Determination and Appreciation of Japanese People

Determination and Appreciation of Japanese People

Jadi ada cerita kecil yang memberiku inspirasi untuk artikel hari ini… Topiknya akan berada di orang Jepang, tepatnya ke minor trinkets yang mereka buat dan perfeksionisme mereka.

Earlier this morning… ada temanku yang menanyakan kenapa ada suatu event di messenger Line, yang memberikan petal bunga sakura (Cherry Blossoms) berjatuhan di aplikasi Line biasa. Awalnya aku ga ngerti sih, karena aku make Line Lite, jadi aku minta Screenshot, dan ternyata betul, Line Messenger memberikan petal bunga sakura di template dasarnya.

So, atas dasar kekepoan, aku mencari tahu kenapa itu terjadi (of course it is Spring to be fair, harusnya rada obvious), dan aku menemukan beberapa hal… yang rada menarik.

Baca seterusnya di artikel ini πŸ˜‰

Spring Blossom

Jadi sepertinya banyak sekali orang jepang yang memang admire dan bangga sekali pada bunga Sakura ini. Dan setiap titik balik musim semi, atau titik dimana Sakura ini lagi in full bloom, developer aplikasi KHUSUS membuat layout baru dengan cherry blossoms seperti ini yang bermekaran untuk jatuh dan tertiup angin, menciptakan efek lucu dan cantik.

Nah sebenarnya ini dilakukan oleh, semua developer aplikasi Jepang. It seems they really enjoy their own culture, dan mereka merasa senang bahwa ada sesuatu yang dibanggakan oleh orang Jepang dan seluruh dunia juga.

Oleh karena itu, mereka berbondong-bondong menggantikan layout mereka ketika bunga Sakura ini sedang fully bloom. To remind the world, bunga ini indah lho, aku merasa bangga menjadi orang Jepang, karena kita punya bunga ini.

Apakah yang mereka lakukan salah? Mereka bangga pada sesuatu yang “unique” to their own country? Keep in mind bahwa sejak zaman dahulu kala, para penulis dan poet asal jepang udah hobi nulis dan ngelukis tentang cherry blossom. Mungkin ini adalah ekuivalen zaman sekarangnya.

 Jadi, sebenarnya mereka sudah bangga pada simbol musim semi mereka sejak kapan tahu, dan mereka ingin membagi keindahan cherry blossom ini ke semua orang, agar mereka bisa melakukan “Hanami” (proses duduk dan menikmati bunga sakura yang jatuh, common di orang pacaran, karena kayanya itu imut…) tanpa harus ada di Jepang.

Now, on topic, mereka melakukan hal yang sangat bagus lho sebenarnya. Mereka merasa bangga pada budaya mereka, alhasil mereka membagi budaya mereka ke seluruh dunia. Dan semoga semua orang bisa melakukan hal yang sama.

Dalam topik mimikri, kita sebenernya rada aneh bisa gak bangga sama budaya dan natural occurences atas keluarga kita, itu rada aneh, tapi ya udahlah, kita mau bahas aplikasi dan behaviour orang Jepang secara general sebenernya.

Japanese Appreciation For Things

Petani Jepang memberikan beras terbaik ke keluarganya, dan menjual sisanya. Ini karena mereka sudah cukup bangga pada hasil kerja kerasnya sendiri, mereka tidak butuh pujian dari orang lain untuk memberikan mereka perasaan yakin dan pede-nya itu lho.

Mereka sudah bisa appreciate hal-hal yang mereka buat, dan hal yang sama bisa dibicarakan tentang Anime, yang dulu aku tonton, tapi sekarang gak karena ngeh bahwa anime itu… cheesy dan lebay.

Intinya orang jepang tidak mencari recognition dan apresiasi dari orang lain karena mereka sudah bisa mengapresiasi ciptaan mereka sendiri. Selain itu, mereka juga tidak overestimate banyak hal, karena mereka cukup driven dan konsisten untu menciptakan sesuatu secara maksimal.

Lihat Shinkansen misalnya… Shinkansen adalah kereta Magnetic Levitation yang hanya mendapat gaya gesek dari udara karena mereka melayang, dan dijalankan dengan elektromagnet yang didesain untuk mendorong si Kereta ini. Kecepatannya sudah cukup maksimal karena gaya gesek yang memperlambatnya sangat lemah, tidak seperti gaya gesek pada roda. Karena efisien dan kuatnya dorongan dari electromagnet kereta Shinkansen ini, kecepatan yang ia buat bisa mencapai kecepatan 603 Kilometer per jam. Tetapi karena bahaya, kecepatan yang mereka gunakan dibatasi ke 320 kilometer per jam. Which is pretty fast (okay kalah sih sama kecepatan maks-nya Bugatti Veyron, but still).

Nah, orang jepang tidak semata-mata bangga pada transportasi umum secepat Superhero DC favoritku di serial TV pas season 1 itu (The Flash…). Mereka tetap yakin bahwa sebagai manusia, mereka bisa saja mengalami kegagalan operasi, dan kabarnya Shinkansen yang ga pernah telat ini, tetep saja menyediakan surat keterlambatan untuk kantor ataupun sekolah.

Seandainya kita telat, Shinkansen akan memberikan kita surat izin karena mereka telat, dan sejujurnya aku yakin ga ada yang ngira telatnya berapa lama sampai kita akan diberikan surat izin. Kalau kusuruh nebak, mungkin kepikirannya 10 menit, 30 menit… but nope, telat 1 menit juga udah dikasih surat, dan drivernya harus membuat public announcement, apology dan explanation πŸ™‚

Speechless kan?

In Conclusion

Loh kok udah beres?

Yah sebenernya masih banyak banget yang bisa di explore dari artikel hari ini, tetapi aku rasa banyak hal yang bisa dicari dari internet mengenai artikel hari ini, jadi… ya sebenarnya anggap saja ini firestarter kalau reader disini masih beneran kepo tentang determinasi dan apresiasi orang Jepang pada hal ciptaan mereka, dan budaya mereka.

Jadi apakah sudah ada yang kepikiran atau ngeh mengenai seberapa wah-nya sebenernya orang jepang ini? Apakah ada yang berharap untuk tinggal di Jepang aja? atau mungkin ada yang emang udah mau jadi orang jepang sebelum baca artikel ini, karena Anime, dll?

Jangan lupa bahwa kita sebagai budaya juga cukup keren lho… Yang aku mau tunjukkin hari ini adalah cara mengapresiasi sesuatu, karena orang Indonesia seringkali melupakan seberapa kerennya kita sebagai budaya. Aku bukan kesini sebagai orang yang hanya impressed oleh orang Jepang, tetapi aku disini mau membawa spirit of appreciation atas budaya kita sendiri, dan effort kita sendiri…

Kira-kira kita bisa ga kalau kita mau merasa bangga pada diri kita sendiri?

You can always try! Until next time!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *