Gojek Eks-SMKAA

Gojek Eks-SMKAA

Jadi, kemarin pulang dari MKAA sesudah mengevaluasi dan menyortir serta menerima dan menolak beberapa aplikan SMKAA. Mungkin semua yang dilakukan sudah beres, dan sektiar pukul 18.15 aku memesan Gojek. Hal yang biasa aku lakukan.

Tetapi, ada semacam petir yang menyambar, dan dari sekitar puluhan Gojek dalam radius 500 meter dari Museum, datanglah Gojek yang pada tahun lalu, yaitu 2017/2018, merupakan Admin dari SMKAA.

Long-long-long story, kalau aku perlu menjelaskan SMKAA itu apa, dan apa yang dilakukan di sana. Jika penasaran, bisa cari di google, bisa cari di website ini dan masih banyak tempat lain.

Tetapi, secara keseluruhan, jika kakak yang membaca merupakan admin, koordinator, atau anggota dari SMKAA, dan kebetulan kena broadcast dariku… Kurang lebih, ini cerita yang kudapatkan darinya.

Selamat menikmati!

Rutinitas dan Ketidaksengajaan

Seperti biasa, keluar dari sekretariat, langsunglah aku berjalan keluar, melalui pintu samping. Kaki kanan, kaki kiri, melangkah, berderap maju ke depan. Semakin mendekat aku dengan pintu, semakin ingat aku meninggalkan sesuatu.

Nametag! Tanpa itu, takkan mungkin aku bisa keluar… Sebenarnya mungkin saja sih, semua satpam yang mengizinkan orang keluar ataupun masuk hampir pasti ingat bahwa aku anggota aktif, dan kemungkinan besar, mereka akan ingat aku sebagai orang yang, menaruh nametag dalam dompet, dan ketika terburu-buru, larinya cukup cepat.

Ya, aku sudah ditegur beberapa kali untuk jangan berlari terlalu cepat. (terjadi dua kali pada open house, ketika booth hampir dibuka dan aku meninggalkan suatu barang dalam sekretariat, aku tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan itu)

Jadi, aku berjalan dengan cepat, dan kembali ke sekretariat, mengambil nametag milikku, dan seperti biasa, tiap kali aku meninggalkan kartu akses tersebut, aku diberikan pandangan seperti ini: -_-” atau, seperti ini ^^' .

Keluar, aku menunjukkan nametag, dan diizinkan keluar.

Tidak seperti biasanya, nametag milikku baru kuperbaiki dan kupasang tali yang baru, dan untuk pertama kalinya dalam 8-10 bulan, aku memakai nametag itu, alih-alih memasukkannya dalam dompet. (biasanya jika ini kulakukan, berikutnya aku datang ke Museum, nametag akan tertinggal di rumah 😐 )

Hampir tiap kali aku pulang, aku selalu meminta Mang Gojek untuk menjemput di Gedung Merdeka, meski ia tadinya berada di Kimia Farma, tepat di sebrang pintu keluar samping Museum.

Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku yang sedang menggunakan nametag, dan dijemput dengan Gojek, seperti biasa… langsung mendapat sapaan. “Mas, mas anak Globlit ya? Mas Azriel kan?”

Aku hanya mengangguk, dan dari situ, ceritanya mulai.

Sapaan, sampai Percakapan

Kang Sidik Permana.

Namanya sempat menggugah ingatanku sedikit, siapa ya, hmm, aku seperti pernah melihat ataupun membaca namanya pada suatu tempat… Siapa, dan dimana?

Aku sempat yakin bahwa aku pernah membaca nama tersebut, pada suatu tempat, entah dimana, melalui apa.

Ketika mengirimkan pesanan tersebut, aku masih berusaha mengingat-ingat. Aku bahkan sempat menggumamkan nama itu cukup keras, namun sepertinya tidak ada yang mendengarkan.

Jadi, aku berjalan, dan berjalan. Sekitar di tengah jalan, aku berusaha mengingatkan dan mencoba untuk mengingat siapakah dia. Sesampainya di pintu, seperti kuceritakan, aku berlari kembali ke sekretariat dengan perasaan tidak enak. Aku selalu merasa kurang baik jika membuat orang menunggu. Jadi, aku berlari, dan berlari, dan berlari, mengambil nametag, dan keluar lagi.

Aku tidak mengenal semua satpam secara pribadi, tetapi tidak ada yang berkomentar, dan ada beberapa yang menyapaku karena sepertinya sudah pada mengenal diriku.

Sesampainya aku pada Gedung Merdeka, dan sesudah aku naik pada motor, kita mulai mengobrol.

“Kang, Akang anak Globlit ya? (Globlit = Global Literacy)”

“Hah? Akang tahu dari mana?” Aku bertanya sembari mengingat-ingat beberapa anggota yang datang ke sekretariat memakai jaket Gojek atau Grab, seperti Akang Sidik di sini.

“Haha, saya admin waktu zamannya Fri jadi Koor Eksekutif. Tahun lalu”

“Oh, saya baru tahu, pantes aja namanya terkesan familier.”

“Tahu saya dari klab mana gak?”

“Uhhh…” Suaraku cukup segan menjawab, karena sepertinya aku pernah bertemu dengan Kang/Kak Sidik ini, tetapi, aku masih merasa tidak yakin dia siapa…

“Cinemaker bukan Kak?” Waktu itu, aku pernah melihat seseorang masuk ke sekretariat dengan nametag atas nama klab Cinemaker, yang menggunakan jaket Grab… Jadi, aku langsung menjawab, atas reflek tentunya, dan juga berdasarkan ingatan sementara.

“Bukan, ahahaha… Aku dari Maghribi.”

“OH! Berarti kenal Kak Sagia ya?” Kakak Sagia merupakan admin dan juga anggota paling aktif dari klub Maghribi, yang sekarang hampir vakum ini… Hiks.

“Kenal dong, masa gak kenal sih? Kak Sagia kan sudah lama di SMKAA. Ngomong-ngomong, tadi bahas apa?”

“Iya, tadi membahas penerimaan anggota sama juga upacara buat besok 17-an Kak”

“Oh… Berapa klub yang datang?”

Aku semacam menelan jawaban, karena mungkin hanya setengah dari 13 klab yang datang kemarin, dan aku tidak ingin memberi tahu Kak Sidik yang ceria, serta selalu tersenyum dan bercanda ini, bahwa SMKAA sedang sedikit kesulitan SDM dan anggota.

Aku memberikan jawaban yang jujur saja, sejujurnya aku tidak tahu cara memberikan lapisan gula pada coklat yang pahit ini. “Iya kak, hehe, tadi yang datang hanya Globlit, SahabArt, Journativist, Guriang, Edukator, Heiwa, dan juga Maghribi.”

“Waduh, dikit atuh ya? Eh, adminnya sekarang ada berapa sih?”

Dan, aku merasa makin putus asa. Kak Sidik yang dulunya merupakan admin, (berarti mungkin salah satu anggota paling aktif di SMKAA) dan selalu ceria ini, terpaksa mendengar sedikit kabar buruk.

“Sekarang adminnya setahuku, ada 5 Kak…”

“Siapa aja, bentar, inget-inget dulu… Koor Eksekutifnya Aria, terus ada Ulva, siapa lagi ya?”

“Ada Kak Sagia, ada Kak Emir, sama Kak Salsa”

(Koreksi fakta: Ternyata ada 8 admin, hanya saja, ketika rapat, admin ini juga memegang tugas sebagai koordinator, sehingga, aku tidak mengetahui bahwa mereka admin juga, mereka juga bekerja di balik layar)

“Sagia jadi admin lagi?”

Nadanya menyatakan pernyataan, dan aku sepertinya terpaksa menjawab… ugh.

“Iya kak, tidak terlalu banyak yang ingin jadi admin jadi Kak Sagia ditarik jadi admin, untungnya rekrutmennya tampak cukup lebih sukses kebanding tahun lalu. Semoga yang daftar konsisten.” Dalam hati aku merasa lebih senang bahwa jawabanku telah sukses dilapiskan sedikit kabar baik.

“Wah, berapa yang daftar tuh?”

“Aku belum dapat angka pasnya, tetapi kurang lebih dapat 250, lumayan banyak tuh.”

“Semoga yang kemakan seleksi alam gak banyak ya…”

Semoga…

Seleksi Alam

Semua komunitas, dan apapun yang bersifat kerelawanan memiliki satu masalah besar.

Banyak orang kurang berkomitmen dalam melakukan sesuatu.

Jadi, seleksi alam inilah alasan sebuah klub yang mendapat 20 pendaftar, hanya memiliki 4 anggota. Ini juga alasan bahwa sebuah klub yang mendapat 100 pendaftar, kesusahan mendapatkan koordinator.

Orang-orang merasa tidak sesuai dengan suatu hasil klub, dan tidak sesuai dengan bayangan mereka, dan menghilang. Jadi, aku memutuskan untuk bercerita… dan sedikit curhat.

“Kak, pas angkatanku tuh banyak banget yang menghilang, Globlit ada 20 anggota, bisa sisa cuman 4 anggota aktif. Klub-klub juga mulai banyak yang kesusahan Kak, ada Klub yang mendapatkan anggota dibawah 5 malahan.”

“Yah… Kamu teh jadi koor Zriel?”

“Wakil Koor, minimal jadi anggota 2 tahun untuk menjadi koor kalau di Globlit.”

“Okey… Padika sama Damar masih suka muncul?”

“Iya dong, mereka kan tutor.”

“Sebenarnya seleksi alam ini sudah jadi masalah yang cukup lama, dan terkadang, klub-klub hampir perlu vakum. Eh, ngomong-ngomong, sebenarnya… Maghribi nasibnya gimana sekarang?”

Dan, aku merasa cukup patah hati jika aku harus menyatakan kenyataan ini kepadanya.

Klub Maghribi, beserta Abada, sudah bisa dinyatakan vacuum. Koordinatornya menghilang, pas open house saja tidak muncul. Maghribi terkadang memiliki Kak Sagia, dan Abada memiliki Kang Wisnu, founder klub tersebut. Tetapi, klub tersebut sudah hampir mati.

“Kak, sebenarnya sih… Maghribi yang mendapatkan anggota yang kalau tidak pindah klub (Globlit mendapatkan satu anggota dari klub tersebut) benar-benar menghilang. Koordinatornya pun menghilang. Open House tidak ada kabar. Abada juga hampir mendapat nasib yang sama” Aku terpaksa menyatakan kenyataan ini padanya. Tetapi reaksinya cukup optimistis.

“Haha… Masalahnya sama saja sih kalau Maghribi teh. Yang diprioritaskan adalah yang memiliki bahasa Prancis paling bagus, koordinatornya memang sangat-sangat fasih bahasa Prancisnya, tetapi… Yah… Ia sangat sibuk.”

Mendengar dan merasakan aura positif dan selalu happy dari Kak Sidik ini membuatku mau untuk lebih terbuka.

“Iya Kak. Koor Maghribi bahkan diminta untuk ketemu Pak Desmond (kurator MKAA, dan founder SMKAA) tapi yah… Nongol aja gak, padahal Pak Desmond udah kosongkan jam kerja sampai tiga kali.”

“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, hehehe”

Sekali lagi, optimisme yang Kak Sidik miliki cukup membuatku kagum.

“Eh, tadi Pak Desmond udah balik ya?” Kak Sidik bertanya lagi, hmm, ia sudah melupakan masalah tadi, sungguh menyenangkan!

“Sudah sepertinya, aku gak liat sih.”

“Hahaha… eh, pas zamannya Fri tuh memang suka juga yang suka menghilang, untungnya bisa dikontak, berdasarkannya curhatanmu, kayanya susah untuk merubah komitmen orang nih, hehehe.”

Logika…

Mendengar kata Logika pada tengah-tengah percakapan, entah membahas apa, aku ditanya… “Eh, ngomong-ngomong soal Logika (koordinator eksekutif dua tahun yang lalu, 2016/2017), dia masih suka dateng gak sih?”

“Datang dong, hehehe, setidaknya pas acara. Hampir belum pernah menghilang terlalu lama. Tapi aku tuh sebenarnya belum pernah ketemu Kak Fri.”

“Fri lagi sibuk nih, hehehe.” sepertinya ia tahu soal ini.

“Tapi, aku merhatiin sih, Kak Logika kalau ke acara, sering banget datang bersama istrinya…” OOPS, this is totally not gossip

“Oh, Firda. Iya, Firda tuh admin, sama juga satu klub bareng aku di Maghribi… saat zamannya Logika, mereka emang sering kerja bareng. Mereka beruntung banget bisa ketemu di tempat yang sama.”

“Oh begitu toh…” Pikirku, mendapatkan orang untuk diajak bicara mengenai ini juga cukup beruntung.

Dari bincangan soal Logika, aku bertanya tentang bagaimana ia bisa sukses menjadi Koor Eksekutif, anggota yang daftar untuk SMKAA sudah hampir mencapai ribuan.

Curhat dan Curhat

Terus dan terus aku bercerita mengenai para klub, dan Kak Sidik selalu bertanya siapa koordinatornya. Ada beberapa anak baru yang ia tidak ketahui, dan ia tidak terkejut jika mereka jarang menampakkan muka.

Terus, entah bagaimana, Kak Sidik tahu bahwa aku meninggalkan sesuatu di Sekretariat. Mungkin ketika aku meminta maaf dan bilang bahwa aku mau masuk lagi sebentar, meski sudah keluar.

Bagaimanapun juga, ini berujung ke curhat… lagi.

Aku cerita bahwa nametag ku ketinggalan, dan kadang kalau itu nametag tidak kubawa, bisa-bisa saja dimarahi oleh salah satu dari banyaknya satpam. Aku bercerita satpam itu satpam yang paling galak diantara semua satpam lain.

Ia tertawa dan bertanya, “Rambutnya cepak ya?”

Aku hanya menjawab “Ya, betul”

“Oh iya, itu mah Pak Taryana. Kalau saya manggilnya Pak Komandan tapi… paling galak tuh.” nadanya seperti biasa sambil bercanda. Seiring berjalan, aku melihat kanan dan kiri, dan sayangnya, sebentar lagi aku akan sampai rumah.

“Iya sih, wajar lah kalau ada satpam yang galak. Cuman saya yang gak bawa nametag masa disuruh keluar lagi dan masuk lewat depan, kaya pengunjung…” Terus curhat nih… ^^'

“Emang gitu Pak Taryana. Untung aja pas kasus Laptop kecolongan yang jaga bukan dia. Kalau sama dia, itu satpam pada habis dimarahin semua.”

“Oh gitu…” Aku sejujurnya tidak terkejut sama sekali, meskipun Pak Taryana sudah kenal sama aku, tetap saja, ia akan mengikuti protokol. Orang seperti itu biasanya memang sangat taat peraturan.

Tidak banyak lagi sih yang perlu diceritakan, ada beberapa cerita dan sindiran lagi… Bagaimana kadang kita suka lupa waktu ketika di sekretariat, karena itu memang tempatnya sedikit punya sihir agar kita tidak pulang-pulang, ceritanya begitu.

Sayangnya, aku sudah sampai rumah, dan aku didoakan agar sukses terus…

Dengan perasaan senang aku hanya membalas terima kasih, dan memberikan jawaban amin dalam hati. Tidak ada banyak reaksi lain dariku.

Kesimpulan.

Ketidaksengajaan terjadi. Tetapi, ketidaksengajaan itu pasti punya alasan yang kuat dibelakangnya. Oleh karena itu, kurasa ketidaksengajaan kali ini, berbuah dengan sukses.

Terima Kasih Kak Sidik, hatur nuhun!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *