Greatest Showman Soundtracks: Part 3

Greatest Showman Soundtracks: Part 3

Ini adalah part yang ketiga dari serial Greatest Showman Soundtracks. Kalau kemarin aku sudah lelah mengetik sampai di Never Enough, kali ini aku mau membahas Rewrite The Stars, dan This Is Me.

Konten disini lebih cocok masuk review+arti, karena arti tidak akan dijelaskan dengan detail, untuk penjelasan arti yang detail ada beberapa website lain dengan kredibilitas lebih baik daripada diriku, e.g. Genius. Tapi tetep aja, lagu-lagu ini akan aku kupas dikit artinya….

Regardless, silahkan masuk ke artikelnya dan percaya sama aku, jauh lebih nikmat membaca artikelnya dengan iringan musiknya, seperti aku menulis artikel ini dengan album Greatest Showman on repeat…

Of course, ini link ke artikel part 1, dan part 2, baca dulu kedua artikel itu untuk lagu yang lain…

This Is Me

Lagu ke 6 (yang bukan reprise) di Album ini adalah This Is Me, course mungkin reader dah pernah denger sebelumnya, ini lagu yang paling sering nongol di Radio dari seluruh album ini.

Jadi, dalam filmnya sendiri, This Is Me dinyanyikan sama Lettie Lutz, atau cewe jenggotan, yang dimainin sama Keala Settle. Lagu ini juga mendapat cukup banyak background singers dalam bentuk para siegfried (atau, freak sirkus.) Nah, lagu ini sendiri dinyanyikan sesudah PT Barnum mendapat kenalan baru, yang bisa menggantikan si sirkus ini sebagai main act punya-nya PT. Ketika mereka semacam diusir dari ballroom yang berisi swells, si cewe jenggotan ini mulai nyanyi.

Dan, lagunya cukup memorable, seharusnya ga perlu dinyanyiin lagi liriknya, karena umm… yeah, radio udah sering mainin lagu ini. Of course, dance routine di film ini juga rada… “wah”. Nah, kalau kita bahas kontennya sedikit mendalam…

Pertama-tama, gak semua kejadian kejam yang mereka pernah alami ini terjadi di film. Kenapa? Well, pertama-tama, para circus freak ini pada dasarnya, ditakuti semua orang sampai mereka punya act di circus. Nah, sebelum mereka menjadi bagian dari circus, mereka kurang lebih ditakuti dan dibully masyarakat. Bukan cuma sama masyarakat, ada 1-2 scene dimana ada saat beberapa orang ini ga diakui hidup sama masyarakat sendiri.

Which is probably why this song hits some perspectives pretty well… Dalam konteks individual penyanyi dan film, mereka menyanyikan lagu ini sebagai tanda, shut up, get off my case… we’re us, you can’t change that. Dan mereka juga menunjukkan confidence bahwa mereka “benci” penolakan, dan mereka merasa bahwa mereka sudah gak mau terima dilukai dan ditolak masyarakat.

Nah, tetapi selain itu, konteks lagu ini juga cocok untuk masyarakat umum. Cheer-You-Up Stay confident songs have always been good dan hampir selalu bisa ngenain seluruh aspek masyarakat. Siapa sih yang belum pernah dikecewakan orang-orang sepanjang hidupnya? Course aku sih yakin gak ada. Jadi, lagu ini juga cocok untuk seluruh kalangan masyarakat, dengan musiknya yang energetik, dan liriknya yang motivational.

Untuk membahas beberapa verse dari lagu film ini dengan detail… Reff-nya sendiri cukup obvious, jadi untuk verse pertama, lagu ini membahas secara emosional ketika para siegfried ini dipermalukan oleh masyarakat, dan ditolak oleh banyak orang meski mereka membuat orang-orang tersenyum, tertawa dan senang. Ketika sampai di bridge antar verse pertama dan chorus, energi yang dikeluarkan sudah bukan melancholic lagi tapi strong.

Sesudah chorus pertama beres, lagunya tetap energetic, dan self confidence baik di film dan scene berjalannya, ataupun di lagunya tampak. Pada verse kedua, para Siegfried ini jalan melewati angry mob dan dinginnya malam yang dipenuhi salju, lengkap dengan kostum.

Oh, dan ada perubahan kata sedikit di chorus, dimana saat verse, kata yang dipakai adalah scars, yang ga bakal sembuh, chorus menggunakan bruise, yang akan sembuh, meski sakit. Sekali lagi implying confidence and strength.

Overall lagu ini sangat enak, cocok untuk banyak orang, dan tetep bisa stick dan menempel dengan konteks utama si lagu ini in the first place, yaitu orang sirkus aneh yang tetep mau pede dan ga peduli kata orang lain.

Of course, kalau mau branch out, untuk anak Homeschool, lagu ini cukup cocok karena kami, para anak HS mau berani dan pede untuk stray out of common sense. Alhasil, This Is Me, tentunya bisa dipakai untuk simbolisasi banyaknya challenge di hidup orang, dan juga tetap menjadi lagu pop yang kece.

Rewrite The Stars

WOW Duet mirror lagi! Dan sama juga, dinyanyikan Zac Efron. Lagu ini, cukup melankolis, tapi juga confident, dan as far as I know, so far ini satu-satunya love song tanpa konteks lain didalamnya. Tetep, ini love song-nya juga lagu galau sih, jadi gitu lah…

Seperti The Other Side, mirror duets kaya gini kemungkinan akan panjang, dan cukup melelahkan untuk dikupas isinya, untungnya ini lagu favoritku di album, jadi semoga ga terlalu pusing. Pertama-tama sebelum ngupas, lagunya, aku mau masuk dulu ke review-nya.

Lagu ini merupakan duet, tetapi seperti dalam konteks lagu di plays dan musical, kontennya mirroring. Penyanyi A menyanyikan kepercayaannya, yang ditolak oleh Penyanyi B. Gak kaya The Other Side tapi, mirror duet kali ini dinyanyikan dengan tune opposite, dimana kalau The Other Side sama-sama dua orang kepedean tapi perspektif berbeda, kali ini perspektifnya mirip, tetapi ditalar dengan gaya yang berbeda. Salah satu dengan sedih karena dia tidak bisa menjalani keinginannya, dan yang satu lagi dengan percaya diri untuk convince bahwa sebenernya bisa kok.

Pertama-tama, lagu ini dinyanyikan oleh Trapeze Artist Anne Wheeler (played by Zendaya), dan tokohnya Zac Efron, Phillip Carlyle. Mereka semacam suka-eun sama satu sama masing, tapi karena ini era 1800-an, Anne yang rada hispanik dan kulitnya gelap, ditolak relationship-nya sama society kalau mau pacaran/apa-lah sama Phillip Carlyle yang caucasian.

Nah, lagu ini dimulai ketika Anne dan Phillip nonton teater yang dibawain dan dipresent sama PT, dengan Jenny Lind didalam show itu. Ketika masuk, orangtuanya Phillip negur dan insult mereka berdua. Alhasil, si Anne ini kabur dan latihan trapeze lagi di dalam circus. Moving on to the song!

Verse pertama dari lagu ini memiliki tone naik, dan kaya aku bilang tadi… convincing. Phillip menyanyikan verse dengan gaya energetik tadi, lalu mulai menaikkan antusiasmenya ketika mencapai chorus. Dimana, Phillip bilang, let’s just try, who knows what’ll happen.

Well liriknya ga pas begitu sih… “What If We Rewrite The Stars, say you were made to be mine, nothing could keep us apart, you’d be the one I was meant to find. It’s up to you, and it’s up to me, no one can say what we get to be, so why don’t we rewrite the stars? Maybe the world can be ours… tonight.”

Jadi, ini semacam menanyakan opini dengan lagu, dan of course gaya bicara dan liriknya sangat open minded. Karena dah tanggung ngetik lirik mulai bahas aja deh dikit… Rewriting The Stars, adalah hal yang ga mungkin dilakukan, jadi kali aja kalau mereka bisa melakukan hal yang terlalu impossible, kali cuma mau going against society itu mungkin. Of course Phillip kekeuh bilang, ga ada yang boleh ngelarang kita…

Terus kita masuk ke verse-nya Anne Wheeler. Tune-nya sangat sedih sejujurnya, dan dia sebenernya kepengen sih, tapi sebagai orang dengan kulit hitam, jadi dia merasa itu sangat gak mungkin. Of course, seumur hidupnya dia kena rasisme cukup parah, sampai ke titik dia stress. Anne juga menunjukkan bahwa, dalem sirkus tuh kita gapapa, kita ga bakal diketawain, tapi kalau keluar, ini terlalu abnormal. Of course, dengan gaya poetic.

Untuk chorus-nya milik Anne, intinya dibalik, dan kalau Phillip tadi open minded, Anne sendiri sangat-sangat close minded… “No one can Rewrite The Stars, how can you say you’ll be mine? Everything keeps us apart,. And I’m not the one you were meant to find. It’s not up to you,  it’s not up to me, when everyone tells us what we can be. How can we rewrite the stars? Say that the world can be ours… tonight”.

Yah, dia ga terlalu close minded kalau cuman liriknya doang sih, karena yang tampak adalah clueless, tetapi kalau udah denger musiknya yang terkesan adalah sarcastic questions, dan don’t be too confident.

Sesudah chorus itu, koreografinya masuk ke titik terbang bersama… Yeah, Anne nyanyi sambil gelantungan dan terbang kanan-kiri dan beterbangan dengan trapeze. Berikutnya kita ke bagian dimana pada akhirnya lagunya menunjukkan mereka setuju…

Nah, kita masuk dulu verse ketiga/bridge… “All I want is to fly with you, All I want is to fall with you, So just give me all of you!” Di verse ini, mereka nyanyi bareng, dan tampak kaya hampir setuju, untuk terbang, alias mengalami hal yang menyenangkan, jatuh, melewati hal yang menyakitkan, dan mereka mulai nyanyi dengan tune yang sama…

Terus ada lagi… “It feels impossible, It’s not impossible, Is it impossible? Say that it’s possible!” yang italic adalah line-nya Anne dimana dia masih merasa takut, dan bold itu line-nya Phillip yang rada pede, dan line terakhir dinyanyikan barengan, mulai sama-sama pede.

Terus di chorus terakhir, liriknya ga bakalan kutulis sih, tapi kalau didengarkan dengan detail, mereka menyanyikan dengan gaya dan tune yang berbeda, tetapi mereka menyanyikan lirik yang sama, dengan vibe yang sama. Bedanya, Anne meninggikan kata terakhir, dan Phillip tetap flat dan mengikuti nada yang sama sepanjang chorus.

Sesudah chorus beres, Anne menyanyikan dengan reversed meaning lagi… “You know I want you, it’s not a secret I try to hide. But I can’t have you, we’re bound to break, and my hands are tied.” Dengan tune yang silent, tapi sedih.

As a conclusion, lagunya menarik, dan seperti duet di musical, biasanya dibuat dengan nyanyian dan tune yang berbeda, dimana yang satu rada naik, dan yang satu rada sedih, dan merupakan kebalikan dari nyanyian pertama, tapi tetep saja sih, lagunya menarik, dan kadang sangat sedih gara-gara kolonialisme banyak hal yang ga mungkin.

Untungnya sekarang, barrier itu makin mengecil… Eh, iya gitu? Hang on, there’s something called post-colonialism, silahkan cek disini…

(Pesan sponsor 🙂 )

In Conclusion

Buatku sebenernya sih, lagu yang bagus itu yang tune dan liriknya compensate each other. Ada beberapa hal yang bisa dijelaskan dengan lirik, tetapi tanpa tune yang kompensasi si lirik, arti lagunya bisa saja jadi reversed. Dan karena itu, kurasa feeling itu hal yang penting, karena itu memberi warna yang baru di banyak hal.

Andaikan lagu ini tidak dinyanyikan dengan feeling, maka maknanya ga bakalan sebagus ini…

Regardless, semoga artikel ini menarik! Sampai lain waktu! (Besok… ingat, besok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *