Ironisnya Lomba 17-an

Ironisnya Lomba 17-an

Artikel ini sangat dan sangat dan sangat mungkin membuat beberapa orang merasa kecewa pada opiniku, serta juga kesal. Tetapi, sekali lagi, blog ini cukup segmented, dan untungnya! Pembaca setia blog ini mungkin merasakan hal yang sama.

Read with caution. (Baca dengan saksama, dan berhati-hati)

17 Agustus Tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita. Hari Merdeka! Nusa dan Bangsa! Hari lahirnya bangsa Indonesia… Mer-De-Ka! Sekali Merdeka tetap Merdeka! Selama Hayat masih dikandung Badan! Kita tetap, Setia! Tetap, Sedia! Mempertahankan Indonesia! Kita tetap, setia! Tetap, Sedia! Membela negara kita!

17 Agustus hanyalah satu dari banyaknya lagu pemberi semangat yang akan dikumandangkan pada esok pagi, hari kemerdekaan. Amat disayangkan bahwa akan ada banyak orang yang mengetahui sebagaimana mengecewakannya beberapa bangsa muda yang akan menjunjung dan “memajukan” bangsa Indonesia ini.

Lagu lain yang cocok dan bagus untuk dikumandangkan demi menyalakan bara api semangat adalah lagu berikut…

Bangun pemudi pemuda, Indonesia! Tangan bajumu singsingkan! Untuk Negara! Masa yang akan datang, kewajibanmulah. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa! Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.

Sayangnya, meski aku bukan motivator, aku mengetahui bahwa bagaimanapun juga, ada banyak hal yang kurasa sedikit tidak tepat dan tidak patut untuk dilakukan oleh generasi millennial ini.

Ini mungkin kali ke 14.650.505 aku menuliskan dan/atau marah-marah tanpa alasan jelas mengenai para generasi Z. IYA! Generasiku sendiri, tapi tetap, generasi Z!

Tetapi, untungnya, kali ini, aku memiliki alasan yang sedikit lebih jelas, jauh lebih jelas bahkan… Untuk marah-marah.

(Ketahui bahwa aku mengetahui ini terkesan agresif dan cukup mengesalkan. Mohon maaf jika tersinggung)

Lomba Agustusan

Pada 17 Agustus tentunya, ada banyak lomba dilaksanakan.

Diantaranya mungkin ada untuk “Membangkitkan semangat pemuda”, “Memberikan hasrat untuk berkompetisi”, “Melatih kerjasama!” dan “Menumbuhkan cinta pada negara”. Bla, Bla, Bla.

Oke, iya, aku tahu itu alasan yang dikira sebagai benar, tetapi serius, untuk apa sih dilakukan lomba agustusan? Masalah membangkitkan semangat pemuda ini sama sekali tidak akan berpengaruh jika semangat perlombaan hanya akan dilaksanakan sekali dalam setahun. Keesokan hari apakah semangat dan hasrat untuk berlomba ini akan tetap ada? Kurasa tidak.

Aku sendiri akan lebih senang jika lomba agustusan dirubah menjadi suatu bentuk tur sejarah, atau apapun semacamnya. Namun, ya, kurasa itu hal yang buruk, dan tidak… Meriah. Ternyata, tradisi dan tujuan lomba Agustusan yang ikonis memang ada suatu pesan sponsor sejarah terselip didalamnya.

Sebenarnya, apa tujuan dan tradisi dari lomba pada tanggal 17 Agustus ini?

Secara filosofis dan secara tradisi, untungnya, lomba balap karung dan makan kerupuk punya semacam tradisi unik sendiri (keduanya mungkin yang paling ikonik).

Balap Karung sebagai simbolisasi baju ketika masyarakat Indonesia kesusahan, dan Makan Kerupuk sebagai simbolisasi makanan ketika masyarakat Indonesia kesusahan.

Oke, aku bisa mengapresiasi itu, sungguh, aku sangat suka fakta kecil terselip disana dan disini. Namun, yang benar-benar menyedihkan bagiku adalah ketika terkadang ada orang-orang yang tidak tahu.

Sayangnya lomba 17 Agustus ini cenderung membuat suatu hal yang mengecewakan dimana, dari tahun 50-an, Bangsa Indonesia melupakan fakta-fakta yang menjadi intisari serta jiwa lomba 17 Agustusan. Aku tidak akan mengeluh mengenai semangat yang terlupakan, aku bisa merasakan hal yang mirip pada itu, namun aku merasa buruk dan kecewa pada pesan-pesan penting yang terlupakan seperti ini.

(sekali lagi, aku merasa aneh ketika berkomentar pada hal sepele, tetapi, eh…)

Semangat bangsa ini pergi kemana sejujurnya.

Apa yang terjadi pada semangat yang kita miliki pada lomba Agustusan, dan mengapa semangat yang sama tidak bisa dituangkan pada hal yang lebih produktif…

(ehem, kata orang yang, EHEM! Semangat untuk mengoreksi orang lain)

Sekali lagi, kembali pada meme di atas.

Kembali ke Tepukan Jidad

Jadi begini. Gojek sekarang memilih satu Driver dan memberikan ceritanya pada aplikasi Gojek. Bisa cari, dan scroll, ada di bagian bawah.

Aku, sesudah penasaran pada cerita kali ini, memutuskan untuk melihat ceritanya.

Scroll, Scroll, dan Scroll… Ini yang kudapat pada bagian bawah, sangat lucu ya.

Mereka memutuskan untuk MENGELUH pada sebuah cerita yang seharusnya memberikan kesan inspiratif. Keluhannya pun tidak dipikirkan dengan benar, dan sangat, amat malas.

Ini adalah beberapa reaksi mentalku siang tadi.

  • Wow, orang-orang ini tidak cukup niat untuk melakukan email dan memberikan kritik dan sarannya langsung ke orang-orang yang memang dilatih untuk  mengurus alasan seperti ini.
  • Orang-orang ini kurang ajar ya… Masa sok tahu banget tentang Gojek sih.
  • Haduh, kenapa orang Indonesia malas dan terkadang (maaf) bodoh sekali sih?
    • Gojek sudah ada sejak 2010, dan bukan menggunakan Aplikasi, hanya layanan telpon dan SMS saja.
    • Gofood, dari zaman pertama keluar, memberikan tagihan 20% pada aplikasi sebagai layanan penyediaan aplikasi, serta kenyamanan yang ditagihkan pada orang yang memesan.
    • Rute? Minta pakai Google Maps kah? Aku juga kadang suka menemukan driver yang pemilihan rutenya kurang baik sih, tapi, ya, aku tidak akan pernah menyalahkan orang untuk itu. Aku selalu bisa memberikan opsi rute yang lebih baik, alih-alih memberikan bintang 1 dan mengeluh.
  • Wah, ironis ya! Aku membaca ini 1 hari sebelum hari dimana bangsa Indonesia harus amat-amat semangat dan seharusnya amat bahagia juga!

Ketidaksengajaan

Untungnya, ada hal baik terjadi padaku hari ini.

Pulang dari evaluasi dan juga menerima aplikan SMKAA (ceritanya panjang, hehehe) aku mendapat driver yang merupakan anggota aktif pada tahun 2017/2018. Ia merupakan Admin pada zaman eksekutif sebelumnya, dan yang menjadi koordinator serta sekretaris pada tahun lalu.

Selama perjalanan, ia bercerita tentang SMKAA pada saat dia menjadi Admin dan Sekretaris, juga bercerita tentang beberapa perubahan yang aku alami, dan mengapa perubahan itu terjadi.

Secara keseluruhan, itu bisa menjadi artikel sendiri.

Tetapi, aku merasa sangat senang menemukan seseorang yang sempat (dan masih) bersemangat untuk berkontribusi pada masyarakat, alih-alih menjadi seseorang yang kurang ajar, dan hanya bisa mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

Bukan hanya bangsa kita tidak semangat, bangsa kita, terutama generasi muda, kurang memiliki individualitas. Mereka mengikuti angin keras (biasanya selebgram atau artis apa lah) yang meniupkan diri mereka. Diri mereka hanya berdiri sekeras kertas, berlawanan dengan inti pancasila ketiga, yaitu Pohon Beringin, pohon dengan akar amat kuat.

Kesimpulan

Terima kasih pada dikakipelangi.com dan kedua orangtuaku yang memberikan wadah untuk mengeluh dan/atau berkomentar pada hal-hal yang menurutku kurang pas.

Aku rasa, lomba 17 Agustus itu suatu tradisi yang bagus, dan meriah (aku tidak menyukainya, tetapi tujuannya bagus). Namun, sayangnya, seiring bergulirnya generasi dan tahun demi tahun berlalu, orang-orang makin lupa, dan makin lupa pada intisari tradisi itu.

Ini yang kurasa mengecewakan.

Semoga tidak ada yang tersinggung, kecewa, atau kesal pada artikelku.

Sampai esok hari!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *