Epic Face Palm #1

Epic Face Palm #1

Ini adalah serial kilat, hanya digunakan untuk menyindir beberapa banyak hal yang aku temukan dalam satu bulan kemarin.

Semuanya adalah momen yang sangat cocok untuk diberikan gif ini…

Ya, aku mulai sangat suka dengan meme ini, jadi aku kepikiran untuk bikin serial mengenai ini. Selamat membaca dan ketawa miris!

Nonton Film Yuk!

Bukan aku yang menemukan. Aku kekeuh gak mau main sosial media.

Mari kita bahas setiap komentar secara merinci, dan kita bahas seberapa face palm worthy ini…

Entar petugas kebersihannya tugasnya apa dong? Bingung saya
Terus tugas petugas kebersihannya ngapain?

Nah, Teteh/akang, kira-kira petugas kebersihan tugasnya apa sih? Coba tuh, biasanya megang HP sehari 5-6 jam ada? Coba googling deh tugasnya petugas kebersihan. Buka halaman pertama, kedua ketiga, tiga-tiganya adalah petugas kebersihan puskesmas…

Jadi, sebenernya… apa kira-kira tugas utama petugas kebersihan? Tugas mereka pada dasarnya bersih-bersih (*Captain Obvious kambuh lagi*). Secara teknis, kedua orang ini tidak salah. Memang betul tugas mereka bersih-bersih… Tetapi, apakah sulit untuk mau gotong royong sedikit?

Begini, kira-kira dengan kondisi bioskop penuh (dan iya, ini bioskop besar, seperti misalnya Dolby Audio Studio 1 di Trans Studio Mall) dan semua orang memesan pop corn misalnya… Sekitar 3-4 petugas kebersihan perlu menghabiskan waktu sekitar… 2-4 detik setidaknya per sampah sisa popcorn. Mulai dari mengambil sampah, dan juga memasukkannya dalam trashbag.

Memang betul tidak semua orang memesan pop corn, ada yang sekeluarga cukup satu Pop Corn, dan juga ada yang seorang satu. Beda-beda… Tetapi dengan asumsi bahwa di dalam satu teater XXI besar, dengan jumlah rata-rata 300-350 kursi, berarti dibutuhkan waktu sekitar… misalnya ada 200 porsi popcorn yang dipesan, berarti 200 kali 3 (median 2 dan 4), 600 detik, hanya untuk sampah pop corn, dibutuhkan 10 menit. Jika teater penuh, ada banyak sampah, termasuk yang tidak di cup holder, tetapi juga yang di lantai, mungkin bisa mencapai 20 menit…

Tetapi dalam 20 menit itu… umm… kurasa, jeda antar film dalam satu teater sekitar 30 menit. Kurasa masih sesuai dengan waktu ya?

Eh, lupa! Ada yang namanya secret ending dan iklan kan? Belum harus nyapu… hahaha!

Iklan misalnya 10 menit, jadi jika jadwal masuk dalam teater adalah 18.35, berarti film dimulai 18.45. Berarti, petugas kebersihan hanya punya waktu 20 menit, tepat dengan estimasi untuk bersih-bersih. Memang sih, teater tidak selalu penuh. Jika iya bagaimana dong?

Tetapi aku ingat, saat aku menonton Thor: Ragnarok, jeda masuk ke teater telat sekitar 10 menit dari jadwal. Aku yakin pada saat itu, teater penuh, dan tidak ada orang yang mau membantu petugas kebersihan. Coba bayangkan jika orang-orang yang egois dan tidak mau membantu memungut sampahnya sendiri itu berada dalam posisi orang yang harus tertunda masuk teaternya. Pasti kesal kan?

Coba deh, bayangkan saja, apa salahnya membantu orang lain, demi kenyamanan dirimu sendiri, serta orang lain… Kurasa memungut sampahmu dan mengumpulkannya serta memasukkannya dalam plastik sampah membutuhkan waktu sekitar 10-20 detik. Jika detik itu diakumulasikan ke semua orang dalam bioskop… maka, akan ada banyak working hour yang didapat hanya dari investasi waktu pribadi.

Jangan terlalu egois, coba pikirkan berapa banyak orang yang kamu ambil haknya, serta berapa banyak kebaikan yang kamu lewati dari tidak memutuskan untuk tidak membuang sampah ke tempatnya. Ini daftarnya…

  • Kamu melewatkan kesempatan membantu petugas kebersihan
  • Kamu melewatkan kesempatan membuat sesama penonton merasa lebih nyaman
  • Kamu mengambil hak orang masuk ke bioskop tepat waktu
  • Kamu mengambil hak bioskop memasang iklan (jika orang-orang masuk telat, film langsung diputar sesudah 1 trailer. Setidaknya pas Thor: Ragnarok begitu)
  • Kamu mengambil hak sesama pengunjung punya teater yang rapih, dan bisa keluar dari kursi mereka dengan nyaman.

Sekarang tahu kenapa dengan meluangkan 30 detik saja pahalanya sangat banyak, serta banyak dosa yang dihindari?

Kan sudah Bayar
Kalo bantu petugas bioskop, digaji gak min? Kebangetan kalau sudah bayar tapi disuruh bantu-bantu

Apakah uang menyelesaikan semua masalah?

Seriusan…

Uang adalah hal yang penting, tanpa materi, kecil kemungkinan seseorang untuk bisa hidup, ataupun untuk bisa mendapat entertainment dan merasa senang. Tetapi, apakah uang itu segalanya?

Gini, aku gak mau preach soal agama… Tapi, apakah kita bisa menjadi seseorang yang baik dalam mata tuhanmu (agama apapun yang kau anut) hanya dengan uang? Apakah kamu bisa menjadi teman yang baik dengan uang? (OH, coba-coba jawab ya… Kalau menurutmu hanya dengan banyak traktir temanmu kamu diangggap teman yang baik, maka kurasa kamu telah dimanfaatkan teman-temanmu) Uang bukan segalanya.

Memang betul kita sudah bayar, tetapi seperti aku sudah sebut di atas, ini bukan masalah apa-apa, ini masalah gotong royong, dan membantu orang…

Coba pikir lagi, apa salahnya meluangkan 10-15 kalori (setara dengan 5 menit tidur), dan juga 20-30 detik waktumu untuk beres-beres sampah, demi menghindari mengambil hak orang, dan membuat orang merasa lebih senang…

Gak usah dibantu, nanti bayar gaji buta dan tambah pemalas

3 hal yang salah dengan kalimat ini…

  1. Bayar gaji buta? Umm… Mereka tetap harus sapu-sapu oke, mereka tetap harus buang sampahnya dan membawa trash bag yang sedikit berat. Mereka tetap kerja, dan ini bukan gaji buta.
  2. Tambah pemalas? Kamu yang malas… Buang 30 detik hidupmu buat bantu orang aja gak bisa. Sedangkan jika aku hitung gaya penulisan kalimatnya, setidaknya butuh 45-60 detik untuk membaca post, berpikir akan komentar ini, dan mengetik komentarnya…
  3. Kamu yakin orang-orang malah makin malas dengan dibantu orang lain? YAKIN? Justru gak… Mereka bersyukur ada yang bisa membantu mereka, dan mereka senang… Seriusan, kurasa kamu gak pikirin dulu deh kamu mau ngetik apa pas bilang ini…

Ini baru satu dari 3 hal yang bikin epic facepalm… HA! HA! HA!

Minum Kopi Yuk!

Aku speechless, dan di akun twitter itu sangat-sangat-sangat banyak hal yang membuat epic facepalm disitu. (Juga dishare Babah, silahkan klik namanya di atas)

Kayanya sih Om Indra itu Barista di Starbucks, dan dari tiap hari kerjanya ia menemukan banyak hal yang menyebalkan dan curhat di akun Twitter miliknya. Kurasa ini pantas diberikan hore ke Sosial Media for once…

Kenapa hore? Jaman dulu orang curhat gini paling ke Pacar/Sahabat/Istri/Suami/Diary…

Jadi sepertinya, salah satu budaya negatif kita selain datang terlambat (WAH! Ini mah udah dari kapan tahu!) adalah kita tidak tahu diri ketika sudah mengeluarkan uang.

Aku akan bahas secara sedikit singkat mengenai semua tweet itu, dari atas ke bawah.

  • Waw… Kayanya orang itu adalah model orang yang, kalau gak dia kadang buang sampah sembarangan, dia gak bisa lihat tuh tempat sampah ada dimana, jadi mumpung ada yang nyapu nih, buang ah…
  • Dasar gak modal… Tanggal tua kayanya tuh, atau gak… emang kopet dan gak tahu diri aja. Aku ingat pernah menemukan serangga di makananku sesudah setengah habis, dan aku bilang ke seorang waiter, katanya diganti, dan aku menolak, aku bilang aku hanya laporan saja. Dan ingat, aku menemukan serangga, memang sesuatu yang salah dari SoP… kalau urusan rasa sih, udah kamu minum, berarti gak ada yang salah mestinya!
  • Guy or girl has anger issues… Enough said
  • 3 tweet ini sama saja ya… satu part. Sekali lagi, orangnya cukup gak sopan buat bilang kata tolol ke seorang pegawai. Berikutnya, dia gak tahu peraturan makan, tapi ya, itu sedikit sering di Indonesia… Lagian juga, ngilangnya 30 menit… itu lama juga lho, wajar barista-nya beresin.
  • Atas nama siapa? Mmmrsch… Maaf mas, atas nama siapa? Ngomong tuh yang jelas kek… Kayanya lagi mainan HP tuh… Memang ya, HP itu udah kaya kacamata. Dibawa kemana-mana, dipakai kapanpun.
  • Ini sedih banget deh… Masa coba ada orang yang rela untuk ngebiarin ibunya dikawal orang lain ketika ia sendiri bisa ngawal… Aduh. Ibunya juga baik banget, terlalu baik malah sama anaknya. Hiks… :'(
  • Kembali ke masalah uang… Kan gak muat lagian… Aduhhhh
  • Astaga naga… Kampungan banget tuh orang, gak tahu yang namanya self service, lagian ini kalau memang starbucks bukannya internationally (or heck, globally) seperti itu? Yah, aku mah kasian sih kalau dia nganggap self service itu aneh, jangan-jangan emang betul orangnya kampungan…

Jadi ya, umm, dasar manusia… Tapi, sekarang, mari kita bahas Kulari ke Pantai.

Yuk Lari ke Pantai!

Jadi, ini baru kemarin, dan ini adalah dua hal bagiku. Pertama-tama, ini epitome of irony dari film Kulari ke Pantai sendiri… Epitome berarti contoh yang JLEB! pas banget. Kedua ini berarti bahwa kayanya banyak banget orang nonton film latah doang, dia nonton film demi nonton film, atau mungkin demi sosmed. Umm, itu juga simbol ironi yang dibahas di Kulari ke Pantai… Tetapi, itu untuk besok saja yah…

Jadi, Kulari ke Pantai punya banyak pesan sponsor… Kalau memerhatikan, ada pesan sponsor untuk…

  • Indomilk
  • Gojek
  • Tolak Angin
  • Bank Mandiri
  • DLL

Tetapi, sebenarnya, yang kumaksud bukan pesan sponsor seperti itu, melainkan pesan sponsor yang berarti message penting, bahkan juga salah satu sindiran di film tersebut…

  • Banyak orang melakukan hal demi posting ke sosmed
  • Kita terlalu fokus dengan HP kita masing-masing
  • Foto itu sekarang foto orangnya, bukan foto orang+pemandangan (gak sepenuhnya betul, tapi… betul)
  • Mimikri sudah mengambil alih budaya kita… (kekeuh Postkolonialisme 😛 ) kita lebih sering menggunakan bahasa Inggris sekarang. Aduh!
  • Dan masih banyak lagi family values dan saran parenting di film tersebut. Banyak sekali contoh yang jangan dicontoh, tetapi juga banyak hal yang patut dicontoh…

Nah, jadi begini. Film dimulai dengan sekitar beberapa orang (ini dalam teater ya, bukan film) buru-buru membalas WhatsApp, kasih komen, atau… entahlah, aku tidak cukup cepat untuk menangkap 30 screen sekaligus. Sesudah 30 detik pertama sejak lampu mati, baru screen HP mati satu per satu.

Kukira orang-orang disini punya something important to do, dan mau bereskan urusan di HP, ya sudahlah, itu kuterima…

Eh, gak dong! GAK DONG!

Sekitar 45 menit menuju film, tepat pada adegan dimana salah satu tokoh utama yang fokus dengan gadget diambil gadget-nya oleh Tante-nya… Ada ibu-ibu mainan HP. Mata yang lain masih terpaku dengan screen, kurasa ini hal yang bagus, mungkin dari 50-an orang yang menonton, ada satu doang yang nonton for the sake of nonton.

Sekali lagi, aku salah.

Seiring dengan film maju, aku sukses menghitung 13 orang berbeda dari rombongan berbeda yang bergiliran (atau kadang bersamaan) memegang handphone, sekedar balas WhatsApp, scrolling IG, atau entahlah… Aku gak peduli. Eh, aku peduli, cuman aku gak peduli untuk tahu apa yang mereka lakukan…

Jadi, sesudah banyak sekali pesan sisipan bahwa orang-orang terlalu fokus dengan HP-nya di abad ke 21 ini, tetap saja ada orang yang kekeuh memegang HP dalam film yang literally berusaha membuat orang untuk melakukan sebaliknya.

Kesimpulan

WOW! 2019 mau ganti presiden? Aku takkan melarang opini politikmu, ataupun menyebut opini politikku sendiri, tetapi tolong… 2018gantiperilaku.

Yuk, share hashtag itu di sosmed, dan untuk sekarang gunakan sosmed untuk hal yang bermanfaat. #2018gantiperilaku tiap kali kamu menemukan sesuatu yang menyebalkan. Mungkin jika feed, timeline, or whatever your social media calls it is filled with that hashtag… Mungkin kamu akan berubah.

Aku tidak bermaksud menghina budaya kita, atau bahkan orang kita. Tetapi sejujurnya, memang banyak hal yang orang-orang kita lakukan yang… kebangetan, dan gak sopan. Aku dan beberapa temanku pernah membahas, mau pemimpin kita sekarismatik Hitler (karismanya doang yang diambil, kekejamannya gak), sepintar Einstein (sekali lagi, hanya kepintarannya, dia sedikit… gila soalnya), dan juga memiliki semangat Soekarno… Jika orang-orang dan rakyatnya tidak mau berubah, maka tidak akan ada pengaruh mau pemimpin kita seperti apa.

Jadi, sebelum 2019 mau ganti presiden, ganti mobil, atau ganti istri, terserah lah… Coba dulu, sebelum 2019, jadilah pribadi yang lebih baik… #2018gantiperilaku

Sebaiknya orang-orang adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sampai lain waktu! Aku masih hutang review film Kulari ke Pantai, dan juga beberapa hal lain. Semoga tetap mau mendengar opiniku, dan kumohon maaf jika menyinggung orang di artikel ini. Namaste!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *