Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Pada serial ini, aku ingin mengupas ciptaan dan kreasi manusia dari yang paling mendasar hingga yang paling kompleks. Manusia telah berusaha membuat hidup mereka lebih mudah dinikmati, serta lebih nyaman untuk dilakukan sejak manusia lahir sebagai spesies. Namun, seiring perjalanan ini dilewati, kita telah berubah menjadi spesies lain, hanya karena apa yang telah kita ciptakan.

Ah Manusia…

Pada satu sisi, kita sangat sangat pintar. Kita menciptakan banyak hal untuk melakukan hal-hal yang kita tidak ingin lakukan, tapi pada sisi lain, kita cukup bodoh untuk membiarkan ciptaan kita mengatur gaya hidup kita sendiri.

Jadi, apakah manusia itu makhluk yang pintar? Ataukah manusia itu makhluk hidup yang justru, bodoh?

Inspirasi:

  • Sapiens (lagi) ditulis oleh Yuval Noah Harari
  • Essential Sh*t. Bollocks, why didn’t I think of that? ditulis oleh Anthony Rubino Jr.
  • Meditations, ditulis oleh Marcus Aurelius
    • Kaisar Roma terakhir yang waras dan tidak punya ambisi untuk membunuh dan/atau memperbudak manusia, menaklukkan dan/atau menguasai dunia.
  • Sedikit pembicaraan di Museum Geologi, dan juga Museum Konferensi Asia Afrika.
    • Geologi mengenai senjata dan evolusi manusia
    • MKAA mengenai perubahan dan sifat rakus manusia.

Footnote: Siapapun yang mendidik Commodus sesudah meninggalnya Marcus Aurelius merusak seluruh era bijak para keturunan Nerva-Antonine. Dari situ semua Roman Emperor segila (atau mungkin lebih gila dari) Hitler.

Hangatnya Kenyamanan

Nomor satu…

Ingatkan aku, pernahkah anda ke museum, situs arkeolog, gua purba, atau apapun yang berbau geologi/arkeologi, dan menemukan manusia purba? Nenek moyang kita?

Ingin tahu penyebab kematian nenek moyang kita yang paling sering, dan juga paling ditakuti. Ditusuk oleh Babi Hutan misalnya? Keinjak Mammoth? Terbunuh suku lain? Oh tidak.

Kita bicara era jauh sebelum era berburu. Dulu ketika kita masih nomaden dan herbivora.

Kita bicara sebuah waktu sebelum manusia takut mati kelaparan. Ketika masih cukup banyak pohon berbuah untuk makan di sebuah daerah selama lebih dari 1 bulan.

Sebelum kita berburu, kita paling takut oleh dingin.

Sebagai makhluk yang amat kreatif dan pintar, kita melakukan suatu hal lain untuk menghindari kedinginan. Terciptalah “ciptaan” pertama kita. Api.

Sejujurnya, jatuhnya api ke tangan manusia purba masih cukup jauh dari pemahaman antropolog, atau arkeolog yang sudah handal. Tetapi, layaknya teori pembuatan piramida, tiap orang memiliki teori masing-masing, dan teori itu sama-sama masuk akalnya.

Ada yang menyatakan bahwa kita menemukan api ketika sedang hujan deras, dan ada petir yang menyalakan sebuah pohon. Ketika kita mendekat, kita merasakan kehangatan dan kelembutan dari api itu. Tiap langkah yang kita ambil membuat kita lebih tertarik, dan tertarik atas kehangatan pada dinginnya hujan ini. Ketika kita biasa bersembunyi di dalam gua. Akhirnya kita mau untuk keluar ketika hujan, dengan api sebagai pelindung.

Ada juga yang berteori bahwa kita menemukan api karena ketidaksengajaan menggesek dan menggosok dua buah batu sampai ada percikan yang menyalakan api. Percikan itu jadi sumber kehidupan, dan kehangatan para manusia. Hore! Kita telah menciptakan sesuatu.

Ada juga yang percaya bahwa kita menemukan api sehabis gemuruh petir yang membakar dan menyalakan sebuah pohon, lalu kita mengambil sebilah tongkat kayu, dan membawa sumber hangat dan panas itu kemana-mana. Sampai api tersebut akhirnya mati, dan kita mencari percikan kehidupan sekali lagi.

Ya, bagaimanapun juga, ketika kita lihat manusia prasejarah menciptakan api, kita perlu melihat alasan mereka menciptakan api.

Kenapa mereka menciptakan api? Karena tentunya, mereka merasa lebih nyaman. Jauh lebih nyaman kebanding harus berjalan telanjang sambil menggigil karena dingin, atau berbaring di tenggorokan sebuah gua, hanya ditemani kehangatan tanah, yang lembab, dan terasa begitu dingin.

Api telah menjadi sebuah kebutuhan, karena manusia selalu ingin apa yang paling nyaman untuk mereka. Seiring jalannya waktu, leluhur kita sudah tak kuat lagi berjalan telanjang. Kita mulai berburu karena ternyata kita lebih kenyang sebagai karnivora (dan para pencinta daging pasti akan membela habis-habisan pentingnya kita sebagai karnivora untuk evolusi) dan kita memanfaatkan baju tebal sebagai suplemen dari kehangatannya api.

Ini hanya mengupas apa yang terjadi di daerah tropis. Ketika manusia bermigrasi ke daerah yang bersalju, kita sudah mulai berburu, dan kita menggunakan baju yang tebal. (para arkeolog dan antropolog begitu penasaran mengapa para Neanderthal bisa bertahan dengan baju yang lebih sedikit dari Sapiens dalam cuaca yang lebih dingin)

Apa yang api ciptakan?

Sederhana. Karena hangatnya api ini begitu enak. Kita jadi menciptakan banyak hal lain untuk memperkuat rasa hangat tersebut. Kita menciptakan senjata karena daging yang berminyak dan lemak tersebut membuat diri kita merasa lebih hangat, baik karena persediaan lemak yang bertambah di tubuh kita dan juga karena struktur nutrisi milik daging.

Kita memanfaatkan kulit hewan buruan kita sebagai baju, karena kita tidak pernah puas. Kita selalu menginginkan apa yang lebih nyaman, dan kehangatan = nyaman. 2 tambah 2 jadi 4, sehingga, BAM! Tercipta lagi baju tebal.

Kalau nenek moyang kita tidak menemukan atau memanfaatkan api puluhan ribu tahun yang lalu… Kita mungkin akan berjalan dalam kondisi telanjang kemanapun kita pergi.

Ini mungkin hal yang normal beberapa puluh ribu tahun yang lalu, namun sekarang, ini telah menjadi suatu taboo.

Kebutuhan Api?

Kita membutuhkan api, bahkan puluh ribuan tahun dari kita mulai tahu cara memanfaatkannya. Beberapa antropolog die hard bahkan menyatakan bahwa kita sudah diperbudak oleh api, kita mencari cara untuk memastikan bahwa api selalu ada, karena tanpanya kita bisa merasa kedinginan, makanan tidak bisa dimasak dengan benar, dan kita takkan bisa mandi dengan air panas.

Sudah ada puluhan cara menciptakan api, semakin lama api yang diciptakan lebih panas, lebih membara, dan semakin lama, semakin sedikit bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan api. Pada dasarnya, kita tetap menciptakan hal yang sama, kita tidak menciptakan api jenis B, api jenis C, mau apapun warnanya, seberapa besar atau seberapa panas zatnya, bara api yang digunakan para Homo erectus dan manusia modern tetap sama.

Tetapi, meski kita telah mau diperbudak oleh api, dengan menciptakannya terus menerus, kita tetap membutuhkannya. Lagipula, siapa yang tidak mau hidup nyaman dan hangat?

Tajamnya Kekejaman

Manusia selalu berusaha melakukan apapun yang mereka bisa lakukan sebagai spesies untuk mendapatkan apa yang mereka nilai sebagai paling nyaman. Menahan diri sepertinya tidak mungkin sekarang.

Seiring mereka berusaha untuk membuat suatu hal lebih nyaman dan mudah untuk mereka, seiring mereka melakukan sesuatu untuk mempermudah apa yang mereka lakukan.

Oleh karena itu… Terciptalah senjata.

Senjata pertama-tama digunakan sebagai alat untuk berburu. Dengan bentuk dasar, sebuah tombak. Senjata paling efisien, paling kuat, dan paling mudah digunakan untuk membunuh.

Pada bentuk mentahnya, senjata tombak ini hanyalah sebuah batang kayu yang diperhalus menggunakan batu, lalu ditempelkan ke batu lain, yang dibentuk dengan khusus, sehingga memiliki mata tombak yang panjang.

Tombak ini cukup versatil dan bisa digunakan untuk menusuk dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri, untuk dilempar, untuk memukul, dan tentunya, untuk membunuh.

Kata terakhir itu perlu diberikan sebuah catatan dengan sound effect “ding-ding-ding”.

Dari memburu dan membunuh hewan karena kita ingin merasa nyaman dengan perut penuh, dan lidah yang puas menyentuh daging matang (meski tidak dibumbui sama sekali), kita juga merasa bahwa jika ada manusia lain berusaha menyentuh hewan calon buruan kita… Kita akan mneyerang.

Senjata yang tadi kita manfaatkan untuk berburu, dialihfungsikan.

Kita juga membunuh, dan berperang, demi mendapatkan sumber daya paling kaya dan paling nikmat. Mungkin peperangan pertama bermula dari seorang manusia yang berburu lembu dan tiba-tiba mereka bertemu dengan kelompok manusia lain, yang juga berburu lembu.

Karena ia bukan makhluk rasional, dan amat serakah, ia merasa bahwa akan lebih baik makan dua lembu dengan perjuangan yang berat, daripada bekerja sama dan membunuh dua lembu, lalu membagi hasil.

Dari situ, terjadilah konflik sederhana atas sumber daya. When has that stopped?

 

Apa yang telah diciptakan senjata?

Sebuah tombak sederhana yang bisa digunakan dari dekat dan juga dari jauh telah sukses mencoreng nama baik manusia. Namun, tombak juga telah berubah bentuk ratus ribuan kali, sampai ia menjadi senjata yang paling ampuh bagi para infantri.

Sekarang, infantri cenderung menggunakan senjata api, yang terkadang digunakan di jarak dekat juga (meski hanya untuk sekedar, membuat orang pingsan), desain multifungsi dan bisa digunakan dari jarak jauh dan dekat ini masih tercermin sampai sekarang.

Senjata manusia purba telah memberi sedikit inspirasi desain senjata modern, apalagi pada era kerajaan, dimana senjata masih menggunakan pedang dan perisai.

Tetapi, ketika kita berbicara mengenai senjata… Ciptaan terkuatnya tentunya adalah rasa iri, serta rasa rakus. Dari kedua emosi dasar yang berasal dari simpanse tersebut… Muncullah perang.

Kebutuhan Senjata?

Senjata tentunya telah menjadi kebutuhan… Kita membutuhkan senjata untuk berperang, karena…

Sejujurnya alasan manusia berperang sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku. Kurasa senjata hanyalah cermin dari keserakahan manusia, tapi ya, siapa yang sebenarnya peduli? :'(

Kita takkan berperang kecuali kita mampu mendapatkan sesuatu dari perang tersebut. Hanya saja, banyak orang melewatkan apa yang mereka mungkin dapatkan jika sumber daya tersebut dimanfaatkan dari sudut lain.

Memang, kita takkan pernah bisa lepas dari berebut, dari konflik, dari keserakahan, dan juga dari kebutuhan senjata. Senjata ada sebagai alat untuk mengambil, dan memastikan apa yang kita punya tidak diambil. Ia sebuah simbol keamanan, serta simbol peperangan.

Kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin merasa aman, kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin berperang. Manusia terjebak dalam sebuah zona dimana kita terpaksa untuk memiliki senjata, karena tanpanya, takkan ada jaminan bahwa kita akan memiliki suatu bentuk keamanan. Pada sisi lain, kita hanya butuh senjata karena sudah ada yang memiliki senjata, yang mengancam keamanan dan kesejahteraan milik kita.

Siapapun yang memercik api konflik duluan telah membawa kita ke siklus tanpa henti ini.

BERSAMBUNG!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *