Flash Writing: Taylor Swift’s Music…

Flash Writing: Taylor Swift’s Music…

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

Topik ini (Music in general, bukan punyanya Taylor Swift) deserve jauh lebih banyak daripada sebuah flash writing… Believe me, I really think that music in general is an art that’s somehow gone wrong… Tapi, karena kesibukan dan kelelahan saat sampai rumah dan ingin menulis, for now, musik hanya akan dibahas dalam flash writing. Kayanya ini mild rant… jadi, read with caution, dan tolong note bahwa ini sangat subjektif…

Loncat langsung ke artikelnya saja… Yang akan membahas how music-nya Taylor Swift sudah mulai berlari ke jalan yang benar-benar… salah…

There is no Art in Marketing…

Ada sih kalau mau jadi Martketing, tapi itu campuran broken english and/or maksa…

Take a look at Miss (atau kalau Neneng Alice bilang… Tante) Taylor Swift.

Kalau mau dibahas discography-nya Miss Taylor ini, cukup… in a sense confusing. Even though Taylor Swift menang Album of the Year pas umurnya baru 20 tahun +7 minggu, (pas album keduanya keluar) dia masih mengikuti style musiknya, dan banyak lagunya yang memorable. Until now, aku masih sering denger beberapa lagunya Taylor dari album yang Fearless, like, Love Story, You Belong With Me, and Fifteen. (sorry, taste musikku rada-rada… aneh). Album pertamanya Taylor Swift pun masih punya satu dua single memorable, kaya Teardrops on my Guitar, dan Picture to Burn. (side fact: Aku kalau ga salah denger Love Story pertama kali pas umurku 7 tahun di radio.

Back then, Taylor was a sweet country girl.

Now, please, listen to… “Look What You Made Me Do“.

Musiknya mungkin punya beat enak, tapi… sebenernya, kalau mau ditinjau lagu itu rada-rada… ga bener, dan kayanya dibuat untuk sole purpose ngikutin market millennial yang sukanya sama Electro Pop.

I feel disappointed, jadi, aku mau balik dikit dan buat timeline-y thing ke Album Taylor Swift yang udah mulai (slowly) shift ke Pop.

Album 2010, Speak Now… banyak lagu memorable, kaya Back to December (which is still a sad tune, emosinya masih kerasa banget), dan Begin Again (lagunya terdengar realistis, dan bisa dibayangkan situasi di lagu itu cuma dari mendengarnya). Dear John yang  super panjang itu pun masih enak dan sedih. Kayanya pas Dear John itu purpose lagunya bukan vengeance, tapi emang write emotions down.

Album Taylor Swift yang Red (2012), meskipun makin shifting ke Pop, masih ada country style music, kaya Everything Has Changed (feat. Ed Sheeran), dan bahkan lagu pop-nya masih poetic, dan kerasa feel-nya. Coba juga denger lagu Red, yang musiknya ngikut market 2012 banget, tapi liriknya masih super poetic, dan cara Taylor jelasin masih bagus.

Even pas 1989, track pop-nya masih bagus dan ga cuma ngejar earworm and market, Art-nya masih kerasa, dan lagunya masih bisa kita relate… Like Blank Space and Wildest Dreams… Emotions put onto the song are still heard in the music.

Tapi… entah kenapa begitu Reputation, Taylor Swift masuk ke pool Electro pop dan mengecewakan beberapa fan country-nya. (okay, mungkin masih banyak yang suka, tapi just so you know… I don’t). Look What You Made Me Do sounded a bit like… earworm-y music, put for the sake of following the market, and making profit (and… apparently pas riset 10 menit untuk buat artikel ini, juga buat ngejailin Katy Perry).

I guess, kalau nulisnya buat pour emotion akan lebih bagus, tapi kalau nulisnya lebih buat… ngejailin and teade orang, hasilnya jadi… yaaaaaa gitu lah….

In Conclusion

Music does make Money, tapi jangan lupa bahwa Music in the first place itu art, dan art tidak harus selalu generate money. Art should be able to please its creator as much as it should please others. Bubi pernah bilang ke aku, kalau aku nulis, pastiin kamu nulis buat please dirimu sendiri, karena ga bakalan mungkin please others without pleasing yourself.

Art and music should be just the same… Kalau musiknya dibuat hanya untuk please market, maka ya… with all due respect, mungkin hasilnya sama kaya Look What You Made Me Do di mata orang yang suka musik, dan bukan fan dari artist itu sendiri.

Sure, she’s famous, but… somehow, I feel that there’s something wrong with her music, because she wants to follow the market…

Regardless, note bahwa ini sangat SUBJEKTIF dan OPINIONATED. But anyways, hope you enjoyed the article!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *