How Dumb Is Social Media?

How Dumb Is Social Media?

Eesh, aku harus mengakui aku sedikit menyesal mencari kata Egg di Google hari ini. Aku mendapat hasil yang aneh  bin ajaib ketika baru 46 menit yang lalu, Fox News menulis artikel mengenai most-liked post di Instagram.

Sebuah telur. Like, what?

(jika anda pembaca setia, semoga anda belum bosan mendengar celotehanku tentang sosmed. Ini subjek ultra sensitif bagiku)

Sejujurnya ini sedikit membingungkan ketika banyak wartawan dan penulis yang fokus menulis mengenai tren di Sosial Media. Belum lama, ketika aku mengoogle Cristiano Ronaldo hasil yang keluar bukan hal-hal mengerikan (atau, menakjubkan, tergantung cara kau melihatnya) yang ia lakukan bersama Juventus untuk merusak Serie A yang dulunya kompetitif, tapi fakta bahwa ia telah menyalip Selena Gomez sebagai orang dengan akun paling banyak pengikut followers di Instagram. Which is weird.

Maksudku, sekarang sudah ada blog, dan beberapa wartawan dari perusahaan media besar yang menjadi spesialis pencari tren di Instagram dan menuliskan artikel mengenai tren tersebut. Ini mulai terasa redundan ketika ada sekelompok orang yang bertugas mencari, menjabarkan dan menuliskan hal-hal yang orang-orang pada umumnya lakukan untuk mengisi waktu ketika menggunakan sosial media.

Ehem, sebenarnya ini mulai off-topic.

Aku menulis artikel ini untuk mempertanyakan alasan sosial media digunakan, dan juga, mengapa menurutku sosial media adalah hal yang bodoh, dan bodoh disini bukan hanya bodoh karena cara penggunaannya, beberapa penggunanya, tetapi juga cara sosial media merubah pemikiran dan hal-hal yang dilakukan orang-orang.

This is a long intro. Mulai saja deh!

Kenapa Aku Melakukan ini?

Baiklah, jadi, ada sebuah akun Instagram dengan nama World Record Egg, dan siapapun yang membuat akun itu sangat-sangat jenius!

Mungkin ia tidak suka Kylie Jenner, jadi ia memutuskan untuk membuat foto sederhana, foto sebuah TELUR! dan menuliskan caption agar orang-orang memberikan “Like” demi menggeser posisi Kylie Jenner dari rekor yang ia pegang sebelumnya.

Post tersebut telah mencapai lebih dari 20 juta likes, tetapi, kalau dipikir-pikir lagi… “Apa tujuan saya melakukan ini?”

Aku menemukan 3 alasan, tetapi, aku hanya melihat alasan yang bermakna di salah satunya…

  1. Kylie Jenner, UGH! Dia tidak pantas mendapat posisi nomor 1 untuk apa-apa. Aku merasa sebuah telur lebih pantas memegang posisi nomor 1 untuk post paling banyak di like.
  2. Ah well, semua teman-temanku melakukan ini, kenapa tidak?
  3. Hmm, ide bagus, caption bagus. Pencet like.

By the way. Aku hanya menyetujui alasan nomor 1, karena jika aku pengguna sosmed dan dapat “berpartisipasi” untuk menggulingkan rekor Kylie Jenner, kayanya aku akan melakukan hal yang sama.

Hal yang kosong seperti ini membuatku mempertanyakan kepentingan dari aspek like ini. Menurutku itu aspek kedua paling bodoh dari sosial media, karena tidak adanya batas penggunaan, orang-orang bebas melakukannya kapanpun mereka ingin, dan melepaskan kontrol dari diri mereka sendiri.

The Economy of Likes

Oke, mari kita anggap Like sebagai uang.

Anda seorang investor saham skala besar. Anda harus siap bekerja 24 jam jika ada gejolak ekonomi, dan kalau ada gejolak, anda bekerja dalam sebuah lingkungan kerja yang tinggi stress, dan penuh resiko.

Pada umumnya, anda menghasilkan 100 milyar Rupiah tiap bulannya. Untuk apa aku punya uang sebanyak itu? Hmm. Bagaimanapun juga, seberapa besar uang yang anda punya, uang itu bisa habis. Pada suatu titik, anda menyadari anda telah membeli mobil dan menghabiskan tiga perempat penghasilan anda pada bulan itu. Oh tidak. 1/4-nya lagi habis untuk kebutuhan pada umumnya. Seberapa besar uang anda, uang anda dapat habis.

Tentunya, stress, tekanan, modal, dan jam kerja seperti itu membutuhkan skill dan effort yang tinggi. Skill dan effort itu memberikan anda gaji yang sesuai dengan kemampuan dan usaha anda.

Anda seorang sales mobil merek asal Jepang. Anda bekerja 8 jam tiap harinya, dan bekerja dalam ruang kerja yang santai dan tidak banyak stress.

Pekerjaan anda biasanya menghasilkan 10 juta rupiah tiap bulannya, sekali lagi, jumlah uang itu dapat (dan akan) habis. Entah, mungkin anda terlalu banyak membeli baju mahal, atau anda terlalu banyak makan all you can eat seharga 200 ribu. Bagaimanapun juga, anda dapat menghabiskan uang milik anda, baik itu sejumlah 100 milyar, atau 10 juta, atau 100 ribu.

Gaji tersebut pantas untuk seorang sales mobil tentunya. Menjadi sales adalah sebuah pekerjaan medium skill, dan pantas jika penghasilannya juga medium.

Nah, Likes tidak seperti itu, namun diperebutkan oleh orang-orang seperti itu uang.

Kita dapat memberikan berapapun likes yang kita inginkan. Kita dapat memberikan 10 likes tiap harinya, kita dapat memberikan 1000 likes, kita dapat memberikan 100.000 (oke, ini ekstrim, namun nyatanya kita bisa melakukan itu tanpa melanggar sistem apapun) . Jika aku tidak salah, kita juga bisa memberikan like ke diri kita sendiri.

Tetapi, orang-orang memperebutkan Likes (yang fiktif) seperti “bekerja”

Let’s say, aku ingin mendapatkan 100 like dalam satu post hari ini. Untuk melakukan itu, aku perlu memposting foto selfie di kafe yang sepiringnya 300 ribu, dan segelas minumnya 75 ribu. Aku akan mengeluarkan uang sebanyak itu karena aku merasa seolah-olah aku membutuhkan 100 likes.

Supply and Demand

Hukum ekonomi paling mendasar adalah supply and demand, dan jika kita ingin melihat sosmed sebagai sebuah dunia ekonomi, kita harus liat 2 sumber daya utama mereka. Nomor 1, followers, nomor 2, baru likes.

Semakin banyak suplai, nilai benda akan turun, semakin banyak permintaan, nilai barang akan naik.

Masalahnya, jumlah likes yang bisa diberikan sistem ke kita memang tidak terbatas. Pada sisi lain, jumlah followers yang bisa diberikan sistem (bukan lingkaran sosial atau orang yang kita kenal, atau yang punya teman-teman sama dengan seorang pengguna) untuk kita, mendekati tidak terbatas.

(Oh iya, aku baru ingat, sekarang ada bisnis untuk membeli followers dan likes ya. Huh, ini terkesan makin bodoh.)

Sekali lagi, mau seberapa banyakpun ada Kayu, jika kita hanya mengonsumsi, jumlahnya dapat habis. Itu alasan pohon yang ditebang di tanam lagi, sehingga jumlah pohon yang ada tidak bergerak ke bawah saja, dan jumlahnya juga bisa naik.

Sosial media, terutama Instagram, pada sisi lain, hanya akan bergerak ke atas. Semakin banyak pengguna HP, berarti semakin banyak pengguna internet, semakin banyak pengguna internet, berarti semakin banyak pengguna sosmed. Dan sayangnya, belum ada sedikitpun penurunan pengguna sosial media yang signifikan.

Mengingat bahwa sistem sosial media ini tidak punya batas, dan jumlah suplai likes dan followers yang bisa anda klaim hanya akan bertambah, dan tidak bisa berkurang… Seluruh ekonomi yang mulai tumbuh di sosial media tidak akan pernah ada jika hanya berkutat di dunia fiktif tersebut.

Seriously, we’re getting dumber here.

Masalah berikutnya bagiku ada di fakta bahwa orang-orang sebenarnya tidak menggunakan sosial media karena mereka membutuhkannya, atau karena mereka punya alasan yang baik. Mereka TIDAK punya alasan yang baik, mereka hanya ikut-ikutan saja.

Tidak akan ada kampanye atau apapun yang bisa merubah ini, jika sesuatu dilakukan tanpa alasan, butuh cukup banyak alasan untuk merubah pemikiran itu.

Lebih banyak alasan…

Mari kita lemparkan alasan sebanyak-banyaknya!

Aku sejujurnya tidak ingin menulis rant mengenai sosial media lagi. Aku sendiri sudah tahu tidak mungkin ada orang yang berubah, dan aku juga tahu aku tidak akan pernah menggunakannya, setidaknya tidak dalam waktu dekat, dan aku hanya akan mungkin menjadi pengguna ketika aku memang membutuhkan akun sosial media (mungkin kalau aku jadi penulis, mempunyai akun resmi, akun twitter, atau fanpage facebook aku akan membutuhkannya), tetapi sekarang, tidak dulu.

Jadi, kecuali ada hal aneh bin ajaib lagi yang muncul dari internet, seperti World Record Egg tadi, aku akan mengeluarkan semua rant yang aku bisa pikirkan mengenai sosial media dan penggunanya sekarang juga.

  1. Penggunanya berisik, merusak arus jalan yang normal ketika sedang foto, dan mengganggu orang-orang yang sedang berusaha menikmati dunia nyata.
  2. Ada pengguna yang rela melakukan hal bodoh, dan juga uang demi mendapat likes.
  3. Pengguna sosmed jarang berinteraksi di dunia nyata, kecuali sedang membutuhkan foto bersama. Oh iya, mungkin mereka hanya mengobrol ketika sedang butuh foto.
  4. Pengguna sosmed sebagian besar tidak tahu diri ketika menggunakan sosial media. Mereka sering menceloteh hal-hal bodoh di bagian komen. Ini juga mungkin terbawa ke dunia nyata.
  5. Influencer. What’s that job again?
  6. Oh iya, ini menghilangkan rasa individualitas dan keunikan tiap manusia, sekarang mereka hanyalah arus data di dalam database milik instagram.
  7. Semua orang merasa berhak melakukan apapun di Internet. Sifat ini bisa terbawa ke dunia nyata.
  8. Banyak orang memamerkan hal yang tidak perlu.
  9. Orang membeli barang untuk memamerkan hal yang tidak perlu.
  10. Dan terakhir… Dunia sosial media itu tidak nyata.

Aku bisa berbicara sampai aku bosan, tapi kurasa ini cukup untuk sekarang. Aku akan menambahkan edit ketika aku kepikiran. Semua kecuali nomor terakhir, dan nomor 1-9 akan menjadi edit tambahan.

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *