Debat Tanpa Henti: Komunisme vs Kapitalisme

Debat Tanpa Henti: Komunisme vs Kapitalisme

Artikel hari ini terpercik dari cukup banyak hal yang membuatku tertarik pada topik sederhana namun sepertinya tidak akan pernah beres ini. Sebenarnya kata tertarik juga boleh diganti dengan kata sebal.

Pertama dari topik ini berasal dari sebuah acara di Asian Food Channel yang menggunakan Axian, atau Jason sebagai host. Kemarin, episode sedang datang ke negara sosialis yaitu Vietnam.

Iya, sosialis, tolong dengar terlebih dahulu.

Kedua, dari banyaknya broadcast dan/atau perdebatan yang diberikan oleh beberapa orang yang merasa bahwa Indonesia harus lebih fokus ke sosialisme dan keadilan ekonomi, alih-alih perkembangan.

Ironisnya, dari semua orang yang membuat broadcast atau mendebatku seperti itu, mereka sangat tidak suka dengan komunisme. Cukup tidak suka untuk menyatakan bahwa komunisme adalah pemerintahan yang tidak punya agama.

Tidak akan membahas ketidakpunyaan agama itu hari ini, melainkan aku akan membahas apa itu Komunisme dan Kapitalisme dengan detil. Agar akhirnya, orang-orang bisa memandang manakah yang lebih ideal untuk sebuah bangsa.

Tentunya, kurasa tidak akan ada orang-orang yang membuat broadcast seperti itu untuk membaca post seperti ini, lagi-lagi blog ini, tetapi, kali ini, aku menulis untuk kepuasan pribadi…

Kapitalisme

Jadi, apa itu kapitalisme? (ha, aku sudah menulis sedikit banyak tentang ini, tetapi tetap saja, masih ingin menulis lagi, ha)

Apakah betul, seperti beberapa poster kecil yang dipasang di tiang listrik yang berada di dekat balai kota, kapitalisme adalah satu-satunya alasan mengapa masyarakat masih melarat? Karena pemerintahan tidak peduli pada mereka dan lebih peduli pada uang yang mereka dapatkan?

Apakah betul, kapitalisme adalah sejenis cara buruk untuk korupsi dan mengambil uang negara? Apakah kapitalisme itu sejenis cara mengambil dan memotong anggaran yang hak masyarakat, dan bukan hak negara?

ADUH! Pusing deh!

Tahu gak sih, selama aku ikut Pramuka Homeschooling tiap Rabu pada Taman Lansia, selama 2 setengah tahun, minimal 2-3 bulan sekali ada orang demo di depan gedung sate.

Ada yang teriak, ITU UANG MILIK RAKYAT! HENTIKAN! JANGAN COBA-COBA AMBIL! Ada beberapa orang yang memasang NAIKKAN GAJI BURUH! NAIKKAN! Juga ada petani yang menginginkan dan menyatakan bahwa Kemerdekaan itu tidak ada artinya selama uang masih dipegang negara, dan bla, dan bla, dan bla, dan seterusnya.

Belum lagi, masih ada beberapa warga di daerah Tamansari yang demo lewat Balai Kota ketika aku sedang menikmati Taman Sejarah… Mereka mengira bahwa pemerintah ingin mengambil lahan mereka untuk dijual, atau apalah.

Aku takkan protes jika orang-orang ingin demokrasi via demonstrasi, itu bukan masalah besar, tetapi, terkadang, orang-orang tidak mengerti, dan tidak MAU mengerti bahwa sebenarnya, kapitalisme hampir tidak sepenuhnya berarti keserakahan.

Intermezzo

Jin: HAHAHAH! SELAMAT! ANDA beruntung! Anda akan mendapat satu permintaan, karena anda menemukan saya!

Saya: WAH! Saya mau anak Naga campur Unicorn yang bersayap 4 dan bisa mengeluarkan api dari mulutnya!

Jin: Wah, tidak bisa! Lebih realistis sedikit dong!

Saya: Hmm… Saya mau mendapat anyak demonstrasi dan bentuk demokrasi terbuka yang lebih berkualitas dan dilakukan sesudah perhitungan matang.

Jin: Baiklah dek… Unicorn campur Naga mau yang Jantan atau Betina?

Lelucon didapat dari Babah (yang sepertinya menemukan via Twitter), silahkan klik namanya di kanan atas šŸ˜‰

Kembali ke Dunia Nyata

Jadi, apakah kapitalisme itu?

Kapitalisme berasal dari kata dasar, Kapita, atau Kapital.

Kapital bukanlah ibu kota, Kapital disini berarti pemasukkan.

Pada bentuk sedasar-dasarnya, kurasa siapapun itu akan mengerti jika aku menjelaskan kapitalisme sebagaimana berikut… Kapitalisme adalah sebuah cara pemerintahan mengelola sumber daya yang mereka miliki. Sumber daya tersebut biasanya dijual oleh negara agar pemiliknya bisa menggunakannya, dan negara menghasilkan laba.

Sederhana kan?

Nah, sekarang, yang perlu ditanyakan sebelum kita mendebat Kapitalisme dan Komunisme adalah… apa itu Komunisme?

Komunisme

TERNYATA KELOMPOK INI KOMUNIS? *Semua clickbait di Youtube yang berhubungan dengan politik*

Komunisme adalah sebuah cara mengelola pemerintahan dimana lebih dari 50% sumber daya dan lahan dikelola oleh pemerintah, dan tidak diperjualbelikan. Sederhana kah? Kurasa cukup sederhana.

Aku tidak tahu terlalu banyak mengenai apa yang dipermasalahkan orang-orang mengenai komunisme sendiri (selain fakta dimana Marxisme dan juga Leninis yang bermain dalam terciptanya komunisme), dan juga sejujurnya, aku juga tidak tahu apa perasaan orang-orang yang tinggal di negara berkembang dengan ideologi Komunis.

Mengapa negara berkembang saja? Karena kita sendiri masih negara berkembang. Dan juga, karena akan masuk akal jika negara yang maju untuk melakukan suatu tindakan yang bersifat preservatif alih-alih bertumbuh. Toh, mereka sudah maju.

Data didapat dari happyplanetindex.org update terakhir pada 16 Agustus 2018

Dari 5 negara komunis (Vietnam, Kuba, Tiongkok, Laos, serta tentunya, Korea Utara) yang masih berpikir secara komunis di dunia ini, hanya bisa didapatkan data untuk Vietnam, Kuba, dan juga (secara internal) Korea Utara.

Vietnam merupakan negara nomor 5 paling bahagia di dunia, Kuba juga merupakan negara nomor 8 paling bahagia di dunia. Juga didapatkan statistik di saluran TV Korea Utara bahwa mereka negara kedua paling bahagia di dunia, dimana nomor satunya adalah Tiongkok…

Finlandia adalah negara paling bahagia di dunia, dan tidak akan salah untuk menyebut bahwa mereka sedikit sosialis. Pajak yang ditagihkan ke setiap warga Finlandia lebih dari 50% (pada tahun 2018 ini, untuk memberi angka pas, adalah 56%), tetapi negara memberikan begitu banyak keuntungan dari pajak tersebut

Baiklah, aku merasa sedikit bingung disini… Kapitalisme memang menciptakan sedikit ketidaksamaan dan status sosial berdasarkan penghasilan, tetapi juga, untuk sebuah negara memiliki angka persamaan status sosial rendah (dikarenakan komunisme), perlu dilakukan komunisme yang drastis, dan bukan hanya sosialisme. Padahal kita tidak suka komunisme.

Mengakhiri Perdebatan…

Sebelum aku pergi ke komunitas debat untuk memulai debat, aku akan mengakhiri perdebatan dengan cara membuat sedikit pro dan kontra, tetapi aku tidak akan terlalu memfokuskan diri ke suatu sisi, dan akan dibuatlah gaya yang netral.

Pro dan Kontra Kapitalisme

Sedikit penjelasan sebelum masuk ke Pro dan Kontra…

Kapitalisme disini bukan dijelaskan hanya untuk laba. Kita harus berpikir lebih kritis. Aset milik kita manakah yang bisa dimanfaatkan untuk mendapat laba, dan dari laba tersebut, bisa datang aset apa? Apakah dari aset tersebut kita bisa memajukan teknologi? Membeli suatu hal yang kita tidak bisa beli? Apakah dari laba tersebut, negara akan korupsi?

Kurasa, berpikir terlalu kukuh mengenai suatu sudut pandang adalah tindakan yang amat bodoh, dan memperlambat majunya intelektual warga Indonesia. Jadi tolonglah, berpikir bahwa laba dari suatu sumberdaya yang kita miliki ini, pikirkan apa saja yang bisa didapatkan.

Pro dari Kapitalisme

  • Warga dibebaskan lebih banyak untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan, dan membeli apa yang mereka ingin beli.
  • Negara akan lebih mudah mendapat akses ke sumber daya yang tidak mereka miliki.
  • Banyak sumber daya lebih yang bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan negara.
  • Laba dan sumber daya dapat tumbuh dari udara kosong jika ada manajemen yang baik, dan juga… tentunya sedikit bunga di sana dan di sini.
  • OPINI: Kurasa Kapitalisme cocok untuk negara berkembang agar bisa menjadi negara maju.

Kontra dari Kapitalisme

  • Kesenjangan sosial yang tinggi.
  • Tragedy of Commons sangat mungkin terjadi, ketika seseorang menginginkan suatu sumber daya terlalu banyak hingga ada orang-orang yang tidak bisa menikmati sumber daya tersebut lagi.
  • Negara kapitalis akan melemah jika mata uang milik mereka terkena inflasi.
    • Catat bahwa inflasi bukan sepenuhnya salah pemimpin. Meski itu mungkin saja betul.
  • Warga yang kurang pintar membelanjakan uangnya bisa terjebak uang.

Meski sebenarnya, kurasa warga Indonesia akan lebih senang jika diterapkan pemerintahan sosialis kapitalis, tapi mohon ingat bahwa masih ada keterbatasan sumber daya, Kapitalisme tetaplah metode terbaik menurutku, setidaknya untuk sekarang.

Pro dan Kontra dari Komunisme

Komunisme juga, sekali lagi, tidak bisa hanya dilihat dari sudut sosialis.

Pikirkanlah ini dari kacamata milikmu, namun juga pikirkan ini dari kacamata orang-orang dengan penghasilan yang dibawah dirimu. Apakah mereka akan merasa lebih senang?

Pro dari Komunisme

  • Kesenjangan sosial minim.
  • Pemerintah dapat mengendalikan dan mengetahui lebih detil apa yang dimiliki oleh tiap warga.
    • Alhasil, lebih sedikit kemungkinan adanya pembelian mengenai barang-barang ilegal.
  • Tidak dibutuhkan uang untuk melakukan pemerintahan komunisme
    • Meski kontroversial, tidak salah juga šŸ™‚
  • Warga akan merasa lebih senang. Terutama jika mereka sejak lahir berada dalam negara komunis.

Kontra dari Komunisme

  • Tidak semua negara bisa menjalankan pemerintahan komunis, alasan utama dari kurangnya sumber daya.
  • Tidak banyak ruang untuk pertumbuhan negara.
    • Ini tentunya tidak sepenuhnya benar. Masalah dari ini adalah, tidak banyak dari negara komunis yang bisa dijadikan contoh, dan salah satu dari negara komunis tersebut sudah cukup maju, dimana satu dari negara komunis itu menganggap senjata nuklir sebagai pertumbuhan negara.
  • Pemerintah mampu mengeksploitasi dan memanfaatkan sumber daya yang telah dirasa sudah dibagi dengan adil, sisanya dapat digunakan untuk hal yang …Lihat kasus senjata nuklir di atas.
    • Masih bisa terjadi dengan pemimpin kapitalis yang korup. Namun, karena minimnya pemerintahan komunisme dan contoh terbaik adalah… Korut, Tiongkok, serta Kuba…

Bagaimana opsimu? Sebenarnya Komunisme masih mampu untuk memberikan ruang untuk pertumbuhan jika orang-orang yang berada dalam pemerintahan komunis tersebut mau menyisihkan uang untuk pertumbuhan… Namun, karena kurangnya contoh, dan juga sistem komunis yang dijalankan dengan optimal serta baik… Kurasa, banyak stigma yang muncul dari istilah tersebut sendiri.

Dan iya, Richard Marx… Eh, Karl Marx dan Lenin merupakan orang yang memberikan ide tersebut jadi, stigma makin buruk.

Kesimpulan

Berpikir kritis.

Apa susahnya berpikir kritis sesekali?

Kenapa banyak orang mau saja memanfaatkan orang yang tidak mau berpikir kritis ini?

Mereka memutuskan untuk memberikan sebuah frame dan membuat banyak orang melihat apa yang mereka ingin lihat. Aduh, jujur deh, aku mulai lelah dengan bangsa kita.

Sampai lain waktu. Indonesia masih Subuh, semoga kita akan bangun dan mau untuk berpikir lebih mandiri serta kritis.

P.S. tanggung kalau artikel ini beres dalam 1485 kata ditambahkan 15 kata lagi… Biar pas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *