Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Tiap kali bursa transfer terbuka atau tertutup, muncul banyak pertanyaan. Bagaimana cara sebuah klub papan tengah di Liga Inggris mampu untuk membeli calon bintang, atau bahkan bintang dari sebuah klub papan atas (top 6) di liga Eropa lainnya?

Dalam bursa transfer terakhir saja, Moise Kean dari Juventus pindah ke Everton untuk 29 Juta Euro, Sebastian Haller dari Frankfurt pindah ke West Ham untuk 40 juta Euro, Ismaila Sarr dari Rennes pindah ke Watford untuk 26 juta Euro, Joelinton dari Hoffenheim pindah ke Newcastle untuk 40 juta Euro, dan seterusnya. Dan daftarnya masih terus bertambah panjang

Haller yang bisa bermain di Champions League untuk Frankfurt di musim 2019/20 memutuskan untuk pindah ke Inggris
Kean yang membantu Juventus menjuarai Serie A memutuskan pindah ke Everton

Pembelian rekor klub-klub papan tengah EPL ini setara dengan pembelian rekor klub-klub papan atas (posisi 3-6) di Liga Italia (pengecualian khusus untuk Inter dan Roma tentunya, kedua klub ini menghasilkan banyak sekali uang dari sponsor), Liga Jerman, dan Liga Prancis.

Pertanyaan besar yang muncul adalah, bagaimana mereka bisa mengeluarkan uang untuk ini, dan mengapa pemain rela pindah dari klub papan atas, ke klub papan tengah di Inggris?

Kita bicara tentang seorang striker berbakat dengan usia di bawah 20 tahun, masa depan timnas Italia yang lagi berantakan, dan membantu Juventus memastikan gelar Serie A tetap jatuh ke tangannya… pindah ke klub di Liga Inggris yang bahkan tidak bisa selesai di 50% teratas pada akhir musim lalu, dan akan selalu dibayang-bayangi klub sekotanya.

Kenapa ya?

Like, seriously. Money.

Oke. Faktor paling sederhana dan mudah untuk seorang pemain pindah adalah uang.

Kenapa tim-tim posisi ketiga hingga keenam liga Eropa lainnya kesulitan untuk membeli atau setidaknya menyimpan pemain-pemain yang mereka hasilkan atau temukan?

Liga Inggris membagi 8.66 Milyar USD (income yang sangat besar) pada tahun 2018 ke 20 tim dengan rasio… 50% diberikan bulk di awal, secara rata antara keduapuluh klub. 25% diberikan secara gradual tiap kali ada pertandingan yang dimainkan, juga secara rata. Lalu 25% sisanya dibagikan berdasarkan posisi klub di akhir tabel. Pembagiannya juga tidak begitu berbeda jauh, kecuali kau membandingkan tim paling atas dengan ketiga tim relegasi.

Nah, mari kita masukan angka itu ke dalam perspektif dan membandingkannya dengan liga-liga lain.

  • La Liga, liga nomor 2 di Eropa menghasilkan 4.7 milyar USD tiap tahunnya, hanya sedikit di atas 50% uang yang dihasilkan klub di Inggris,
  • Serie A, menghasilkan 3.9 milyar USD tiap tahunnya,
  • Bundesliga menghasilkan 3.4 milyar USD per tahun
  • Ligue 1 menghasilkan 2 milyar USD tiap tahun.

Sekarang, mari kita bandingkan angka tersebut berdasarkan tempat klub-klub tersebut berdiri pada akhir musim.

Huddersfield yang finis di posisi terbawah Liga Inggris mendapatkan uang SETARA dengan uang yang Barcelona terima sebagai Juara Liga Spanyol. Huddersfield juga mendapatkan lebih banyak dari Atletico, Juventus, Bayern, dan PSG secara mentah dari Liga.

Uang ini tidak menghitung sponsor atau tiket tentunya, karena jika sponsor dihitung, kita akan melihat angka yang sangat berbeda di sini, mengingat Bayern dan Juventus mendapatkan stadion yang cukup penuh tiap kali ada pertandingan.

Coba pembaca pikirkan sedikit terlebih dahulu. Sebuah klub yang sukses bermain di Liga Inggris bisa kalah lebih dari 30 pertandingan dalam satu musim yang berlangsung 38 pertandingan, dan menghasilkan uang lebih banyak dari tim yang memenangkan 33 pertandingan dalam satu musimnya.

Meninggalkan Jejak

Sekarang, mari kita lihat dari sudut pandang seorang pemain. Tentunya, pemain sepakbola ingin meninggalkan jejak, atau catatan sebagai pemain, dan memenangkan piala sebagai satu klub.

Tapi secara realistis, jumlah klub unik dari lima liga besar Eropa yang memenangkan piala (baik liga, liga Eropa, atau turnamen gugur) hanya ada 9. Manchester City, Liverpool, Chelsea, Barcelona, Valencia, Juventus, Bayern, PSG dan Rennes. Sedangkan, secara total, ada 10 klub papan tengah di semua liga kecuali Liga Jerman, plus 9 klub papan tengah Bundesliga.

Berarti, ada 49 klub papan tengah dari total 98 tim yang ada di lima liga besar Eropa.

Jika seseorang tidak punya kemampuan yang cukup untuk bermain di salah satu dari klub yang juara, walaupun bisa berkompetisi di liga Eropa (seperti yang terjadi untuk Frankfurt) apakah seorang pemain rela bermain di klub yang kemungkinan akan nyangkut di 4 besar dan kesulitan menjadi juara?

Tentu tidak. Mending manfaatkan karir yang pendek ini untuk menghasilkan uang saja. Alhasil, pemain-pemain yang berbakat tersebut, yang semuanya sudah kubahas tadi, memutuskan untuk pindah ke klub papan tengah, tetapi dengan gaji yang setara, bahkan lebih dengan klub papan atas di liga-liga lainnya.

Survival Specialist

Ini menciptakan efek yang menarik tentunya.

Apa yang dicari dari seorang manajer klub papan tengah klub liga Inggris?

Tidak seperti di Eropa, di mana manajer klub papan tengahnya adalah manajer yang mampu bekerja dan memberikan hasil maksimum atau bahkan kualifikasi Eropa (seperti yang kita lihat dengan Atalanta, Getafe, dan Frankfurt pada musim kemarin) di Inggris, manajer papan tengah yang ideal adalah manajer yang bisa memberikan musim yang aman.

Jika anda bisa masuk top delapan, atau bermain di Europa League pada musim depannya, bagus! Tetapi, target terbesar dari seorang manajer adalah untuk selamat dari relegasi, dan memastikan bahwa musim berikutnya, klub masih menerima income yang selevel dengan juara Spanyol.

Ini alasan terciptanya pelatih macam Roy Hodgson, David Moyes, Sam Allardyce dan juga Tony Pulis. Ketiga pelatih ini mampu menyelamatkan timnya dari relegasi, tanpa mencapai hasil yang spektakuler. Hodgson menggunakan tim Crystal Palace-nya sebagai tim yang mempunyai struktur defensif yang bagus dan memukul cepat dan keras pada serangan balik ketika momennya muncul pada musim lalu. Moyes juga memiliki tim Everton yang memanfaatkan serangan udara dengan umpan-umpan dari Leighton Baines. Sedangkan, Pulis… Ugh, Stoke City yang ia pimpin terkenal akan kemampuannya bertanding fisik.

Strategi seperti itu bukan strategi yang bisa diterapkan oleh klub papan tengah di liga lain, karena mereka mengharapkan hasil dan income yang lebih tinggi, kemungkinan munculnya income ada di sponsor (yang akan kalah jika membandingkannya dengan klub lain) serta dengan bermain di liga-liga Eropa.

Menjadi Juara

Lalu, bagaimana cara klub-klub enam besar Liga Inggris bisa bersaing dengan satu sama lain?

Pada putaran tahun 2004, hanya 15 tahun yang lalu, klub dominan di Inggris hanya ada empat. Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea. Sekarang, angka tersebut telah menggelembung menjadi 6, Spurs dan Manchester City menjadi tambahan terbaru. Inggris sendiri punya 7 tim yang berkompetisi di UCL dan Europa League, jadi kalau kita ingin menganggap Wolverhampton sebagai tim papan atas, kita tidak salah.

Untuk memastikan ada kemampuan bersaing finansial antara keenam tim ini, hal termudah bisa terjadinya persaingan finansial ada di kompetisi Eropa.

Jika sebuah tim Big Six gagal mencapai kompetisi Eropa seperti yang terjadi pada musim saat Leicester City juara… Maka bisa dipastikan bahwa mereka akan menghadapi finansial yang sulit.

Apakah Liga Inggris Masih Sehat?

Tulisan hari ini akan ditutup dengan sebuah pertanyaan.

Jika anda bertanya padaku, aku harus cukup jujur dan lurus menyatakan bahwa secara internal, liga inggris adalah liga yang sangat sehat.

Namun, kalau kita merambah kepada empat liga di Eropa lainnya, muncullah pertanyaan, seberapa disruptif Liga Inggris yang menghambat pertumbuhan dan kualitas pemain di klub-klub tersebut?

Jika klub selevel Everton (dan camkan bahwa ini muncul dari fans Liverpool) bisa membeli bintang muda dari klub selevel Juventus karena memberikan gaji yang tinggi, apa yang enam klub-klub besar (dan juga menghasilkan banyak dari sponsor dan kompetisi Eropa tentunya) akan bisa lakukan untuk merusak pasar di liga lain?

Sepakbola tidak bisa sekedar nyangkut pada urusan uang, dan dengan level disrupsi yang diberikan liga Inggris sekarang, pertanyaan itu akan muncul jika tidak secara kontinental, maka setidaknya, pada tingkatan domestik keempat liga lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *