Interconnectedness: Different Perspectives

Interconnectedness: Different Perspectives

3 lagi… (Posts to make to pay my debt, during last week’s camp)

Ya, sebenernya kuliah Jumat kemarin lebih pendek dari biasanya, jadi artikel ini juga ga bakalan terlalu panjang. Jadi, sesudah entah berapa artikel menyebut interconnectedness… Akhirnya ada kuliah yang memberikan beberapa perspektif berbeda. Karena sepertinya 1 perspektif tidak cukup memusingkan.

So, here we are!

The 5 Perspectives

Jadi ada 5 perspektif berbeda, in a sense, mereka melengkapi satu sama lain, but… yeah juga ada yang kontradiktif sih, jadi… begitulah (FYI, aku akan bilang begini kalau aku sudah speechless). Oh, dan bukan karena dia memusingkan jadi ga menarik. Justru menariknya gara-gara buat pusing.

Historically speaking, ada yang thinking disini terkesan less scientific, jadi di bagian ini aku juga mau jelasin biasanya filsuf era apa yang masih mikirin perspektif ini.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.
  • Vitalistic: Life Force… Daya/Energi/Kekuatan apa yang menggerakkan semesta ini?
    • Seperti adanya listrik di sebuah elektronik, atau koneksi internet di HP dan Gadget… Para vitalists percaya bahwa karena adanya universal Wi-Fi ini pikiran dapat mudah berhubung dengan satu sama lain. (Yes, in a nutshell, the vitalists believe that interconnectedness is practically a universal wi-fi, not a joke)
      • Perspektif ini lebih modern, karena sudah ditemukannya quantum physics, dan banyak medan-medan lain, seperti morphic resonance untuk menggerakkan suatu benda.
  • System Theory: Connections… Dengan pola seperti apa alam semesta ini dapat bekerja? Hubungan apa yang terbuat dalam sistem ini?
    • Mirip dengan Holon di Holarchy, System Theory percaya bahwa kita semua adalah sebuah… tiny cog inside the complicated engine of this realm. Semua gerigi akan berputar dan bekerja menyelesaikan tugasnya, sambil terhubung dan memutar gerigi lain. (Lengkapnya di artikel yang ada linknya di kata Holarchy itu yaaa)
      • Perspektif ini… sudah ada sejak zamannya Pythagoras, yang percaya bahwa setiap angka punya peran berbeda pada setiap sistem. Luckily, technology supports this theory far more than the materialists… dan sampai sekarang, teori ini masih sering dibahas.
  • Evolusionists: Process… Bagaimanakah semesta berkembang? Sejauh apa semesta ini telah berubah?
    • Para evolusionis percaya bahwa universal mind ini tercipta sesudah evolusi, dan sampai akhirnya kita terhubung satu sama lain, sesudah tiap spesies berevolusi. Bahkan proses evolusi in the first place ini tercipta karena some sort of random number generation oleh Universal Mind. Universal Mind ini pun menentukan siapa yang lebih kuat melewati seleksi alam. Kalau dilihat dari perspektif dark-nya, seleksi alam ini sebuah turnamen dan kita merupakan kompetitor yang ingin selalu bertahan hidup.
      • Perpsektif ini sudah ada sejak… Darwin. It’s rather modernistic. Course, ini terbilang modern karena root dasarnya adalah biologi dan evolusi yang dibuat Darwin.
  • Mystic: Consciousness… Apa perannya kesadaran dalam Interconnectedness?
    • Oh dear… Ini topik sensitif. It really is. Perspektif mistik ini bisa terbilang tercipta dari orang yang mendapatkan ilham/revelasi (or claims to have gotten a revelation, sayangnya meski ini ga scientific, itu salah untuk blindly percaya claim orang-orang), dan perspektif ini sangat relatif ke agama dan penerima-nya. Tetapi hampir semuanya kembali ke fakta bahwa consciousness manusia terpisah-pisah, padahal nyatanya hanyalah satu.
      • Perspektif ini sudah ada sejak agama monotheistic pertama muncul. Teori ini juga ada di culture Hindu, yang memiliki dewa yang tidak manusiawi (unlike European Gods). Sampai sekarang pun karena pentingnya agama di dunia ini, teori ini masih seringkali terpakai.

So after getting the perspectives out of the way, aku mau bahas masing-masing perspektif… di artikel lain… sorry, hari ini sepertinya aku sedikit… slow, dan karena aku emang rada ngutang beberapa tulisan… jadinya ini kupecah dua deh…

Well I really do hope you could understand 😀

The new article would be released later tonight 🙂 (And I’d link it if it was done)

In Conclusion

TO BE CONTINUED . . . .  🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *