Flash Writing: Paradoks…

Flash Writing: Paradoks…

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

Dearest Reader…

Pernahkah kamu mendapatkan momen-momen atau situasi yang terbilang tidak ada solusinya? Well, step right up! Situasi yang tidak ada solusinya itu disebut paradoks… Which, kadang pop up dengan sendirinya, namun… umm ya gitulah… Kadang kita akan dapat headache 100 putaran kalau berusaha solve paradoks…

Sebelum beneran masuk ke  konten artikelnya, Paradoks sendiri mempunyai definisi yaitu sebuah masalah dengan solusi atau hasil yang kontradiktif dari harapannya. Tapi itu akan membingungkan orang-orang… Karena kenyataannya, paradoks yang membuat kepala pusing itu… bukan yang punya hasil kontradiktif, tapi yang tidak ada hasilnya sama sekali, atau terlalu banyak hasil hingga orang-orang tepar berusaha solve-nya.

Sebelum masuk ke artikelnya sendiri, sedikit cerita… Setelah sekali saja menyebut kata paradoks ke guru pramukaku… Dan menjelaskannya… Aku langsung dapat nickname Paradok… Yes, without the S… Paradok doang…

Regardless, artikel ini berisi cerita-cerita yang berisi atau berhubungan dengan paradoks…

DISCLAIMER: Artikel ini akan memutar-mutar kepalamu sebanyak sebuah mobil Bugatti Veyron memutar-mutar mesinnya. Good Luck!

Pay Attention… To Yourself

Ada saat dimana aku dan teman-temanku menciptakan paradoks secara tidak sengaja… (okay, sebenarnya aku doang sih, tapi kalau aku ga diajak ngobrol, paradoksnya ga jadi)

Kurang lebih ini yang terjadi… And FYI nama disensor karena… aku belum (read:ga bakalan) minta izin masukkin nama mereka…

  • Teman 1: Lusa mau magang di booth deket Taman Lansia, udah tahu mau dimana?
  • Aku: Umm magang apaan?
  • Teman 2: Kamu ga merhatiin? (emote tepuk jidad)
  • Aku: Well, kalian baru bilang 2 hari sebelumnya, mana aku mau tahu
  • Teman 2: Kita bahas minggu lalu…
  • Aku: We did?
  • Aku: Note to self… perhatikan diri sendiri dan/atau orang lain… (nih paradoksnya)
  • Teman 1: You should…
  • Aku: Hang on itu bisa jadi paradoks!

Which goes on ke aku menjelaskan paradoksnya dimana…

Kenapa ini paradoks? For starters aku yang semacam suka ga merhatiin (atau kelewatan satu dua message) di notif menunjukkan bahwa aku ignorant. On the other hand, aku buat note ke diriku sendiri untuk perhatikan diri sendiri.

Which, kalau aku perhatikan diri sendiri… mungkin aja sih, tapi gimana coba cara merhatiin dirimu sendiri, emangnya ga ngeh gitu pas ngelakuin sesuatu. . .

And now, on the other other hand…  Aku yang sempat ignorant berusaha memerhatikan sesuatu, which is possible, tapi di dunia paradoks, orang-orang hanya punya satu sifat. Dari sini paradoksnya muncul…

Aku yang ignorant berusaha memerhatikan orang lain dengan membuat pesan ke diriku sendiri. Tapi aku yangg  memang ignorant ada potensi mengabaikan pesan yang kukirim ke diriku sendiri, alhasil pesannya tidak sampai. Eh, tapi kan aku membuat mental note ke diriku sendiri, masa ga inget sih?

Nah itu paradoksnya, dan regardless pesannya mengenai apapun itu, orang yang ignorant tidak seharusnya bisa pay attention to something. Tapi orang yang ignorant juga harusnya tetep bisa pay attention ke diri sendiri.

So… bingung? Baca satu lagi yang lebih memusingkan… Ini paradoks pertama yang dibuat…

Oh dan gara-gara paradoks itu masalahnya ga keresolve dengan proper…

Zeno oh Zeno.

Paradoks pertama sendiri dibuat oleh philosopher (dan mathematician) bernama Zeno… Dan, jawabannya kurang lebih… tidak ada batasnya, like… at all…

Zeno membuat paradoks pertama dengan iseng… (or ga ada kerjaan… since orang-orang yang banyak tahu paradoks, or mikirin paradoks memang biasanya lagi ga ada kerjaan) Zeno yang iseng-iseng tuh, lagi melihat orang latihan memanah.

Dari orang yang lagi memanah itu, Zeno berusaha mengukurnya secara matematis, dari jarak menembak panah yang (anggap saja) 100 meter itu, Zeno mau mencari titik tengah absolut. Titik tengah absolut ini bermaksud sebagai titik tengah paling tengah, dan setengah tengahnya. Alias, dia mencari titik tengah yang… well… ini paradoks, kujelasin pake matematika aja ya…

Titik tengah dari target dan pemanah yang berjarak 100 meter adalah 50 meter. Titik tengah pertama dengan target berada di jarak 25 meter diantara target. Titik tengah dari titik tengah kedua dan target adalah 12.5 meter. (Maaf kalau bingung…) Jadi, Zeno mau menghitung jumlah titik tengah yang anak panah akan lewati.

Totalnya ada berapa? Well, ini bisa either 1 atau infinite. . . . . . . . Kenapa bisa cuma satu? Titik tengah absolut sendiri memang hanya ada satu, jika titik tengah yang dicari memang benar-benar titik tengah yang paling di tengah.

On the other hand, probabilitas ada infinite center points juga sangat mungkin…

Kalau kita ingin menghitung titik tengah yang paling tengah (bukan yang benar-benar titik tengah) maka gak bakal ketemu-ketemu. Kalau setiap titik tengah bisa branch dua kali, maka benar-benar ga mungkin ada batasnya sih…

Hanya masalah apa yang dicari. Tapi karena kita bicara Matematika yang jawabannya harus solid dan pasti… makanya Zeno baru saja membuat paradoks pertama

In Conclusion

Jadi? kalau pusing… kayanya wajar. Kalau ga pusing, then good job! Paradoks ini memang semacam brain test agar orang-orang yang ga ada kerjaan bisa jadi sedikit produktif dan mikirin solusinya…

Regardless, semoga artikel pendek ini menghibur!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *