Data Abuse. Bagaimana cara seseorang memanfaatkan data?

Data Abuse. Bagaimana cara seseorang memanfaatkan data?

Pernahkah anda kehabisan buku untuk dibaca? Orang sepertiku yang mengalaminya selama 1 bulan terakhir memutuskan untuk membaca 3 buku dengan sangat lambat. Umumnya aku membaca 3 buku dalam satu minggu. Kali ini, aku hanya membaca 3 buku dalam satu bulan.

Lebih lucunya lagi, aku tidak sekalipun mencari daftar buku terlebih dahulu. Aku mencari buku yang ada di situs berbagi Ebook di Internet, dan aku memasukkannya langsung ke Kindle milikku (yang sekarang hanya punya sisa 30 megabyte ruang) lalu aku baru beres membacanya hari Senin kemarin.

Aku bukannya membaca buku lebih sedikit, tetapi aku memperlambat proses membacanya agar aku tidak perlu begitu bingung mencari judul buku lagi yang dicari.

Dan ternyata… dua dari tiga buku yang aku baca saling terhubung.

Tulisan hari ini tentang data. Sesudah beres basa-basi, selamat menikmati tulisannya!

Dataclysm.

Cataclysm. Sebuah kata yang berarti kekacauan, kerusakan, kehancuran.

Christian Rudder dengan pintar memainkan kata tersebut menjadi Dataclysm. Buku ini dikeluarkan tahun 2013 dan aku menyukainya!

Bayangkan sebuah dunia di mana data adalah aset paling berharga (klise dari semua seminar programming dan computer science yang aku dapatkan biasanya “Data is the New Oil”) memang iya, data itu berharga, tapi dalam buku ini, Rudder tidak menjelaskan semua hal yang membuat aku pergi dan mengurangi belajar computer science… Rudder tidak menjelaskan cara mendapatkan data, melainkan cara memanfaatkannya.

Christian Rudder ini orang yang sangat-sangat geeky. Dalam buku ini, dia menceritakan bahwa hobi miliknya adalah bermain Board Game dan mengumpulkan kartu koleksi, dan kegiatannya sehari-hari adalah menjalankan sebuah dating site yang ia miliki bernama OkCupid.

Oh, dan ternyata dia juga punya hobi melakukan stand-up comedy walau ia tidak begitu terkenal karena hobinya tersebut. Langsung saja kita bahas buku miliknya!

Standar Relatif dan Stereotipe.

“Aku tinggi kok! Buat orang Asia…”

Satu hal yang Rudder ungkit mengenai data adalah seberapa konyolnya hal-hal yang orang-orang lakukan ketika menilai sesuatu. Diberikan sebuah data, Rudder menjelaskan dengan sederhana bahwa orang Asia, Hispanik, African-American, dan Caucasian di OkCupid memiliki banyak penjelasan dan penggunaan kata-kata yang konyol.

Ketika kata “Hip-Hop” muncul lebih banyak dari kata “The” untuk orang African-American, dan ketika kata “SAT Scores” muncul lebih sering dari kata “How” untuk orang Asia di OkCupid ketika berusaha membuat smalltalk dengan calon pacar… Anda tahu kenapa ada banyak stereotipe yang diberikan kepada orang-orang berdasarkan ras mereka. Sayangnya stereotipe tersebut seringkali benar.

Orang-orang menilai satu sama lain berdasarkan standar dan cara mereka melihat orang tersebut. Pertanyaan ketika menilai orang bukanlah “What” melainkan “How”.

Orang African-American punya kecenderungan untuk tidak menyukai orang dari ras lain jika ada yang menyindir mereka dengan lelucon “Do you like Fried Chicken?” Tetapi ketika lelucon tersebut muncul dari orang african american lain, mereka tidak merasa tersinggung.

Aku bisa bicara cukup banyak (mungkin terlalu banyak malah) tentang ironisnya data dan konyolnya data yang diberikan Rudder dari situs kencan online yang ia miliki… Tetapi kurasa cukup jika aku bilang bahwa stereotipe orang ada benarnya. Hanya saja jika orang lain yang menilai stereotipe tersebut (dalam kasus ini orang dari ras berbeda) kita merasa tersinggung.

P.S. Do you like fried chicken adalah lelucon tidak sopan dan gelap karena pada era perbudakan di U.S. makanan yang diberikan pada budak-budak berkulit hitam adalah ayam goreng.

Rudder menjelaskan (dan akan aku jelaskan di bawah) bahwa data sering disalahgunakan… Tetapi untuk sementara, kita ke judul buku nomor 2!

Infinite Mindset

Simon Sinek menulis buku ini. Aku juga tidak ada tujuan sedikitpun untuk mencari Infinite Mindset, hanya saja buku ini pernah muncul di atas daftar e-book sharing site yang aku gunakan, dan… Aku mendownload-nya saja.

Buku ini lebih modern dari Dataclysm dan lebih banyak membahas tentang bisnis kebanding datanya sendiri…

Metrik-Non-Metrik

Sebuah mobil mampu berjalan 500 km/ jam. Mobil dari merek lain mampu berjalan dengan kecepatan 550 km/jam dengan harga yang sama, desain yang sama bagus, dan penggunaan bensin yang sama. 1 bulan kemudian, mobil 550 km/jam tersebut tidak lagi diproduksi karena tidak laku.

Perusahaan mobil yang mendesain mobil 500 km/jam tersebut (ini angkanya agak gak realistis ya… maafkan) mengeluarkan mobil baru. Kecepatannya hanya 400 km/jam, tetapi desainnya amat bagus, dan didesain oleh desainer interior paling terkenal dari Italia.

Perusahaan B yang mendesain mobil 550 km/jam melakukan hal yang sama, dengan kecepatan yang sama, tetapi dengan desain yang lebih bagus. Perusahaan A tetap lebih laku.

Banyak sekali bisnis dan perusahaan yang menggunakan metrik sebagai patokan kesuksesan mereka. Padahal tidak ada hubungan metrik sama sekali dengan kesuksesan. Orang-orang yang menggunakan metrik sebagai patokan kesuksesan adalah orang-orang yang menganggap bahwa untuk bisa bahagia, butuh uang yang banyak.

Sinek membahas cukup dalam tentang kepentingan seseorang untuk tidak memanfaatkan metrik sebagai tanda kesuksesan.

Walau terdengar agak-agak oxymoron mengingat tulisan hari ini tentang data, dan data hampir 100% berhubungan dengan metrik… Itu yang ingin aku bahas. Penggunaan data adalah hal yang amat sering jadi miskonsepsi oleh orang-orang…

Aku tidak berhak mengkritik orang-orang yang memiliki bisnis tentunya… tetapi dari pengalamanku selama ini belajar computer science dan sudah hampir 2 tahun blog ini berjalan… Itu satu hal yang aku yakin, orang-orang menggunakan data untuk hal-hal yang salah, atau setidaknya, belum memanfaatkan data ke potensi maksimalnya.

Penggunaan Data

Ada perusahaan penyedia jasa telekomunikasi seluler yang terkenal akan keseringannya membocorkan data.

Seringkali orang-orang membahas tentang penggunaan data dan klise yang aku sebut di awal (data is the new oil) sampai kadang aku berpikir orang-orang yang menjual data secara harfiah menganggap bahwa data is the new oil adalah klise yang harfiah. Seperti minyak, kita perlu menjualnya ke orang-orang yang mampu membeli.

Memang pernyataan “Data is the new oil” tadi agak-agak sering digunakan sehingga bukannya terdengar inspiratif malah terdengar menyebalkan, tetapi aku yakin 100% bahwa kalimat tersebut benar. Minyak tidak hanya digunakan sebagai komoditas atau sebagai bentuk lain dari uang. =

Minyak, selain bisa dijual, juga bisa digunakan untuk menjalankan mesin dan meningkatkan efisiensi serta daya kerja sebuah pabrik. Itu yang terjadi pada awal revolusi industri. Revolusi Industri kali ini (4.0) juga memanfaatkan sebuah komoditas ala-ala minyak, dengan cara yang salah.

The Metric Overuse.

Simon Sinek dan Christian Rudder menjelaskan tentang data dari dua sudut pandang berbeda. Christian Rudder mengambilnya dari sudut pandang IT, sematematis mungkin. Simon Sinek, di sisi lain mengambilnya dari sudut pandang buku self-help, atau buku yang mengambil sisi bisnis.

Tetapi keduanya setuju akan satu hal.

Kita terlalu berlebihan bergantung pada metrik yang jelas-jelas finite (alias terbatas).

Nilai di sebuah ujian, kecepatan sebuah mobil, jumlah angka popularitas, (iya, popularitas juga bisa diukur sekarang, ada software untuk itu) bahkan hal-hal yang baik seperti indeks kebahagiaan semua diambil dari sudut pandang yang empirikal tetapi terbatas.

Dunia mulai salah dari sudut pandang tersebut. Seperti biasa aku mengkritik orang-orang yang membiarkan gaya berpikir mereka terbatas ke sebuah angka.

Kalau kita membatasi diri kita ke sebuah angka, sementara banyak hal yang bisa diukur lainnya… well… Tanya Einstein saja.

Ia sudah menjelaskannya dengan cara paling elegan dan sederhana, aku rasa tidak ada yang bisa diperbaiki dari quote yang satu ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *