Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Sudah lama kayanya ya sejak ada tulisan mitologi. 1 tahun? Lebih? Anyway, dengan pengecualian tulisan mengenai The Burning Maze tulisan Rick Riordan, kayanya aku perlu menambahkan satu atau dua tulisan mengenai mitologi di sini.

Serial ini tidak terbatas ke Dewa-dewi yang umum anda temui, seperti Zeus, atau Ra, atau Thor, dan seterusnya, tetapi juga akan membuka jembatan ke dewa-dewi yang tidak begitu umum, macam… ya, nikmati saja dulu episode ini ya.

Oke, pertama-tama, sebagai pembuka serial, aku akan masukkan dewa Yunani favoritku, Apollo. Jika anda bertanya kenapa aku menyukai Apollo, alasannya ada banyak, tapi alasan utamanya sebenarnya cukup sederhana. Untuk seorang dewa lelaki, Apollo sangat feminin. Aktivitas favoritnya termasuk (tapi tidak terbatas ke) bermain musik, menulis puisi, dan juga memanah, yang merupakan metode bertarung yang sangat tidak “manly”.

Selamat menikmati.

Bagaimanakah dia bisa menjadi dewa?

Oke, ini akan menyulitkan. Ayah Apollo tidak lain dari Zeus, dan ibunya merupakan seorang Titan (sejenis dewa yang lebih kuno dari para dewa-dewa Olympia) bernama Leto, yang menjadi dewa para Ibu di Yunani sesudah drama kehamilan panjang lebar di bawah ini.

Seperti yang banyak orang ketahui, Zeus adalah (secara tidak resmi) dewa poligami di Yunani kuno. Jumlah pacar yang ia miliki sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat… banyak. Mungkin anda akan mendebat dan mengingatkanku bahwa itu hanya cara interpretasi para penulis mitologi di zaman dahulu kala karena banyak orang mengaku bahwa mereka adalah anak Zeus, tetapi bahkan jika kita tidak menghitung anak-anak Zeus dengan seorang manusia, pacar miliknya tidak sedikit.

Leto dan Zeus memutuskan untuk memiliki anak, dan ya, Leto hamil…

7 bulan kemudian sesudah Leto hamil dengan KEMBAR, ia menyadari bahwa ia sudah sampai ke fase melahirkan. Lalu Apollo lahir. Happy Ending! YAY! Oh, sebentar, ini mitologi Yunani, selamat menikmati plot twist brutal.

Ha. Terima kasih sudah menambah bebanku menulis cerita ini.

Perjalanan Apollo menjadi dewa di Olympus sebenarnya rumit, karena ibunya memiliki masalah kehamilan yang termasuk keliling dunia saat hamil, dikejar-kejar ular piton yang katanya gede banget, masuk ke gua yang berada di tengah-tengah Yunani kuno, dan tentunya, mencari sebuah pulau yang punya kemampuan teleportasi karena pulau itu satu-satunya pulau yang bisa menjadi tempat melahirkan bagi ibunya.

Leto tentunya menghadapi kutukan dari Istri Zeus yang sudah merasa muak akan ketidaksetiaan suaminya. Jadi, tentunya, karena suaminya tidak mungkin dihukum begitu parah, ia melakukan hal yang paling wajar. Ia melampiaskan amarahnya ke pacar suaminya.

Leto dikutuk, tentunya. Tidak ada satupun pulau, atau tanah yang memiliki akar, yang boleh menjadi tempat untuk melahirkan bagi Leto. Langit, lautan, dan juga dunia bawah tanah juga tidak bisa digunakan, karena ketiga penguasa daerah itu juga takut dengan Hera. (Zeus, Poseidon, dan Hades tidak ingin masalah dengan ratu para dewa tentunya… Terutama bagi Zeus yang cukup apes untuk memiliki istri yang galak seperti itu)

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia mencari tempat perlindungan di gua milik ibunya, Phoebe. Phoebe adalah seorang Titan yang mampu melakukan peramalan. Namun, sayangnya, gua tersebut dihinggapi seekor ular piton raksasa bernama Python karena tidak ada nama yang lebih kreatif dari itu.

Jadi, Leto kabur.

Dalam kondisi hamil kembar 7 bulan.

Dikejar-kejar seekor ular python raksasa.

Tanpa ayah dari kedua anak tersebut.

Dan dalam beberapa versi, juga dikejar kanibal raksasa yang dikirim oleh Hera. Untungnya aku baik, jadi dalam versiku, Leto tidak dikejar kanibal raksasa yang dikirim Hera.

Sesudah menerima ramalan yang berisi Syarat dan Ketentuan dari kutukan Hera, Leto menyadari bahwa hanya ada satu tempat dimana dia bisa melahirkan. Di sebuah pulau bernama Delos. Pulau tersebut merupakan satu-satunya pulau yang tidak memiliki akar.

Sayangnya, menurut hukum sains zaman baheula di Yunani, pulau yang tidak punya akar akan tertiup dan tergeser posisinya tiap harinya, dengan mudah ombak dapat menghempaskannnya dan memindahkannya.

Jadi akan butuh waktu yang sangat panjang untuk menemukannya.

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia membayar seorang pelaut, dan memintanya untuk berlayar sampai Delos dapat ditemukan.

Lalu Delos ditemukan. Cerita Apollo lahir sudah beres, Apollo dilahirkan di situ, bersama kembarannya, Artemis, dan kelahirannya disaksikan para dewi Olympia minus Hera.

Begitu lahir, Apollo langsung meminta sebuah gitar, dan sebuah busur serta panah.

Hal pertama yang ia lakukan? Bermain musik untuk mengisi keheningan di dunia ini, dan ia menjadi dewa terpenting bagi para seniman di dunia.

Oh iya, untuk orang-orang yang ingin tahu tanggal lahir Apollo. Tanggal 7, bulan 7, ketika ibunya hamil 7 bulan. 7 menjadi angka yang sakral bagi Apollo.

Ada beberapa versi menyatakan Artemis lahir terlebih dahulu dan membantu kelahiran kembarannya, dan juga ada beberapa versi dimana Apollo lahir sebelum Artemis lahir, dan ia memainkan sebuah lagu untuk menenangkan ibunya. Pilih saja yang mana.

Sesudah itu, Apollo melakukan hal yang dewa apapun akan lakukan sesudah lahir tentunya. Ia membalaskan dendam. Ular Piton yang tadinya mengejar ibunya ketika hamil… Woosh, ia bunuh dengan sekejap. Ia terbang ke depan gua di mana ular tersebut tidur, dan menembaknya dengan sebuah panah. Masalah selesai, ular tersebut mati!

Sesudah itu, apa yang ia lakukan? Ia terbang ke Gunung Olympus, rambut pirangnya berkilau, dengan gitar (karena Lira yang menjadi simbolnya belum diciptakan) di satu tangan, dan busur serta panah di tangan yang lain, menggedor pintu, dan meminta kursi Dewan Olympia.

Tiada yang berani menolak. Apollo tampak seperti seorang dewa, dan tentunya ia menjadi dewa yang amat penting. Artemis juga mendapatkan kursi dewan, namun dengan metode berbeda, dan aku tidak ingin mengetik terlalu banyak tentang itu.

Oke, dari lahir hingga ia menjadi anggota dewan Olympia. Sekarang, mari kita lihat hal-hal yang Apollo lakukan, dan seperti apakah tingkah lakunya?

Kepribadian, dan kekuatan.

Apollo adalah dewa laki-laki yang paling moody yang anda akan temukan.

Selain menjadi seorang dewa yang punya begitu banyak kekuatan dan domain kekuasaan, Apollo juga merupakan dewa yang sangat bergantung pada mood-nya untuk melakukan sesuatu. Ia dapat dengan mudah terdistraksi, dan ia juga dewa yang sangat sering melakukan hal yang ia sesali di kemudian hari.

Sama seperti tema angka 7 tadi, domain kekuasaan utama Apollo ada 7.

Musik, Memanah, Puisi, Ramalan (ceritanya panjang), Penggembalaan, Obat-obatan, dan Matahari.

Oh, Apollo dan Artemis juga merupakan dewa paling dihormati di Troya, jadi keduanya berperan cukup banyak dalam menjaga bangsa tersebut ketika sedang diserang oleh Prajurit Yunani.

Apollo sendiri baru menjadi dewa matahari sesudah banyak warga Yunani dan Romawi yang kebingungan dan menyalahkan dirinya sebagai dewa Matahari. Memberikan tugas tersebut dari Helios, ke Apollo. Apollo yang sangat flashy sebagai dewa membingungkan para raja Yunani kuno.

Mengingat bahwa ia sangat mudah bosan dan sangat Moody, (ia dapat dengan mudah terperangkap dalam satu emosi dan melupakannya beberapa hari kemudian) mari kita rekap beberapa kebodohan yang ia telah lakukan, dan emm, coba evaluasi sendiri mana yang kira-kira ia sesali.

  • Memerintahkan dan mengarahkan panah dari Pangeran Paris ke tumit dari Achilles.
  • Menguliti seekor/seorang Satyr (setengah kambing setengah manusia) bernama Marsyas karena ia kalah padanya dalam sebuah pertandingan musik.
  • Mengutuk Eros, (atau lebih dikenal dengan nama Cupid) dan menghinanya.
  • Mengejar seorang nymph bernama Daphne yang dikutuk oleh Eros untuk tidak pernah mencintai Apollo.
  • Mengusir dewa angin bernama Zephyros ketika sedang rebutan perhatian untuk seorang pasangan. Pasangan tersebut mati keesokan harinya karena Zephyros mengendalikan angin untuk melemparkan sebuah piringan besi ke pinggiran kepala pasangannya.
  • Dan masih banyak lagi.

Apollo begitu keras kepala dan sangat meledak-ledak ketika melakukan sesuatu hingga ia tidak dapat fokus dan serius seratus persen dalam melakukan sesuatu.

Selain itu, Apollo yang sudah jelas inkonsisten ini sering melakukan banyak hal yang ia tidak ingin lakukan, hanya karena mood-nya sedang jelek.

Sekarang, anda ingin menanyakan kenapa aku masih menyukai dewa ini?

Meski ia sangat moody, Apollo banyak disukai orang. Orang-orang akan selalu membutuhkannya, kapanpun, dan dimanapun.

Seorang seniman jelas membutuhkannya, seorang petani membutuhkannya karena ia dewa para gembala juga, seorang jendral membutuhkannya untuk memberikan keberuntungan bagi para pemanahnya dan para mediknya, dan terakhir, seorang raja juga membutuhkannya karena dia dapat memberikanmu informasi tidak jelas akan masa depanmu.

Apollo disukai warga Yunani dari pangkat apapun, dan apapun pekerjaannya.

Selain itu, walau Apollo moody dan sombong, ia bukan dewa yang sombong karena dia memang sombong dari sananya. Ia menjadi sombong dan merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus karena semua orang membutuhkannya, bukan karena karakternya memang sombong.

Ia tidak seperti beberapa dewa lain yang karakternya dibentuk semacam tragedi, justru sebaliknya. Karakter Apollo dibentuk atas hal yang bahagia, dan karakternya yang tidak stabil itu menciptakan banyak tragedi.

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *