Consistency Vs Success

Consistency Vs Success

Tulisan pendek dan (EDIT: ehem, sesudah menulis, sepertinya tidak terlalu) sederhana hari ini…

Apakah konsistensi dapat mengalahkan kesuksesan yang hanya sementara?

Sebenarnya ide tulisan ini muncul ketika aku mendapatkan suatu kilatan ide yang berasal entah dari mana mengenai sebuah materi kuliah pada tahun lalu… Akurasi Vs Presisi.

Entah mengapa aku menjadi ingat pada pembicaraanku dulu saat aku kelas 3 SD, dimana aku masih cukup sering mengikuti sepakbola, tidak seperti sekarang dimana aku hanya menonton saat piala dunia.

Tim dukungan ayahku dan diriku, Liverpool, kebetulan masuk Final F.A. Cup pada tahun 2012. Melawan Chelsea di final, dan meski ada sedikit kontroversi ketika Andy Carroll seharusnya menyamakan skor 2-2 (Iya, itu bola masuk ke belakang garis, aku serius) tetapi tidak dilihat oleh wasit (dan para generasi baru nonton piala dunia 2018, kumohon, belum ada VAR) sehingga Liverpool kalah…

Artikel konsistensi vs sukses hari ini takkan ada hubungannya pada final 6 tahun lalu, tetapi lebih ke kiper-kiper yang kesambar petir ketika situasi tegang.

Brad Jones, seorang kiper Australia, yang dipuji-puji temanku dulu, karena selama ia dimainkan, Brad Jones sangat-sangat sukses dalam melakukan super save. Mirip Jordan Pickford dan Cho Hyun Woo ketika piala dunia dan kedua kiper tersebut tiba-tiba jadi super duper jago dan melakukan banyak sekali super save.

Pada sisi lain, ketika kita bicara konsistensi dan sukses, akan cukup banyak orang yang merasa bahwa sebuah sukses ketika permainan skala besar (terutama saat FA cup dan turnamennya bersifat eliminasi alih-alih poin) akan tampak jauh lebih wah terbanding saat permainan biasa-biasa saja.

Consistency Vs Success, which is better?

Dalam kasus kiper tadi, perlu diingat-ingat bahwa kiper juga seringkali memerintahkan Defender agar bisa menghalangi dan memastikan bola tidak masuk ke posisi dimana ia harus melakukan sebuah super save. Jika bola sudah masuk ke dalam posisi yang canggung dan perlu ditangkap dengan loncatan akrobatis, maka sejujurnya, kiper itu memiliki andil salah dalam memberikan perintah pada Defender untuk menghalangi para Striker.

Tetapi, apa yang lebih menarik? Kiper menangkap crossing sebelum ada serangan, atau kiper loncat entah sejauh apa dan memukul bola agar tidak masuk ke gawang?

Tentunya, super save akan jauh lebih menarik daripada gerakan penampilan biasa dan konsisten.

Itu alasan para penonton yang melihat Korea Selatan main akan senang, karena kiper Cho Hyun Woo (dan rambutnya yang ala Boyband Korea) telah sukses melakukan entah beberapa kali tembakan yang tepat sasaran.

Jadi, sebenarnya, apakah sukses secara sesekali lebih baik dibanding konsistensi?

Failure of Consistency

Konsistensi didapatkan bukan secara persentase saja, tetapi juga dari angka itu secara mentah-mentah. Mengerti maksudnya?

Semakin sering seorang situasi atau pemain diuji konsistensinya, maka semakin sering juga titik konsisten itu akan roboh, dan tidak lagi jadi konsisten hingga mereka gagal…

Coba anggap saja statistiknya seperti ini, (sekali lagi dalam kasus kiper)

Statistik dikutip dari premierleague.com

128 Clean Sheet dalam 320 pertandingan (40%), 0 error yang mengakibatkan gol, dan 0 kali penanganan bola yang buruk hingga bola masuk. (ketika ada yang menendang bola begitu kuat hingga kiper tidak bisa menangkap atau menepis sampai bola masuk)

93 Clean Sheet dalam 237 pertandingan (39%), 7 kali error, 6 penanganan buruk

48 Clean Sheet dalam 128 pertandingan (37.5%), 4 error, 2 kali penanganan buruk

13 Clean Sheet dalam 29 pertandingan (44%), 2 kali error, 1 kali penanganan buruk

Nah, untuk melihat konsistensi, perlu dicatat bahwa suatu konsistensi hanya bisa dilihat dari seberapa jarang ia gagal dibandingkan dengan seberapa sering ia sukses.

Kiper pertama adalah kiper legendaris Peter Schmeichel, jadi jangan terlalu terkejut…

Kedua, juga dari Manchester United, adalah kiper yang berpotensi untuk menjadi kiper legendaris, David De Gea.

Ketiga, adalah kiper Chelsea, Thibaut Courtois, cukup konsisten.

Untuk nomor empat, Loris Karius, kiper Liverpool, tentunya sampai pindahnya Alisson Becker dari AS Roma.

Jika kita lihat angka kegagalan, tentunya, paling konsisten adalah Peter Schmeichel.

Namun, jika kita lihat persentase, Loris Karius adalah kiper yang memiliki persentase clean sheet terbesar. Tetapi, ia sangat-sangat sering melakukan blunder hingga sebuah gol terjadi.

Pada sisi lain, jika kita lihat jumlah angka, David De Gea melakukan 5 kali error lebih banyak dari Karius, dan juga 5 kali menangani bola dengan buruk lebih banyak dari Karius. Tetapi, De Gea lebih sering sukses dibandingkan Karius, sehingga, De Gea jauh lebih sukses.

Seberapapun konsisten seseorang, pasti akan ada gagalnya, (kecuali kamu demigod, atau kamu Peter Schmeichel) dan semakin sering konsistensi itu diuji, maka semakin sering konsistensi itu akan gagal.

Reliability of Success

Nah, kembali dalam kasus suksesnya sukses, kita akan melihat jumlah save yang dibuat oleh Jordan Pickford, Hugo Lloris, serta tentunya, kiper anggota boyband kita, Cho Hyun Woo, pada piala dunia.

Alasan Liga Inggris dibuat untuk konsistensi tentunya dikarenakan seringnya ada permainan untuk mengambil sampel, tidak seperti Piala Dunia yang, paling banyak juga hanya akan ada 7 permainan.

Pickford hanya benar-benar sukses dalam menciptakan momen yang sensasional ketika melawan Swedia.

Dari 7 shot on Target (hanya saat melawan Swedia) pada gawang Jordan Pickford, ia sukses membiarkan seluruh tembakan itu agar keluar dari gawang, dan seluruh save tersebut, tidak ada yang biasa-biasa saja, minimal membutuhkan loncatan untuk memastikan bola itu tidak masuk ke gawang.

Secara keseluruhan, sebenarnya, success rate penyelamatannya pada piala dunia mencapai 72% untuk ketujuh permainannya untuk Inggris.

Tetapi, untuk klabnya Everton, ia hanya mencetak 14 clean sheet dari 69 permainan, hanya 20% persentase clean sheet yang ia miliki, dan blunder yang ia hasilkan juga sebanyak David De Gea (7), padahal jumlah permainan yang ia mainkan baru seperempat dari total permainan De Gea.

Hugo Lloris, yang membawa Prancis juara dan memainkan 6, alih-alih 7 permainan selama Piala Dunia, hanya memiliki 68% save chance, tetapi ternyata, save yang ia buat biasanya bagus. Diantara 19 shot on target pada Prancis, ia menyelamatkan 13. Defender Prancis yang bagus juga menjadi faktor mengapa ia hanya perlu menghadapi 19 shot on target…

Untuk Tottenham, statistik Lloris juga cukup konsisten, 74 Clean sheet dari 204 permainan, berarti ia mencapai persentase 35%. Tetapi, sayangnya, Lloris melakukan sangat banyak blunder (seperti pada final piala dunia). Dengan total, 25 blunder (incredible) yang menghasilkan gol, dan juga 7 kegagalan menangkap bola.

Cho Hyun Woo, pada sisi lain…

Memiliki persentase save 80%, dari 20 shot on target yang dilemparkan padanya dalam 3 permainan. (Korsel berada dalam grup yang sulit sejujurnya) Cho Hyun Woo, sukses melakukan 16 penyelamatan dari 20 shot on target. Dan aku yang menonton seluruh pertandingannya mengakui bahwa semuanya penyelamatan yang bagus.

FC Daegu sayangnya tidak memiliki statistik penyelamatan untuknya…

Kesimpulan

Jadi, bagaimana? Apakah lebih baik memiliki konsistensi yang serius terbanding kesuksesan sesekali? Apa pilihanmu?

Menurutku aku lebih suka konsistensi, karena sejujurnya, kita tidak bisa menilai kapan kesuksesan tiba-tiba itu akan muncul.

Tetapi, para penonton di rumah pasti mengingat banyak super save yang dibuat Cho Hyun Woo, seorang kiper yang sejujurnya, hampir tidak diketahui namanya sampai piala dunia.

Konsistensi itu dibutuhkan, tetapi tentunya kesuksesan selalu menghibur dan akan menjadi tontonan menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *