Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Halo, akhirnya ketemu lagi dalam artikel yang membahas filsafat…

Setelah, sekitar 3 minggu. Meskipun ada kuliah di Unpar, aku sempat bingung mau menulisnya bagaimana, dan kebetulan kuliah jumat terakhir lebih mudah dimengerti.

Untuk sedikit informasi saja, 3 minggu terakhir membahas…

  • Universal Love, yang kayanya bisa dikemas untuk Millennial karena untuk pertama kalinya, filsafat membuatku tertawa, bukan hanya kagum.
  • Networks of Everything, filsafat ala IT
  • Serta, paradoks!

Paradoks ini yang jadi topik kali ini, karena membahas tentang Filsafat Post Modernisme juga. Sekarang, kita berada dalam era Filsafat kontemporer, tetapi, sebelum kontemporer kita ada di tahap post modern. Mari kita langsung masuk saja ke artikelnya ya!

Post Modern? Apa sih?

Post modern itu sebuah fase dimana pada dasarnya… filsafat di era itu tidak merujuk ke mana-mana… Sebenarnya itu hanya bercandaan. Tetapi, di balik bercandaan itu, ada betulnya juga… Era Post Modern tidak membangun apa-apa, yang mereka lakukan adalah memecah-mecah ilmu kompleks ke bagian-bagian yang paling sederhana, layaknya senyawa dirubah menjadi unsur…

Kembali ke bercandaan itu, biasanya post modernis tidak memiliki tujuan, atau tidak ingin menemukan apa-apa. Dan kayanya ini jadi bercandaan yang cukup umum ditemukan di kalangan dosen filsafat. Semua dosen di Unpar yang tidak dalam era post modern biasanya suka menyelipkan dikit sedikit tentang bagaimana post modernis tidak melakukan apa-apa.

Pada dasarnya, filsafat post modern tidak memajukan apa-apa, melainkan hanya menjelaskan dan juga membuat filsafat yang biasanya hanya bisa dimengerti oleh akademis, jadi lebih… simpel. Tetapi apakah ini berarti post modernis adalah orang-orang yang hanya memperbaharui dan menyederhanakan filsafat?

Gak juga sih, para post modern ini juga menyadari bahwa dari segala sesuatu yang disimplifikasi ini, banyak hal bisa dirubah, dan dia memunculkan 2 istilah favoritku sebelum aku belajar filsafat… Paradoks, serta relatif.

Jadi, sebelum kita maju ke mana-mana, filsafat post modern biasanya merujuk ke filsafat yang mendekonstruksi, dan memperindah hal-hal kompleks dengan membuatnya lebih mudah dimengerti, tetapi juga lebih runut.

Bingung? Bentar deh…

Dekonstruksi?

Dekonstruksi adalah dasarnya filsafat post modern.

Para filsuf di era ini sangat-sangat senang membuat hal-hal yang kompleks ini menjadi lebih sederhana. Dengan cara “meruntuhkan” bangunan yang sudah tercipta ini…

Anggap saja ada sebuah teori, atau formula fisika sederhana, seperti misalnya, F = MA. Atau, force = mass X acceleration. gaya = massa x percepatan. Maksudnya disini adalah, dalam dunia postmodern, semua ini dipecah menjadi entitas masing-masing.

Misalnya, gaya adalah gaya sendiri, massa adalah massa sendiri, dan percepatan adalah percepatan sendiri, dan masing-masing dari entitas yang disebut tidak akan dibangun lagi menjadi rumus yang sama, ataupun rumus berbeda. Sebagai contoh M di mass tidak akan dipakai untuk E = Mc2, dan hanya akan berdiri sendiri sebagai massa, yang mungkin akan dipakai di rumus lain, tetapi tidak akan pernah bisa berdiri secara permanen dalam sebuah rumus.

Everything should be made as simple as possible, but not simpler -Albert Einstein

Sesederhana itu! Masing-masing objek adalah sebuah benda terpisah dan juga tidak akan menjadi sebuah objek lain secara permanen. Tapi dari sini, para filsuf berpikir lagi, dan dari situ muncullah istilah nihilisme, serta relativisme. Dimana para relativis adalah orang-orang yang sengaja membuat hal yang udah sesimpel mungkin jadi gak simpel lagi, dan para nihilis adalah… dasarnya orang-orang radikal.

Relativisme

Dalam literatur, ada era romantisisme dimana segala hal dibuat berlebih-lebihan, dan terkadang ada kesan norak di tulisan itu juga. Iya, romantisisme artinya bukan hal yang romantis atau sebuah momen yang direspon dengan “AWWWWW”. Romantisisme pada dasarnya berarti… lebay.

Nah, dalam literatur juga ada yang disebut dengan Gothic style. Goth disini biasanya berarti orang-orang yang kekeuh untuk gak mau mengikuti gaya utama pada zaman itu. Dimana para romantisis memperindah hal-hal nyata dengan lebay, para goth memutuskan untuk membuat fiksi yang memperjelek kenyataan.

Pada era post modern, para romantisis, atau kurang lebih trendsetter di era tersebut, adalah para relativis. Para relativis disini percaya dan mengukuhkan pendapat dimana segala sesuatu yang sudah pecah belah itu, alias sudah dipisah-pisah formulanya sampai “berantakan”, atau setidaknya sampai runtuh… Para relativis ini memutuskan untuk membuat formula tadi agar relatif, dan menyesuaikan ke kebutuhan setiap situasi.

Rumus yang akan dipakai lebih sederhana kali ini, tapi misalnya… Sebuah persegi panjang memiliki luas yang dapat dihitung dengan rumus panjang kali lebar. Rumusnya dapat dikatakan sebagai L = P X l.

Sebuah relativis akan mencari apa hasil yang diharapkan, dan juga memastikan bahwa entitas terpisah ini bisa dan akan disesuaikan lagi kembali ke bentuk semula yang tentunya bisa dicetak lagi, dan dirubah lagi, tergantung ke kebutuhan orang yang memakai ilmu, atau formula tadi.

Jadi, dasarnya, para relativis ini membuat hal-hal yang kompleks menjadi sesederhana mungkin, dan memastikan bahwa kesederhanaan itu dapat dipakai dan dirubah sesuai kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, sebenarnya, para relativis cukup keren dalam bisa mengubah dan mengatur sesuatu.

Tetapi disaat yang sama, seorang relativis itu… merasa bahwa nyatanya, tidak ada yang nyata. Segala sesuatu berupa opini yang fluid, dan bisa berubah. Termasuk definisi dari suatu benda yang tampaknya padat itu… Opini nyatanya fluid, tetapi jika segala sesuatu bisa dipecah menjadi fakta, opini, atau formula yang fluid… tampaknya, tiada yang nyata.

Everything we hear, is an opinion. Not a fact. Everything we see, is a perspective. Not the truth – Augustus Julius Caesar

Dari situ muncullah istilah paradoks… Dan sebenarnya, meski paradoks sudah ada sejak zaman Zeno, seorang matematikawan yang hidup seabad sebelum Pythagoras, kurang lebih sekitar 3-4 dekade sesudah Thales meninggal… Paradoks terbesar (dalam dunia post modern tentunya) ada di relativisme, suatu hal yang merupakan buah dari tiang-tiang filsafat post modern sendiri.

Tetapi, sebelum membahas paradoks dalam definisi relativisme, kita akan masuk ke para goth, radikal, heretik, atau kata apapun yang kau ingin gunakan… untuk para nihilis.

Nihilisme

Nihilisme adalah sebuah kenyataan yang sekilas (emang sih, tapi jika mau ngeliat sekilas doang hasil yang sama juga didapatkan) kelam. Kelam disini berarti, hampa, tanpa arti, tanpa makna, tiada guna. Dan ya, cukup kejam lah…

Kata-kata yang aku pakai disini kebetulan, secara harfiah persis dengan definisi nihilisme.

Jika para relativis membiarkan formula yang terpecah tadi untuk dirubah-rubah, layaknya cairan yang akan mengisi dan memenuhi tempatnya dengan pas… Para nihilis tidak memberikan jawaban apa-apa, dan kesimpulan yang mereka dapat dari dekonstruksi ini adalah, hidup ini tiada artinya.

Makanya seperti aku sebut, mereka kaya goth di era romantisisme. Ketika orang-orang memperindah, atau dalam kasus ini, mempermudah, para goth malahan mengarang sebuah gambar yang rusak, dan dalam kasus ini, merusak makna.

Para nihilis percaya bahwa hidup ini tiada tujuannya, karena jika misalnya massa itu sudah membantu percepatan untuk menemukan gaya, nyatanya dia sendiri, tanpa tujuan, hanya melengkapi yang membutuhkannya.

Itu kaya misalnya seorang presiden sudah mengabdi dan memajukan negaranya selama 10 tahun, hanya untuk memiliki semua kebijakan yang ia buat untuk dihapus oleh penerusnya… Pada dasarnya, tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang utuh, tetapi dalam proses itu, banyak hal terbuang sia-sia.

Makanya para nihilis ini berpikir bahwa, jika segala sesuatu akan diambil sebagai individual, maka… untuk apa si individual itu ada? Pada akhirnya ketika orang mencari jawaban ke berapa gaya yang dihasilkan, apa guna si Massa dan akselerasi ini?

Sebenarnya pendapat nihilisme itu tidak sepenuhnya salah. Misalnya ada sebuah perusahaan besar, kaya… Gojek misalnya… Gojek tentunya memiliki banyak gerigi untuk membuat perusahaan itu jalan dengan baik, tentunya ada mamang gojek yang setia menjemput dan mengantar, customer service yang mau mendengar omelan orang-orang, dan juga para programmer yang memastikan aplikasi dapat berfungsi dengan fungsional.

Masih banyak lagi sih… Tapi kalau kita buka google, nama yang tampak adalah merek Gojek itu sendiri, serta Nadin Makarim yang mendirikannya. Padahal, Gojek itu tentunya hanya akan sukses sesudah semua gerigi beroperasi dengan baik.

Pada pandangan pertama, banyak sekali faktor yang namanya tak diketahui umum, untuk dipandang sebelah mata dan kadang dimaki-maki, untuk mendapat bayaran. Ini tentunya terkesan tidak adil, tapi tentunya, kalau ditanyakan, “untuk apa”, jawabannya adalah… Bayaran.

Tapi ya, sebuah rumus hanyalah sebuah rumus, dan kadang ini tampak kelam, tetapi kenyataan ini tidak dapat disangkal.

(tentunya, ini bukan berarti aku mendiskriminasikan, atau merendahkan gojek. Semua orang pasti punya perannya di dunia ini, dan terkadang, peran yang dimainkan ini tidak sebesar pemeran utama yang mendapat bayaran dan juga perhatian utama)

Paradoksnya?

Jadi, paradoks ini terletak pada tiang-tiang relativisme, yang berada tepatnya di bagian definisi yang fleksibel dan mampu berubah-rubah, dikarenakan, definisinya sendiri relatif.

Nah, sebenarnya, ini cukup ironis mengingat segala sesuatu yang berbau post modern biasanya mengacu ke relativisme, atau ke dekonstruksi. Tapi dari definisi relatif itu, tiang post modern malahan runtuh atas strukturnya sendiri.

Struktur post modernisme yang menjadi “Achilles Heel” dari seluruh sistem ini berada di frasa definisi relatif.

Kalau definisi segala hal itu relatif, maka definisi dari post modernisme itu relatif. Dan kalau definisi dari suatu hal yang bilang segalanya relatif itu relatif, maka nyatanya ada suatu kondisi dimana dia menjadi padat, dan tidak relatif, di saat yang sama mematikan definisi dasarnya sendiri.

Bingung?

Anggap aja definisi padat itu es batu, sedangkan definisi yang relatif itu air putih…

Si es batu post modernisme itu, bilang bahwa semua definisi itu air putih. Berarti ini termasuk dirinya, yang es batu. Tapi kalau dia bukan air putih, maka kenyatannya, definisi dirinya sendiri itu salah pas dia bilang semuanya itu air putih.

Makin bingung? Gapapa kok

Paradoks Itu Indah

Paradoks itu mengagumkan, membingungkan dan indah.

Jika ada hal yang tidak masuk akal, dan memiliki dua akhir yang menutup kemungkinan akhir yang lain, maka nyatanya dia membuat kita berpikir. Dan kita akan memikirkan paradoks ini sampai otak kita modar, atau overheat. Tampaknya mendasar, dan oleh karena itu…

Semua hal yang tidak masuk akal adalah suatu hal yang diperlukan sebagai pembanding untuk yang masuk akal. Jika tiada cewe jelek, kita takkan punya definisi cewe cantik…

Oleh karena itu, paradoks itu mengagumkan serta indah.

Kesimpulan

Kesimpulannya makin membingungkan lagi.

Anggaplah dunia ini berisi hal yang tak penting dan penting. Menurut post modernisme, manusia hanya melihat hal-hal yang ia anggap penting saja. Tetapi ini adalah paradoks, manusia mampu mendapatkan persepsi atas segala hal. Maksud dari pernyataan ini adalah, semuanya penting. Oleh karena itu…

Kita melihat yang kita anggap penting, tapi nyatanya, semuanya penting… Baik masalah terkecil, sampai sebuah konspirasi yang amat besar, segalanya penting. Hanya butuh waktu untuk kita melihatnya.

Apa hubungan ini ke paradoks?

Dasarnya, buat apa sih mikirin paradoks, buat apa mikirin filsafat? Dia penting, dan akan ada waktunya dimana dia menjadi penting. Cukup butuh waktu untuk menyadarinya…

Sampai lain waktu 🙂

3 Replies to “Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks”

  1. salah satu keputusan tepat di tahun 2018 : Subscribe dikakipelangi.com
    Cool paraah. Banyak hal yg njelimet tentang filsafat, tapi ente bisa jelasin dengan baik dan keren.
    Keep writing!! Keep ngisi otak ane dengan hal-hal keren, yak :v

    1. Wah terima kasih! Selain hal musingin tentang filsafat, (yang sebenernya makin ngadat karena makin lama belajar malah makin membingungkan), mungkin juga mau dilihat deh artikel santainya… Mulai dari cara meningkatkan search google, sampai perbedaan vibranium dan adamantium.

      Terima kasih sudah mau subscribe yaaaaaa ku senang sekali!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *