama mengingat tidak ada perbedaan uang begitu banyak antara semua tim. Ia harus mencapai promosi. Untuk itu, ia perlu membuat sebuah festival cukup besar.

Supporter dan Harapan.

Pertandingan pertama yang ia latih sebagai pelatih full-time berakhir dengan skor 1-0. Pada akhir pertandingan tersebut, stadion kota jelek dan biasanya hanya terisi setengah itu, terisi penuh, bahkan kepenuhan. Petasan merah, warna dari Mainz dinyalakan di seluruh kota (karena pada tahun 2002, petasan masih legal di Jerman) ia mendapatkan jawaban terpenting sepanjang karirnya sebagai pelatih. Sebuah klub bola membutuhkan pendukung. Pendukung yang cukup banyak untuk bisa bertahan.

Sudah diketahui bahwa Klopp sering mengadakan acara di balai kota untuk mendapatkan dan meningkatkan penjualan tiket. Tetapi Klopp tidak bisa berhenti di situ. Ia tidak puas dengan mendapatkan fans sepakbola fanatik dari kota Mainz. Ia ingin seluruh penduduk di kota tersebut menjadi fans sepakbola.

Ketika acara di balai kota sudah cukup untuk menarik pendukung fanatik untuk menonton kembali pertandingan sepakbola, mau seberapa buruk tim miliknya bermain, ia perlu metode lain untuk mengajak orang yang tidak begitu menyukai sepakbola untuk menonton. Setidaknya untuk menonton di TV jika tiket di stadion  sudah habis. Juga perlu diingat bahwa stadion baru sedang di bangun, dengan kapasitas 30.000, dua kali lipat lebih banyak dari stadion mungil yang hampir terbengkalai yang timnya gunakan. Setidaknya kapasitas stadion baru tersebut perlu dipenuhi. Itu hal terkecil yang Klopp bisa lakukan untuk membayarkan uang yang diberikan sponsor dan pemerintah kota untuk membangunnya.

Sebelum lanjut ke tindakan berikutnya, Klopp memulai Bundesliga 2 dengan 7 kali menang dan 2 kali seri sebelum akhirnya kalah. Taktik yang ia gunakan adalah Gegenpress yang masih sangat kasar.

Menurutku, tindakan berikutnya yang Klopp lakukan terdengar sedikit seperti… umm… Bandar narkoba. No offense.

Untuk sebuah pertandingan derby kandang yang dimainkan di distrik Rhine, Klopp menyiapkan 5000 tiket gratis! Asalkan anda belum pernah menonton sepakbola di stadion sebelumnya. Ia membagikan tiket ini di acara balai kota bulanannya, dan ia meminta orang-orang untuk berkomitmen datang ketika sudah mendapatkan tiket.

Ini mungkin hal yang aneh, namun bagi Klopp ini tampak sebagai tindakan yang bijak.

Khusus untuk pertandingan derby yang ia bagikan tiketnya dengan gratis, Klopp menyiapkan sebuah strategi khusus untuk membuat pertandingan tersebut menjadi sebuah pertandingan yang pantas ditonton dengan ketegangan luar biasa. Pertandingan dengan Gegenpress sendiri bisa memberikan thrill yang unik.

Tiap kali ada pemain yang berlari untuk merebut bola, para penonton berharap bahwa bola bisa dimenangkan dan hanya dengan 1-2 operan lagi, sebuah gol bisa tercipta. Tiap kali pemain lawan ingin bernafas dan meminta semua pemain bertahannya bertukar operan sampai ada ruang tercipta, ada satu dua orang melemparkan tubuhnya untuk mengambil bola dan lawan tidak bisa bernafas. Tidak ada momen untuk bernafas jika anda melawan Mainz yang dilatih Klopp. Sedikit ruang yang mereka berikan harus dimanfaatkan dengan optimal, atau skornya akan berubah.

Jika anda belum familier dengan Gegenpress, maka silahkan klik link ini. Terima kasih.

Tentunya, ia mendapatkan 5000 fans kasual, sekumpulan orang yang merasa bangga bahwa mereka bisa mendukung FSV Mainz. Dari semua fanatik dan fans kasual yang Klopp dapatkan, ia menciptakan sebuah pesta yang unik. Sebuah pesta yang belum pernah sebelumnya dilihat di Semua divisi sepakbola Jerman.

Klopp hanya perlu memberikan satu sentuhan terakhir untuk membawa pesta yang terjebak di Mainz ini, agar ia dapat menyebar ke seluruh pelosok Jerman.

Ia membeli sebuah bis untuk membawa supporter klub tersebut keliling kota untuk pawai kemenangan, dan juga mengantarkan para supporter untuk pertandingan tandang. Bahkan untuk klub selevel Mainz yang tidak memiliki uang begitu banyak, harga satu bis masih masuk akal dan bisa dibayar dengan anggaran.

Supporter yang senang, merchandise klub terjual, uang masuk. Bagi Klopp, kunci kehidupan sebuah klub berasal dari supporternya, dan bukan hanya karena uang yang mereka berikan ke klub.

Promosi? Atau Tidak?

Pada pertengahan titik musim Bundesliga, Mainz 05 berada di posisi pertama Bundesliga 2. Mereka berada di posisi aman jika ingin mengejar promosi, dengan selisih 7 poin dari tim yang berada di posisi keempat, dan tentu saja, mereka bisa bertanding untuk menjadi juara divisi dua, dengan perbedaan selisih gol dari tim yang berada di posisi kedua.

Sebelum anda lanjut membaca, aku perlu menjelaskan sedikit tentang konsep promosi di Jerman. Kedua tim yang berada di peringkat 17 dan 18 di Bundesliga akan turun ke Bundesliga 2 dan mendapat uang lebih sedikit. Kedua tim tersebut digantikan juara, serta runner up di Bundesliga 2. Sementara itu, tim di posisi 16 akan bertanding dalam dua laga, satu di kandang dan tandang, dengan tim di posisi ketiga Bundesliga 2, untuk menentukan siapa yang berhak bermain di Bundesliga. Pertandingan penentu degradasi dan promosi tersebut dapat berujung buruk karena pada dasarnya, performa sepanjang musim, dan masa depan klub tersebut bergantung pada dua pertandingan. Bermain aman bukan hal yang baik dilakukan di Bundesliga 2, karena tim perlu mengejar posisi pertama dan kedua jika ingin punya kesempatan mendapat gaji lebih banyak.

Pada istirahat musim di bulan Desember, sesuai dengan kalender sepakbola Jerman, Klopp dan pemainnya berpesta dengan harapan hasil ini dapat terus berlanjut. Perlu diingat bahwa Klopp punya kebiasaan berpesta dengan Dortmund dan Mainz pada istirahat bulan Desember ini, dan Klopp bisa mengubah hasil yang buruk menjadi hasil yang baik sesudah pesta di bulan Desember ini. Hasil yang baik juga bisa jadi lebih baik lagi tentunya…

Istirahat tersebut beres, dan Mainz langsung bertanding 18 mampu Klopp sikat dengan mudah, dan jika hasil-hasil pertandingan masih berlangsung seperti ini, ia bisa juara dari Bundesliga! Fans di Kota Mainz berteriak “Jürgen! Jürgen! Jürgen!” untuk memuji pelatih jenius dari Jerman ini. Pada titik ini, selain kemampuannya menciptakan taktik yang mematikan strategi counter-attack di Jerman, ia juga membuktikan bahwa dirinya adalah seorang investor bagi klub yang bijaksana, mampu meningkatkan sales tiket tanpa mengeluarkan banyak uang.

Para Supporter Mainz yang berbondong-bondong pergi menonton pertandingan di atas bis milik klub tersebut membuat para fans dari klub lawan menerima seandainya mereka dikalahkan. Mainz menjadi sejenis klub yang bukan hanya dicintai para netral. Mainz juga menjadi klub yang membuat fans klub lawan berpikir… “Ah, gapapa deh kalau kalahnya sama klub yang itu.”

Tapi, sayangnya. Nasib baik Klopp berakhir di sini.

Ia kalah 4 pertandingan berturut-turut. Mainz yang berada di posisi satu tadi, terjatuh ke posisi 5. Untungnya, selisih poin dari posisi pertandingan promosi di peringkat ke-3 dengan Mainz juga tidak begitu jauh. Hanya berbeda 3 poin.Ia juga berada di posisi 5 hanya karena perbedaan selisih gol dengan tim di posisi 4. Klopp perlu mencari ritmenya kembali. Ia berada di pertandingan ke 29 dari 34. 18 kemenangan, 5 kali seri, dan 6 kali kalah. 59 poin.

Ritme Mainz yang bergulir dari awal musim tampaknya akan berlanjut kembali meski ada 4 pertandingan buruk. Sesudah 4 kali kalah, ia memenangkan pertandingan berikutnya, dan naik ke peringkat 4. Ia butuh mengejar promosi ini…

Lalu… Datanglah kabar buruk. Pada pertandingan ke 31, sebuah media dari kota di mana Mainz akan bertanding menciptakan propaganda bagi warga dari kota tersebut. Aku sendiri tidak begitu mengerti alasannya, karena bagiku orang Jerman adalah orang yang kalem dan begitu kalkulatif, namun sepertinya, mereka bisa marah juga.

Bis supporter Mainz diserbu, begitu juga bis pemain. Para pemain di lapangan diserang begitu brutal oleh lawannya, dan pertandingan tersebut berakhir dengan skor, 1-3. Mainz kalah, dengan 2 pemain kunci terkena cedera. Klopp butuh kemenangan dan lawannya terselip dua kali untuk mendapatkan posisi playoff promosi.

Secara realistis… Itu sulit terjadi. Bahkan jika skuad miliknya lengkap, dan tanpa cedera krusial di gelandang serang serta sayap kiri, ia butuh sebuah keajaiban untuk mencapainya. Aku ingin di sini untuk memberi tahu bahwa Klopp mengejar promosi pertamanya dengan mantap dan mendapatkan skor 5-0 ketika saingan promosinya kalah 5-0 juga dan Klopp secara magis mampu mencapai promosi. Namun tidak.

Klopp gagal mencapai promosi dan harus puas berdiri di posisi keempat Bundesliga 2.

Ia harus menunggu tahun depan untuk bermain di divisi pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *