Fast Foods Are Bad For You…

Fast Foods Are Bad For You…

Hey, everybody, it’s captain obvious! Of course Fast foods are bad for us… No, who doesn’t know that? Bentar, ada banyak orang? Seriusan?

Hang on, kucek dulu… Okay, 75 Hamburger per detik… At this rate, McDonalds are selling burgers faster than new babies are born. Ini serius btw… Per detik ada 2-3 bayi lahir di sekitar dunia, dan ada 75 Hamburger yang kejual per detiknya, jadi, McDonalds menjual 75 burger per detik.

Well, at first aku ga yakin apa orang-orang, emang ga tahu bahwa Fast Food itu ga sehat buat kita… Or mungkin emang ada orang yang menggunakan itu as guilty pleasure. I’m sure there’s a combination of both. Tapi kayanya banyakan yang ga tahu bahwa Fast Foods are just baaaddd for us…

Well, aku rada penasaran ini kenapa, jadi aku bahas deh, since… I want to write something on a daily basis 😛

… dan kalau ga dikerjain sekarang ada kemungkinan ga kukerjain sama sekali… 🙂

DISCLAIMER: Ada chance bahwa data yang kudapat disini tidak apply dengan kondisi lokal, tapi tetep, keep your eyes open. We don’t know yet.

So, why are Fast Foods bad?

Okay, first of all, kalau aku ga ngasih empirical evidence, tapi bilang blah-blah-blah jangan makan fast food, atau blah-blah-blah kenapa orang makan fast food, tanpa actually ngasih evidence bahwa fast food itu ga baik, itu pointless… Jadi, ada bagian ini di artikel ini.

Well, for starters, they’re not and probably will never be freshly made. Iya, emang kayanya susah ngarep fast food yang freshly made. Well, to be fair, not all fast foods are fast foods. Masih ada restoran fast food yang punya cooked food. Tapi, mayoritas fast food kayanya emang deep fried, dan frozen, baru di unfreeze pas dimasak.

A majority of fast foods will be frozen foods, and won’t be freshly prepared. Aku ga punya angka/datanya sih, tapi ya mau gimana lagi atuh… Actual fast foods, kaya McDonalds atau KFC ga freshly prepared.

Mungkin itu rada cemen, dan sekali lagi ga empirical, karena ga ada solid evidence… Tapi, kalau kita bicara ingredients yang rada… kacau, and probably, terribly ga sehat.

Hey, there’s sand in some burgers… Sand = pasir btw… Yeah, ada PASIR di beberapa burger. Fungsi pasirnya itu untuk memprevent gumpalan dan mengeraknya sebuah daging, atau kaya sup-sup daging gitu. Yeah, pasir digunakan sebagai prevensi gumpalan… why? Can’t you use proper anti-caking ingredients?

Tapi, kalau berpikir sedikit kritis, daging macam apa yang bisa jadi kerak atau menggumpal ya? Well, funny story… common fast food burgers, hanya berisi 2-24% daging. Most of the times, jumlahnya lebih sedikit dari 10%. Jadi, hey, “Beef” Burgers can also be referred to as… 10% cow burger…

Eh, jadi sisanya apa dong kalau bukan daging? Itu, semacam Meat yang di mechanically separate to be as cheap as possible. Well, hang on, ini dulu sih, tapi ada saat MSM (Mechanically Separated Meat) ini memang dipakai di McDonalds. Isinya, umm, slime, kulit, dan blendered bones. Ewwwww

Most fast food companies claim mereka ga make ini lagi sejak 2012, tapi, who knows.

Andaikan sapi-nya juga sapi beneran, ada yang rada salah dari metode peternakannya, karena mereka menggunakan protokol yang tidak ecofriendly, dan pretty much memberikan sapinya makanan yang rada ga sehat. Since, they want profit. They don’t care, nor do they want the cows to be healthy. They see cows as assets, dan manusia sebagai konsumer. Kalau konsumer mau membeli asset, which, they still do, company yang punya asset-nya dapet duit.

Guess, that is all they care about…

Masih ada banyak dreaded ingredients-nya lagi lhoooo…

MSG! Yah, ini mah udah common di Indonesia. Tapi FYI aja, MSG ga sehat, tapi people keep coming back for more. Ini pressing matter juga di Indonesia, namun aku ga 100% yakin apa kita bisa actually manage through MSG problem, jadi, for now, karena orang-orang makan Micin/MSG di Indonesia bukan cuman dari Fast Food doang, ini ga aku bahas lebih dalam. Intinya, MSG itu, basically some ingredient to trick your brain and make you want more. Like a cigarette… Wait, itu juga masalah di Indonesia toh… Okay on topic…

Hey, ada antioxidant yang ditemukan di bensin! (No seriously though) Antioxidant ini namanya TBHQ, dan gunanya biar lemak di makanan ga ke oksidasi. Kalau ga kena oksidasi, maka ga basi-basi. Jadi… Umm, ini pengawet (which is already bad on its own), dan juga, jangan lupa, tambahin fakta bahwa ada konten bensin di sini… Jadi, ini double trouble! Btw dia disingkat TBHQ karena ngejanya susah pasti… Buka wikipedia dulu buat ngecek, bentar…

Tertiary butylhydro quinoa? quione? butylhydroquinone! Okay, ya intinya susah…

Next thing, some ice cream in fast food restaurants might contain… pulp kayu! Karena, pulp kayu bisa mengentalkan makanan. Pas aku bahas kertas, aku bilang bahwa ada cellulose dari tanaman untuk menciptakan kertas… and trust me, Cellulose is used to make paper. Jadi, kalau ada beberapa es krim di restoran fast food yang make Cellulose, secara tidak langsung, kita makan kertas…

Worst case scenario dari ini semua… Rambut… aku ga ngerti gunanya apa, tapi ada rambut yang dipake oleh beberapa restoran fast food, untuk dimakan… what?

Last but not least… Jangan lupa, meskipun masih ada hal aneh-aneh lain, ada juga proof bahwa fast food itu pake minyak, dan pretty much fatty, oily, bermicin, dan berkolesterol… Which is bad on its own. Bahkan, assuming ga ada TBHQ atau Cellulose, atau MSM, kita harus avoid oily and cholesterol-y food.

One question… jadi, kenapa kita masih makan fast food?

The Truth is Spoken

Di artikel ini, dan entah berapa puluh documentary atau artikel lain of course, the truth has been spoken… for entah berapa kali, I mean bahkan orang-orang yang udah tahu tentang cruelty yang involved dalam makanan seperti ini masih suka makan jarang-jarang mah. (as a confession, my family have eaten fast foods, and it does taste good, well we still eat them… rarely)

I mean, bukan cuma ga sehat buat kita, sapinya juga ga ditreat kaya makhluk hidup, dan barely get any sunlight, dengan makanan ga jelas yang ga sehat dan generate methane to accelerate global warming. Karena kita sangat butuh faktor lain untuk mempercepat climate change…

On topic…

Jadi, aku yakin ada aja orang yang ga tahu sih, tapi, kenapa orang yang udah tahu masih bisa aja keep coming back for more… I mean, itu kaya kita udah tahu kita punya temen yang ga ada manfaatnya buat kita, dan juga bad influence… Tapi tetep weee didatengin… karena, yeah, begitulah… Aku juga ga tahu.

Kaya lagu yang itu lho… “I keep coming back for more”

Keep Coming!

Mungkin ini misteri terbesar di dunia sesudah lokasi Infinity Stone ke 6…

Kenapa sih kita bolak balik ke restoran fast food. Ini spesifik ke orang yang udah tahu dan ga pura-pura nutup mata dari cold hard truth-nya. Kayanya Fast Food ini, something yang, pretty much irreplaceable… Since, no matter how bad it is, common person, or not so common person… mungkin mayoritas orang akan tetep balik ke restoran fast food.

This is me, a 15 year old trying to crack the code onto why fast foods keep their customers coming back… Wish me luck…

Certainty

Ini lho… Certainty. Certainty is something that only restaurants like fast foods could provide. Begitu liat logonya, kita punya semacam jaminan bahwa rasanya akan sama persis. Ini bukan cuma apply ke sesuatu yang lokal lho… Diluar negeri juga, meski mungkin ada produk berbeda, rasanya ga akan beda jauh. Dan trying out something new itu menakutkan untuk beberapa orang.

Jadi, aku yakin certainty itu termasuk faktor utama in terms of why they sell a lot.

Tapi, certainty ini bukan faktor yang massive sih sebenernya, dia faktor penting, tapi mungkin orang yang afraid to try something new bisa ke restoran lokal yang lebih sehat, jadi, meski ini faktor penting ini bukan faktor yang affects the numbers greatly.

MSG?

Yaaaa MSG itu pretty much a drug yang ga extreme. Considering produk Fast Food make MSG ga terlalu beda dari soft drug yang addictive. Jadi, sebenernya, ada biological factor juga kita keep coming back.

Tapi, again, ini bukan faktor yang massive in numbers, karena sebenarnya, source MSG untuk keep our heads in the ground dari fast food juga ada. Okay, MSG-nya sih ga sehat ya, tapi masih banyak source MSG lain, dan aku ga yakin ini faktor yang bener-bener penting, meskipun dia biologically trick our brains to have moreeeeeee.

Like you know, how a zombie eats a brain and makes the zombie want more. We’re basically zombies in the eyes of MSG.

Sebenernya rasanya juga enak sih, ga terlalu banyak explanation lain. Tapi, good food ga bakal jadi drug kecuali dikasih MSG. Nah, fast food-nya cause addiction (to some people) karena MSG.

Only Option…

There are times dimana bener-bener ga ada option lain buat makan apapun selain fast food, kalau semua restoran lain sudah tutup, atau memang kita misalnya lagi ke rest area yang isinya cuman fast food. And kita ga bawa bekel. Basically, there are times we need to consume food, and opsinya hanya tersisa fast food.

Not much help there. Tapi, dari perusahaan Fast Food-nya sendiri, mereka juga capitalize dan create opportunity ini dengan membuka restoran selama 24 jam… Jadi, ketika memang sudah malam, tapi belum makan dan lelah, memang hanya tersisa Fast food sebagai last resort dan opsi terakhir.

Sekali lagi, ini bukan faktor yang bener-bener gede, karena paling banyak ini invest ke orang-orang di jam yang malam, atau di rest area. Even then, meski ada orang yang merasa Fast Food adalah only option (while it’s not) itu kembali ke certainty and jaminan rasa yang jadi faktor pertama…

Jadi?

Well, sepertinya alasan di atas hanya bisa mencakup minoritas dari orang-orang yang memang tahu fast food itu buruk, jadi minimalize, tapi ga avoid altogether.

Tetep sih, donatur faktor terbesar di Fast Food itu, addicts, dan orang yang udah eat too much fast food, jadi lidahnya hanya merasa itu doang yang enak. Usually orang-orang itu… mmmm….. well, more shortlived.

Now, kayanya, faktor untuk mayoritas orang yang bener-bener apply adalah addicts yang mau makan banyak dengan harga relatif murah, dengan minuman super manis (yang mungkin kalorinya sebanyak kalori sebuah meal), with food that they deem good.

Intinya, sebenernya, semua orang come back ke Fast Food, karena biological factor, dan fakta bahwa harganya murah… Well, meski aku ga nyebut harga murah di atas, (dan ada fast food yang rada mahal), yang aku maksud murah itu, pas aku nonton documentary… Bilang bahwa fast food di US mengizinkan upsize dengan harga 50-75 sen. Which is about 6ribu rupiah – 9 ribu rupiah. (di kita juga ga beda jauh ya? My bad)

Now, kalau udah boleh upsize, harga yang murah itu trick orang-orang bahwa makanan ini punya value for money yang sangaaat baik. Which, I’ll admit, emang harga fast food itu murah, dan dengan porsi yang didapet, kita merasa kita spend uang kita untuk hal yang baik.

Pretty much, itu faktor utama dari para addicts…

Closed Eyes

Banyak orang yang basically leave their eyes closed. Mereka tertipu harga murah dan iklan, and maybe (maaf) underknowledged untuk even care bahwa makanan yang mereka makan itu ga sehat. Now, kayanya most fast food companies bilang bahwa mereka tercipta dari 100% daging, dan bahan mereka diadvertise di restorannya dengan cara yang super, well, I guess lying.

Since, honestly, who knows what’s the truth behind these companies.

Well, kalau kita liat banyak infografis yang well designed dan easy to the eyes untuk dibaca saat makan, kita mungkin akan merasa a bit fooled, thinking that the food we ate is healthy. Sometimes, we have to see things in a different light to notice what’s in the dark.

Basically, mulai dari alas yang dikasih sama fast food companies, iklan mereka, artwork di meja, sampai kertas bungkus burger, semuanya fungsinya sama aja. Untuk trick kita, dan eventually, we might actually be thinking that, what they say is true.

Aku ga ada intention buat buka aib orang, itu ga baik, tapi, kadang, di jaman seperti ini, yang makin banyak orang greedy, kita harus sedikit lebih cautious, dan ga bakalan apply lagi kalau kita mau menutup mata…

In Conclusion

Keep your eyes open. Be cautious… Bukan berarti harus kasih prejudice ke orang atau company. But if we do let the false light cast a shadow from the truth, we might actually forget the truth…

Waw, aku terdengar kaya preacher, atau conspiracy theorist…

Padahal teh tadi nulisnya dengan niatan santai… Semoga artikelnya diterima dengan baik!

Have a nice day

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *