Holarchy

Holarchy

Jadi, kemarin (lusa), di Unpar, tetap dalam series Filsafat, sebenarnya kita membahas tentang Principles of Universality. Topiknya dibawakan oleh Professor Fabianus dari Unpar sendiri.

Masih percaya pada hipotesis dan Point of View kemarin, dan masih percaya pada Universal Mind yang govern universe ini, as well as Interconnectedness (which unfortunately isn’t an official English word), topik yang dibahas ada dua, kurang lebih…

Yang satu membahas Ultimate Reality. Which sejujurnya bisa membawamu pusing migrain 100 puteran, aku juga belum yakin bisa nulis tentang itu, jadi, untuk sementara… kita postpone dulu. On the other hand, kita membahas Holarchy juga, yang alhamdulilah, jauhhh lebih simpel untuk ditulis, dan juga memang lebih mudah dimengerti.

Sebelum masuk ke artikelnya, aku mau bahas dulu kenapa Ultimate Reality ini memusingkan…

  • Sangat-sangat dependent pada perspektif dari semua jenis orang, no matter how complicated or simple the thought of the person is.
  • Sebaiknya bisa “menyatukan” perspektif yang beragam itu menjadi ONE ultimate reality, and one ultimate life goal. Sambil jelasin napa reality yang absolut itu cukup ada satu aja.
  • Harus bisa breakdown segala hal, dan keinginan orang-orang, dari yang paling simpel, sampai yang paling rese, dan masih bisa masuk dalam ultimate reality itu.
  • Memastikan dalam keperbebedaan teori dan desire orang-orang yang banyak sekali itu masih masuk dalam ultimate reality, tanpa ignore desire itu in the first place.

Jadi “sangat” simpel, dan kemarin lusa aku kayanya baru ngeh… “Kayanya aku belajar filsafat demi sengaja membuat diriku pusing”. Luckily I do like confusion. Untuk sekarang ayo lupakan kepusingan itu dan masuk ke artikelnya yuk!

What’s a Holarchy?

Holarchy sendiri sebuah sistem, yang composed of Holons… (further explanation below, tapi kalau aku cuma pake Holarchy doang bakalan lebih bingung dibawah, so here we are)

Definisi absolute-nya rada membingungkan. Tapi kayanya kalau pakai contoh bakalan kebayang deh. Coba bayangin dunia ini sebuah mesin yang extremely complicated. Manusia yang bekerja dalam si mesin ini, adalah roda gerigi yang terus berputar tiap detiknya, berkontribusi pada si mesin. Si gerigi ini juga merupakan bagian dari mesin yang lebih besar untuk diputar.

Part mesin yang lebih besar ini terus berputar, dan berkontribusi untuk mesin yang lebih besar and so on. Sampai parts mesin yang krusial ini menjadi parts besar for the entire world.

To constantly help with the definition, ini rewritten quote (ga persis kok)… “An atom is a part of a molecule, a molecule is a part of a cell, a cell is a part of an organism, and so on. There is no whole nor part, they are both a part and a whole at the same time. Also known as a Holon

Intinya, kita adalah atom, yang merupakan bagian dari molekul, dan bagian dari sel-sel, ataupun organisme. Kita bukan satu objek sendiri, atau satu kesatuan, kita dua-duanya, kita itu Holon.

Ini further support yang namanya Interconnectedness (who once again, isn’t a word in the WordPress dictionary… tapi ternyata WordPress juga bukan kata di Dictionary-nya WordPress, jadi who knows?), karena dia akan menjelaskan kenapa Universal Mind Theory ini terus berhubungan dengan terhubungnya suatu pikiran ke pikiran lainnya.

Nah, karena pada definisi layer kedua yang dibahas di artikel kemarin, memang membahas sebuah medium dan/atau system yang menyambungkan beberapa makhluk hidup. Kalau kita berperan sebagai Holon, alias sebuah single organism yang juga merupakan part di saat yang sama, emang masuk akal banget sih ada interconnectedness.

Relation to Interconnectedness

Meski udah kubahas dikit tadi, kalau mau dikupas lebih dalem, pasti lebih afdol dong.

Jadi, definisi absolut-nya Interconnectedness ini emang masih fleksibel sih, tapi aku paling suka sama definisi yang state seperti ini… “Interconnectedness refers to the manner that connects groups or singular objects in a system with one another to form a more complicated system.”

Di translasi ke Bahasa Indonesia… “Interconnectedness adalah suatu tingkah laku yang menyambungkan grup atau objek singular dalam sebuah sistem dengan satu sama lain untuk membuat grup atau sistem yang lebih kompleks”.

Jadi, sebenernya dari definisi aja udah kebayang banget ya… Sama lagi kita lihat dengan yang namanya singular objects dan groups, dan makin ke sini akan makin kompleks.

Sebenernya dari liat definisi juga ga bakal terlalu susah buat connect the dots antar interconnectedness dengan Holarchy. Tapi kalau masih bingung…

Holon adalah objek/grup yang terdiri dalam sebuah sistem.

Sedangkan Interconnectedness adalah koneksi yang menjalin dan menghubungkan objek singular dan grup-grup di sistem tersebut.

Voila! Ngerti kaaan? Holon adalah user di sebuah sosmed, dan internet yang menghubungkan para user Sosmed itu adalah Interconnectedness-nya!

To Be is To Be With

Hamlet bilang, To Be, or Not To Be? Descartes bilang I think, therefore I am. However in  this everlastingly running and complicated machine, Heidegger bilang, To Be is To Be With.

Jadi Hamlet, kalau kamu mau jadi seseorang, pastikan kamu sama orang lain (CIEEEEE. . . . . Okay, bad joke, sorry, speaking of Hamlet, I should watch the play I guess…)

Heidegger ini juga philosopher yang percaya dalam Holarchy. Beliau bilang bahwa kalau kamu bukan bagian dari apa-apa, maka kamu bukan apa-apa. Extreme kedengerannya ya. Mungkin sih Heidegger emang ekstrim dalam jelasin Heideggerian ini, tapi… Sebenernya dia ga salah juga sih.

Holarchy percaya bahwa kita adalah bagian dari sesuatu, sekaligus individu juga, tapi kalau kita hanya commit ke diri kita sendiri, kita ga ada kontribusi ke dunia ini, jadi, Heidegger ga salah dengan bilang bahwa kalau kita bukan bagian dari apa-apa, kita bukan apa-apa.

Untuk menaikkan keseriusan dia pada subjek ini, being there is always being with. Bingung? Sama, aku juga baca ulang modul berkali-kali sambil inget-inget kata Professor Fabianus yang ngasih lecture kemarin.

Jadi sesudah berkali-kali baca, dan mengingat kuliah kemarin. . . Dalam bahasa jerman sendiri (Heidegger menulis di bahasa Jerman btw), Mitsein (Being there), adalah phrase yang juga digunakan dalam kalimat being with, this play of words might be a coincidence. Tapi sama kaya yang namanya detektif, tidak ada coincidence di filsafat.

Heidegger used this wordplay and utilized this probable coincidence. Dan dia develop Heideggerian theory yang bilang bahwa kita tidak mungkin sendirian, regardless of where we are, or how alone we think we are, kita pasti mikirin orang lain (sekali lagi, CIEEEEEEEEEEE. . . . iya, terrible joke, tetep dipake tapi 🙂 ) dan ketika kita mikirin orang lain, interconnectedness ini come to play lagi, dan kita jadi indirectly not alone.

Tapi, Heidegger ini terbilang baru dalam Holarchy ini. Ada philosopher lagi yang membahas lebih jauhhhh lagi.

Parmenides

Parmenides, seorang Greek Philosopher (since the foundation of every knowledge comes from the Greeks) membahas yang ‘Ada’. Kalau pake Bahasa Indonesia rada bingung, karena ‘Being’ yang Parmenides bahas, di translate sebagai yang ‘Ada’. . . Jadi, di bawah ini, kalau ngebahas ‘Being’ atau ‘Ada’ ini referensi ke hal yang sama yaaaa.

  • Segala hal adalah satu hal, dan hal itu adalah yang ‘Ada’.
    • Parmenides bermaksud bahwa apapun suatu hal itu, pasti hal yang dimaksud merupakan bagian dari hal yang lebih besar. Meski belum di classify ke hal yang dibawahnya lagi, dan sangat general dalam bilang… ‘Ada’, teori ini masih considerable.
  • Segalanya adalah satu/tunggal
    • Segala hal ini juga merupakan entitas tersendiri, dengan tujuannya tersendiri. Tapi karena segala hal juga ‘Ada’, berarti semua hal adalah satu hal dan juga segalanya… (paradoks dehhh)
  • ‘Ada’ ini juga tunggal
    • Karena ‘Ada’ adalah segalanya, dan segalanya adalah satu hal, berarti ‘Ada’ juga tunggal. Sama repetitif juga…
    • ‘Ada’ ini tunggal, dan terbilang kekal, tidak bisa dipecah, atau dibagi lagi. Tapi kita kebetulan tidak bisa mempersepsi si ‘Ada’ ini, dan melihat si ‘Ada’ ini sebagai hal yang terpecah-pecah.
    • ‘Ada’ ini juga terus berputar dan tidak habis-habis, in a constant state of change.

According to Parmenides juga, karena semuanya dipersepsi dalam terpecah-pecah, semua hal otomatis temporal, dan akan terus berubah-ubah, agar kita bisa eventually perceive this ‘Being’.

Dalam scope kecil, tidak ada yang lenyap, atau baru di dunia ini. Segalanya terus berubah-ubah, tanpa ada yang lenyap atau hal baru tercipta. New ‘Beings’ are just a change of perception through our eyes.

Karena tiada yang berubah-ubah, Professor Fabianus kemarin bilang bahwa Ultimate Reality itu… tunggal. Jadi, YAY! Masih in line dengan statement ku di awal tentang Ultimate Reality.

In Conclusion…

You’ll Never Walk Alone…

Liverpool Reference! (Babah fans Liverpool, die hard pula…) Jadi sebenernya conclusion kita hari ini akan kembali pada dasarnya Holarchy. Holon sendiri membahas sama yang namanya Bagian dan Individu.

Mungkin kita lagi galau, jadi kita merasa kita Forever Alone… (CIEEEEEE GALAU! 😀 ) Tapi nyatanya, kita adalah bagian dari suatu engine yang membuat mesin besar ini function lebih baik. Jadi, nyatanya, nothing is an individual. Everything is a part of something else, mau itu sebuah sel, atau kita di dunia nyata. Believe that.

It’s only up to us to find what are we, and what are we destined for.

Dan karena suatu hal yang Universal terdiri dari hal-hal tunggal atau partikular, tanpa warna dari keunikan individu dan partikular itu, hal yang Universal ini akan jadi bland, dan tidak punya rasa.

Meski aku masih belum siap membahas Universal Truth and Reality, tapi sesuatu yang tunggal ini memang harus… rese. Kalau Universal Purpose of life ini simpel, maka… Dunia ini gak ada warnanya, semuanya bakalan hambar, dan siapa yang suka makanan yang hambar? Mungkin purpose of life tiap orang beda-beda, dan karena banyak perbedaan itu, sesuatu yang hambar akan jadi warna-warni, dan terasa enak.

Semoga artikel hari ini punya rasio Nasi dan Soto yang enak, dan bisa dinikmati yaaaaa… See you tomorrow!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *