Framing: Perspektif dan Boxing dari Media

Framing: Perspektif dan Boxing dari Media

Framing… Alasan media pada dasarnya sekarang telah menjadi suatu organisasi komersil. Framing disini tentunya berarti membatasi perspektif dari sebuah gambar, agar kita hanya melihat yang media ingin kita lihat, dan bukan gambar seutuhnya.

Tentunya di fotografi melakukan framing dan membatasi line of sight si kamera itu hal yang bagus, tapi kalau di jurnalisme? Framing mengurangi potensi dari si pembaca berita untuk mengutarakan dan memberikan opini-nya sendiri.

Media dasarnya bias… Ia akan menunjuk ke sebuah sisi cerita dan tidak menunjukkan sisi atau perspektif lain. Media juga dasarnya sangat subjektif, dan akan berusaha untuk highlight atau menunjukkan seseorang dari si sisi yang dipilih. 

Sebagai contoh jika politikus A memiliki media B, politikus A ini akan menggunakan siaran dan media tersebut untuk menujukkan misalnya, penghargaan, atau apa yang ia lakukan untuk memajukan sebuah desa misalnya. Tetapi jika politikus A ini ketahuan selingkuh, media B akan menolak atau bahkan tidak membahas sedikit pun topik ini.

Eh, tapi pas giliran politikus B yang saingan sama si A ini ketahuan masuk dunia narkoba, dia bahas habis-habisan dari perspektif yang bias.

Sama juga untuk siapapun yang memiliki media lain, dan sejujurnya, aku tidak mau terlalu menunjuk-nunjuk nama, karena itu juga membahas bias… ironisnya di artikel yang akan mengkritik bias.

Sebelum memulai, quote yang akan diutarakan hari ini adalah… “Information is the deadliest weapon.”

Langsung aja kita akan masuk ke artikelnya.

First Impressions

“You will never get a second chance to make a great first impression”

Or something like that…

Ini sebenernya innately psychological, dan kadang kalau kita gak tahu sama proses ini, ya nasib, udah jadi korban… Welp, ini literally ga ada hubungan apa-apa sama kenalan sama orang, tapi pada dasarnya manusia menyimpan informasi dalam clean slates. Dan yah, kadang kita subconsciously nyatet informasi di clean slate itu. Besar kemungkinan, sesuatu yang sebelumnya belum ada isinya itu jadi sesuatu yang negatif.

Ini sedikit menyedihkan dan pathetic mengingat bahwa banyak sekali hal di dunia ini yang hanyalah sebuah tumpukan kebohongan, atau… bukan whole truth. Seperti aku bilang diawal tadi, definisi framing itu hampir gak ada relasinya dengan kebohongan ataupun hoax. Tetapi framing adalah menutupi banyaknya perspektif yang ada, dan “memaksa” kita melihat satu-satunya perspektif yang tersisa.

Jadi, yah terkadang first impression ini merupakan satu dari beberapa hal paling krusial ketika media ingin memberikan stigma kepada suatu tokoh atau bahkan organisasi.

Coba… kalau mendengar North Korea, apa 3 kata yang tersirat? Kukasih 10 detik baru scroll ya… Scroll sampai ke bawah garis hitam itu.

 


 

Karena aku bukan mind reader, aku gak bisa nebak 3 kata atau frasa yang reader pikirin. Jadi aku mau nebak 5, dan kayanya 3 kata atau frasa yang kepikir gak jauh-jauh dari situ…

  • Kim Jong Un
  • Diktator
  • Bom Nuklir
  • Malnutrisi
  • Communism

Ada satu dari 5 kata itu yang tersirat? Itu kayanya karena stigma dan first impression yang buruk saja. Nyatanya, di Korea Utara sendiri meski memang merupakan suatu… well, kasarnya potensi pemicu World War III, dan iya mereka emang lagi bikin bom nuklir, dan udah punya… Kim Jong Un juga emang kaya diktator, terus kalau kita lihat mau detail mau gak detail, pemerintahan mereka emang tampak kaya komunisme. And yeah… malnutrisi 41% pada pertengahan 2017…

Tapi sebenernya, Korea Utara juga merupakan salah satu negara yang berpartisipasi di Konferensi Asia Afrika, dan pernah semacam “mensupport” anti kolonialisme, dan juga mereka punya hubungan baik dengan negara kita sendiri.

Tapi yah, siapa yang mau liat North Korea sebagai anti colonialism country, kalau google aja mensuggest “Flag”, “Nuclear”, “President”, “War”, dan “and South Korea” sebagai top 5 suggestion nya.

Of course ini bukan salah google, da mau gimana lagi emang yang sering disearch itu… Tapi kan orang-orang berpikir seperti ini hanya ketika melihat 3-4 berita. Hence, stigma dan stereotype dictatorship based government tersirat.

Framing

Nah, sekarang sesudah membahas first impression yang media akan manipulasi sampai entah gimana untuk orang-orang, kita akan masuk ke framing. Dan sejujurnya, ketika melihat ataupun membaca satu-dua berita, kita bisa ngebayangin sebenernya seberapa bias dan pihak apa yang media itu ingin ambil.

Untuk itu aku akan membahas topik yang kinda hits… ya itu penutupan Facebook…

Misalnya… coba klik link ini untuk berita dari Tribun Jabar…  http://jabar.tribunnews.com/2018/04/20/facebook-diblokir-bukan-hoaks-peluang-diblokir-semakin-besar-jika-ditemukan-hal-ini

Sekilas terbaca judulnya “Facebook Diblokir Hoaks, Peluang Diblokir Semakin Besar Jika Ditemukan Hal Ini“. Aku gak mau bilang apa-apa, silahkan judge sendiri. Opiniku udah mostly fixated di bagian yang aku buat italic. Baca artikel itu, yang ditunggu cuman audit-an doang dari pihak facebook atas data yang bocor. Selain itu facebook juga dibilang sebagai metode mengadu domba dan menciptakan hoax.

Sedangkan hoax-nya sendiri juga bukan salah si facebook, melainkan pengguna… Sayangnya aku gak bisa complain atas opini dari narasumber di berita tersebut… Tapi, sebenernya, masalah berikutnya dariku mengenai berita itu adalah fakta dia straight out ga mau nunjukkin sedikitpun opini orang Facebook dari situ…

Andaikan Facebook emang mau diblokir juga bukan masalah besar sih, tapi kan sebenernya kenapa gitu lho gak nunjukkin sedikitpun opini dari orang Facebook-nya atas kenapa audit info data bocor. Entah kenapa. Both sides of the story should have its say. Tribun disini tampaknya hanya mau menunjukkan opini dan negativitas dari pihak FB.

Untuk narasumber, atau opini karena pembuatan hoax dari FB-nya sendiri sekali lagi, aku gak mau complain. Itu udah teritori opini, bukan subjek framing. Honestly aku juga gak tahu apa opini yang Tribun bilang itu seutuhnya kata dari narasumber, tapi sekali lagi, itu bukan teritoriku.

Frame-nya udah jelas untuk kasus ini? Tribun mengambil perspektif pemerintah saja.

Aku akan tetap di topik menutup Facebook, tetapi dengan mencari berita lain di tempat aku baca berita… Tirto.id

https://tirto.id/ketua-dpr-sebut-menutup-facebook-bukan-tindakan-bijaksana-cHYz

Coba baca dulu beritanya ya…

Nah, dari berita itu, aku kepengen bilang aja bahwa kesan kenetralan ala Tirto itu sebenernya gak senetral berita Tirto pada umumnya, tapi ya dia cukup netral dengan mengambil perspektif frame yang lebih besar.

Dari judulnya saja, sebenarnya gak ada clickbait-nya sama sekali. Judul menarik gak harus clickbait kok. Opini dari sebuah pihak yang menentang pihak lain itu memberikan intrik yang baru, dan gak harus dikemas sebagai clickbait. Memasukkan opininya di judul sudah memberikan rasa penasaran.

Masuk ke beritanya… Pertama-tama, berita itu memberikan opini dari DPR, sebagai pihak ketiga yang gak langsung terlibat dalam kasus penutupan facebook. Di situ, Ketua DPR mengutarakan opininya dengan bilang bahwa Menutup Facebook itu gak bijak, dan itu disertai dengan opini dan argumen.

Selain itu, Kemenkominfo juga diberikan opini dan paragraf sendiri, mengutarakan hal-hal yang pihak FB perlu lakukan agar Facebook tidak diblokir karena skandal Cambridge Analytica.

Bukan cuma Kemenkominfo (meski tanpa ahli atau orang internal, dan hanya organisasinya yang utuh), saja yang diberikan hak bicara di berita tersebut. Facebook pun dibiarkan mengutarakan pendapat dan opininya.

Tidak seperti di Tribun tadi yang straight out menyangkal Facebook melakukan sesuatu, Tirto bilang bahwa ada perwakilan dari Facebook yang meminta maaf dan mengikut Rapat Dengar Pendapat. Opini dan permohonan maaf terkait kasus skandal itu-pun ada dan dicatat di berita itu.

Informasinya gak mau kubahas dengan detil, tapi kurang lebih kebayang lah ya? Toh beritanya udah ada link-nya di atas.

Jadi, menurutku frame-nya udah cukup jelas ya? Menurutku, artikel ini netral.

Nah dari Frame tersebut, baru kita melihat kesimpulan. Jangan ambil berita mentah-mentah, coba dianalisis dulu sedikit saja… tanyakan dirimu ketiga pertanyaan ini sebelum mengambil kesimpulan dari sebuah berita… Kalau mau hidup di zaman media dengan netral dan dengan clear sight, emang harus melakukan beberapa hal ini…

  • Pihak apa sajakah yang ada di berita tersebut?
  • Perspektif mana yang (paling) ditunjukkan di berita tersebut?
  • Apakah ada perspektif lain dari pihak yang belum ada di berita tersebut?

Nah, kalau emang mau netral mengambil opini dan gak kena frame yang dibuat media… Emang harus melihat ketiga hal itu. Dan jika ada satu saja pihak yang perspektifnya gak ditunjukkin, safe to say… berita itu bias. Dan andaikan ada informasi yang reader tahu nyata dari berita itu, jika emang mau melihat image yang digambar berita itu, gapapa, tapi coba cari perspektif lain… jangan sampai kamu kemakan sama first impression tadi

Hoax Versus Fake News

Ini topik yang masuk dalam framing… at least setidaknya menurutku ini adalah topik yang masih sangat relevan dengan framing. Kenapa ini relevan dengan framing? We’ll get there…

Hoax

Hoax adalah sebuah berita atau informasi  yang SENGAJA dibuat untuk mislead dan memberikan informasi palsu. Biasanya jika sebuah berita memutuskan untuk mengambil frame ini, pihak yang terugikan bisa dan akan dituntut sebagai sebuah organisasi yang memberikan informasi palsu.

Aku gak mau membahas Hoax dan melawannya, atau blah-blah-blah… tapi Hoax itu sebuah frame yang mudah sekali dibuat untuk menguntungkan suatu pihak. Dalam kasus politikus tadi, sangat mungkin kalau seorang politikus yang punya kekuatan atas suatu media membuat hoax yang detil dan cukup solid untuk frame (frame ini pun kalau ada yang ngerti) seorang saingan.

Information is truly the sharpest sword.

Fake News

Fake News… seringkali banyak orang gak bisa bedain antara Hoax sama Fake News. Tapi dimana Hoax dibuat dengan sengaja dan dengan full consciosuness dalam membuat beritanya, Fake News berarti si penulis berita gak tahu apa-apa yang dia omongin. Dia gak tahu apa yang dia tulis di berita.

Nah, Fake News berarti si penulis berita untuk frame suatu hal yang gak konsisten. Kaya semacam frame sebuah foto yang blur, dan ketika si jurnalis ditanyain itu fotonya apaan, dia gak ngerti. Kalau hoax adalah foto editan, Fake News adalah foto yang fotografernya sendiri gak tahu dia itu ngefoto apaan.

Filter your knowledge

Hubungan dengan Frame?

Karena frame konteksnya emang super sesuai dengan foto…

Ibaratkan berita sebagai foto… Seseorang memutuskan untuk frame sesuatu yang tidak nyata… Baik karena dia gak tahu itu gak nyata, atau dia sengaja edit itu foto biar gak nyata. Terus dia frame dan pasang di umum. Orang-orang percaya…

Really? You’d fall for that?

Framing disini bukan hanya dalam konteks perspektif, tapi juga dalam konteks kenyataan dan kebohongan. Jangan mau “ditipu” sama media yang gak ngambil whole picture dan crop banyak bagian dari gambar, ataupun mengedit gambarnya…

In Conclusion

Sekali lagi, kesan artikel ini dark.

Seolah-olah dunia ini tidak bisa dipercaya, dan media hanyalah fraud.

BUKAN! ITU BUKAN TUJUANKU! Curhat dikit… entah kenapa aku sendiri kalau menulis topik seperti ini memberikan kesan dark dan kaya conspiracy theorist. Selalu kesannya dark, and trust-no-one thing. Tapi gak, justru aku mau ngajak reader untuk bersama-sama bersyukur masih ada media netral dan positif, dan juga untuk filtering hal-hal yang benar dan yang tidak.

Aku pengen ngajak reader untuk berpikir lebih banyak, aku pengen ngajak reader untuk gak ngikutin flow mainstream, aku pengen ngajak reader untuk gak kemakan sama omongan seseorang tanpa tahu itu nyata atau gak.

Until next time!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *